"Repot sekali sampai kalian datang kesini."
"Enggak, Nek. Kebetulan ada yang mau kami bicarakan."
Putri menyenggol lenganku. Dia melotot, menyuruh untuk menyampaikan tujuan kami kesini.
Tapi bukankah Nenek tadi bilang dia sudah tahu tujuan kami?
"Nenek sudah tahu mengenai Zifa yang sudah—"
"Sudah tahu, Nak." Nenek itu memotong perkataan Putri. "Zifa meninggal."
Ah, mungkin Nenek ini tahu, karena dia memang keluarganya.
"Tujuan kami mau menanyakan soal teriakan Zifa setiap malam, Nek. Siapa tahu Nenek punya alasannya."
Nenek itu tertawa, terdengar menyeramkan. Beberapa detik, dia mengambil pena dan kertas. Menuliskan sesuatu di sana.
"Ini alamat rumah papa tirinya Zifa, Nak. Kalian berdua bisa cari tau di sana."
"Tapi, Nek—"
"Kalau kalian mau tahu, hanya itu solusinya."
"Di sini ada kamar Zifa, Nek?" tanyaku beberapa detik setelahnya.
"Ada. Mau kesana?"
Aku menganggukkan kepala. Nenek itu menunjukkan jalan ke kamar Zifa.
"Kamu sendiri kesana, ya. Nenek mau melanjutkan memasak makanan. Ayo, Nak Putri, bantu Nenek."
Eh? Mataku membulat mendengarnya. Masa iya, aku harus ke kamar Zifa sendirian.
Putri juga ikut menoleh kebingungan. Dia ingin menemaniku, tapi tangannya ditarik. Aku menelan ludah, menatap kunci kamar yang diletakkan di atas meja.
Baiklah. Kami akan kelamaan di sini, kalau aku tidak juga bergerak.
"Nek, kamar Zifa ada dimana?" tanyaku sambil menatap Nenek Zifa.
"Ah, Nenek lupa, Nak. Kamu ke lantai dua, lurus, paling pinggir. Di situ ada kamarnya Zifa."
Aku menganggukkan kepala, melirik Putri yang mengepalkan tangan. Dia baru saja memberikan semangat.
Langkahku terhenti di depan pintu kamar yang Nenek tadi bilang. Pintunya sudah hitam-hitam, seperti sudah tua sekali.
Dengan gerakan pelan, aku membuka kamar dengan kunci. Bau besi campur bau amis tercium saat membuka kamar Zifa. Aku menutup hidung, sudah berapa lama kamar ini tidak dibersihkan?
"Astaga kamarnya."
Eh? Aku menoleh mendengar ada yang bersuara di belakangku. Putri ikut menutup hidung.
"Kok di sini?"
"Aku izin ke kamar mandi tadi. Terus nyusul kamu ke sini."
Bagus. Aku menganggukkan kepala, menutup pintu kamar kembali.
"Kenapa kamarnya bau gini, sih? Gak pernah dibersihin kali, ya."
"Mungkin." Aku mengangkat bahu, mendekati tempat tidur Zifa.
Menurut cerita Nenek tadi, Zifa kadang tinggal di rumah ini. Karena lumayan dekat dengan sekolahnya.
Pandanganku terhenti ke foto Zifa yang diletakkan di atas meja.
"Put, sini, geh."
Putri mendekatiku. Dia mengamati foto itu sejenak.
Entah kenapa, aku seperti pernah melihat pria di samping Zifa. Tidak ada senyum di wajah pria itu.
"Ini Papa kandungnya Zifa. Zifa ini paling dekat sama Papanya. Eh, malah ada kejadian kayak gitu."
"Deket gimana ceritanya? Lihat, gak ada senyum sama sekali gini."
Sahabatku itu diam sejenak. Dia menganggukkan kepala.
"Betul juga."
Aku menoleh ketika melihat bayangan hitam lewat di jendela kamar. Jantungku berdegup kencang.
"Heh, kok malah diam, lho." Putri menepuk lenganku.
"Ada yang lewat tadi, Put," bisikku.
"Jangan nakut-nakutin, deh. Halusinasi lagi mungkin." Putri menatap jendela yang aku tunjukkan.
"Bukan nakut-nakutin, Put. Ini serius."
"Fokus ke pencarian kita, Nay. Jangan fokus ke tempat lain." Putri melotot ke aku. Dia tidak suka, kalau aku membahas makhluk seperti itu.
Foto ini mengandung sesuatu. Aku menatapnya beberapa detik lagi, ada misteri di sana.
Akhirnya, aku beranjak ke meja belajar Zifa. Tidak ada apa-apa di sana. Kami sama sekali tidak menemukan apa pun.
"Kamu tau, Nay, aku sering banget main kesini, walaupun cuma kenal setengah tahun."
"Gimana soal Neneknya Zifa? Baik? Atau sebaliknya?"
"Baik, sih, tapi setiap ditanyain soal Papa angkatnya Zifa, dia bungkam. Gak mau jawab."
"Nanti aku mau tanya, deh."
Uhuk!
Eh? Aku menoleh ke Putri yang ikut terdiam mendengar batuk itu.
"Kamu batuk, Put?"
"Enggak. Suaranya juga laki-laki, Nay." Putri merapat ke aku.
Siapa yang batuk? Entah kenapa, aku merasa ada yang memperhatikan kami sejak tadi. Jantungku berdetak kencang, jujur aku juga takut sekarang.
Atau jangan-jangan Papa angkatnya Zifa? Benar-benar kabar buruk kalau begitu. Aku memegang tangan Putri, bersiap dengan kemungkinan terburuk.
Hampir sepuluh menit kami diam, tidak ada siapa pun. Sepertinya, memang tidak ada siapa-siapa di sini.
"Bukan siapa-siapa, deh, kayaknya, Put. Kita keluar aja. Gak ada hasil apa-apa."
Putri mengangguk. Dari wajahnya terlihat, kalau dia ketakutan sekali.
Brak!
Kami menoleh ke belakang. Ada sesuatu yang terjatuh.
Sebuah kotak dari atas lemari Zifa. Kami berpandangan sejenak.
"Lihat sebentar aja, Put. Ayolah."
"Tapi kalau itu jebakan gimana?"
"Sebentar aja. Kalau gak, kamu keluar duluan, biar aku yang periksa."
"Ada-ada aja, deh. Ayo." Putri menarik lenganku. Kami melangkah ke kotak tadi.
Dengan tangan gemetar, aku meraih kotak itu. Membuka pelan-pelan.
Ada sebuah foto di dalamnya, juga sebuah kertas. Tersusun terbalik. Aku bertatapan sejenak dengan Putri.
Putri mengangguk, menyuruhku membuka foto itu.
Ada foto papa angkat Zifa. Di silang dengan tanda merah. Entah spidol atau apalah itu. Aku mendekati foto ke hidung, bau amis darah.
"Kayaknya nulisnya dari darah, deh." Aku berbisik ke Putri.
"Coba lihat kertasnya." Putri menyuruhku cepat-cepat membuka kertas itu.
Kertas itu juga ditulis dengan warna merah darah. Baunya lebih amis dari yang tadi. Tulisan ini penuh kebencian.
Aku dan Putri bertatapan. Ada sesuatu yang menjadi misteri.
"Papa sudah merebut semuanya dariku. Dia bukan orang baik. Papa yang telah menghancurkan segalanya!"
***