Nenek yang Penuh Misteri

816 Words
"Kok kamu bisa tahu? Berarti p********n itu dari—" "Udah aku bilang. Bukan hanya tau, aku kenal dengan Mamanya Zifa. Kamu tau Papanya Zifa meninggal gimana?" "Gimana?" tanyaku penasaran. Putri mendekat. "Gak wajar. Tabrak lari, hancur semua wajahnya." Astaga. Aku tersentak di kursi. Sangat sulit dipercaya. "Setelah masa iddah, Mamanya Zifa langsung nikah sama Papa tiri Zifa sekarang. Padahal, dia gak pernah dekat sama laki-laki lain." Hm. Aku merasa ada sesuatu di sana. Ini benar-benar misteri luar biasa. "Kamu kenal sama Papa tirinya Zifa?" "Gak terlalu kenal, sih. Setengah tahun Mamanya Zifa menikah, ada suara teriakan itu selama setengah tahun itu. Aku pindah, deh, setelah itu." Aku mengusap wajah. Semuanya harus terbongkar secepatnya. "Pembantunya Zifa?" "Masih sama mungkin. Pembantu Zifa masih kelihatan muda sekali." Astaga! Berarti benar, pembantu yang sekarang adalah pembantu yang sama. "Kamu gak pernah coba cari tahu soal Zifa yang teriak kesakitan tiap malam, Put?" "Aku gak mau ikut campur urusan orang, Nay. Bisa-bisa, aku dimasukin ke penjara. Berurusan sama orang besar kayak Papanya Zifa." Ah, sulit mencari informasi kalau begini. Aku menatap meja, menghela napas berkali-kali. "Kamu kenapa berusaha banget cari informasi tentang Zifa? Padahal, banyak banget tetangga yang bodo amat soal itu. Ini menarik, Nay." "Zifa dekat banget sama aku. Apalagi pas sebelum dia meninggal. Dia berusaha kasih pesan. Apalagi, teriakan kesakitan dia itu. Aku bakalan usaha buat dia, Put." "Wow, Nay." Putri menatapku kagum. "Pemikiran yang berbeda. Kamu gak beda jauh dari dulu. Bangga aku." "Suka-suka kamu. Tolong bantuin aku, Put." "Tenang aja. Kebetulan, aku punya nomor Neneknya Zifa dari pihak papa tirinya. Itu pasti bisa membantu kita." Mendengar itu, aku membulatkan mata. Serius? Nomor neneknya Zifa? Benar-benar kabar gembira. Putri mengeluarkan ponselnya. Dia menghubungi seseorang. Hampir sepuluh menit mencoba. Tidak terhubung juga. Putri sampai terlihat kesal sendiri. "Sini coba aku yang hubungi." "Nih." Putri memberikan ponselnya kesal. Aku menekan tombol menelepon. Terdengar nada dering beberapa kali. Sampai akhirnya, suara terdengar dari seberang sana. "Halo, Nak Putri, ya? Ada apa? Udah lama gak hubungi Nenek." Ah, bagus sekali. "Iya, Nek. Masih di rumah, Nek? Ada yang mau saya bicarakan." Putri yang berbicara. "Masih, Nak. Kesini. Sekalian main. Kangen Nenek." Putri berbicara beberapa patah kata lagi. Kemudian mematikan telepon. Dia tersenyum padaku. "Kamu mau cari tahu soal Zifa, kan? Ayo kita cari tahu. Udah lama banget aku mau melakukan itu. Gak ada temannya, aku juga takut. Kita pecahkan misteri ini sama-sama, Nay. Aku bakalan bantu kamu, sebagai penebus kesalahan masa lalu." *** "Iya. Aku pergi sebentar." Mas Fahri sejak tadi sibuk menelepon, katanya aku tidak ada di restoran tadi. Sudah dikelilingi. Aku ada di mobil Putri. Rumah Nenek Zifa sepertinya akan jauh sekali. "Mau kemana?" tanya Mas Fahri dari seberang sana. Terdengar khawatir. "Ke rumah Putri, Mas. Kamu pulang duluan aja. Makanan udah siap atau kamu mau beli makanan yang lain di restoran?" "Makan masakan kamu aja. Jangan pulang malam, ingat. Aku gak mau ada apa-apa sama kamu." Senyumku mengembang. Dia perhatian sekali. "Satu lagi. Cukup soal Zifa, Nay. Jangan lagi. Anak itu sudah tenang di sana, aku gak mau kamu terlibat sama hal yang gak penting." Mendengar itu, senyumku langsung luntur. Mas Fahri memang benar-benar menyebalkan. "Iya. Hati-hati di jalan, Mas." "Hmm. Kamu juga. Ingat kata-kataku, Nay." Aku mematikan telepon, memasukkan ponsel kembali ke dalam tas. Putri sejak tadi mencuri pandang ke aku. Maaf, Mas. Kali ini, aku harus bisa memecahkannya masalah ini. Kasihan Zifa. "Kamu sampai sekarang belum dikasih momongan, Nay?" "Belum, Put. Aku masih sabar kok, tenang aja." Putri mengusap lenganku. Beberapa kali aku keguguran. Sudah melakukan banyak cara, akhirnya aku menganggap Zifa sebagai anak sendiri. Zifa juga sering bilang dia akan bertemu dengan anak-anakku di surga. Dia akan menyayangi mereka layaknya adiknya sendiri. Mobil kami berhenti di rumah yang terlihat angker. Aku menelan ludah, ini serius rumahnya? Putri tidak salah, kan? "Ayo, turun, Nay." "Kamu gak salah alamat, kan, Put? Kok rumahnya kelihatan angker gini." "Enggak. Ini alamatnya benar, kok." Sahabatku itu menekan bel. Kami menunggu pintu utama dibukakan. "Jangan salah, rumah ini punya banyak sejarah, Nay. Termasuk Zifa. Jadi, kamu tenang aja." Putri menekan bel sekali lagi. Baru, pintu dibukakan. Jantungku berdetak kencang, ketika melihat wanita renta yang membukakan pintu. Dia tersenyum padaku dan Putri. Putri langsung menyalaminya. Tampak akrab sekali. "Mari masuk, Nak. Udah lama banget gak ketemu sama Nenek." Brak! Aku melompat ke depan mendengar pintu tertutup sendiri dengan keras. Jantungku berdetak semakin kencang. Rumah ini horor sekali. "Pintunya modern, kan, Nay?" bisik Putri. Modern apanya? Aku melotot ke Putri. Itu justru menyeramkan. Kami duduk di sofa. Sejak tadi, aku menatap seluruh ruangan. Banyak foto nenek dan Zifa di sini. Terlihat sudah tua sekali rumah ini. "Apa kabar, Nak Putri?" tanya Nenek itu. "Baik, Nek." Pandangan Nenek Zifa beralih ke aku. Dia tersenyum tipis. "Tujuan kalian jelas sekali ke sini." Bukankah Putri belum menjelaskan maksud kedatangan kami? Apa maksudnya ini? "Bukankah begitu, Bi Nay?" Eh? Nenek ini juga tahu panggilan dari Zifa? ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD