Benak Kafka

1373 Words
Dua benda kenyal itu masih saling bersilat. Beradu dalam decapan kepuasan. Saling menggigit kecil memberi kenikmatan melalui tukaran salifa. Erangan milik sang wanita membuat sang lelaki tersenyum dalam pagutannya. Dengan pasti ia mulai membawa tangan sang wanita melingkari lehernya. Merapatkan duduk di antara keduanya. Meremas pelan pinggang sang wanita. Terlepasnya tautan yang sedari tadi terpaut, meninggalkan deru napas yang memburu. Pengaturan tarikan yang seolah berlomba menarik oksigen dalam keadaan kening yang masih menyatu. Kedua sudut bibir mereka tertarik untuk membentuk seutas senyuman di sela deru napas. Kilatan cahaya mata yang menampakkan gairah berkobar seakan sama-sama menginginkan satu sama lain. "I love you," ucap parau sang lelaki. "I love you to," balas sang wanita lirih membuat lelaki di hadapannya kembali menarik senyuman di bibir. Tidak ingin membuang waktu. Ia mulai kembali menyatukan bibirnya, kembali melumat dan mengeksplor setiap tempat dalam mulut. Ciuman itu kini beralih pada leher jenjang nan putih. Memberi hiasan dengan warna keunguan. Tidak ingin menyia-nyiakan suatu hal, tubuh kokoh itu mulai membopong sosok mungil cantik itu. Membawa tanpa melepas pagutan bibir mereka. Menempatkan pada tempat empuk yang tidak jauh dari keberadaan mereka. Merebahkan daksa b*******h pada sofa. Masih dengan penyatuan bibir, tangan mulai berlaku nakal. Mulai meneliti setiap kancing yang ada. Membuka satu persatu melepas halangan. Membuang semua serat kain yang menutupi halusnya porselen. Dua tubuh, telah polos. "May i?" tanya sang lelaki dengan suara parau yang telah b*******h. Meminta perizinan atas jamahan yang akan ia laksanakan. "Do it." Sebuah senyuman saat mendengar jawaban pasti membuatnya semakin yakin akan hal yang akan dilakukan. Mulai memosisikan diri, mencoba untuk melakukan dengan hati-hati. “Kafka, Kaf, Kafka!" Kibasan tangan dan panggilan keras menyadarkan lamunan Kafka. Membuatnya mengerjapkan mata beberapa kali. "Sudah bersih belum?" Oh tidak. Apa yang baru saja kamu pikirkan Kafka? Kamu baru saja— Dengan gerakan cepat Kafka melepaskan jari dari sudut bibir Ava. "Sudah. Sudah tidak cemong lagi," ucap Kafka yang sudah kembali dalam kesadarannya. Ava yang tidak tahu apa yang terjadi pada Kafka kembali memakan spagetinya. Tidak melihat Kafka yang dalam keadaan tersiksa. Kafka yang baru saja menyadari hal apa yang terjadi menggeram dalam hatinya. Ia menggelengkan kepala atas khayalan singkat nan panas itu. Shitt. Membayangkannya saja membuat adik kecilnya benar-benar berdiri. Membuatnya terasa sesak di bawah sana. Kepala Kafka benar-benar terasa pusing sekarang. Penuntasan. Ya. Ia butuh penuntasan. Mencari alasan, Kafka melihat jam yang melingkar di tangannya. "Va. Aku pergi dulu, ya. Kamu tidak papa, kan sendiri di rumah?" Ava mengangguk. "Kamu yakin?" tanya Kafka meminta kepastian. Ava menjawabnya dengan anggukan lagi dan senyuman. "Ya sudah. Sepertinya aku bisa terlambat jika tidak bergegas. Aku harus pergi. Jaga diri baik-baik," wanti Kafka terhadap Ava. Ava berdecak. "Ucapan kamu seperti akan terjadi sesuatu saja padaku." "Ya. Aku hanya ingin kamu berhati-hati." Setelah mengatakan itu, Kafka segera mengecup kening Ava dan berlalu dari hadapan perempuan itu. Jika tidak, Kafka tidak bisa memungkiri apa yang baru saja ia khayalkan akan benar-benar dilakukan. Melihat tingkah Kafka, membuat Ava menggelengkan kepalanya. Pria itu memang tidak pernah berubah. Kafka menutup pintu mobilnya dengan keras. Segera melajukan kuda besi itu ke tempat yang diinginkan. Saat kendaraan roda empatnya menyatu dengan yang lain di jalanan padat, Kafka mencoba menghubungi seseorang melalui sambungan bluetooth ponselnya. "Kau di mana?" tanya Kafka pada seseorang di seberang sana. "Aku akan ke sana. Dan, siapkan satu untukku." Memutuskan panggilannya, Kafka segera melajukan mobil ke tempat orang yang baru saja ia hubungi. Ingin segera menyelesaikan segalanya. Tidak membutuhkan waktu lama untuk Kafka sampai di tempat itu. Setelah memarkirkan mobilnya, Kafka segera memasuki lift untuk menuju ke lantai tujuh. Dengan mengetukkan sepatunya pada dasar lift, Kafka menunggu kotak persegi itu sampai dengan rasa gusar. Keluar dari lift segera mencari apartemen yang tidak lain milik temannya. Tanpa mengetuk pintu, ia memasuki begitu saja. Kafka memutar bola matanya jengah saat ia disuguhi pemandangan panas ketika memasuki apartemen itu. Menyebalkan. rutuknya dalam hati. Si pemilik apartemen tengah b******u dengan seorang wanita yang dalam keadaan setengah telanjang. "Tidak adakah kamar di apartemen ini?” Suara Kafka menghentikan kegiatan dua manusia di atas sofa. Membuat si laki-laki mendengus kesal akan kehadiran Kafka. "Kau ke kamarlah dulu, Baby." Setelah memberikan kecupan kilat pada bibir lelaki itu, si wanita berlalu begitu saja ke dalam kamar. Tidak memedulikan keadaan tubuhnya yang telanjang bisa dilihat oleh Kafka. "Kapan kau sampai di Indonesia, Kaf?" tanyanya sembari bertukar kepalan tangan dengan Kafka. "Tadi malam,” jawab Kafka singkat. "Mana pesananku, Ziq?" tanya Kafka tanpa basa basi. Ya, yang dihubungi Kafka sebelumnya adalah Ziqry. Teman Kafka yang membantu dirinya pada kejadian lima tahun lalu. "Hey, kau baru memesannya, Dude. Dia belum datang. Tunggulah sebentar lagi.” Jawaban Ziqry membuat Kafka mendesah keras. Sepertinya penuntasannya akan tertunda sebentar. "Kau sepertinya terlihat frustrasi sekali, Kaf. Apa yang terjadi?” "Kau tahu? Aku mengantarkan Ava pulang. Saat kita makan, aku membersihkan bibirnya dari saus," ucapnya terhenti. "Lalu?" "Aku sudah membayangkan s*x dengannya hanya karena memegang bibirnya." Jawaban Kafka Membuat Ziqry tertawa hingga terpingkal-pingkal. Membuat Kafka memandang Ziqry dengan tatapan dinginnya. "Diamlah! Brengs*k." Mendengar nada tegas dari Kafka membuat Ziqry mau tidak mau harus menghentikan tawanya. Jika tidak, ia harus menerima kepalan tangan dari Kafka. "Kenapa tidak kau wujudkan saja? Ava sudah ada di depanmu. Kenapa kau harus jauh-jauh datang kesini untuk memesan seorang jalang?" "Sialan. kau ingin Ava membenciku?" tanya Kafka dengan tatapan yang mengerikan. "Ok. Ok. Kau mengatasnamakan cinta dalam urusan Ava." Melihat tidak ada respons dari Kafka, membuat Ziqry mencebikkan bibirnya. Tidak lama suara pintu apartemen milik Ziqry terketuk. Merasa tahu siapa yang datang, pria itu pun dengan segera membukakan pintu. Kafka hanya menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi sembari memejamkan mata. Masih menahan sesuatu yang bergejolak di bawah sana. Hingga kedatangan Ziqry membuatnya membuka mata kembali. "Pesananmu, Dude,” ucap Ziqry dengan menunjuk wanita dengan pakaian minim di sampingnya. Dengan satu lambaian tangan, wanita itu pun mendatangi Kafka dan duduk di pangkuannya. Tanpa diminta, wanita itu mulai memberi sentuhan-sentuhan pembangkit panas pada rahang Kafka. Melihat itu adalah hal biasa, Ziqry hanya memutar matanya malas. "Lanjutkan saja, Dude. Jika butuh kamar, kau tahu tempatnya." Selesai mengatakan itu, Ziqry berlalu masuk pada salah satu kamar. Mungkin, meneruskan hal yang sempat Kafka kacaukan. Sedangkan Kafka yang masih menikmati belaian wanita di hadapannya, tampak menikmati setiap sentuhan wanita di pangkuannya. Ingin menuntaskan sesuatu yang menyiksanya akibat ulah Ava. Ulah Ava? Hey, pikiranmu saja yang kotor, Kafka. Tidak ingin berlama-lama, Kafka segera menyeret wanita itu pada salah satu kamar dengan sedikit kasar. Mendudukkan dirinya kembali pada sofa di dalam kamar. "Kau yang bekerja,” titah Kafka tidak mau mendapat bantahan sedikit pun. Dengan cekatan wanita yang Kafka bawa bekerja sesuai dengan keinginannya. Ia cukup puas dengan kerja wanita di hadapannya. Hingga ringisan dan erangannya keluar tidak terduga. Menanti datangnya hal yang telah hampir sampai di ujung kepala. Meremas rambut wanita yang bekerja di bawahnya, meski bayangan wajah cantik lain hadi di kepala. Hingga sesuatu itu tiba di depan mata. "Ava." Nama cantik itu tetap yang ia sebut. *** Rasya menuruni mobilnya setelah ia memarkirkannya di dalam garasi. Dengan gerakan pelan, Rasya memasuki rumah berjalan ke arah kamar, lalu membuka pintu kamarnya pelan. Di sana, seorang bidadari cantik berdiri di depan lemari. Sosok yang tengah membelakanginya hanya dengan balutan handuk melilit tubuhnya. Sepertinya, sang istri baru saja selesai mandi. Ingin memberi kejutan, Rasya melangkah dengan pelan mendekati tubuh indah milik Ava. "Kamu sudah pulang?" Suara halus Ava menghentikan gerakan tangan milik Rasya. Membuat Rasya mengembuskan napas kesal. Gagal. Dan hal itu, membuat Ava berbalik menghadapnya sembari menahan senyum. "Kamu tidak bisa mengejutkanku." Dengan tawa Rasya mulai merengkuh tubuh istrinya. Satu kecupan manis Rasya berikan pada pucuk kepala Ava. "Ini untukmu." Rasya memberikan bunga yang memang sengaja ia bawa. Ava menerima bunga itu dengan senyum manisnya. "Maafkan aku," ucap Rasya yang kini memberi kecupan pada kening Ava. "Maafkan aku karena telah membiarkanmu pulang sendiri dari rumah Mama,” ucapnya penuh sesal dengan memeluk erat tubuh Ava. Ava yang mendengar ucapan maaf dari Rasya membuat ia tersenyum dalam pelukan sang suami. Dengan mengangguk pelan, tanda Ava memaafkan Rasya. "Terima kasih," ucap Rasya masih dalam memeluk Ava. "Ya sudah. Mandi sana! Kamu bau," ejek Ava pada Rasya. "Bau eh? Ingat kamu. Setelah mandi nanti, habis kamu!" Keduanya sama-sama tertawa. Suara tawa bebas mengiringi langkah Rasya yang memasuki kamar mandi. Begitu mudah masalah mereka terlupakan begitu saja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD