Chapter 05

1386 Words
“Maaf!” ujar Masson seraya kembali keluar dan menutup pintu.   Kutatap Aro sinis, laki-laki itu balik menatapku dengan wajah tak berdosa. Bagaimana mungkin dia bisa merasa biasa saja dalam posisi seperti ini?   “Kenapa ngeliatin aku kayak gitu? Tadi itu temen kelasmu?” tanyanya dengan sangat santai.   “Iya. Dan kamu udah bikin dia salah paham,” jawabku seraya berjalan keluar kelas agar kesalahpahaman tidak berlanjut.   Aro turut beranjak dan mengikuti langkahku. “Salah paham kenapa? Memangnya kita ngapain?”   Pertanyaan itu sengaja tidak kujawab, mustahil jika ia tidak mengerti apa maksud dari ucapanku. Ketika aku keluar, terlihat Masson sedang duduk dengan menggunakan earphone di telinganya. Ia menundukkan kepala, padahal aku ingin menjelaskan apa yang terjadi. Kemudian Aro menarik tanganku dan membawaku pergi dari sana.   “Kenapa tarik-tarik sih?” omelku seraya melepaskan pegangan tangannya. Kini kami berdiri di dekat tangga.   “Dia keliatannya aneh,” ujar Aro pelan.   Aku tidak heran jika ia berpikir seperti itu. Bagi anggota kelasku, Masson memang anak yang lumayan aneh—tapi bukan berarti membahayakan.   “Memangnya kenapa kalo dia aneh?” tanyaku kemudian.   “Jangan-jangan kalian sering di kelas berdua di jam istirahat?” Nada bicara Aro kurang enak di dengar.  Aku langsung menautkan alis dan menatapnya tak kalah kesal. “Apa urusanmu?”   Ia membuang napas kasar melalui mulut dan menoleh ke arah lain, kemudian kembali menatapku. “Beneran kamu sering berdua sama dia di kelas?” Aro memperjelas pertanyaannya.   “Ya enggak lah! Baru kali ini kok,” jawabku kesal. Aku tidak berbohong, Masson biasanya duduk di lobby dan selalu sendirian. Aku juga belum pernah melihatnya pergi ke cafetaria.   Aro menghela napas panjang lagi, seperti orang yang sedang menahan diri untuk tidak marah. “Aku percaya sama kamu. Tapi aku minta tolong, jangan terlalu deket sama dia! Karena kamu gak mau dijagain dari deket, aku harap kamu bisa jaga diri sendiri,” ujarnya terdengar serius.   “Tanpa kamu suruh pun aku selalu jaga diri kok. Aku gak segegabah yang kamu kira, ya!” gerutuku seraya mengalihkan pandangan. Aku tidak suka diatur seperti ini, oleh siapa pun itu. Lagi pula, sejauh ini aku tidak melihat gelagat yang buruk dari Masson—meski dia terlihat aneh. Aku ini anak yang mandiri, tidak perlu dijaga berlebihan seperti itu.   Tak lama kemudian, terdengar langkah yang cukup ramai dari lantai satu dan diiringi dengan suara beberapa orang yang saling berbincang. Sudah pasti mereka hendak masuk ke kelas karena jam istirahat sudah hampir habis. Tanpa berbasa-basi, aku langsung kembali ke kelas dan meninggalkan Aro di sana. Cukup satu kali kesalahpahaman itu terjadi, aku tidak ingin ada yang kedua kali. Untuk urusan Masson, kupikir tidak masalah. Toh sepertinya dia tidak punya teman, jadi tidak mungkin dia menyebarkan gosip yang tidak-tidak.   Masson masih belum masuk ke kelas. Sempat terlihat kalau ia melirikku, namun dengan cepat pandangan itu ia alihkan lagi. Aku tak mau ambil pusing, rasanya meminta maaf juga tidak perlu karena aku memang tidak melakukan apa pun dengan Aro. Lagi pula, di kelas juga ada CCTV.   “Rea, kamu kenal deket sama Alvaro, ya?” tanya Jasmine yang kini melangkah di sebelahku dan kami masuk ke dalam kelas bersama.   “Siapa Alvaro? Aku gak kenal,” jawabku bingung.   “Tadi ada yang liat kamu ngobrol berdua sama dia di deket tangga,” ujar Jasmine menjelaskan.   Aku lupa, kalau panggilan lengkap Aro adalah Alvaro. “Ah, orang itu. Kenal aja, bukan kenal deket,” jawabku jujur. Dan lagi, tidak mungkin kukatakan kalau anak itu sudah mengajakku berpacaran. Bukan kenyataan yang baik bila diungkap sekarang.   Tapi ternyata jawaban singkatku itu mengundang rasa penasaran yang lebih besar bagi Jasmine. “Gimana kalian bisa kenal? Padahal katanya dia tuh dingin banget sama cewek.”   Pernyataan Jasmine sedikit kuragukan kredibilitasnya, sebab Aro sama sekali tidak dingin padaku. “Entahlah. Kayaknya dia bukan orang yang kayak gitu,” jawabku seraya meletakkan tas di atas meja dan duduk. Jasmine melakukan hal yang sama, lalu duduk di sebelahku.   “Jadi, sebenernya dia gak secuek itu? Wah, kamu beruntung banget dong bisa deket sama dia!” seru Jasmine dengan sangat antusias.   “Udah dibilang gak deket kok. Lagian, memangnya kenapa aku harus merasa beruntung?”   Responnya berlebihan, Jasmine terbelalak setelah mendengar pertanyaanku. “Serius kamu gak tau?”   Aku hanya menggeleng. Aro memang sedikit populer karena ketampanan dan kekayaannya, tapi menurutku itu bukan sesuatu yang bisa membuatku merasa beruntung. Dan seperti yang sudah kuduga, poin-pon keberuntungan yang Jasmine maksud adalah bagian dari kepopuleran itu.   “Oh, itu aja?” tanyaku setelah Jasmine menjelaskan.   “Re, kamu gak normal, ya?” tanyanya kemudian.   “Sembarangan! Kalo cuma gitu doang kayaknya di kampus kita ada banyak, bukan si Alvaro doang,” ujarku.   “No! No! No! Alvaro itu beda! Dia punya daya tarik tersendiri.” Jasmine masih kekeuh, sepertinya dia adalah fans berat Aro.   Kalau dipikir-pikir, sepertinya aku mulai menemukan alasan mengapa laki-laki itu memintaku menjadi pacarnya. Bisa saja ia merasa kesal karena terlalu banyak perempuan yang mengganggunya, lalu dia mencari pacar agar para perempuan itu tidak mengejarnya lagi. Jahat sekali jika memang alasannya seperti itu. Tapi masalahnya, kenapa harus aku? Tidak! Tidak! Pasti ada alasan yang lebih tepat. Masih banyak mahasiswi yang lebih populer dan memiliki ‘pengaruh’ besar.   Kelas mulai ramai. Terdengar suara yang cukup heboh di bagian belakang, namun tidak seperti biasanya. Kompak aku dan Jasmine pun menoleh, ternyata mereka sedang membahas tentang nilai mata kuliah kalkulus yang baru saja dikirimkan oleh Pak Dosen ke grup kelas. Sebagian dari mereka saling ledek karena mendapatkan nilai di bawah standar, sebagian lagi menyombongkan diri dengan nilai bagusnya meskipun itu hasil mencontek. Aku cukup merasa bersyukur karena nilaiku masih mencapai angka delapan—meski sejujurnya aku berharap bisa mendapatkan lebih dari itu.   “Eh, liat deh!” ujar Jasmine sembari menunjukkan layar ponselnya. Ia memperbesar bagian nilai angka milik Masson Rufino. Hebat! Dia mendapatkan nilai nyaris sempurna, yakni 98.   “Keren! Ternyata dia pinter juga,” ujarku jujur. Selama ini anak itu terlihat suram, kami juga meragukan kalau dia anak yang normal dan bisa menerima pelajaran dengan baik. Ternyata dia justru lebih pintar daripada aku.   “Kamu yakin dia ngerjain sendiri?” tanya Jasmine kemudian.   Aku langsung mengangkat bahu. “Bisa aja sih. Dia 'kan gak punya temen di kelas ini, mau nyontek sama siapa?”   Jasmine mengangguk setuju, tetapi ia masih tetap meragukan keaslian dari hasil nilai tersebut. Ternyata bukan hanya Jasmine; di belakang, beberapa anak laki-laki sedang meledek Masson. Aku sedikit merasa kasihan, ledekan yang mereka lontarkan agak berlebihan. Bagiku hal itu sudah termasuk pembullyan. Anehnya, Masson masih bisa tersenyum dan tak membalas sama sekali.   “Ngomong dong! Jangan senyam-senyum doang!” ujar Bryan, salah satu orang yang paling banyak mulut di kelasku.   “Jangan sombong, Son! Inget, gaet cewek itu gak cukup pake nilai doang, muka juga kudu dibenerin!” tambah Fredy dan disusul gelak tawa dari yang lain.   Astaga! Mereka selalu saja membawa-bawa masalah fisik. Padahal Masson tidak seburuk itu, dia hanya tidak memperhatikan penampilan sehingga terlihat sedikit lebih kusam. Yah, selain itu ia juga agak… bau. Terlepas dari kenyataan yang ada, bukan berarti Masson pantas untuk direndahkan, bukan?   Beruntung, tak lama kemudian dosen kami masuk. Seketika kelas menjadi kondusif, namun aku tidak bisa mengalihkan perhatianku begitu saja dari Masson. Memang bukan aku yang dikata-katai seperti itu, tapi rasanya ikut kesal karena ia sama sekali tidak membalas.   Seperti biasa, ia duduk di bangku ujung paling depan—sendirian. Di sebelahnya masih ada tiga kursi kosong, namun tak ada yang mau duduk di sebelahnya. Sudah dua tahun kami menjadi teman sekelas, tapi aku baru sadar kalau semakin hari, anak itu terlihat semakin aneh. Dulu masih ada beberapa anak yang mau duduk di sebelahnya dan mengajaknya bicara, namun sepertinya dia tidak tertarik dan membuat yang lain perlahan menjauhinya.   Malam hari sebelum tidur, aku membuka grup kelas yang kembali ramai. Padahal biasanya grup ramai jika ada tugas saja, tapi kali ini tidak. Meski hanya menjadi silent reader, aku tidak pernah sekali pun melewatkan pesan-pesan yang mereka kirimkan. Seseorang membagikan sebuah tangkapan layar yang berisi postingan dari sebuah akun anonim.   ‘Kukira kampus kita udah cukup baik, tapi ternyata salah. Masih ada aja anak yang niat m***m di dalem kelas pas jam istirahat.’   Dan postingan itu mendapatkan komentar lebih dari 200. Jantungku terasa ngilu. Pikiranku langsung kembali pada kejadian siang tadi. Memang tidak ada bukti, tapi sayangnya postingan itu berhasil membuatku overthinking.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD