## Bab tujuh
Lift berhenti di lantai atas. Kaeel keluar dari sana sambil merapikan kerah jas hitamnya, lalu berjalan santai menyusuri lorong menuju ruang kerjanya.
Beberapa orang di sana menghindarinya, ada juga yang tersenyum-senyum sambil membicarakannya diam-diam, namun Kaeel sama sekali tak mempedulikan semua itu.
Sesampainya ia di ruang kerjanya, seorang pria sudah duduk di sana, fokus pada komputer di hadapannya.
Saat menyadari kedatangan Kaeel, pria itu segera berdiri menyapanya.
"Ada masalah, Tuan Arce," ucapnya alih-alih menyambut dengan salam. Wajahnya sedikit berkeringat.
Kaeel sedikit mendecak sambil menarik kursinya. "Katakan."
Pria itu terdiam sesaat, keringat mulai menetes di pelipisnya. "Kontainer kita tertahan di pelabuhan, sepertinya ada seseorang yang berkhianat."
Kaeel hanya menyeringai. *Kenapa bos mengirim orang ini sebagai asisten baruku? Orang yang bahkan langsung panik menghadapi hal seperti ini?*
"Kau keluar saja, biar aku yang urus," kata Kaeel sambil menyalakan komputernya.
Pria itu mengangguk, mulai merapikan barang-barangnya. Saat ia akan melangkah keluar, Kaeel memanggilnya sekali lagi.
"Tunggu dulu."
Pria itu berhenti di ambang pintu. "Ada apa, Tuan?"
Kaeel mengusap dagunya sejenak sebelum melanjutkan. "Ke mana Sienna? Apa dia sudah datang?"
Pria itu mengangguk. "Sudah, Tuan. Dia sedang mengambil kopi di lantai bawah."
Kaeel mengangguk sambil mengibaskan lengannya, membiarkan pria itu pergi. Pria itu menunduk sekali lagi, lalu melangkah keluar menutup pintu kembali.
Saat ruangan sudah kosong, Kaeel menghela napas untuk sesaat, namun segera digantikan oleh seringai. Ia mengambil ponselnya, menelepon nomor yang tidak ia beri nama di kontaknya.
Saat panggilan tersambung, terdengar suara berat seorang lelaki.
"Tarik kembali barang-barang perusahaan utama, sepertinya kita punya pengkhianat yang harus dibereskan," ucap Kaeel santai, seakan-akan itu makanan sehari-harinya.
"Sepertinya ini saatnya kami beraksi, Bos?" jawab suara di ujung telepon, suaranya terdengar penuh semangat alih-alih panik.
"Benar. Patahkan lehernya."
"Siap, Bos!"
Setelah itu Kaeel meletakkan kembali ponselnya ke saku. Baru saja ia fokus pada komputernya, pintunya diketuk dari luar.
"Masuklah."
Pintu didorong perlahan. Seorang wanita dengan blus putih dan rok hitam, rambut hitam panjangnya tergerai ke bawah, memasuki ruangan Kaeel dengan dua cangkir kopi di lengannya.
"Pagi, Tuan. Tak biasanya Anda baru datang jam segini," sapanya dengan senyuman yang terlihat ramah. Ia meletakkan secangkir kopi di meja Kaeel.
"Kemarilah."
Sienna mengangguk, senyuman ramahnya berubah menggoda.
---
Di sisi lain, Angelin baru saja keluar dari apartemen Kaeel. Ia baru saja menelepon temannya untuk bertemu di kafe.
Saat ia sedang menyetir mobil menuju kafe, chat dari Henry terus saja muncul, tanpa sekalipun ia buka apalagi balas, namun entah mengapa ia tak memblokirnya.
Namun justru di pikirannya masih memikirkan Kaeel. *Paling pria itu sedang menatap komputer dengan dingin seperti biasa,* pikirnya tanpa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Sesampainya di pelataran kafe, ia segera memarkirkan mobilnya. Angelin melihat kalau mobil temannya sudah terparkir rapi di sana, menandakan keantusiasan temannya itu.
Saat ia membuka pintu kafe, terdengar bunyi lonceng pelan. Di meja ujung ruangan, temannya sudah melambaikan tangan memanggilnya.
Ia membalas lambaian itu, lalu melangkah menghampirinya.
"Hei, girl. Kok udah sampai aja, sih? Cepat amat," tanya Angelin sambil duduk di sofa kafe.
Clara tersenyum, mengangkat bahunya. "Well, penasaran sama permainan kamu. Semenjak teman lamamu kembali, jadi semakin menarik."
"Ih, bisa aja kamu. Bilang aja kamu juga mau curhat, kan?" Angelin terkekeh pelan sambil meminum kopi milik Clara.
Mereka mengobrol dan tertawa sejenak sebelum akhirnya membahas topik yang dari tadi sudah ditunggu-tunggu.
"Henry masih gak mau putus sama kamu?" tanya Clara sambil menatap cermin kecil di tangannya, merapikan alis palsunya.
"Benar, dia itu terlalu memujaku, padahal aku bukan barang mahal miliknya."
Clara selesai merapikan bulu matanya. Ia menaruh kembali cermin ke tas tangannya. "Tapi serius deh, kenapa sih kamu gak memutuskan dia aja? Pake cowok lain aja buat permainanmu itu."
Angelin tiba-tiba menyeringai. "Hmm, gampang aja sebenernya, tapi si payah itu terlalu berguna."
"Berguna buat apa, tepatnya?"
"Buat bikin seseorang kebakaran jenggot."
"Tuan Arcelis?" Clara mengangkat alis. "Dan dia kebakaran jenggot?"
Angelin mengaduk kopi di cangkir yang bukan miliknya. "Tadi pagi aku ke apartemennya. Dia nyuruh aku angkat kaki, terus berangkat kerja sambil bilang kerjaan lebih penting dari aku."
"Wow. Dingin banget."
"Namanya juga Kaeel." Ia tertawa, tapi sendoknya berputar sedikit terlalu lama. "Padahal dulu dia gak sedingin itu. Entah apa yang terjadi sejak lima tahun terakhir, dia semakin..."
Clara menyipitkan mata. "Semakin apa?"
"Semakin Kaeel lah." Angelin tertawa lepas. Clara ikut tertawa sambil memukul pundak temannya pelan.
"Ish, kamu ini, malah bercanda. Orang udah serius juga." Clara sedikit cemberut, jelas dibuat-buat.
Clara menyesap kopinya sambil memandang Angelin yang masih tertawa dari atas bibir cangkir. "Eh, ngomong-ngomong. Kamu udah dengar kabar soal dia?"
"Kabar apa?"
"Minggu lalu aku ketemu anak kantor bokapmu. Katanya Kaeel lagi sering dipanggil belakangan ini. Bokapmu lagi ngatur sesuatu buat dia." Clara memiringkan kepala. "Perjodohan."
Angelin tidak langsung menjawab. Cangkir di tangannya berhenti di tengah jalan menuju bibir.
"Siapa yang bilang?"
"Dua orang, terpisah. Kamu beneran nggak tahu?"
"Itu gosip."
"Mungkin." Clara mengaduk kopinya pelan. "Tapi aku juga dengar satu hal lagi. Katanya Kaeel sendiri yang bilang iya."
Kafe yang tadi ramai mendadak terasa jauh. Angelin masih tersenyum, tapi senyum itu tidak lagi sampai ke matanya.