Bab 8 — Permainan Yang Runtuh?

745 Words
#Bab delapan "Perjodohan? Tunggu, Cla, kenapa kamu bisa mendengar gosip seperti itu?" tanya Angelin dengan raut wajah yang berusaha dibuat setenang mungkin, kontras dengan jarinya yang mulai gemetar. "Oh, aku belum kasih tahu, ya? Pacar baruku, kan, kerja di perusahaan CEO dingin kesukaanmu itu." Ia mengedipkan sebelah matanya. Angelin termenung sesaat. Jika gosip itu benar, apakah selama ini Kaeel benar-benar tak peduli dengannya? Di kepalanya mulai terbayang Kaeel yang pergi dengan wanita lain. Tanpa sadar, lengannya mengepal di sampingnya. "Ada apa, Lyn?" Clara menepuk pundak Angelin, membuat temannya itu terbangun dari lamunannya. Angelin segera menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Bukan apa-apa," ia berdehem sekali, "ngomong-ngomong, bisa-bisanya kamu sudah ganti pacar baru," lanjutnya pura-pura penasaran, padahal ia ingin segera lari dari sana dan membombardir ayahnya dengan pertanyaan. Setelah beberapa jam berlalu, Clara, yang puas menceritakan tentang pacar barunya itu, pamit pulang. Angelin sedari tadi tak benar-benar mendengarkan cerita Clara, pikirannya terus berputar-putar soal perjodohan itu. Sesampainya ia di dalam mobilnya, ia mencengkeram ponselnya dengan kasar dari dalam tas selempangnya, lalu mengetuk nomor yang bertuliskan 'Ayah' di kontaknya. Telepon itu hanya membunyikan nada sambung, tak ada jawaban dari ayahnya. Angelin mendecak kesal, ia membanting ponselnya hingga layarnya sedikit retak. Ia mulai menggigit kuku jarinya dengan geram, namun tepat di saat kekesalannya itu, ponselnya malah menampilkan notifikasi panggilan dari Henry. Melihat nama itu, Angelin ingin segera membuang ponselnya keluar dari mobilnya, namun ia menghentikan aksinya. Ia menatap ponselnya lama, entah apa yang sedang ia pikirkan. Jarinya bergerak menggeser panggilan itu ke ikon hijau. Terdengar suara Henry di balik telepon, suara rendah dan penuh penyesalan. "Lyn, akhirnya kamu mengangkat teleponku. Aku benar-benar minta maaf. Ayo kita bertemu." Wajah Angelin mulai datar, kemarahan sebelumnya seakan-akan menghilang begitu saja, bukan karena luluh, tapi karena sesuatu yang mulai rapuh di dalam dirinya. "Hen... Aku butuh kamu. Aku akan menunggu kamu di apartemenku," ucapnya dengan wajah datar, meski Henry tak bisa melihatnya. "Aku datang! Aku pasti dat—" Belum sempat suara Henry masuk sepenuhnya ke telepon, Angelin sudah menutupnya. Ia mengusap wajahnya perlahan sebelum ia menyalakan mesin mobilnya. --- Sementara itu, di lantai atas gedung Vantara Group, keheningan ruangan CEO hanya dipecahkan oleh gesekan kain dan desah napas teratur. Cahaya temaram dari lampu meja memantulkan bayangan dua figur di atas sofa kulit hitam. Kaeel duduk bersandar dengan tangan yang direntangkan di atas sandaran sofa, sementara Sienna berada di pangkuannya, mengecup bibir dan lehernya dengan intens. Kaeel mengusap rambut Sienna dengan sebelah lengannya, membuat wanita itu tersenyum. "Anda memang suka rambut saya, ya, Tuan?" ucapnya dengan rengekan manja. Kaeel sama sekali tak menjawab. Ia menghirup rambut wanita itu dalam-dalam seakan itu bukan sekadar rambut. "Aku menggunakan sampo yang Anda belikan sebelumnya. Anda benar-benar suka wangi ini, ya, Tuan?" Ia terkekeh sambil mengusap rambut Kaeel. Suara kecupan yang basah dan berulang kali terdengar riuh di dalam ruangan yang sunyi—berbunyi meletup-letup halus layaknya selotip basah yang ditarik secara berkala dari permukaan kaca. Lengket dan berirama. Setiap kali bibir Sienna menempel dan terlepas dari lehernya, Kaeel bahkan tidak memejamkan mata. Sienna mulai membuka kancing baju Kaeel perlahan, tatapannya tak pernah lepas dari wajah pria itu. Saat d**a bidangnya terlihat jelas, Sienna tanpa ragu menjilatnya pelan. "Tuan, mau melakukannya sekarang? Tak perlu pakai pengaman, aku di luar periode." --- Di tempat lain, tepatnya di apartemen Angelin, Henry tiba di depan pintu apartemen Angelin, tepatnya di lantai tiga. Ia menekan bel dengan gelisah, berharap itu bukan prank dari pacarnya. Tak butuh waktu lama, Angelin membukakan pintu. Wajahnya tampak kusut, rambutnya berantakan seperti ada yang mengacak-acaknya. Mata Henry melotot sekaligus khawatir melihat keadaan Angelin. "Sayang? Apa yang terjadi denganmu?!" Ia mendekat, mengambil tangan Angelin dengan lembut. Angelin tak menjawab. Ia malah memeluk Henry dengan isakan tangis yang segar. Henry, yang tak tahu apa yang terjadi dengan pacarnya, membalas pelukan itu, mengusap punggungnya lembut. "Jangan khawatir, Sayang, aku di sini," ucapnya lembut, sekilas terdengar begitu tulus. Namun hati Angelin sama sekali tak tersentuh mendengar itu, pikirannya tetap berputar di tempat yang sama. Angelin menarik pria itu masuk ke dalam apartemennya, lalu menutup kembali pintu di belakangnya. "Ceritakan padaku apa yang terjadi, Sayang. Aku akan mendengarkan semuanya." Angelin menggeleng tipis. Ia menarik lengan Henry, menuntunnya masuk ke dalam kamarnya. Henry, yang merasa dibutuhkan, hanya mengikuti arahan Angelin tanpa protes. Begitu melangkah melewati ambang pintu, Angelin mendorong tubuh Henry pelan hingga pria itu terduduk di tepi ranjang. Tanpa mengalihkan tatapannya yang hampa, ia mematikan lampu kamarnya, lalu memutar kunci pintu di belakangnya dengan sekali klik yang terdengar nyaring di tengah keheningan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD