Alessa menepis tangan Dominic dari kepalanya.
"Jangan perlakukan aku kayak anak kecil," desisnya.
"Kamu bilang aku harus mencintai diriku sendiri?"
Dominic kembali memegang setir dengan santai.
"Ya. Itu penting."
"Oke," ucap Alessa dengan nada menantang.
"Kalau begitu ajari aku."
Dominic melirik sekilas.
"Maksudmu?"
"Kamu bilang aku harus tahu cara memuaskan diriku sendiri sebelum minta orang lain, kan?"
Alessa perlahan menurunkan sandaran kursinya sedikit agar posisinya lebih rileks.
Matanya tidak lepas dari profil samping Dominic.
Tangan kanannya bergerak turun menyusuri paha dan berhenti di antara kedua kakinya.
Dominic melihat gerakan itu dari sudut matanya.
Rahangnya mengeras seketika.
"Apa yang kamu lakukan, Alessa?" tanyanya rendah.
"Mencintai diriku sendiri," jawab Alessa polos tapi liar.
"Sesuai saranmu."
Alessa menyusupkan tangannya ke balik rok pendeknya.
"Hentikan," ucap Dominic, tapi suaranya tidak terdengar seperti larangan.
Suaranya berat dan penuh gairah tertahan.
"Kenapa?" tanya Alessa sambil mulai menggerakkan jarinya.
"Kamu bilang aku harus belajar. Jadi biarkan aku belajar."
Napas Alessa mulai terdengar berat di kabin mobil yang hening.
"Lihat aku, Domi. Lihat bagaimana aku menyentuh diriku sendiri karena kamu nggak mau menyentuhku."
Dominic mencengkeram setir mobil kuat.
Mobil melaju stabil di jalanan sepi menuju vila. Ia tidak menghentikan mobil. Ia juga tidak menghentikan Alessa.
Sebaliknya, Dominic menoleh.
Tatapannya gelap dan lapar.
"Teruskan," perintah Dominic tiba-tiba.
Jari Alessa sempat berhenti karena kaget.
"Kamu mau nggak minta aku berhenti?"
"Tidak," sanggah Dominic cepat.
"Lakukan. Jangan berhenti sampai aku bilang cukup."
Alessa menelan ludah. Tantangannya berbalik menyerang.
Kini ia bukan lagi menggoda, tapi sedang mempertontonkan dirinya di bawah perintah pria itu.
"Buka pahamu lebih lebar," perintah Dominic lagi tanpa melepaskan pandangan dari jalanan dan s**********n Alessa bergantian.
"Biar aku bisa lihat.
Alessa menurut dengan gemetar.
"Sentuh bagian itu," arahkan Dominic datar tapi mematikan.
"Ya. Di situ. Lebih cepat."
Suara desahan Alessa mulai memenuhi mobil.
"Sebut namaku," geram Dominic.
"Sebut namaku saat kamu menyentuh dirimu sendiri."
"Dom..." rintih Alessa.
"Dominic..."
"Bagus. Lebih keras. Biar aku dengar seberapa besar kamu menginginkan aku."
Dominic membelokkan mobil masuk ke pekarangan vila tapi tidak langsung berhenti.
Ia membiarkan mesin menyala sambil menatap Alessa yang menggeliat kacau di kursi sebelahnya.
"Jangan berani-berani kamu klimaks sebelum aku izinkan," ancam Dominic.
Alessa sudah berada di ujung tanduk.
Napasnya tersengal dan tubuhnya melengkung di jok mobil. Keringat dingin membasahi pelipisnya.
"Dom ... sekarang," rintih Alessa memohon.
"Izinkan aku."
Mobil berhenti mendadak di garasi vila.
Mesin mati seketika dan menciptakan keheningan yang tiba-tiba.
"Cukup," perintah Dominic dingin.
Tangan Alessa masih bergerak gemetar karena nafsunya sudah tak terbendung.
"Aku bilang cukup, Alessa," ulang Dominic dengan nada tegas.
Tangan besar Dominic menyambar pergelangan tangan Alessa dan menariknya keluar dari balik rok.
Ia menahan tangan gadis itu kuat-kuat di udara.
Alessa menatapnya dengan mata basah dan napas memburu.
"Kenapa?" tanya Alessa frustrasi.
"Kamu jahat. Kamu yang suruh aku lanjut tadi."
"Dan sekarang aku suruh berhenti," jawab Dominic tenang tanpa sedikit pun terlihat terengah.
Dominic melepaskan cengkeramannya lalu menarik rok Alessa ke bawah untuk menutupi paha gadis itu yang terekspos.
Ia merapikan pakaian Alessa dengan gerakan tegas seolah sedang merapikan selimut, bukan menutupi tubuh wanita yang baru saja ia tonton.
"Rapikan dirimu," perintahnya.
Alessa masih gemetar menahan gairah yang tidak tuntas. Rasanya sakit dan menyiksa.
"Kamu sengaja siksa aku," tuduh Alessa marah.
Dominic menoleh dan menatap mata Alessa dalam-dalam.
Tidak ada nafsu di sana, hanya ketegasan seorang pembimbing yang keras.
"Kamu pikir ini caramu mencintai diri sendiri?" tanya Dominic tajam.
"Mengobral tubuhmu di kursi mobil cuma buat mancing reaksiku?"
Alessa terdiam kaku. Ucapan itu menamparnya lebih keras dari sebelumnya.
"Itu bukan cinta, Alessa. Itu putus asa," lanjut Dominic kejam tapi jujur.
"Kamu menggunakan tubuhmu sebagai senjata karena kamu pikir cuma itu yang kamu punya buat kendalikan aku."
Dominic mendekatkan wajahnya.
"Tubuhmu itu mahal. Sangat berharga. Jangan dibuat jadi murah cuma demi kepuasan sesaat atau demi ego mau menang dari laki-laki."
"Tapi kamu tadi lihat..."
"Aku lihat karena aku mau kamu sadar," potong Dominic cepat.
"Lihat dirimu sekarang. Berantakan. Memohon. Dan aku tetap pegang kendali penuh."
Dominic kembali duduk tegak dan membuka sabuk pengamannya.
"Kalau kamu mau menyentuh dirimu sendiri, lakukan di kamarmu. Di ruang privatmu."
"Lakukan karena kamu memang ingin memanjakan tubuhmu, bukan karena kamu haus perhatian dariku."
Dominic membuka pintu mobil.
"Turun. Masuk ke kamar dan dinginkan kepalamu."
Alessa masih terpaku di kursi penumpang dengan perasaan campur aduk.
Antara malu, marah, dan heran, manusia seperti apa sebenarnya Dominic itu?
Pria ini baru saja menolak tontonan gratis dan justru menceramahinya soal harga diri saat Alessa dalam keadaan paling rentan.
Dominic menengok lagi dari luar pintu yang terbuka.
"Satu lagi, Alessa."
Alessa menoleh pelan.
"Jangan pernah sentuh dirimu lagi di depan pria lain selain aku. Karena pria lain nggak akan punya kontrol buat menghentikanmu saat kamu mulai kehilangan arah."
Dominic membanting pintu mobil dan berjalan masuk ke dalam vila tanpa menoleh lagi.
Meninggalkan Alessa yang sadar bahwa ia baru saja diselamatkan dari kebodohannya sendiri.
***
Dominic membanting pintu kamarnya dan langsung menguncinya rapat.
Ia melempar kunci mobil ke atas meja rias dengan kasar hingga menimbulkan bunyi keras.
Napas yang sejak tadi ia tahan di dalam mobil akhirnya meledak.
"Bangsatt," umpat Dominic sambil menyugar rambutnya ke belakang.
Ia berjalan mondar-mandir di tengah ruangan seperti hewan buas yang terkurung. Kakinya terasa berat.
Selangkangannya terasa sakit dan sesak karena menahan ereksi yang menyiksa selama perjalanan pulang.
Bayangan Alessa di dalam mobil tadi terus berputar di kepalanya tanpa henti.
Cara gadis itu membuka paha. Desahan napasnya yang tertahan. Jari-jari lentiknya yang bergerak menyentuh dirinya sendiri.
Dan tatapan mata Alessa yang memohon padanya.
Dominic mengeram frustrasi.
Ia bukan batu.
Ia pria dewasa dengan kebutuhan biologis yang normal.
Menolak Alessa tadi adalah hal tersulit yang pernah ia lakukan seumur hidupnya.
Tangannya bergerak cepat membuka kancing kemejanya.
Beberapa kancing terlepas dan menggelinding ke lantai karena tarikannya terlalu kuat tapi ia tidak peduli. Ia melempar kemeja itu ke sembarang arah.
Keringat dingin membasahi punggung dan d**a bidangnya.
Dominic berjalan cepat menuju kamar mandi dan menyalakan keran shower dengan putaran maksimal. Air dingin langsung menyembur deras.
Ia menumpu kedua tangannya di dinding keramik yang dingin di bawah guyuran air.
Kepala ia tundukkan.
Air membasahi rambut dan wajahnya tapi tidak cukup untuk memadamkan api di dalam tubuhnya.
Tangan kanannya bergerak turun ke bawah perut. Ia membuka resleting celananya dengan gerakan kasar dan tidak sabar.
Ia mengeluarkan miliknya yang sudah tegang dan keras sejak tadi.
Dominic memejamkan mata erat saat tangannya mulai bergerak.
Gerakannya cepat dan kasar. Tidak ada kelembutan di sana.
Ini bukan untuk kenikmatan melainkan untuk pelepasan rasa sakit dan amarah yang menumpuk.
"Alessa," desis Dominic di sela gerahamnya yang mengatup rapat.
Ia membayangkan wajah gadis itu. Ia membayangkan seandainya tadi ia tidak berhenti.
Seandainya ia menepikan mobil dan membiarkan insting lelakinya mengambil alih.
Napas Dominic semakin berat dan putus-putus.
Otot-otot lengannya menegang. Urat-urat di lehernya menonjol.
"Sialan," rintihnya tertahan.
Pelepasan itu datang dengan kuat dan menyentak tubuhnya.
Dominic menyandarkan keningnya ke dinding basah sambil mengatur napasnya yang memburu. Kakinya terasa lemas.
Ia berdiri diam di bawah guyuran air dingin selama beberapa menit sampai detak jantungnya kembali normal.
Perlahan ia membuka mata dan menatap air yang mengalir ke saluran pembuangan.
Ia baru saja membayangkan anak sahabatnya sendiri.
Ia baru saja kehilangan kendali di kamar mandinya sendiri karena gadis yang seharusnya ia lindungi.
Dominic mematikan keran air.
Ia mengambil handuk dan mengeringkan tubuhnya dengan gerakan tenang seolah tidak terjadi apa-apa barusan.
Wajahnya kembali datar dan dingin saat bercermin di wastafel.
Ia sudah mendapatkan pelepasannya. Logikanya sudah kembali.
Dominic menatap pantulan matanya sendiri di cermin dengan tajam.
"Ini yang terakhir," ucapnya pada diri sendiri.
"Mulai besok kau harus lebih keras padanya. Dan pada dirimu sendiri."