Menemani

1037 Words
Mobil Kafka baru saja sampai di pelataran rumah Ava. Wanita yang menjadi istri sang kakak dan juga wanita yang sangat ia cintai. Kafka menengok untuk melihat Ava yang masih tertidur. Sudut bibirnya tertarik membentuk senyuman. Mungkin, wanita ini merasa sangat lelah setelah menangis. Hingga mobil yang berjalan pun tidak mengganggu tidurnya. "Kalau lagi tidur begini, cerewetnya hilang, ya." Tidak ingin menjadi pengganggu, Kafka memilih untuk turun terlebih dahulu, memutari mobil dan membuka pintu bagian Ava duduk. I membopong tubuh yang tengah terlelap itu. Ohhh, come on, Kafka. Tidur Ava tidak ingin kau ganggu? Tapi rumah tangganya ingin kau ganggu? Kafka semakin mengembangkan senyum saat Ava menyamankan posisi dalam gendongan. Suasana rumah yang sepi membuat Kafka berani untuk membawa Ava ke dalam kamarnya. Sepi? Bahkan jika ramai pun Kafka tidak peduli. Dengan pelan, Kafka meletakkan tubuh cantik itu di atas kasur empuknya. Tidak ada niatan darinya untuk segera beranjak. Yang ada, ia malah memosisikan diri untuk berbaring di samping Ava. Direngkuh tubuh mungil itu. Ava yang pada dasarnya selalu nyaman dalam dekapan sang sahabat pun tidak merasa terusik, karena itu hal biasa baginya. Hanya saja, setelah menikah ia tidak melakukannya kembali. Kafka merasa bersyukur dengan keadaan Ava yang saat ini terlelap. Membuat kakak iparnya itu tidak menolak dekapannya. Hingga kantuk mulai menyerang, Kafka menyerah dan membiarkan kelopak matanya tertutup. Pria itu turut menyusul Ava dalam mata terpejam, keduanya tidur saling berpelukan, mengarungi mimpi bersama dalam satu pelukan hangat. Bagai suami istri yang saling mencintai. *** Empat jam telah berlalu, Ava menggeliat di dalam tidurnya hingga kesadaran pun kembali utuh. Ia mengedarkan pandangan pada sekelilingnya. Ah, kamarnya. Dengan perlahan ia mendudukkan diri dan menyandarkan punggung pada kepala ranjang. Mencoba mengingat apa yang baru saja ia alami. Sekelebat bayangan sang suami yang berjalan dengan seorang perempuan tergambar jelas dalam benaknya. Yah, dia ingat sekarang. Kejadian yang baginya menyakitkan baru saja terjadi di rumah mertuanya. Setelahnya, ia pulang dengan menangis, bertemu Kafka dan diantarkan pulang oleh sahabatnya itu. Kafka? Kening Ava terlipat saat mengingat pria beriris tajam tersebut. Ia kembali teringat suatu hal. Merasa lelah dengan tangisnya tadi, Ava tertidur dalam mobil Kafka. Apa Kafka juga yang membawanya kemari? Ah Kafka. Merepotkan saja. Ia kembali mengedarkan pandangannya, tidak mendapati keberadaan pria itu. Mungkin saja sudah pulang setelah meletakkan dirinya di kamar. Memilih untuk beranjak dari tidurnya, Ava melangkah pelan ke arah kamar mandi untuk mencuci muka. Hingga sebuah bunyi membuat ia terkekeh. Rupanya bangun dari tidur membuat perutnya berdemo meminta diisi. "Sepertinya perut ini meminta haknya," ucap Ava dengan cekikikan di depan kamar mandi. Saat ia keluar dari kamar, rumah terlihat masih sepi. Sepertinya Rasya pun juga belum pulang. Ava menghela napas menyadari hal itu. "Segitu bahagianya kamu, Mas bertemu teman lamamu? Hingga jam segini kamu belum juga pulang.” Ava yang perutnya sudah berbunyi memilih untuk menuju meja makan. Kening Ava kembali terlipat kala tidak mendapati satu makanan pun di meja makan. "Apa Bi Marwah tidak memasak sebelum pulang?" Meletakkan kembali tudung saji, ia menghela napas sangat dalam. "Sepertinya aku harus memasak." Padahal tubuhnya terasa lelah. Sebuah suara barang terjatuh terdengar dati arah dapur. Kening Ava terlipat menyadari itu. "Apa Bibi belum pulang dan masih memasak? Tidak ingin menduga, ia pun melangkah ke arah dapur untuk melihatnya. Perempuan bermata hazzle itu menggelengkan kepala saat ia mendapati pria tampan yang saat ini berkutat dalam dapurnya. Berdiri menyandar pada kusen pintu dapur, Ava tidak menampik saat ini merasa kagum pada Kafka. Dengan kaos polosnya, Kafka terlihat begitu memesona saat dilihat dari belakang. Otot punggung yang tercetak begitu jelas, terlihat bergerak seiring tangannya yang berkutat pada alat masak. Wanita mana yang tidak akan jatuh cinta padanya? "Mengagumi, eh?" Suara berat Kafka membuyarkan keterpesonaan Ava pada Kafka. Kembali mengembangkan senyumnya, Ava mendekati Kafka. "Masak apa?" tanya Ava mengejek. Pasalnya ia tahu kalau sahabatnya ini tidak bisa memasak. Akan tetapi, entah dari mana keberaniannya hingga ia memilih untuk mengacaukan dapur miliknya dengan eksperimen yang belum ia ketahui. "Mengingat aku yang tidak terlalu handal dalam memasak. Aku memilih memasak yang mudah saja. Satu bungkus spageti siap saji." Jawaban Kafka membuat keduanya tertawa bersama. Pandangan Ava mengedar, barulah ia menyadari bagaimana kondisi dapurnya saat ini. Mata Ava melotot dengan mulut terbuka. "Ya ampun Kafka. Apa yang sudah kamu lakukan pada dapurku!" teriak Ava histeris. Ia mengamati berbagai saus yang terciprat di beberapa sudut lantai. Juga beberapa genangan air yang bisa saja membahayakan. Masih dengan mengaduk masakannya Kafka menjawab, "Maklum. Ini, kan eksperimen pertamaku. Jadi wajar saja kalau segala hal yang mendukung agak berantakan." Mata Ava semakin membulat mendengar penuturan Kafka. "Ap—" "Sudah diam. Aaa." Kafka memotong ucapan Ava, ia mengarahkan satu sendok di depan bibir perempuan itu. "Ayolah!" paksa Kafka ketika Ava tidak kunjung menerima suapannya. "Itu bisa dimakan?" tanya Ava dengan nada dibuat mengejek. Jujur, Kafka merasa tersinggung. "Baiklah. Buang saja." "Eh, iya iya iya. Jangan ngambek dong." Tidak ingin mengecewakan Kafka yang telah berkorban dengan dapur, Ava pun menerima suapan itu. "Bagaimana?" tanya Kafka mengenai masakannya. "Bagaimanapun hasilnya, yang namanya masakan tinggal matang rasanya, ya sama saja,” jawab Ava enteng, tidak menghiraukan raut wajah Kafka yang telah berubah. "Setidaknya, pujilah sedikit karyaku ini, Va!" Ava tertawa melihat raut wajah dari Kafka. Sembari menepuk pelan pundak Kafka, Ava meminta maaf. "Sudahlah! Mari kita makan." Kafka membawa dua piring masakannya pada meja makan. Dan dengan senang hati, Ava mengikutinya. "Makanlah, Va." Tanpa ragu pun Ava memakannya. Urusan Rasya, biarlah nanti ia memesankan makanan siap saji untuk suaminya itu. Selain perut yang memang terasa lapar, Ava juga tidak ingin mengecewakan Kafka yang telah mau repot-repot memasak untuknya. Meskipun harus mengorbankan dapur menjadi tidak karuan. Dengan begitu lahap, Ava memakannya hingga tandas. Tidak peduli dengan sikap harus bersikap jaim di hadapan laki-laki. Toh ini Kafka. Sahabat sekaligus adik iparnya ini. Hingga suara tawa Kafka membuat Ava menautkan kedua alisnya. "Kenapa?" "Kamu masih saja sama. Makan selalu berlepotan." Tangan Kafka terulur untuk membersihkan saus pada sudut bibir Ava. Saat itulah pandangan keduanya bertemu. Menatap bola mata satu sama lain. Menyelami pemandangan dari iris keduanya. Hingga tidak ada yang menyadari jarak wajah di antara keduanya mulai menipis. Deru napas yang saling menerpa wajah keduanya tidak menjadi pengganggu mereka. Suasana yang begitu dominan dan menguasai, membuat Ava memejamkan matanya tanpa komando. Hingga sesuatu kenyal itu telah menyatu tanpa halangan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD