Tawanan Bodyguard Posesif

1250 Words
Ballroom hotel itu penuh sesak. Suara musik dan tawa tamu menggema, membuat kepala Dominic sedikit pening. Ia berdiri di sudut gelap dekat bar, menyesap air mineral. Matanya terus menyapu ruangan dengan waspada. Kemewahan pesta ini tak menarik baginya. Fokusnya hanya satu titik merah yang bergerak di tengah kerumunan. Alessa paling menonjol malam itu. Rahang Dominic mengetat. Ia membenci tatapan para pria yang menelanjangi Alessa. “Sialan,” umpatnya pelan. Kekesalannya memuncak saat seorang pemuda berjas putih gading menyibak kerumunan. Zian langsung merangkul pinggang Alessa dari belakang. “Akhirnya pacarku sampai juga,” bisik Zian di telinga Alessa. Tangannya turun ke pinggul, meremas terlalu keras. Alessa tersentak. Ia menoleh, memaksakan senyum. “Hai Zian. Selamat ulang tahun.” “Makasih Sayang.” Zian mundur sedikit. Matanya menyapu tubuh Alessa dengan tatapan lapar. “Gila. Kamu seksi sekali malam ini. Sengaja pakai ini buat kado aku?” Alessa menahan tangan Zian yang mulai tak sopan. “Ini ide Lou. Katanya biar sesuai tema pesta.” “Lou emang paling mengerti.” Zian terkekeh. Ia menarik Alessa lebih rapat. “Di sini terlalu ramai. Kita ke atas yuk? Aku sudah sewa lounge pribadi. Anak-anak lain nyusul nanti.” Alessa ragu. Ia melirik Lou yang sibuk mengobrol. “Nanti saja deh Zi. Aku baru sampai belum sempat nyapa yang lain.” “Sebentar doang Al. Aku kangen banget. Seminggu ini kamu hilang tanpa kabar.” Nada Zian mulai memaksa. “Jangan bikin aku kesal di hari ulang tahunku dong.” Tatapan memohon Zian dan genggaman tangannya yang erat membuat Alessa menghela napas. “Oke. Tapi sepuluh menit aja ya? Aku mau minum dulu.” “Siap Tuan Putri.” Zian menyeringai puas. Ia langsung menggiring Alessa menuju lift. Dominic melihat semuanya. Ia membanting gelas plastik ke tempat sampah. “Kesabaranku sudah habis Sayang,” desisnya. Ia merapikan jas sekilas lalu menyibak kerumunan. Langkahnya lebar, tatapannya membekukan, mengikuti mereka ke lift. Di lantai atas suasana jauh lebih tenang. Lorong berkarpet tebal meredam langkah kaki. Zian membuka pintu di ujung lorong. Ia mempersilakan Alessa masuk duluan. Begitu pintu tertutup Zian menguncinya. Hal itu membuat Alessa menoleh cepat. “Kenapa dikunci?” “Biar nggak ada pelayan masuk seenaknya.” Zian berjalan ke bar mini menuang whiskey ke dua gelas. “Duduklah Al. Santai saja.” Alessa tetap berdiri dekat sofa menjaga jarak. Firasatnya buruk. “Aku minum air putih saja.” Zian tertawa sinis. Ia meneguk whiskey habis lalu mendekat. Matanya merah tanda sudah minum lama. “Kenapa kamu kaku banget malam ini?” Ia mengurung Alessa. “Seminggu di vila itu kamu ngapain? Pasti main sama cowok lain kan?” Alessa mundur selangkah. “Jangan mulai Zian. Aku di sana disuruh Ayah. Sinyalnya jelek makanya susah dihubungi.” “Alasan.” Zian mencengkeram lengan atas Alessa. “Jujur. Baju kayak p*****r ini buat mancing siapa? Pasti ada cowok lain di vila itu ya?” “Zian! Jaga mulutmu!” Alessa menepis tangannya kasar. “Aku pulang kalau kamu ngomong ngawur lagi.” Alessa berbalik ke pintu. Zian lebih cepat. Ia tarik rambut Alessa hingga gadis itu memekik. “Zian sakit!” Zian mendorongnya hingga terduduk di sofa. “Diam!” "Kamu kasar, Zian!!" Ia menindih Alessa menahan kedua tangannya di atas kepala. “Kamu pacarku Al. Aku berhak lakuin apa saja. Kamu pikir aku bodoh? Pasti udah dipake orang lain di sana kan?” “Lepasin aku brengsekk!” Alessa meronta menendang-nendang. Tenaga Zian jauh lebih kuat. Zian mencium lehernya kasar. Tangannya merobek bahu gaun merah itu. “Zian! Lepasin! Tolong!” Pintu terbuka paksa. Kuncinya jebol dengan hantaman keras. Zian terkejut menoleh. Tangan kekar sudah mencengkeram kerahnya menariknya paksa dari tubuh Alessa. “Bangsatt! Siapa lo?!” teriak Zian. Dominic tak menjawab. Wajahnya datar matanya gelap gulita. Ia melayangkan tinju tepat ke rahang Zian. Suara benturan tulang terdengar mengerikan. Zian terhuyung menabrak meja kaca hingga pecah. Ia jatuh memegangi wajah berdarah. Alessa gemetar hebat di sofa. Ia menarik gaunnya menutupi d**a. Napasnya memburu. Zian mengerang mencoba bangkit sambil meludah darah. “Sialan! Lo siapa? Gue laporin polisi!” Dominic mendekat tenang seperti predator menikmati ketakutan mangsa. Ia menginjak d**a Zian dengan sepatu pantofel menekan kuat hingga Zian terbatuk. “Lapor polisi?” tanya Dominic datar mengerikan. “Silakan. Tapi sebelum polisi datang tangan kotor kamu ini patah jadi tiga.” Dominic menekan lebih dalam. Zian memucat matanya terbelalak. “Lo siapa sebenarnya?” suara Zian bergetar panik. “Dengar baik-baik,” Dominic membungkuk menatap lekat. “Kalau aku lihat kamu dekati Alessa lagi atau cuma kirim pesan aku cari kamu. Dan saat itu kamu nggak cuma kehilangan gigi.” Dominic angkat kaki tendang rusuk Zian sekali lagi cukup untuk peringatan. “Sekarang pergi. Sebelum aku berubah pikiran.” Zian tak menunggu. Wajah hancur ketakutan setengah mati ia merangkak keluar terpincang-pincang tanpa berani menoleh lagi. Pintu terbanting menutup. Suasana hening seketika. Hanya napas tersengal Alessa yang terdengar. Dominic berdiri membelakangi Alessa tangan mengepal meredam emosi yang masih bergolak. Perlahan ia berbalik. Tatapannya tajam tapi ada kelegaan samar. “Berdiri,” perintahnya tegas. “Kita pulang. Sekarang.” “Berdiri,” ulangnya lebih rendah tak bisa dibantah. Alessa mencoba bangkit. Kakinya gemetar hebat. “Kakiku lemas Dom. Aku nggak bisa.” Dominic maju. Ia cengkeram lengan Alessa tarik berdiri dalam satu sentakan. Tubuh Alessa menabrak d**a Dominic. Napas pria itu hangat samar aroma tembakau. Mata Dominic turun ke bahu Alessa. Tali gaun putus kulit memerah bekas cengkeraman. Rahangnya mengetat. Urat leher menonjol. “Tutup,” desisnya. Ia lepas jas hitamnya kasar sampirkan ke bahu Alessa. Jas kebesaran aroma Dominic membungkus gadis itu. “Dom aku,” Alessa tercekat. “Aku nggak tahu dia bakal nekat begini.” “Diam.” Dominic tangkup wajah Alessa. Jarinya tekan pipi hingga bibir mengerucut. Ia paksa Alessa mendongak tatap mata gelapnya. “Simpan alasanmu. Aku nggak butuh pembelaan dari gadis keras kepala yang nyaris diperkosa pacarnya sendiri.” Air mata Alessa merebak tapi ditahan. “Aku cuma mau buktiin aku bisa jaga diri.” “Jaga diri?” Dominic tertawa sinis. Ia dekatkan wajah hidung nyaris bersentuhan. “Lihat sekelilingmu Alessa. Meja hancur. Baju sobek. Ini yang kau sebut jaga diri?” Alessa terdiam. Bibirnya bergetar. Ia tak bisa balas tatapan itu. “Kalau aku telat satu menit saja,” bisik Dominic tajam “dia sudah telanjangimu di sini. Dan kau tak bisa apa-apa.” “Maaf,” cicit Alessa pelan menunduk. “Maaf tak akan kembalikan kehormatanmu kalau sudah hilang.” Dominic angkat dagu Alessa lagi. Cengkeramannya erat posesif. “Dengar baik-baik. Aku cuma bilang sekali.” Suara Dominic jadi geraman rendah. “Mulai detik ini hak bantahmu hangus. Habis. Kau dengar?” Alessa menelan ludah. Matanya terkunci pada bibir Dominic. “Tapi aku bukan tawanan.” “Kamu adalah tawananku sekarang,” potong Dominic cepat. “Kamu sudah buktiin kamu tak mampu kendalikan hidupmu sendiri. Mulai sekarang aku yang ambil alih.” Dominic lepas wajahnya. Ia rapiin kerah jas kancingkan hingga atas dengan gerakan tegas. “Kalau aku bilang diam kamu diam. Kalau aku bilang pulang kamu pulang. Tak ada tawar-menawar. Tak ada diskusi. Paham?” Alessa diam syok dengan nada tegas Dominic. “Jawab aku Alessa. Paham?” bentaknya sedikit keras. Alessa tersentak. “Paham. Aku paham.” “Bagus.” Dominic mundur selangkah. Ia tatap Alessa yang terbungkus jasnya kecil tak berdaya. Kepuasan gelap melintas di matanya. “Sekarang jalan. Jangan lepas gandenganku sampai masuk mobil.” Ia ulurkan tangan besarnya. Dengan ragu Alessa menyambut. Jari Dominic menjalin erat meremas kuat menariknya keluar tanpa menoleh lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD