## Bab Enam
Setelah keadaan jauh lebih tenang, Kaeel menurunkan volume televisi. Angelin masih memeluk bantal, menatap kotak bekal yang mulai berembun di atas meja.
Ia mengusap air matanya dengan punggung tangan, masih sedikit terisak.
Kaeel menyodorkan sapu tangannya. Angelin menatap kain itu beberapa saat sebelum menerimanya, dengan senyum yang terukir di sudut bibir.
"Aku kelihatan menyedihkan, ya?" ucapnya sambil mengelap sisa air mata di pipi.
Kaeel mengangkat bahu sekali. "Sangat. Kenapa kau tidak mengakhiri hubungan konyolmu itu?"
Angelin sama sekali tak tersinggung. Ia malah menyandarkan punggung pada Kaeel. "Aku nggak mau jadi orang jahat yang mutusin hubungan," ucapnya, dibuat sesantai mungkin.
"Tapi kau bersandar pada pria lain yang bukan pacarmu. Lucu sekali."
"Kamu nggak masuk hitungan pria lain." Angelin memejamkan mata, kepalanya sudah di bahu Kaeel. "Kamu kan Kaeel."
"Aku keberatan masuk hitungan apa pun."
"Terlambat." Ia terkekeh pelan.
"Jika itu permainanmu, kau benar-benar konyol." Kaeel meraih cangkir kopinya yang sudah dingin.
"Kenapa konyol?"
Kaeel menyesap kopinya sebelum menjawab. "Kau hanya menyiksa dirimu sendiri."
Angelin terdiam sesaat. *Tapi permainan ini berpusat pada kamu, Tuan Arcelis.*
"Eh? Apa kamu khawatir padaku?" Ia tersenyum menggoda sambil menusuk-nusuk pundak Kaeel pelan.
Kaeel menepis lengan Angelin, lalu bangkit dari sofa. "Jangan bercanda. Semua orang tahu orang sepertimu tidak perlu dikhawatirkan." Ia berjalan membawa cangkir kosongnya menuju dapur.
Angelin tetap duduk di sana, menyeringai sambil memperhatikan punggung pria itu.
Beberapa saat kemudian, Kaeel keluar dari kamarnya, sudah rapi dengan jas kerjanya. Angelin berdiri dari sofa.
"Mau ke mana kamu?"
Kaeel merapikan letak dasinya tanpa menoleh pada Angelin. "Sudah jelas, kan?"
Angelin pura-pura cemberut. "Kamu mau meninggalkanku yang lagi nggak baik-baik aja? Apa pekerjaan lebih penting dari aku?"
Kaeel tak menunjukkan reaksi apa pun. "Tentu saja. Dan sebaiknya kau angkat kaki dari sini."
"Jahat!" Angelin memasang wajah sedih yang jelas dibuat-buat.
Setelah Kaeel pergi, Angelin tetap di sana. Ia kembali memeluk bantal di sofa, seluruh ekspresi sebelumnya memudar, digantikan kegelisahan yang sedari tadi ia sembunyikan.
*Aku serius, Kaeel. Kenapa kamu pergi saat aku butuh kamu...*
---
Meja makan di apartemen Henry sudah tertata untuk dua orang.
Dua piring, dua gelas, dua pasang sendok dan garpu yang disejajarkan rapi. Henry berdiri di ambang dapur beberapa lama, menatap semuanya seperti menatap barang peninggalan seseorang yang belum meninggal.
Kepalanya masih berdenyut sisa alkohol. Ia duduk, menarik salah satu piring, dan menyendok nasi dari panci. Satu porsi lain sudah ia bawa pergi tadi pagi.
Ia makan pelan. Telur dadarnya terlalu asin, ia baru sadar.
Di kepalanya, adegan di apartemen Kaeel berputar ulang tanpa diminta. Genggamannya di pergelangan Angelin. Lebam itu. Wajahnya sendiri yang goyah setengah detik. Ia buru-buru menepis ingatan itu dan berpindah ke bagian lain.
*Hen.*
Kaeel hanya mengatakan itu. Tatapannya tidak jatuh padanya.
Henry berhenti mengunyah. Dahinya berkerut, mencoba menyusun sesuatu yang belum selesai, lalu menyerah. Pasti Kaeel hanya malas melihat mereka bertengkar. Kaeel selalu begitu.
Ponselnya bergetar di samping piring.
Ia meraihnya cepat, hampir menjatuhkan sendok. Bukan dari Angelin. Notifikasi dari aplikasi pesan yang ia pakai untuk menghindari blokiran, dan di bawah pesan permintaan maafnya tadi pagi, ada tanda kecil yang berubah.
*Dibaca 10.42.*
Henry menatapnya lama. Dadanya terasa longgar untuk pertama kali sejak semalam.
Dibaca. Berarti ia tidak membuang pesan itu. Berarti, di suatu tempat, Angelin duduk dan membaca kalimatnya.
Ia mengetik pelan, menghapus, mengetik lagi.
*Makan yang banyak ya. Wortelnya aku potong kecil-kecil kayak biasa.*
Terkirim. Ia menunggu balasan yang tidak datang, dan entah kenapa itu tidak membuatnya marah. Hanya sedikit tenang, seperti orang yang berhasil menaruh tangan di atas sesuatu yang hampir lepas.
Ia membuka galeri ponselnya dan mengetuk foto Angelin di sana, lalu memeluk ponselnya erat-erat.
"Kenapa kamu begitu sulit dicintai, Lyn sayang?" gumamnya dengan suara serak.