Kemarahan Yarendra

1044 Words
“Baiklah. Kita pulang dulu. Aku harap, kerja sama kita bisa berjalan dengan lancar, Yarendra." Bram berdiri di hadapan Tuan Yarendra, mengulurkan tangan untuk saling berjabat tangan. Sore ini, tamu Yarendra memutuskan untuk berpamitan pulang dikarenakan pembahasan memang sudah dilakukan sejak siang. Selebihnya, mereka hanya berbincang ringan. "Semoga, Bram,” ucap Yarendra. Ia menjawab jabatan tangan sahabatnya. Lain dari kedua laki-laki paruh baya itu, lain lagi untuk para istri mereka. "Semoga niatan kita terlaksana ya, Des," ucap Yanti—mamanya Zizi. Perempuan dengan rambut disanggul itu memegang pundak anaknya. "Harus itu," jawab Desi dengan keyakinan. Sedangkan Zizi yang berada di samping mereka hanya tersenyum menunduk dengan merapalkan keinginannya dalam hati. Semoga memang terlaksana. Tasya menyenggol sedikit lengan Zizi yang sedari tadi menahan senyum malu, memberi kedipan mata yang mana semakin menambah rona merah di pipi Zizi. Setelah Desi dan Yanti melepaskan pelukan mereka, Yarendra dan istrinya mengantarkan Bram beserta keluarga sampai ke pintu depan rumah. Formalitas sebagai perilaku baik terhadap tamu. Akan tetapi tidak dengan Rasya. Ia memilih tetap duduk di ruang keluarga dengan mengecek ponselnya. Memeriksa ada atau tidak panggilan dari sang istri. "Rasya." Suara berat Yarendra yang memanggil mengalihkan perhatian Rasya dari smartphone berlogo buah digigit sedikit. "Ada apa, Pa?" Meletakkan ponsel pada saku kemeja, Rasya memerhatikan pergerakan papanya yang mendekat dengan raut wajah yang sulit diartikan. "Ada apa?" Yarendra mengulang pertanyaan Rasya dengan mengangkat satu alisnya. "Kamu bilang ada apa? Kamu sadar tidak kalau hari ini kamu membuat kesalahan?" Meski tidak ada nada tinggi dalam ucapan Yarendra, Rasya mengerti kalau saat ini papanya dalam keadaan marah. "Maksud, Papa?" tanya Rasya yang belum mengerti. Yarendra menghela napasnya dalam. Tidak ingin sampai emosinya meluap. Selain akan mempengaruhi kesehatannya, menyelesaikan masalah dengan emosi pun baginya tidak benar. "Kamu tahu, kan kalau Ava sudah pulang?" Pertanyaan Yarendra dijawab anggukan oleh Rasya. "Lalu kenapa kamu membiarkan dia pulang sendiri?" Rasya pun mulai mengerti arah pembicaraan papanya. Ia menggaruk kepala yang tidak terasa gatal sebagai peralihan. Bola matanya bergerak ke sana kemari. "Ya, tadi, kan Rasya masih menemani Tasya, Pa." Jawaban yang tidak dapat Yarendra terima. "Rasya. Kamu itu sekarang punya istri. Prioritas kamu itu istri kamu. Bukan teman kamu," ucap Yarendra mencoba memberi tahu putranya. "Aduh. Papa ini bagaimana, sih? Biarin sajalah. Rasya, kan memang sudah lama tidak bertemu sama temannya," ucap Desi mengambil alih. "Memangnya salah kalau dia menemani Tasya? Anggap saja mereka sedang reunian." Yarendra menggelengkan kepala tidak habis pikir akan sikap istrinya yang masih membela kelakuan salah Rasya. Oh, bagaimana dia bisa lupa jika istrinya itu tidak menyukai Ava saat ini? "Ma. Jelas itu salah. Boleh saja dia menemani temannya. Tapi satu yang harus Rasya ingat. Dia sudah mempunyai istri. Kalau dia mau menemui temannya, yang apalagi itu perempuan, setidaknya dia harus mengajak Ava, istrinya Rasya. Biar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan," jelas Yarendra. "Ini malah dia membiarkan istrinya pulang sendirian. Coba kamu pikir bagaimana perasaan istri kamu, Sya?" Rasya bergeming, tidak mampu menjawab ucapan sang Papa. Pria itu hanya diam sembari mencerna ucapan papanya yang menurut hati kecil memang benar apa adanya. Sedangkan Desi yang mendengar suaminya membela Ava memutar bola mata jengah. "Papa ini tidak perlu berpikiran yang macam-macam. Meskipun itu yang sebenarnya Mama harapkan,” ucap Desi. Tentu saja kalimat terakhir terlontar dalam hati. "Lagian Ava-nya juga tidak masalah, kok dia pulang sendiri." "Dilihat memang tidak apa-apa, Ma. Tapi hatinya siapa yang tahu?" Ia menatap sang istri yang berdiri di sisi sofa. "Sekarang begini deh, Ma. Kita coba perumpamaan saja. Bagaimana kalau Mama ada di posisinya Ava? Dan Papa jadi Rasya yang lebih memilih menemani teman perempuan SMA Papa dulu daripada mengantar Mama pulang? Bagaimana perasaan Mama?" Mendengar ucapan Yarendra, membuat mata Desi melotot. Perempuan paruh baya itu duduk di samping sang suami. "Mama tidak akan membiarkan Papa. Mama bakalan seret Papa pulang," ucapnya dengan tangan bersedekap di depan d**a. Hal itu membuat Yarendra mengulum senyumnya. "Nah, Mama saja tidak terima, kan? Itulah yang sebenarnya Ava rasakan. Hanya saja dia tidak seberani Mama yang apa saja mengungkapkan secara langsung. Ava hanya bisa memendamnya. Coba bayangkan bagaimana sakitnya saat itu." Desi merasa tertohok. Tidak mampu lagi membalikkan ucapan sang suami. Sedangkan Yarendra yang sedari tadi memandang istrinya kini beralih pada Rasya. "Sekarang kamu pulang. Temui istri kamu. Minta maaf sama dia," ucapnya dengan nada datar dan tegas. "Iya, Pa." Rasya segera menyalami tangan kedua orang tuanya dan segera berlalu untuk pulang menemui sang istri. Ah, mungkin ia akan mampir ke suatu tempat untuk membelikan Ava sesuatu. Sebagai tanda permintaan maafnya. Setelah Rasya berlalu, Yarendra kembali memandang sang istri. "Satu lagi, Ma. Apa maksud mama menjodohkan Kafka dengan Zizi?" Tatapan Desi kini pun beralih pada sang suami. "Loh, memangnya salah? Zizi masih sendiri. Kafka juga masih sendiri. Apa salahnya kalau mama menjodohkan mereka?" "Ma. Ini tahun 2019. Bukan jamannya Siti Nurbaya. Kenapa Mama pakai acara perjodohan seperti itu?" tanya Yarendra penuh tuntutan. "Biarkan Kafka memilih calonnya sendiri, jangan sampai kita memaksakan kehendak dan membuat anak-anak kita tidak bahagia." Desi yang mendengar itu menjadi marah. Dengan amarah yang sudah memuncak, Desi berdiri di hadapan suaminya yang membuat Yarendra harus mengangkat kepala untuk membalas tatapan itu. "Sudah, Pa. Mama hanya tidak mau Kafka salah pilih istri. Cukup Rasya saja yang salah cari istri." Mendengar ucapan istrinya, Yarendra turut berdiri. "Salah cari istri bagaimana maksud Mama?” ucapnya masih mencoba untuk menekan emosi yang mulai menyelubungi diri. Desi kembali bersedekap d**a. "Iya. Salah cari istri. Cari istri kok mandul,” jawabnya dengan senyum meremehkan. "Ava tidak mandul, Ma. Hanya belum dipercaya sama Tuhan untuk memiliki momongan," bela Yarendra akan kondisi menantunya. "Alah. Tidak usah membela menantu mandul itu lagi, Pa. Mama sudah muak mendengarnya," ucap Desi mengibaskan tangan di depan wajah mereka. "Ma—" "Sudah deh, Pa. Setuju atau tidak setujunya Papa, Mama tetap mau menjodohkan Kafka dengan Zizi," ucap Desi. "Karena Mama juga ingin mempunyai cucu," ucap Desi final. "Bahkan kalau bisa, Mama juga mau menjodohkan Rasya dengan teman SMAnya yang bernama Tasya itu." Ucapan Desi mampu membuat Yarendra membulatkan matanya. "Astagfirulloh, Ma. Sadar, Ma,” ucapnya seperti seseorang yang merasa frustrasi. "Terima atau tidak terima, Mama tetap akan menjodohkan mereka. Titik." Setelah mengatakan hal itu, Desi meninggalkan suaminya yang menatap tidak percaya pada dirinya. Tuan Yarendra hanya mampu menghempaskan tubuh pada kursi sembari memijit keningnya. Tidak kuasa melihat tingkah sang istri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD