Pagi yang membosankan untukku, pagi-pagi betul aku sudah harus bangun untuk menyiapkan sarapan suami ngeselin itu. Awas saja kalau dia masih bisa protes dengan makanan yang aku buat, banyak sekali alasannya untuk mengkomementari masakanku, mulai dari aroma masakan, bahkan warna masakan pun ia komentarnya pedas macam Chef Juna saja. Ya kalau dia mau makanan berkelas sesuai dengan seleranya, kenapa tidak memesan makanan sendiri? Cuih. Setelah menyiapkan sarapan serta baju dan sepatu Shakir, ini saatnya aku untuk berangkat ke toko kue sekaligus kafe tempatkj bekerja. Jangan heran dan bertanya mengapa ia bisa bekerja di tempat itu padahal aku gak bisa bicara. Memang, y untungnya bos di sana baik, dia memaklumi keterbatasanku ini. Lebih baiknya lagi, aku cuma di suruh untuk melayani orang

