Chapter 13

1173 Words
Menyibukkan diri dengan ponsel adalah jalan yang selalu kupilih ketika sedang duduk sendirian di tempat umum. Tidak begitu fokus, sebenarnya mataku masih bisa melihat siapa saja yang berlalu lalang—meski tidak semua. Setelah melihat foto yang ditunjukkan oleh Jasmine, aku merasa tidak tenang. Aku bukanlah mahasiswa hits yang sering menjadi sorotan, hanya saja keberadaan Aro lah yang membuatku seperti ini. Kupikir aku hanya perlu mengambil jaket dan pulang dengan berjalan kaki, tapi tentu saja Aro tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Semakin dipikir, aku jadi semakin bingung. Hubunganku dengannya terlalu sulit untuk bisa dimengerti, menjauh pun tidak bisa. Aku ingin hubungan yang normal-normal saja. Hubungan yang seperti ini terlalu beresiko. “Seneng banget sendirian sih?” ujar Hana yang tiba-tiba sudah duduk di sebelahku. Kenapa kedua makhluk berpasangan ini menjadi sering muncul di sekitarku sih? “Memangnya gak boleh?” balasku dengan pertanyaan juga. “Ya boleh aja. Pacarmu siapa sekarang? Aku sama Kak Arga aja udah putus berkali-kali,” ujarnya seraya meneguk sedikit air mineral yang baru ia keluarkan dari dalam tas. “Putus berkali-kali? Terus sekarang?” tanyaku dengan emosi yang sedikit kukontrol. Aku tidak boleh terlihat tertarik dengan topik tersebut. “Kamu ngarepnya kami putus, ya?” “Apaan deh! Kamu yang cerita, kok jadi aku yang kena? Aku ‘kan cuma nanggepin ceritamu,” balasku kesal. “Haha, bercanda kali!!” candanya. “Kami masih pacaran kok. Cuma kayaknya memang aku doang yang masih kekanakan, untung Kak Arga pengertian,” pamernya dengan bangga. Aku sedikit geli ada orang yang dengan bangganya menceritakan kekurangannya seperti itu. Kemudian Hana kembali bicara, “Serius deh, kamu masih belum punya pacar juga? Betah banget sih! Atau kamu memang senengnya tanpa status gitu, ya? Biar gampang gonta-ganti?” Kesal sudah pasti, namun mulutnya memang seperti itu. Aku sudah sangat mengenalnya. Tidak ada gunanya membalas Hana dengan emosi. Kutarik napas dalam-dalam, namun ternyata tak bisa mengurangi rasa kesalku. Ekspresi wajahnya yang seolah tak berdosa itu membuatku ingin mencakarnya habis-habisan. Tapi ternyata, lagi-lagi Aro menyelamatkanku. “Maaf bikin kamu nunggu lama,” ujar Aro sambil memegang bahu kananku. Aku langsung menoleh dan ia pun memberikan senyum padaku. Kemudian aku menoleh ke arah Hana lagi, ia menatap Aro tak berkedip. “Alvaro?” tanya Hana setengah bergumam. Aro mengabaikannya, lalu menggandeng tanganku. “Ayo pulang! Aku udah laper,” ujarnya seolah tak melihat ada manusia di depanku. Seketika aku menjadi sumringah sekali. “Oh, iya. Ayo!” Aku langsung beranjak dan tak melepaskan gandengannya. Tak lupa aku berpamitan pada Hana dengan ekspresi yang sangat berbahagia. Untuk kali ini aku sangat berterima kasih dengan kehadiran Aro. “Aku duluan, ya! Jangan lupa ajak makan Kak Arga! Dia juga butuh diperhatiin, bukan cuma dimanfaatin doang.” Hana terlihat geram, namun aku tak peduli. Aku pun keluar dari lobby dengan perasaan puas. Untuk pertama kalinya aku bisa membalas Hana tanpa harus mengerahkan energi yang sangat besar. Kurasa ia tak akan berani menggangguku lagi setelah ini. “Kenapa liat-liat?” tanyaku pada Aro yang tak berhenti memperhatikan wajahku setelah kami masuk ke dalam mobil. “Kayaknya bahagia banget. Kamu ada masalah apa sama cewek tadi?” tanyanya kemudian. Aku menggeleng. “Bukan apa-apa kok. Gak suka aja sama dia.” “Dia pacarnya cowok yang gak sengaja ketemu kita di tangga itu, ya?” tebaknya dengan tepat, padahal aku tidak merasa pernah menyebutkan nama Kak Arga di depan Aro sebelumnya. Aku menjawabnya dengan anggukan kepala. Kemudian Aro menyalakan mobilnya, dan melajukan perlahan keluar dari pelataran parkir. “Kamu belum makan, kan?” tanyanya setelah kami masuk ke jalan raya, bukan jalan ke arah kontrakanku. “Belum. Ini mau ke mana?” “Cari tempat makan yang bisa sekalian ngobrol. Gak enak kalo ngobrol di parkiran kampus,” jawabnya dengan pandangan yang masih lurus ke jalan. Kupikir tak apa jika sesekali kami makan bersama, toh tadi dia juga sudah membantuku. “Oh iya, sebenernya jadwal kuliahmu hari ini jamnya gak sama kayak aku, kan?” tanyaku yang kebetulan ingat. “Oh, itu… sama kok. Dosennya minta ganti jadwal. Seharusnya besok sore, tapi kebetulan beliau ada jadwal di luar, makanya dialihin jadi pagi ini,” jelasnya. Baguslah kalau begitu, aku tidak perlu merasa diistimewakan. Dosen memang kadang suka seperti itu, bukan fakta yang mengagetkan lagi. Tidak banyak bertanya, Aro membawa mobilnya ke sebuah rumah makan yang cukup besar. Aku belum pernah datang ke tempat ini sebelumnya, karena nuansa yang ditawarkan cocok untuk berkumpul bersama keluarga dan… lumayan mewah. Bagiku dia agak unik, rasanya anak muda jaman sekarang mungkin tidak akan membawa pacarnya ke tempat seperti ini. Dan satu hal yang agak aneh bagiku, Aro tidak memarkirkan mobilnya di tempat yang seharusnya. Ia membawa mobilnya masuk ke belakang rumah makan dan ternyata di sana ada sebuah rumah. Kami berhenti di depan rumah itu, aku pun menjadi bingung dibuatnya. “Udah pernah makan di sini belum?” tanyanya sambil membuka sabuk pengaman. Aku menggeleng pelan. “Restorannya ‘kan di depan, kok kita parkir di sini?” “Di sini juga bisa makan kok,” jawabnya seraya tersenyum. Ia membuka pintu mobilnya, lalu turun. Aku berpikir sejenak dan memperhatikan rumah yang ada di depanku ini. Tidak mungkin ‘kan kalau dia berniat menculikku? Tempat ini tidak tersembunyi. Mungkin karena aku terlalu lama, akhirnya Aro membukakan pintu untukku. “Jangan takut! Rumah ini juga bagian dari restorannya kok. Bukan tempat aneh-aneh,” ujarnya yang ternyata bisa membaca pikiranku. Aku nyengir kuda. Tanpa menunggu ia meminta dua kali, aku pun turun—dan tetap waspada. Dia berjalan di depanku dan masuk dengan santai. Yang sedikit mengejutkan adalah para pelayan langsung menyambutnya dengan begitu ramah. “Selamat datang Mas Alvaro. Mau makan di dalam?” tanya seorang pelayan. “Gak usah, di luar aja,” jawab Aro dan kembali menoleh ke belakang—melihatku. “Ayo masuk! Jangan takut!” ujarnya padaku seraya menggandeng tanganku lagi. Pelayan itu membungkuk hormat dan menyambutku juga. Pasti makan di sini jauh lebih mahal dari pada makan di rumah makan yang ada di depan. Pelayanannya saja istimewa begini. Aro membawaku ke sebuah meja yang letaknya paling dekat dengan jendela. Rasanya ini cukup besar jika digunakan hanya untuk dua orang. Suasananya begitu hangat, makan sendirian di tempat ini pun rasanya tidak aneh. Seperti rumah sendiri—bedanya di sini kita akan mendapatkan pelayanan yang sangat baik. “Biasanya di sini dipesan sama orang-orang yang lagi bahas pekerjaan, ya intinya makan sama client gitu deh. Kadang aku makan di atas, di kamarku.” Glup! Aku langsung menelan saliva setelah mendengar pernyataannya. “Jadi, kamu tinggal di sini? Ini restoranmu?” ujarku memberikan kesimpulan. Ia pun terlihat menahan tawa. “Restoran keluarga, bukan punyaku. Aku cuma numpang tidur aja di sini.” ‘Woah! Daebak! Pantes aja mobilnya keren. Resto keluarga aja sekeren ini,’ batinku. “Jadi, temen-temenmu sering ke sini?” tanyaku lagi. Dia menggeleng. “Enggak. Aku ada kontrakan di tempat lain, mereka taunya aku tinggal di sana. Aku gak sering kok tidur di sini, sesekali aja. Kalo kamu mau tinggal di sini, boleh banget. Di atas ada dua kamar.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD