Alessa Yang Sengaja Menantang

1391 Words
Alessa terbangun dengan kepala pening. Sisa kekesalan semalam masih menggumpal di dadanya. Dia melirik jam dinding. Sudah siang, dan vila itu sunyi senyap seperti kuburan. Dia bangkit, menyeret kakinya ke lemari. Kosong. "Sialan," umpatnya. Dia baru ingat kalau semalam dia melempar semua baju kotornya ke ruang laundry dan lupa menyalakannya. Dengan mendengus kasar, Alessa berjalan keluar kamar, menyusuri lorong menuju ruang cuci di dekat dapur. Benar saja. Tumpukan bajunya masih menggunung di dalam keranjang. Bau apek dan lembap. "Hebat. Sekarang aku harus pakai apa? Handuk doang?" Matanya menyapu sekeliling ruangan, lalu berhenti pada deretan kemeja putih yang tergantung rapi di rak besi. Kemeja pria. Bersih, licin, dan wangi. Alessa mendekat, menyentuh kain katun itu. Wangi sabun langsung tercium, wangi yang sama dengan aroma tubuh Dominic di dalam mobil semalam. Sebuah ide gila melintas di kepalanya. "Katanya aku bukan tipenya, kan?" bisiknya sinis. "Oke. Kita lihat seberapa kuat pertahanan Pak Tua itu." Tanpa pikir panjang, Alessa menyambar satu kemeja oversize itu. Dia memakainya langsung di atas tubuh polosnya. Tanpa bra. Tanpa celana dalam. Kancingnya dikaitkan asal-asalan, menyisakan bagian atas yang terbuka lebar dan bagian bawah yang hanya menutupi separuh paha. "Sempurna." Alessa berjalan keluar dengan dagu terangkat, menuju dapur untuk mencari air. Dominic ada di sana. Pria itu berdiri membelakangi Alessa, sedang menuang kopi hitam. Dia bertelanjang kaki, memakai celana training santai dan kaos hitam pas badan. Rambutnya sedikit berantakan, membuatnya terlihat lebih muda dan lebih berbahaya. Alessa berdeham pelan. Dominic berbalik. Gerakan tangannya terhenti di udara. Matanya menyipit, lalu membelalak sedikit saat melihat pemandangan di depannya. Alessa berdiri bersandar di kusen pintu, tenggelam dalam kemeja putih kebesaran milik Dominic. Rambutnya acak-acakan, kakinya jenjang tanpa alas, dan kancing kemeja itu... Jakun Dominic bergerak naik turun. Matanya gelap seketika. "Itu kemejaku," suara Dominic berat, serak khas bangun tidur. Alessa berjalan santai menuju kulkas, sengaja melewati Dominic dalam jarak dekat. "Bajuku kotor semua. Kamu lupa nyuciin." "Aku bukan pembantu," balas Dominic tajam. Matanya tidak lepas dari kaki Alessa yang bergerak. Alessa mengambil botol air dingin, lalu berbalik dan melompat duduk di atas meja pantri. Kemeja itu tersingkap naik, memperlihatkan paha bagian atasnya dengan jelas. Dominic meletakkan gelas kopinya dengan bunyi klak keras di meja. "Turun," perintahnya. "Kenapa? Takut khilaf?" Alessa menatapnya menantang. "Kan aku bukan tipemu." Rahang Dominic mengeras. Dalam dua langkah lebar, dia sudah berdiri di depan Alessa, mengurung gadis itu di antara kedua lengannya yang bertumpu di tepi meja. Jarak mereka lenyap. Alessa menahan napas. Wangi kopi dan feromon Dominic menampar wajahnya. "Kamu pikir ini lucu?" bisik Dominic rendah, wajahnya sejajar dengan wajah Alessa. "Pakai bajuku, tanpa bawahan, duduk ngangkang di meja makanku?" "Aku nggak ngangkang," bantah Alessa, suaranya bergetar sedikit. Nyalinya mulai ciut melihat tatapan buas itu. "Belum." Tangan Dominic bergerak. Bukan ke wajah, tapi turun ke paha Alessa yang terekspos. Telapak tangannya yang kasar menyentuh kulit halus itu, mengusapnya pelan dengan ibu jari. Alessa tersentak. Sensasi panas langsung menjalar dari paha ke perut bawahnya. "Dom..." "Sstt." Tangan Dominic merayap naik, menyelinap ke balik hem kemeja. Jari-jarinya menyentuh pinggul polos Alessa. "Nggak pakai celana dalam," gumam Dominic, lebih kepada dirinya sendiri. Suaranya terdengar seperti geraman lapar. "Kamu benar-benar cari mati pagi-pagi begini." "Kamu ... kamu bilang nggak tertarik!!" Alessa mencoba mendorong d**a Dominic, tapi tenaganya hilang entah ke mana. "Mulut bisa bohong, Alessa," Dominic mendekatkan wajahnya ke leher jenjang gadis itu, menghirup aroma kulitnya dalam-dalam. "Tapi tubuh nggak." Dominic mengecup titik sensitif di bawah telinga Alessa. Basah. Panas. Menuntut. "Eghh..." Alessa mendesah lolos tanpa sadar. Kepalanya mendongak, memberikan akses lebih. Tangan Dominic di balik kemeja itu meremas pinggang Alessa kuat, menarik tubuh mungil itu agar menempel ke selangkangannya. Alessa bisa merasakan sesuatu yang keras menekan pahanya. Sesuatu yang membuktikan kalau Dominic sudah kalah telak. "Dom..." bisik Alessa parau. "Cium aku..." Dominic mengangkat wajah, menatap bibir Alessa yang basah dan terbuka. Pertahanannya runtuh. Dia memiringkan kepala, siap melumat bibir itu— BEEP! BEEP! BEEP! Suara nyaring dari mesin kopi otomatis di belakang Dominic memecah keheningan dapur. Dominic membeku. Seperti disiram air es, kesadaran menghantamnya balik. Dia mengerjap, napasnya memburu kencang. Dia melihat tangan Alessa yang mencengkeram kaosnya, dan melihat posisinya sendiri yang nyaris menyetubuhi anak kliennya di meja makan. "Sial," umpat Dominic kasar. Dia mundur selangkah, melepaskan Alessa seolah gadis itu api yang membakar. Alessa masih terengah-engah di atas meja, matanya sayu dan bingung. "Dom?" Dominic tidak menatapnya. Dia membalikkan badan, menyambar gelas kopinya dengan kasar. "Turun dari meja. Ganti baju. Sekarang." Suaranya dingin lagi. Datar. Tapi tangannya yang memegang gelas gemetar hebat. Alessa merapatkan kemejanya dengan wajah merah padam. Antara malu, marah, dan ... kecewa. Tanpa membantah lagi, dia melompat turun dan lari terbirit-b***t kembali ke kamarnya. BRAK! Alessa membanting pintu kamar dan bersandar di baliknya. Kakinya lemas bukan main. Dia merosot duduk di lantai, memegangi dadanya yang mau meledak. "Gila..." bisiknya. Dia menunduk, melihat kemeja putih yang masih dipakainya. Bekas sentuhan tangan Dominic di pahanya masih terasa panas, seolah mencap kulitnya. "Dia mau cium aku tadi. Dia benar-benar mau ngelakuin itu." Alessa menutup wajah dengan kedua tangan. Ada perasaan aneh yang bergejolak di perutnya. Dia tersenyum miring di balik telapak tangannya. "Pembohong," gumamnya lirih. "Ternyata pertahananmu cuma omong kosong, Tuan Bodyguard." Sementara itu, di ruang tengah. Dominic berdiri kaku menatap jendela. Ponsel di tangannya bergetar. Nama Bramantyo, ayah Alessa, muncul di layar. Dominic menarik napas panjang, berusaha menetralkan suaranya sebelum mengangkat. "Halo, Bram." "Dom, gimana kabar putriku?Semuanya aman kan?" suara di seberang terdengar berwibawa. Dominic memejamkan mata. Bayangan paha putih Alessa dan desahan halusnya tadi masih menari-nari di pelupuk mata. Aman? Tidak ada yang aman di vila ini sekarang. "Aman," jawab Dominic singkat. Tenggorokannya kering. "Syukurlah. Dia nggak bikin ulah aneh-aneh kan? Alessa itu kadang..." "Liar," potong Dominic tanpa sadar. Hening sejenak di seberang telepon. "Apa?" Dominic langsung sadar dia salah bicara. "Maksudku ... dia agak susah diatur. Keras kepala. Tapi masih terkendali." Bram tertawa renyah. "Haha, ya itulah Alessa. Makanya aku cuma percaya sama kamu. Kamu satu-satunya yang nggak bakal mempan sama rengekannya." Dominic mencengkeram pinggiran jendela kuat-kuat. Nggak mempan? Kalau saja Bram tahu tangannya baru saja merayap di bawah rok putrinya lima menit yang lalu. "Ya. Tenang saja," kata Dominic datar. "Aku akan pastikan dia tetap di jalurnya." "Thanks, Dom. Aku tahu kamu profesional." Telepon ditutup. Dominic menatap layar ponsel yang gelap dengan tatapan nanar. Dia melempar ponselnya ke sofa, lalu mengusap wajahnya kasar dengan kedua tangan. "Sialan," geramnya pada ruangan kosong itu. *** "Kena kamu," bisiknya pelan, penuh kepuasan. Tangannya meraba paha kanannya sendiri. Masih terasa panas. Masih terasa jejak tangan besar Dominic yang tadi meremasnya di sana. Tapi bukan itu yang membuatnya yakin. "Aku ngerasain itu tadi," gumamnya, matanya berbinar liar. "Sesuatu yang keras ... nempel di pahaku." Alessa tertawa kecil, tawa yang terdengar sedikit gila. "Bukan tipeku? Hah! Omong kosong." Dia berjalan menuju cermin besar di lemari. Langkahnya sedikit goyah, tapi dagunya terangkat angkuh. Dia menatap pantulan dirinya yang berantakan, rambut acak-acakan, bibir bengkak, dan kemeja putih Dominic yang kancing atasnya terbuka lebar. "Lihat mukamu, Dom," ejeknya pada bayangan pria itu di kepalanya. "Tadi kamu kayak mau makan aku hidup-hidup." Alessa menyentuh kerah kemeja itu, menghirup aroma yang tertinggal. "Kamu munafik. Kamu bilang nggak tertarik, tapi badanmu jujur banget." Namun, saat jarinya turun menyusuri kancing kemeja menuju perut, senyum di wajahnya perlahan luntur. Napasnya ... kenapa napasnya belum kembali normal? Alessa mencoba menarik napas panjang, tapi oksigen rasanya tersangkut di tenggorokan. Dadanya naik turun terlalu cepat. "Tunggu..." Dia menatap matanya sendiri di cermin. Pupilnya melebar. "Kenapa..." suaranya bergetar. "Kenapa aku masih gemetar gini?" Alessa kembali membayangkan. Hembusan napas panas di lehernya. Geraman rendah di telinganya. Remasan kuat di pinggangnya. "Ah..." Sebuah desahan lolos begitu saja dari bibir Alessa. Dia terbelalak kaget. Tangannya refleks menutup mulut. "Sialan," umpatnya tertahan. Sesuatu dibawah sana, sangat basah. Alessa mencengkeram pinggiran meja rias kuat-kuat. Kakinya merapat, mencoba meredam gesekan yang justru makin membuatnya gila. "Nggak mungkin," tolaknya panik. "Masa aku..." Dia menatap nanar ke cermin. Wajah kemenangan tadi sudah hilang, berganti dengan wajah seorang gadis yang baru saja dibangunkan gairahnya secara paksa. "Aku mau dia cium aku tadi," akunya pada hening kamar itu. Suaranya pecah. "Aku nggak mau dia berhenti." Alessa merosot duduk di lantai depan cermin, menenggelamkan wajah ke lutut yang terbalut kemeja pria itu. Dia berhasil membuktikan Dominic pembohong. Tapi sialnya, dia juga baru sadar kalau dia sendiri sedang masuk ke dalam perangkap yang dia buat. "Tubuhku pengkhianat," erangnya frustrasi, sambil meremas rambutnya sendiri. "Kenapa harus sama dia..."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD