Bukan Sembarang Bodyguard

1091 Words
Alessa berdiri di balik tirai jendela kamar, matanya tidak lepas dari gerbang depan. Jantungnya berdegup tidak karuan, campuran antara takut dan adrenalin yang meledak-ledak. Sudah satu jam sejak mobil hitam Dominic menghilang di tikungan jalan, tapi dia belum berani bergerak. "Ayo dong, jangan balik lagi," gumamnya sambil menggigit kuku jempolnya. Kakinya mengetuk-ngetuk lantai kayu dengan gelisah. Vila ini terlalu sunyi. Kesunyian yang justru membuatnya curiga kalau tiba-tiba pria itu muncul dari balik pintu dan menyeretnya kembali ke kamar. Tapi waktu terus berjalan, dan jam dinding seolah mengejeknya. "Oke. Cukup. Kalau aku nggak pergi sekarang, aku bakal membusuk di sini." Alessa menyambar tas jinjing yang sudah ia siapkan di bawah kolong tempat tidur. Isinya hanya gaun pesta, heels, dan peralatan make-up seadanya. Ia membuka pintu kamar pelan-pelan, kepalanya menengok kanan dan kiri seperti pencuri di rumah sendiri. "Sepi. Bagus." Ia menuruni tangga dengan jinjit, sepatu sneakers-nya tidak menimbulkan suara. Sesampainya di dapur, ia menyambar kunci mobil cadangan yang menggantung di dekat kulkas. Itu kunci city car butut milik penjaga vila yang jarang dipakai. Dominic pasti tidak akan sadar kalau mobil rongsokan itu hilang. Alessa lari ke garasi samping, melempar tasnya ke jok belakang, dan langsung memutar kunci kontak. Mesin mobil menderu kasar, sempat batuk-batuk sebentar sebelum menyala stabil. "Anak pintar. Jangan mogok dulu ya, Sayang," bujuknya sambil mengelus setir. Tanpa buang waktu, ia menginjak gas. Mobil kecil itu meluncur keluar dari gerbang samping, meninggalkan jejak debu tipis di udara sore. Alessa tertawa kecil, rasa menang membuncah di dadanya saat melihat vila besar itu makin mengecil di kaca spion. Ia merasa bebas. Tapi ia salah besar. Di balik kerimbunan pohon besar tak jauh dari pagar batu, Dominic menurunkan kaca jendela mobilnya yang gelap. Ia tidak pergi ke mana-mana. Ia hanya memindahkan mobilnya ke titik buta, menunggu dengan sabar seperti serigala yang mengincar kelinci bodoh. Pria itu menghembuskan asap rokoknya ke udara, matanya menyipit tajam menatap mobil kecil yang baru saja kabur itu. "Dasar gadis nakal," suaranya rendah, serak, dan berbahaya. Ia tidak terlihat panik. Tangannya santai mematikan rokok di asbak, lalu meraih ponselnya. Sebuah titik merah berkedip di layar peta digital, bergerak menjauh menuju jalan utama. "Kamu pikir kamu bisa lari, Alessa? Silakan nikmati angin sebentar." "Karena setelah ini, kakimu tidak akan lagi menapak tanah." Mesin mobil sport Dominic menyala dengan raungan halus tapi bertenaga. Ia memutar setir dengan satu tangan, mulai mengikuti mangsanya dari jarak jauh. Satu jam kemudian, Alessa sudah menggedor pintu apartemen di lantai delapan dengan tidak sabaran. Pintu terbuka lebar. Lou berdiri di sana dengan masker wajah hijau menempel, matanya melotot kaget. "Demi Tuhan! Kamu beneran kabur?" Alessa langsung menerobos masuk dan melempar dirinya ke sofa empuk di ruang tengah. "Jangan tanya. Aku butuh minum. Sekarang." Lou buru-buru menutup pintu dan mengambil sebotol air dingin dari kulkas. Ia memberikannya pada Alessa yang langsung menenggaknya sampai setengah botol. "Gila," kata Lou sambil menggeleng kagum. "Aku pikir kamu cuma bercanda soal penjara vila itu." Alessa menyeka bibirnya yang basah. "Itu bukan vila, Lou. Itu benteng pertahanan. Dan penjaganya bukan manusia, dia robot berotot yang diprogram buat bikin hidupku susah." Lou terkekeh, lalu duduk di sebelah sahabatnya. "Robot berotot? Maksudmu si bodyguard tua itu? Ganteng nggak?" Alessa mendengus. Bayangan d**a bidang Dominic yang basah kuyup kembali muncul di kepalanya tanpa permisi. "Lumayan. Kalau kamu suka tipe cowok yang tatapannya bisa bikin orang hamil," jawab Alessa asal. Lou tertawa keras sampai memukul paha Alessa. "Oke, itu deskripsi paling seksi yang pernah aku dengar. Hati-hati, benci sama cinta itu bedanya tipis banget." "Ogah. Dia menyebalkan. Titik." "Ya sudah. Lupakan si Tuan Seksi itu. Kita punya misi penting malam ini." Lou berdiri dan berjalan ke kamarnya. Ia kembali membawa sebuah paper bag hitam mewah. "Hadiah buat kamu. Biar Zian sadar siapa ratunya." Alessa membuka bungkusan itu. Isinya sebuah gaun merah marun. Saat ia mengangkatnya, kain itu jatuh begitu lembut dan ringan, potongannya sangat minim dengan belahan d**a rendah dan punggung yang terekspos total. Mata Alessa membelalak. "Lou, kamu serius? Ini kurang bahan banget." "Justru itu poinnya. Kamu mau datang ke pesta ulang tahun pacarmu pakai apa? Kebaya?" "Tapi ini..." Alessa menempelkan gaun itu ke badannya di depan cermin. Kain merah itu membalut lekuk tubuhnya dengan sempurna, memberikan kesan yang menggoda pada kulit putihnya. "Lihat diri kamu," bisik Lou dari belakang bahunya. "Kamu kelihatan kayak dewi balas dendam yang siap mematahkan hati semua cowok di sana." Alessa menatap pantulan dirinya. Senyum miring perlahan muncul di wajahnya. Lou benar. Ia sudah terlalu lama ditekan. Malam ini, ia ingin menjadi liar. "Oke. Mana make-up nya? Kita bikin semua orang nggak bisa kedip malam ini." Di seberang jalan, di dalam mobil yang gelap dan dingin, Dominic duduk diam mematung. Matanya tajam menatap jendela lantai delapan yang gordennya sedikit terbuka. Ia bisa melihat bayangan Alessa yang sedang berputar-putar di depan cermin. Cahaya lampu mempertegas siluet tubuh gadis itu yang kini berbalut gaun merah ketat. Rahang Dominic mengeras. Cengkeramannya pada setir mobil menguat sampai buku-buku jarinya memutih. "Sialan," umpatnya kasar. Itu bukan gaun. Itu undangan terbuka untuk dosa. Gaun itu menempel seperti kulit kedua, memamerkan setiap inci lekuk tubuh yang seharusnya hanya boleh dilihat di dalam kamar tertutup. Dan Alessa akan memakainya ke tempat penuh alkohol dan laki-laki buaya darat. Darah Dominic mendidih. Ada rasa panas yang menjalar di dadanya, bukan hanya amarah karena aturannya dilanggar, tapi juga rasa kepemilikan yang gelap dan posesif. Ia membayangkan mata lapar pria-pria lain menelusuri tubuh Alessa. Membayangkan tangan kotor mereka mencoba menyentuh kulit gadis itu. "Nggak akan kubiarkan," desisnya tajam. Dominic menyalakan mesin. Matanya berkilat. Lampu sorot hotel bintang lima menyilaukan mata saat Alessa turun dari taksi online bersama Lou. Suara musik dentuman bass terdengar samar sampai ke lobi. Alessa merapikan gaun merahnya, memastikan belahan dadanya tetap pada tempatnya. Angin malam yang dingin menyapu kulit punggungnya yang terbuka, membuatnya sedikit merinding, tapi itu justru menambah rasa gairah di dadanya. Baru saja ia melangkah masuk ke karpet merah, seorang pria muda langsung menghampirinya. "Alessa? Wow!" sapa pria itu dengan senyum lebar yang terlalu manis. Matanya terang-terangan menelusuri tubuh Alessa dari atas ke bawah, berhenti cukup lama di bagian d**a sebelum naik lagi ke wajah. "Lama nggak kelihatan. Kamu makin ... seksi," kata pria itu sambil mengulurkan tangan, menyentuh lengan telanjang Alessa dengan gerakan lambat yang disengaja. Alessa tersenyum sopan, tidak menyadari bahaya yang mengintai di belakangnya. "Hai, Rian. Iya, sibuk kuliah." Dari dalam mobil hitam yang baru saja berhenti di ujung lobi, Dominic melihat semuanya. Ia melihat tangan pria itu di kulit Alessa. Ia melihat tatapan lapar itu. Dan ia melihat senyum Alessa yang naif. "Gadis bodoh!" geram Dominic. Ia membuka pintu mobil dengan kasar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD