Rasya memberikan satu gelas jus jeruk pada Tasya. Dengan senang hati, perempuan berambut panjang itu menerimanya. Meneguk air orange itu dengan mendongak, saat itulah Rasya tidak dapat mengalihkan pandangannya dari leher jenjang putih itu.
Rasya segera menggeleng lalu duduk berdampingan dengan Tasya. "Kamu tahu, Sya?” tanya Tasya tanpa mengalihkan pandangan dari hamparan bunga mawar di hadapannya.
"Aku suka bunga mawar meskipun berduri, mereka cantik. Mama juga suka menanamnya di rumah ...." Tasya menceritakan tentang dirinya pada Rasya dengan begitu antusias. Tidak menyadari jika sedari tadi pria di sampingnya hanya menikmati keindahan wajah yang dimiliki.
Tidak menghiraukan cuapan Tasya yang terus bercerita. Rasya tidak menampik, jika wanita teman SMAnya ini begitu cantik, Ia menyadari itu. Bahkan, sejak dulu. Sejak mereka masih sama-sama duduk di bangku SMA.
Rasya masih ingat. Betapa dulu ia mengagumi wanita ini. Mengaguminya melalui kejauhan. Kebaikan, kecantikan, kecerdasan, kemolekan, semua ia menyukainya. Paras Tasya yang cantik membuatnya menjadi most wanted di sekolah dulu.
Bahkan, dua semester di perkuliahan pun Tasya tetap menjadi yang terhebat baginya. Banyak murid laki-laki yang mengidolakannya. Apalah daya Rasya saat itu hanya menjadi murid yang tidak terlalu mencolok dan hanya menjadi sebagian keping kecil dari pengagum rahasia Tasya.
Ya. SMA dulu Rasya hanyalah seseorang yang tidak terlalu banyak bicara dan bergaul. Bila dikatakan murid pendiam dan culun pun Rasya juga tidak seperti itu. Hanya saja, Rasya lebih mementingkan masa depannya kala itu dari pada mengurusi hal yang berhubungan dengan masalah wanita.
Ia pun masih kurang percaya jika saat bertemu tadi Tasya juga mengenalinya. Mengenai Ava, Rasya merasa dirinya telah menjadi seseorang yang beruntung karena telah mendapatkan seorang istri yang cantik dan baik hati seperti Ava.
Belum lagi rasa sabar sang istri saat mendapat cercaan dari mamanya. Ahh, bicara mengenai Ava, apakah istrinya sudah sampai di rumah?
Tasya mengalihkan pandangan. Saat itulah ia menyadari jika Rasya tengah menatapnya intens. "Kamu kenapa, Sya?" Tasya bertanya saat Rasya telah tersadar sepenuhnya.
"Ah. Tidak papa, kok." Tasya mengangguk.
"Oh iya. Ngomong-ngomong, istri kamu mana, ya? Kok dari tadi aku tidak melihatnya? Aku juga pengen ngobrol sama dia."
"Oh ... Ava?" Tasya menganggukkan kepala. "Dia sudah pulang,” jawab Rasya.
Hal itu membuat Tasya melotot seketika. "Kamu kenapa melotot begitu?" tanya Rasya dengan kekehannya yang merasa lucu melihat pelototan dari Tasya.
"Kalau istri kamu sudah pulang, kenapa kamu masih ada di sini?" tanya Tasya heran.
"Kenapa? Tidak boleh?"
"Bukan begitu, Sya! Tapi, kan—" Belum sempat Tasya menyelesaikan ucapannya, Rasya memotongnya untuk menghentikan protesan dari Tasya.
"Kan, aku harus menemani kamu di sini!" Lagi-lagi jawaban Rasya membuat Tasya merasa tidak enak. Ia hanya mampu menggigit bibir bawahnya.
"Aku jadi tidak enak sama istri kamu. Gara-gara kamu ketemu aku, kamu seperti mengesampingkan dia."
"Apaan, sih? Ava juga tidak keberatan kalau aku menemani kamu dulu di sini. Dia mengerti."
"Tetep saja, Sya, aku—” Suara deringan ponsel milik Tasya membuatnya harus menghentikan ucapan kembali.
Setelah melihat ID si penelepon, dengan segera Tasya menerima panggilan itu. Rasya pun hanya diam sembari kembali memperhatikan perempuan itu berbicara. Diam tidak bersuara karena tidak ingin mengganggu.
"Ya? Masih di rumah Zizi. Iya. Pasti. Bye." Tasya membuang napasnya kasar setelah menutup panggilannya barusan.
"Siapa?" tanya Rasya.
"Tunangan," jawab Tasya yang terkesan ogah-ogahan dalam menjawab.
"Ada masalah?"
"Tidak ada," jawabnya dengan senyuman dan gelengan. "Ya sudah. Kita gabung sama yang lain, yuk!" Rasya hanya mengangguk. Meski merasa janggal, ia pun tidak bisa mencampuri urusan Tasya.
***
"Kafka mana, Ma?" Yarendra bertanya ketika ia bergabung bersama sang istri di ruang keluarga.
"Keluar. Tadi katanya ada janji sama temannya." Yarendra hanya menganggukkan kepalanya santai.
"Kalau, Ava?"
"Dia sudah pulang," jawab Desi dengan nada malas. Yarendra hanya menghela napas menyikapi sikap istrinya.
“Pa. Menurut Papa, Zizi bagaimana orangnya?" tanya Desi pada sang suami.
Yarendra yang ditanya hanya mengerutkan alis pertanda tidak mengerti. "Bagaimana apanya, Ma?"
"Iih, Papa. Cantik, enggak?" Yarendra yang sebelumnya memperhatikan sang istri kini beralih menatap Zizi dengan tatapan yang sulit diartikan. Hal itu cukup mampu membuat Zizi menunduk malu dan memilin jarinya.
"Biasa aja." Jawaban dari Yarendra membuat Zizi dan ibunya melotot.
"Aduh. Kenapa sih, Ma?" Yarendra menggosok lengannya yang terasa panas akibat pukulan Desi.
"Papa ini bagaimana, sih? Orang Zizi cantik begitu, Kok," ucap Desi dengan wajah marahnya. "Masak dibilang biasa saja."
"Ma. Zizi itu tidak cantik. Biasa saja," jawab Yarendra kembali. Semakin membuat Desi ingin memukuli suaminya.
"Dia itu tidak ada apa-apanya dibanding Mama. Bagi Papa, Mama itu wanita yang paling cantik," ucap Yarendra dengan senyuman menggoda, membuat Desi dan dua wanita di depannya menghilangkan uap panas mereka seketika.
Desi yang mengerti bahwa suaminya kini tengah menggodanya, kembali menepuk pelan lengan sang suami. "Ih Papa. Bikin malu saja."
"Kenapa harus malu? Memang bener, Kok. Bagi Papa, Mama adalah wanita yang paling cantik." Laki-laki lain yang tidak bukan adalah papanya Zizi hanya menggelengkan kepala melihat adegan di depannya.
"Udah ah. Mama itu tanya Zizi, cocok tidak untuk jadi istri?" Tatapan Yarendra kini kembali beralih pada perempuan yang bernama Zizi.
"Memangnya, umur Zizi berapa?"
"Sama kayak Kafka, Pa." Bukan Zizi yang menjawab pertanyaan Yarendra. Melainkan Desi istrinya.
"Kalau begitu ya cocok saja. Umur segitu, kan memang sudah mantap untuk menikah!" Jawaban dari Yarendra terdengar ambigu. Namun, tidak bagi tiga wanita yang ada di sana. Bagi mereka, jawaban itu seperti lampu hijau untuk niatan mereka.
Tatapan Yarendra kini beralih memicing pada sang istri. "Jangan bilang Mama meminta papa untuk poligami," tuduhnya yang membuat Desi melotot, "Papa tidak mau ya, Ma. Apalagi kalau poligaminya sama Zizi. Dia, kan anaknya Bram, Ma. Sahabat papa. Masak papa menikah dengan orang yang cocok jadi anak papa."
"Ih, Papa apaan, sih?" Tawa kembali menggelegar di ruang keluarga itu. "Maksud Mama, Zizi itu cocok dong buat jadi menantu kita, Pa," ucap Desi antusias dengan memeluk lengan Yarendra, "jadi istrinya Kafka Pa," imbuhnya kemudian.
Yarendra pun mengerti ke mana arah tujuan ucapan sang istri. Yarendra bukanlah orang tua yang kolot. Di mana ia akan menjodohkan anak-anaknya dalam urusan pernikahan.
Namun, menolak saat ini pun terasa tidak etis. Selain seseorang itu saat ini berada tepat di hadapannya, wanita yang bernama Zizi ini pun juga putri dari sahabatnya. Yang saat ini juga tengah duduk di hadapannya.
Akhirnya, tanpa mengubah ekspresinya secara mencolok, Yarendra pun mencoba mencari kata-kata yang tepat untuk ia ucapkan. "Kalau Papa sih, setuju-setuju aja, Ma." Terlihat wajah kebahagiaan yang terpancar dari istrinya dan juga dua wanita berbeda umur di hadapannya. Senyum pun juga berkembang pada wajah Bram.
"Tapi kita juga tidak bisa mengabaikan keputusan Kafka, Ma. Kita kenalkan dulu saja mereka. Bukan begitu, Bram?" Tanya Yarendra pada sang sahabat.
"Kamu benar, Dra." Jawaban dari dua orang laki-laki ini membuat Desi mendengus seketika.
Bagaimanapun juga, ia tak ingin putranya salah dalam memilih pasangan. Sudah cukup Rasya yang menurutnya gagal dalam berumah tangga. Ya, meskipun gagal bukan dalam kata perceraian. Tapi gagal dalam memiliki momongan.
Baginya, Kafka adalah harapan satu-satunya untuk ia bisa memiliki cucu. Meskipun tidak ia pungkiri ada rencana lain yang telah disusun dalam masa depan Rasya. Ah, jika seperti itu. Desi benar-benar berharap akan adanya perceraian dalam rumah tangga Ava dan Rasya.
"Pa, Ma." Baru saja Desi ingin berucap, suara seseorang yang baru saja terdengar mengalihkan pandangan semuanya. Terlihat Rasya yang baru saja memasuki rumah dengan menggandeng tangan Tasya.
Hal itu membuat Yarendra menautkan kedua alisnya merasa heran akan keberadaan Rasya saat ini. "Loh, Sya. Katanya Ava sudah pulang? Kok kamu masih di sini?" Yarendra bertanya ketika Rasya sudah duduk di sampingnya.
"Ohh, itu. Ava memang sudah pulang, Pa. Tapi dia pulang sendiri," jawab Rasya.
"Sendiri?"
"Iya, Pa. Tadi, kan Rasya mama suruh menemani Tasya untuk keliling rumah, jadi Ava pulang sendiri. Lagi pula Avanya juga tidak apa-apa, kok,” ucap Desi. Ia ingin mengontrol sedikit suaminya.
Yarendra tanpa berkomentar akhirnya memilih untuk diam. Bukan untuk membenarkan tindakan sang putra. Akan tetapi, ia masih ingat jika masih memiliki tamu.