Bab 9 — Kontras Dua Ruangan

694 Words
#Bab Sembilan (Warning Bab ini mengandung adegan 18+) "Nghnnn ... Tuan, Sienna tak akan pernah puas selain dengan Anda, ahhh!" Erangan Sienna bergema di seluruh ruangan itu. Kaeel mencengkeram pipi Sienna dari belakang, sambil terus menggerakkan tubuhnya, beberapa jarinya masuk ke mulut wanita itu, membuat erangannya terbata-bata. Suara keintiman mereka terdengar hingga keluar ruangan, namun setiap orang yang mendengar langsung pura-pura tak mendengar, atau tetap berusaha sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Kecuali satu orang. Asisten baru Kaeel diam-diam menempelkan telinganya ke dinding. Di baliknya terdengar jelas suara Sienna yang mengerang hebat. "Sienna ..." ucapnya lirih, lengannya bergerak mengusap sesuatu di balik celananya. Dua jam berlalu, suara keintiman dari ruangan Kaeel berhenti sepenuhnya. Di baliknya, Sienna sedang mengenakan kembali blus dan roknya, sementara Kaeel duduk di sofa sambil menghisap rokok. Setelah selesai mengenakan pakaian yang kini terlihat lebih lecek, Sienna duduk di samping Kaeel, menyandarkan kepalanya di bahu pria itu sambil memejamkan mata. "Tidak biasanya Tuan melakukannya lebih sebentar dari biasanya," gumamnya dengan suara manja. --- Berbanding terbalik, di kamar apartemen Angelin, wanita itu mendorong Henry hingga pria itu terbaring di kasur. Pria itu tak protes ataupun menghentikan pergerakan Angelin. Ia hanya diam menerima seluruh pergerakannya. Angelin naik ke atas tubuh pria itu. Ia mendekatkan wajahnya, lalu mencium bibir pria itu dalam-dalam dan sedikit kasar. Henry sama sekali tak menolak, ia membalas ciuman itu dengan gairah yang sama. Angelin melepaskan bajunya dengan tergesa, lalu melemparkannya sembarangan ke lantai. Di setiap ciuman, sentuhan, dan belaian pria itu, hanya terbayang wajah orang lain di kepalanya, satu orang yang selalu ada di pikirannya, seseorang yang selalu ia inginkan untuk mengontrolnya. Kaeel. Setelah beberapa menit yang singkat dan tergesa-gesa itu berakhir, Henry memeluk tubuh Angelin di sampingnya. Mereka hanya dibalut oleh selimut lebar yang menutupi keduanya. Angelin hanya menatap langit-langit. Jari-jarinya mengetuk-ngetuk kasur tanpa irama, napasnya tak kunjung melambat, dan pelukan Henry terasa makin berat di tubuhnya. Sinar matahari pagi menembus celah gorden kamar apartemen Angelin, menimpa dua cangkir teh hangat yang baru saja disiapkan dan diletakkan Henry di atas nakas. Henry tersenyum tipis. Mengenakan celana kain dan kemeja yang belum dikancingkan sepenuhnya, ia berjalan mendekati tepi kasur. Mengingat bagaimana heboh dan liarnya Angelin menuntut dirinya semalam, ada rasa hangat yang menyeruak di d**a Henry. Ia merasa akhirnya berhasil menjadi tempat bersandar bagi wanita itu. Henry membungkuk, hendak mengusap pelan bahu polos Angelin yang tertutup selimut. Namun sebelum jemarinya sempat menyentuh kulit wanita itu, Angelin lebih dulu membuka mata. Refleks, ia menarik selimut lebih tinggi dan menggeser tubuhnya menjauh—secepat dan sedingin orang yang menghindari sentuhan bangkai. Jemari Henry mengambang di udara. Senyumnya goyah. "Lyn? Aku buatin teh hangat..." Suara Henry terdengar pelan, mencoba mencairkan keheningan yang mendadak mencekam. Angelin tak menjawab. Wajahnya datar, matanya sembap, menatap lurus ke arah cangkir teh di atas meja tanpa menyentuhnya. Semalam ia berharap sentuhan Henry bisa menghapus rasa hausnya pada Kaeel. Pagi ini kulitnya terasa seperti milik orang lain, dan ia ingin menggosoknya sampai perih. Angelin duduk, menarik kaosnya di lantai, lalu mengenakannya tanpa memedulikan Henry yang masih berdiri di samping ranjangnya. "Kamu bisa pulang sekarang, Henry," ucap Angelin datar, suaranya parau. Henry mengerutkan dahi, hatinya seperti dihantam benda tumpul. "Tapi, Lyn... semalam kamu butuh aku. Kita—" "Jangan bahas semalam," potong Angelin cepat. Ia berdiri, mengikat rambutnya asal-asalan tanpa sekali pun menatap mata Henry. "Tolong kunci pintunya dari luar kalau kamu keluar nanti. Aku ada urusan." "Lyn, aku salah apa?" Henry menahan lengan Angelin, suaranya mulai bergetar frustrasi. "Kemarin kamu yang narik aku ke sini! Sekarang kenapa kamu memperlakukan aku kayak orang asing?!" Angelin menepis tangan Henry pelan, tapi tegas. Ia menatap Henry dengan tatapan paling dingin yang pernah pria itu lihat. "Aku cuma perlu waktu untuk sendirian," bisiknya, lalu berjalan lurus ke kamar mandi dan mengunci pintunya dari dalam, meninggalkan Henry sendirian di tengah kamar yang dingin, menggenggam kebingungan dan rasa hancur yang tak bertepi. Di balik pintu kamar mandi, Angelin menyandarkan punggungnya pada pintu itu, tubuhnya merosot perlahan ke lantai, ia menutupi wajahnya dengan kedua lengannya. *Kenapa aku menyuruh si payah itu datang, bodoh, bodoh, bodoh!* Lengannya perlahan turun menyentuh perutnya sendiri, lalu menyelip masuk ke bagian bawahnya. *Kaeel, kenapa kamu meninggalkanku lagi ...* "Kaeel..." gumamnya, suaranya pecah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD