"Sudah selesai memeriksa kamar Zifa, Nak?"
Eh? Kami berdua menoleh ke belakang. Nenek itu sudah menunggu di depan pintu.
"U—udah, Nek."
"Makan, yuk. Nenek udah masak."
"Iya. Ayo, Nay. Beresin itu dulu."
Aku mengangguk. Buru-buru membereskan kotak dan buku yang berserakan. Juga mengantongi foto dan kertas tadi.
Kami sampai di dapur. Aku menelan ludah, melihat makanan yang tersaji. Seperti bubur yang diaduk-aduk saja.
Entah apa rasanya.
"Ayo, Nak. Dicicipi."
Patah-patah aku mengangguk, mengambil sendok. Kemudian memakan bubur itu.
Benar saja. Rasanya aneh, campur aduk. Baunya juga amis sekali. Aku langsung mengambil tisu, pura-pura membersihkan mulut.
Putri menyenggolku. Wajahnya juga tampak aneh.
"Makan-makan aja, telan pakai air. Jangan dibuang, nanti Nenek itu gak suka sama kita," bisik Putri.
Masalahnya, gimana cara menelan makanan ini. Entah rasanya asin, pedas, manis, campur aduk.
Akhirnya, sdiaduk-aduk makan bubur ini setengah hati. Aku menghela napas pelan, rasanya perutku diaduk-aduk.
"Nek, kita pamit dulu, ya. Makasih sajiannya, Nek."
"Ah, pintar. Besok Nenek ke rumah Zifa. Kalian main, ya."
"Pasti, Nek. Kami pulang dulu, Nek."
Aku menyenderkan punggung. Mengembuskan napas kesal. Kami hanya dapat beberapa informasi.
"Eh, coba nanti malam kamu dengerin lagi, ada suara teriakan gak."
"Mana ada. Zifa udah meninggal, gak ada lagi lah suara teriakannya."
"Bisa jadi."
Ponselku berdering. Dari Mas Fahri. Dia menelepon lagi.
"Sebentar lagi aku pulang, Mas. Tenang aja, gak nginep, kok." Aku lebih dulu menjelaskan ke Mas Fahri.
Terdengar tawa di seberang sana. Aku mengernyit, Mas Fahri kenapa?
"Aku gak nanya itu, Nay. Kamu lagi jalan pulang, ya? Hati-hati. Oh iya, Papa tirinya Zifa udah pulang, tuh."
"Serius, Mas?" Aku menegakkan tubuh mendengarnya. Benar-benar berita bagus sekali.
"Iya. Hati-hati di jalan, Nay. Jangan ngebut, bilangin ke Putri."
Mas Fahri mematikan telepon. Aku tersenyum senang.
"Kenapa? Habis teleponan langsung senyum-senyum? Dibeliin makanan enak sama si Fahri, ya?"
"Enggak. Papa tirinya Zifa udah sampai, Put. Ah, kalau gini bisa cari tahu sekarang."
"Bagus banget. Kita langsung ke sana. Kalau perlu, aku nginep di rumah kamu."
Aku menganggukkan kepala mantap. Itu ide bagus sekali.
Sebentar lagi, aku akan bertemu dengan Papa tiri Zifa. Ya, pasti misteri itu akan terbongkar sendiri.
***
Mobil Putri sampai di rumahku. Aku buru-buru masuk ke dalam rumah. Ternyata, rumah Zifa agak ramai.
"Put, malam ini kamu bisa nginep, gak? Aku harus ke rumah orang tua."
Eh? Aku menatap Mas Fahri. Ada apa?
"Mama kecelakaan, Nay. Udah di rumah sakit sekarang. Aku mau kesana." Mas Fahri sudah menggeret kopernya.
"Yaudah, aku ikut aja."
"Gak bisa. Aku mau ngebut, Sayang. Biar gak kemalaman sampainya. Kampung kita kan jauh, ini udah sore banget. Lagi pula, kata kamu mau ke dokter besok."
Ya ampun, aku baru ingat. Besok ada jadwal konsultasi ke dokter kandungan. Kami mendambakan anak, apa pun dilakukan.
"Yaudah, aku diam aja di rumah."
Lagi pula, aku harus menyelidiki Papa tiri Zifa. Itu juga penting.
"Putri, tolong jagain Nay, ya. Kamu gak ada jadwal untuk beberapa hari besok, kan? Temenin dia juga ke dokter."
Putri mengangkat jempolnya. Ternyata, Mas Fahri membelikan kami makanan.
Mas Fahri mendekatiku, dia mengusap rambutku. "Hati-hati di rumah, Nay. Jangan lakuin hal aneh-aneh."
"Pasti, Mas. Hati-hati perjalanannya."
Aku mengantar Mas Fahri. "Jangan lupa telepon kalau udah sampai."
Setelah Mas Fahri pergi, aku menggelengkan kepala melihat Putri yang sudah menyalakan televisi.
"Kamu mau ambil pakaian dulu di rumah gak? Aku anterin sekalian."
"Enggak, ah. Pinjam pakaian kamu aja. Kita ke rumah Zifa, yuk. Aku mau ketemu sama Mama Zifa."
"Eh, rumah kamu dulu yang mana?" tanyaku sambil menoleh ke Putri.
"Depan rumah Zifa tepat."
Oh. Aku menatap rumah yang Putri bilang. Sekarang, rumah itu tampak sedikit menyeramkan kalau malam, tapi ada penghuninya.
"Assalammualaikum." Kami langsung masuk ke dalam.
"Putri, kan? Ya ampun, udah lama banget gak ketemu." Mama Zifa langsung memeluk Putri.
Sebenarnya, aku agak heran melihat keakraban Putri dengan Mama Zifa. Tapi baru ingat, mereka memang kenal lumayan dekat.
"Galau terus, Ngga. Udahlah, biarin aja yang udah-udah." Putri menepuk bahu Angga.
"Ya ampun, Mbak Putri. Udah lama banget gak ketemu. Maafin kesalahan Zifa, ya, Mbak."
"Zifa mana ada salah. Mana pembantu kamu?" Putri berbisik ketika sampai di kalimat akhir.
"Di kamar tadi, Mbak. Tumben, biasanya kalau main ke rumah gak mau nyari Bibi."
"Mau tau aja mukanya sekarang."
Kami mengobrol hampir dua jam. Aku dan Putri akhirnya pamit pulang. Sejak tadi, aku hanya bisa melihat Papanya Zifa lewat dua kali. Itu pun dia melirik tajam sekali.
Papanya Zifa memang terlihat dingin. Kejam juga, sih. Selama tinggal di sini, aku hanya beberapa kali melihat wajah Papa tirinya Zifa.
"Besok aja lagi. Kita selidiki."
Aku mengangguk. Lagi pula, Mas Fahri pasti lama di kampung.
***
"Kita ngapain sih malam-malam begadang? Ngantuk tau, Nay."
Aku nyengir, menatap Putri sambil mengambil camilan.
Kami tidak menyalakan televisi. Fokus ke ponsel masing-masing.
"Gak bisa tidur, Put. Kepikiran Zifa terus."
"Kayaknya, Zifa bakalan jadi anak kamu. Sejak tadi reseh mulu."
Jam sudah menunjukkan pukul hampir setengah satu malam. Aku mengusap dahi, tidak ada teriakan Zifa.
Iyalah. Zifa sudah meninggal. Tidak mungkin ada teriakan nya lagi.
Aku menguap, hampir ketiduran.
"Aduh, sakit, Pa! Sakit!"
Astaga. Aku dan Putri saling bertatapan. Suara yang tidak asing di telingaku. Itu suara Zifa!
"Ayo, Nay. Kita selidiki." Putri sudah berdiri.
Kami membuka pintu. Aku membuntuti Putri dari belakang. Kami mulai mengintai.
Mataku membelalak melihat apa yang terjadi. Astaga—
"Aaa—"
***