Kamu Bukan Tipeku

1320 Words
Suasana di dalam mobil hening total. Hanya suara ban berputar di aspal yang terdengar. Dominic menyetir santai dengan satu tangan, sementara siku tangan kanannya bertumpu di pinggir jendela. Wajahnya datar, seolah kejadian barusan di hotel tidak pernah ada. Alessa duduk kaku di sebelahnya. Dia risih. Jas besar Dominic memang menutupi bahunya, tapi bagian bawah gaun merahnya yang sobek itu terus tersingkap setiap kali mobil berguncang sedikit. Paha putihnya terekspos jelas di bawah lampu jalan yang lewat silih berganti. Dia mencoba menarik ujung gaun itu ke bawah berkali-kali. "Percuma ditarik-tarik," suara Dominic memecah sunyi. "Barang yang sudah dipamerkan susah ditutup lagi." Alessa menoleh cepat, tersinggung. "Mulutmu bisa dijaga nggak? Gaunku robek gara-gara Zian kasar." "Dan Zian kasar karena kamu kasih dia lampu hijau." Dominic melirik sekilas ke kaki Alessa. "Masuk ke ruangan sepi, pakai baju kurang bahan, berduaan. Kamu pikir dia mau ngapain? Main catur?" "Aku nggak tahu dia bakal senekat itu!" bantah Alessa. "Kamu tahu," potong Dominic tenang. "Kamu cuma terlalu naif buat ngakuin kalau kamu menikmati perhatiannya." Tiba-tiba tangan kiri Dominic lepas dari setir. Tanpa permisi, telapak tangannya mendarat di paha Alessa. Bukan meremas, tapi menekan diam. Alessa tersentak kaget. Tubuhnya menegang. "Dom... apa-apaan..." "Lihat?" Dominic tidak menoleh, matanya tetap ke jalan. "Gampang banget disentuh. Kalau aku orang jahat, tangan ini sudah naik ke atas sejak lima menit lalu. Dan kamu nggak bisa apa-apa selain teriak di dalam mobil yang melaju kencang." Jantung Alessa berpacu cepat. Sentuhan tangan Dominic terasa panas dan kasar di kulitnya. Anehnya, dia tidak langsung menepisnya. Ada rasa takut, tapi juga rasa penasaran yang gila. "Lepasin," cicit Alessa pelan. "Kenapa? Tadi sama Zian kamu diam saja waktu dia peluk-peluk pinggangmu di pesta." Alessa merasa disudutkan. Ego-nya memberontak. Dia menatap profil wajah Dominic yang keras dan dingin. "Kamu munafik, Dom," kata Alessa tiba-tiba. Dominic menaikkan alis. "Oh ya?" "Kamu marah-marah soal Zian, tapi tangan kamu sendiri sekarang ada di mana?" Alessa menantang. "Kamu berlagak jadi pahlawan kesiangan, padahal aslinya kamu juga sama aja kayak laki-laki lain. Punya nafsu." Dengan gerakan nekat, Alessa menangkup tangan Dominic yang ada di pahanya. Bukannya menyingkirkan, dia malah menarik tangan kekar itu naik. Perlahan. Melewati perut, menuju d**a kirinya yang berdetak kencang di balik jas besar itu. Dominic tidak menolak, tapi dia juga tidak membantu. Dia membiarkan tangannya ditarik. Mobil melambat sedikit. "Rasain," bisik Alessa, menekan telapak tangan Dominic tepat di atas jantungnya. "Jantungmu juga pasti sama kencangnya, kan? Jangan sok suci." Hening sejenak. Napas Alessa tertahan. Dia menunggu reaksi Dominic. Menunggu pertahanan pria itu runtuh. Dominic menoleh pelan. Matanya terkunci dengan mata Alessa. Tatapannya gelap, sulit dibaca. Lalu, sudut bibirnya terangkat sedikit. Sinis. Dominic menarik tangannya kasar dari d**a Alessa, lalu kembali memegang setir. "Sayangnya," ucapnya datar. "Kamu bukan tipeku." Wajah Alessa langsung memerah padam. Rasanya seperti ditampar bolak-balik. Dominic menginjak gas lagi, mobil kembali melaju stabil. "Aku nggak tertarik sama anak kecil yang butuh validasi karena habis berantem sama pacarnya," tambah Dominic santai, tanpa menoleh lagi. "Simpan tubuhmu buat laki-laki yang seleranya rendah." Alessa ternganga. Tidak ada kata yang bisa keluar dari mulutnya. Harga dirinya hancur berkeping-keping di jok mobil kulit itu. Mobil berhenti di halaman vila. Dominic langsung keluar, membanting pintu, dan berjalan masuk ke rumah tanpa menunggu Alessa. Langkahnya lebar dan tegas. Alessa turun dengan kaki lemas. Dia merapatkan jas Dominic ke tubuhnya, merasa kedinginan dan malu luar biasa. Dia mengeluarkan ponsel dari saku jas, berharap ada distraksi. Nihil. Sinyal hilang lagi. "b******k," umpatnya lirih. Dia masuk ke dalam rumah, melihat pintu kamar Dominic yang sudah tertutup rapat. Alessa menghentakkan kaki kesal, masuk ke kamarnya sendiri, dan melempar tasnya sembarangan ke lantai. Dia menjatuhkan diri ke kasur, membenamkan wajah ke bantal, dan berteriak tertahan. Sementara itu, di dapur yang gelap. Dominic berdiri di depan wastafel. Dia tidak menyalakan lampu. Napasnya berat. Tidak setenang saat di mobil tadi. Tangannya, tangan yang tadi menyentuh kulit paha dan d**a Alessa, kini mencengkeram pinggiran meja dapur kuat-kuat sampai uratnya menonjol. Dia menyalakan keran air, membasuh wajahnya kasar berulang kali. Air dingin itu tidak cukup memadamkan panas di badannya. "Sial," umpatnya pelan pada kegelapan. Dia bohong soal Alessa bukan tipenya. Saat tangan Alessa menariknya tadi, saat kulit mereka bersentuhan, seluruh insting laki-lakinya berteriak untuk menerkam gadis itu saat itu juga. Butuh usaha mati-matian untuk menarik diri dan melontarkan kalimat jahat tadi supaya Alessa menjauh. Dominic menatap pantulan dirinya yang samar di kaca jendela dapur. "Sadar, Dom. Dia anak temanmu , dia tak bisa kamu anggap gadis normal," bisiknya pada diri sendiri. Dia mengambil botol air dingin dari kulkas, menenggaknya habis dalam sekali teguk. Tangannya masih gemetar sedikit. Malam ini dia menang. Tapi dia tidak yakin bisa menahan diri kalau Alessa memancingnya sekali lagi. Dominic membanting botol air mineral yang sudah kosong ke meja dapur. Bunyinya nyaring memecah kesunyian, tapi tidak cukup untuk mengusir suara Alessa yang terus berdengung di kepalanya. "Bukan tipeku..." Dominic tertawa pendek, kasar, dan penuh ejekan pada diri sendiri. "Omong kosong." Dia menatap telapak tangannya sendiri. Tangan kanan yang tadi ditarik Alessa. Rasanya masih panas. Masih ada sisa getaran detak jantung gadis itu di ujung-ujung jarinya. "Kenapa dia harus senekat itu, sih?" gerutunya sambil meremas rambut yang basah. "Narik tanganku ke dadanya ... gila. Dia benar-benar gila." Dominic memejamkan mata. Bukannya gelap, yang dia lihat malah tatapan menantang Alessa di dalam mobil tadi. Mata yang basah, bibir yang sedikit terbuka, dan kalimat sialan itu. Jangan sok suci. Itu yang Alessa katakan tadi. "Sok suci..." desis Dominic, suaranya serak tertahan di tenggorokan. "Kalau aku nggak sok suci tadi, Alessa ... kamu nggak akan bisa jalan masuk ke kamarmu malam ini." Bayangan liar itu menyambar tanpa permisi. Dominic membayangkan apa yang terjadi kalau tadi dia tidak menarik diri. Kalau dia membiarkan tangannya meremas, bukan berhenti. Kalau dia membungkam mulut sombong itu dengan ciuman kasar di jok mobil yang sempit. "Ah, sial!" Dominic memukul meja marmer dengan kepalan tangan. Sakit fisiknya sedikit membantu mengalihkan sakit di bawah perutnya. "Dia anak kecil, Dom. Anak kecil yang labil," ucapnya keras-keras, mencoba mencuci otaknya sendiri. "Dia cuma mau ngetes kamu. Dia cuma mau main-main." Tapi tubuhnya menolak percaya. "Tapi tatapannya tadi ... itu bukan tatapan anak kecil," bantah sisi liarnya. "Dia mau disentuh. Dia minta disentuh." Dominic menyalakan keran lagi, membasuh wajahnya untuk ketiga kalinya. Air dingin menetes dari dagu, tapi napasnya masih memburu. "Dia benar ... dia benar. Jangan munafik, Dom. Kamu menikmatinya," bisiknya pada pantulan bayangan di jendela. "Kamu menikmati saat dia gemetar di bawah tanganmu." ** Alessa melempar tas tangannya ke sudut kamar, lalu menendang heels-nya sembarangan hingga membentur lemari. "Zian b******k!" teriaknya pada cermin. "Berani-beraninya dia..." Tangannya gemetar saat menyentuh bahu gaunnya yang sobek. Bekas cengkeraman Zian masih terasa perih, tapi rasa sakit itu kalah telak oleh kalimat Dominic di mobil tadi. "Simpan tubuhmu buat laki-laki yang seleranya rendah." Alessa tertawa sinis, matanya berkaca-kaca menatap pantulan dirinya yang berantakan di cermin. "Seleranya rendah? Jadi aku ini rendahan buat dia?" Dia mengusap kasar sisa lipstik di bibirnya dengan punggung tangan. "Sombong banget sih jadi orang! Dia pikir dia siapa? Dewa?" Alessa mendengus, tapi tangannya perlahan turun, menyentuh paha kanannya sendiri. Tepat di tempat tangan Dominic tadi mencengkeramnya. Kulitnya masih terasa panas. Jejak sentuhan kasar itu seolah tertinggal di sana, membekas seperti stempel. "Tapi tadi..." bisiknya ragu. "Tangannya panas. Napasnya juga berat." Alessa menatap telapak tangannya sendiri, tangan yang tadi dia tempelkan ke d**a Dominic. "Jantungnya deg-degan kencang. Aku ngerasain itu. Dia nggak setenang mukanya." Alessa menggigit bibir bawahnya, frustrasi. Rasa penasarannya mulai merayap naik, mengalahkan rasa sakit hatinya. "Kalau aku bukan tipenya, terus dia suka yang kayak apa?" gumamnya pada cermin. "Cewek alim yang pakai baju tertutup sampai leher? Atau ibu-ibu karir yang kaku kayak kanebo kering?" Alessa mengacak rambutnya kasar. "Argh! Gila! Kenapa aku malah mikirin selera dia?!" Dia menjatuhkan diri ke kasur, menatap langit-langit kamar dengan napas memburu. "Munafik. Laki-laki itu munafik." Tapi seringai kecil muncul di bibirnya saat mengingat sorot mata Dominic yang gelap tadi. "Kamu bohong, Dom," bisiknya pada keheningan. "Dan aku bakal buktiin kalau kamu pembohong besar."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD