Chapter 21

1502 Words
Kesal setengah mati. Kumatikan kembali data ponselku, lalu mengambil dompet dan beranjak keluar. Tidak, aku tidak mungkin menemuinya. Aku hanya keluar untuk menghirup udara segar sekaligus pergi mencari makan malam. Tak jauh dari kontrakanku ada kedai yang menjual beragam snack kiloan, biasanya aku membeli dua sampai tiga macam—masing-masing seperempat kilo. Untuk orang yang paling malas ke luar rumah sepertiku, menyetok makanan adalah hal yang wajib untuk dilakukan. “Astaga, ya Tuhan!” pekikku ketika baru saja membuka pintu gerbang. Aro berdiri sambil bersandar di depan kap mobil sambil megang ponsel. Mendengarku memekik cukup keras, ia langsung menoleh dan memberikan senyum seperti bayi. Kuhela napas dalam-dalam, jantungku masih berdebar kencang karena kaget. “Kamu ngapain di depan rumahku jam segini?” tanyaku seraya melangkah menghampirinya. Lagi-lagi penampilan kami sangat tidak sepadan. Dia terlihat tampan dan mewah seperti biasa, sedangkan aku hanya menggunakan kaos serta celana pendek, seperti seorang gadis yang baru selesai menyapu rumah tingkat tiga—lusuh dan berantakan. “Nomormu gak bisa ditelpon. Aku mau ajak makan malem,” ujarnya. “Oh… iya, aku matiin datanya. Lagian langit aja masih terang, makan malem mah masih nanti.” Sepertinya belum lewat jam enam sore. Jangankan makan malam, mandi pun aku belum. “Terus kamu mau ke mana?” tanyanya kemudian. “Kepo deh! Pulang sana! Aku bisa makan sendiri.” Rasa kesalku masih belum hilang, padahal Aro tidak salah apa-apa. “Mending sekarang kamu mandi. Aku tunggu di sini! Aku pengen ajak kamu liat pemandangan bagus. Di sebelah restoran lagi ada semacam pasar malem gitu.” Aku memandangnya dengan tatapan datar, sepertinya ia sama sekali tidak mengenalku. Aku benci keramaian. “Gak minat,” tolakku mentah-mentah. “Aku tau kamu gak suka keramaian. Kita litanya dari balkon restoran aja. Kenapa aku ajak jam segini, karena jam makan malam masih lama. Jadi kamu gak perlu malu naik ke lantai dua karena belum banyak pengunjung,” jelasnya seraya tersenyum penuh harap. Kuhembuskan napas pelan. “Sorry, aku masih gak minat,” jawabku jujur. Di saat mood berantakan seperti ini, pilihan terbaik adalah tidur—bukan jalan-jalan. “Kayaknya aku gak nerima penolakan.” Kemudian Aro beranjak dan memegang kedua bahuku, lalu membuatku berbalik. “Ayo cepet mandi! Aku tunggu!” perintahnya sembari terus mendorongku kembali masuk melalui pintu gerbang. “Apaan sih? Aku gak mau!” “Aku tunggu!” ulangnya, lalu menutup pintu gerbangku dari depan. Apa-apaan? Dia mengurungku di rumahku sendiri? Aku pun kembali masuk dan langsung menuju ke kamar untuk mengecek ponsel. Dan benar, dia mengirimkan sebuah pesan. ‘Aku bakal nunggu jam berapa pun kamu keluar. Sampe besok pagi juga gak apa-apa.’ Ada apa dengan manusia-manusia ini? Mengapa mereka menyebalkan di saat yang bersamaan? Kalau aku hanya diam di kamar dan membiarkan Aro di depan, tentu mood-ku akan semakin buruk. Aku tidak bisa merasakan nyaman dengan cara seperti itu. Akhirnya pilihanku tak lain adalah melakukan apa yang ia perintahkan. Mandi dan bersiap. Dengan pakaian kasual seperti biasa—kaos polos berwarna maroon dan jaket bomber hitam. Ini bukan kencan, jadi aku tak perlu berdandan berlebihan—makeup tipis adalah jalan ninjaku. Dalam waktu tiga puluh menit—lebih sedikit—aku selesai dan mulai memilih tas juga sepatu. Sneaker putih kesayangan yang sudah kupakai lebih dari dua tahun jelas tak luput dari pilihanku. Apa pun pakaiannya, sneaker putih ini tidak akan tergantikan—kecuali dia mulai rusak. Aku penasaran, apakah ia masih dengan sabar menantiku tanpa merasa kesal? Kuintip lewat celah jendela, kebetulan kamarku di lantai dua. Ia berdiri di depan mobilnya dengan earphone yang terpasang di telinga. Dari sini aku tidak melihat kekesalan dari gestur tubuhnya, bahkan terlihat sangat menikmati musik yang ia dengarkan. Melihatnya seperti itu aku jadi merasa bersalah. Tak banyak berpikir lagi, aku langsung ke luar rumah—setelah memastikan tak ada alat berbahaya yang masih tersambung dengan listrik—catok misalnya. Sebelum membuka pintu gerbang, terlebih dulu kurapikan rambut yang mungkin saja berantakan karena aku sedikit berlari ke luar. Saat aku keluar, ia kembali menyambutku dengan senyum—ia tampak begitu senang dan membuatku malu. “Udah siap, kan? Ayo jalan!” ujarnya seraya berjalan ke arah kursi penumpang dan membukakanku pintu. Entah mengapa aku merasa senang dengan hal sederhana seperti ini—bukan karena ia membukakan pintu, tapi karena ia tak menyinggung penampilanku sama sekali. Menyebalkan! Kalau terus begini aku bisa jatuh cinta padanya. Seketika aku lupa dengan mood-ku yang sebelumnya sangat berantakan. Ketika masuk ke dalam mobil, aku bisa mencium aroma pengharum yang berubah, apa dia sengaja mempersiapkan semua ini? Agak mencurigakan. “Pengharumnya kamu ganti, ya?” tanyaku terus terang. “Oh, iya. Biasanya aku pake ini, cuma kemaren-kemaren pas kehabisan dan lupa beli. Kamu gak suka?” Syukurlah kalau alasan sebenarnya seperti itu, rasanya jadi lebih tenang. “Suka kok. Lebih enak yang ini, bikin gak ngantuk juga.” Bagiku yang sering tertidur di perjalanan, sepertinya aroma kopi adalah pilihan terbaik. Tapi kita lihat saja nanti, bisa memberikan pengaruh atau tidak. Aku belum membuktikannya. Mobil pun mulai melaju perlahan dan menuju jalan besar. Memang benar kalau jam makan malam belum tiba, namun keluar di waktu-waktu seperti ini benar-benar pilihan yang buruk. Lalu lintas terlihat padat, bahkan sepertinya kami harus menunggu dua kali lampu merah agar bisa melewati perempatan pertama. “Tadi sebenernya kamu mau ke mana?” tanya Aro memulai pembicaraan di sela keheningan ini. “Beli cemilan,” jawabku tanpa ada embel-embel lain. “Oh, yang deket pertigaan itu?” Aku sedikit terkejut dan langsung menoleh. “Kok tau?” “Aku juga pernah beli di situ. Kadang di mobil juga butuh camilan, kan?” jawabnya seraya kembali menginjak gas perlahan, mobil-mobil di depan mulai bergerak pelan. “Kukira kamu gak level beli jajanan gak bermerk gitu,” ujarku yang ternyata sudah salah menilainya. Setelah mobil berhenti—karena menunggu lampu yang sudah kembali merah—Aro kembali menjawabku, “Sama-sama makanan, kenapa harus pake level sih? Aku bukan orang kayak gitu kok. Kalo memang enak ya makan-makan aja. Gak semua yang mahal dan bermerk itu enak. Iya, kan?” Aku nyengir kuda. “Bener sih, gak salah.” “Kamu suka bubur ayam, gak? Aku tau tempat bubur ayam yang enak, tapi agak jauh tempatnya,” tanyanya kemudian. “Suka sih, tapi belum nemu yang enak banget gitu. Yang dijual di kampus juga aku kurang cocok,” jawanbku. “Sama! Aku juga kurang suka. Kadang keasinan, kadang malah hambar. Gak jelas banget.” Mendengarnya menggerutu seperti itu, ia terlihat menggemaskan. Ternyata ia punya sisi imut juga. “Kalo makan bubur malem-malem, aneh gak?” tanyanya kemudian. Kutebak ia akan mengajakku makan di sana sekarang. “Ng… gak aneh sih. Aku biasa makan apa aja sesuai mood, gak terlalu peduli itu makanan untuk makan malem atau pagi,” jawabku jujur. “Oke. Kita ke sana sekarang!” ujarnya dengan begitu bersemangat. Rasanya energi positif yang ada dalam dirinya menular padaku. Tanpa sadar aku tersenyum melihatnya. Lampu hijau kembali menyala dan akhirnya mobil kami bisa terbebas dari kemacetan. Aro melajukan mobil ini dengan kecepatan yang lumayan tinggi ke arah alun-alun kota. Kupikir tempat yang ia maksud ada di pusat kota, tapi ternyata salah. Ia terus melajukan mobil ke arah yang asing bagiku. Aku menjadi sedikit takut, ia bisa saja membawaku ke tempat yang tak kuinginkan. “Ar… kamu gak mau culik aku, kan?” tanyaku mengutarakan keraguan ini. Ia pun tertawa mendengarnya. “Enggak lah! Jangan takut, sebentar lagi sampe kok!” jawabnya meyakinkanku. Aku terus memperhatikan sekeliling, sepertinya mulai masuk ke area pedesaan. Kalau tidak salah, jalanan ini mengarah ke pantai. Aku pernah melewatinya satu kali—itu pun kalau tidak salah. Kemudian kami masuk ke sebuah gang kecil—sepertinya tidak cukup jika dilewati dua mobil bersamaan. “Jangan takut! Di depan rame kok,” ujarnya lagi, sepertinya ia bisa melihat ketegangan di wajahku. Sampailah kami di sebuah kedai yang tidak terlihat seperti kedai. Hanya seperti rumah biasa yang berjejer dan dipasang plang bertuliskan ‘Menjual Bubur Ayam’ tidak ada embel-embel nama penjual atau pun lainnya. Agak… aneh dan semakin membuatku takut. “Beneran di sini?” tanyaku yang masih ragu. “Iya. Dari sini memang keliatannya aneh, tapi di dalem normal-normal aja kok. Ayo turun!” ajaknya. Aku kembali melihat sekeliling, memang ada beberapa motor yang terparkir, namun rasanya masih saja meragukan. Aro turun lebih dulu. Tak ingin ia membukakan pintu untukku, aku langsung ikut keluar meski sebenarnya takut. “Pegang tanganku kalo kamu takut!” ujarnya kemudian. Aku pun meliriknya. Yang aku takutkan bukan rumah ini, tapi dia. Seandainya dia berniat buruk padaku, untuk apa aku berpegangan padanya. “Kamu jalan duluan aja!” pintaku, dan ia pun tak berkomentar. Aku berjalan di belakangnya dengan langkah ragu. Ia membuka sebuah pintu, lalu kami melewati lorong yang tak begitu panjang. Bisa terlihat sorot lampu dari ujung lorong, seketika aku langsung memegang ujung pakaian Aro. Ia menoleh, namun sepertinya tidak keberatan dengan apa yang aku lakukan. Dengan bersembunyi di balik punggungnya, aku memberanikan diri untuk melihat sekeliling dan tempat ini sangat jauh dari dugaanku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD