"Nolan!"
Dia yang tengah merapikan folder dokumen mengangkat kepala.
"Saya, Tuan?"
"Menurut kamu saya ini tampan tidak?"
Nolan terdiam beberapa saat untuk mencari jawaban lewat manik Andrew. Sialan, dia masih tidak bisa membaca tatapan datar tuannya meski telah mendapatkan itu lebih dari 10 tahun.
"Tampan, Tuan."
Bukannya sudah jelas? Andrew memang tampan. Segala yang ada di wajahnya sesuai proporsi dan terpahat sempurna.
"Lantas..." Andrew menyatukan kedua tangannya di depan d**a. "Kenapa Arlin masih tidak menyukai saya?"
Andrew secara tiba-tiba teringat akan perkataan Sagara. "Apa karena gaya saya terlalu kuno?"
Oh itu tidak mungkin. Andrew masih mengenakan pakaian mengikuti tren yang mana tentunya masih dalam lingkaran umurnya. Jelas tidak dapat menjadi alasan bahwa dia kuno. Tapi mungkin tepatnya tidak sesuai dengan yang mata Arlin inginkan.
"Saya kira bukan karena terlalu kuno, Pak. Melainkan karena anda memang tidak sesuai lagi dengan yang Ibu Arlin inginkan."
Sorot tajam terhempas padanya. Nolan terpaksa menelan saliva susah payah. Dia tanpa disengaja telah menggali kuburan sendiri.
"Maksud saya Ibu Arlin itu masih muda. Tentu saja dia dikelilingi pria-pria muda dan segar pula. Ya mirip-mirip sama Sean begitu, Pak."
Andrew menyipitkan mata. Masih tidak dapat mengerti maksud dari kalimat Nolan. "So?"
"Bapak adalah pria dari generasi yang berbeda. Ibu Arlin secara otomatis merasa anda tidak dapat masuk lagi karenanya. Perbedaan umur bukan hanya tentang angka, tapi juga perbedaan alur pikiran. Dua hal berbeda jika digabungkan menjadi satu hanya akan menimbulkan ketidakcocokan. Beberapa memang dapat saling melengkapi, tapi untuk ke arah tersebut butuh usaha besar. Terlampau besar dan menyebabkan ketidakcocokan lebih mendominasi."
"Jadi, maksud kamu saya sudah tua dan tidak segar. Itu adalah alasan kenapa Arlin tidak menyukai saya?"
Nolan membenarkan lewat anggukan. Itu menyebabkan kepala Andrew kian terasa bingung. "Tua dan tidak segar, tapi saya bukan keduanya. Saya dewasa dan panas. Itu malah favoritnya kaum hawa. Mungkin alasan Arlin tidak menyukai saya hanya karena perbedaan pikiran ataupun pendapat."
Dia mengelus dagunya yang terasa kasar karena belum sempat bercukur. "Sejauh ini saya dan Arlin tidak memiliki perbedaan pikiran apalagi pendapat."
"Atau mungkin bapak tidak sadar," sela Nolan.
Benar juga. Mungkin dia yang tidak sadar, melainkan Alrin. Itu sebabnya Arlin yang menarik diri karena memang dialah yang merasa menjadi korban.
"Kamu benar."
Buru-buru Andrew meraih ponselnya. Dia akan mengajak Arlin bertemu untuk memastikan.
***
Pagi yang cerah. Sama seperti wajah-wajah mereka yang baru turun dari mobil lamborgini hitam tersebut.
Adam berlari mendahului. Jelas dia antuasias. Dia tidak pernah pergi ke taman buah sebelumnya. Ini yang pertama, jadi jelas memberi kesan istimewa.
"Eh Adam sini dulu."
Arlin berjongkok, mengeluarkan bucket hat warna krim untuk dipakaikan kepada Adam. Dia sendiri telah memakai juga di kepalanya.
"Pakai topi biar tidak gosong."
"Gotong?"
"Gosong. Kulitnya berubah hitam seperti kecap."
"Adam ndak mau gotong."
"Makanya jangan dilepas ya?"
"Iya."
"Mama mah pilih kasih," gerutu Suga. Awalnya tidak ingin demikian, namun semakin lama dia lihat Arlin semakin cenderung kepada Adam seorang. Kan dia jadi iri.
"Pilih kasih?"
"Itu Adam dibeliin topi, aku enggak."
"Halah dasar tukang iri," sembur Saga. "Lagipula untuk apa lo pakai topi? Muka lo kan udah kayak p****t kuali."
"Excuse me?"
Dia memang memiliki warna kulit tiga tingkat di bawah warna kulit Sagara yang putih s**u, namun itu tidak mengartikan bahwa dia hitam.
"Gak usah sok inggris. Nih gelar karpetnya."
Sagara menurunkan karpet di bawah pohon mangga. Tidak terlalu rindang, tapi cukup menghalangi sinar matahari untuk menyerang.
"Kenapa harus gue? Kan lo yang bawa."
"Itu dia. Gue udah bawa, gak mungkin gue juga yang gelar."
"Gue juga udah bawa barang."
Suga menurukan dua plastik jajanan dan minuman. "See! Malah lebih banyak dari yang lo bawa."
"Sudah jangan bertengkar, biar saya saja yang menggelar."
"Hayo lo. Mama jadi marah."
Tidak mau mendengarkan sang adik lagi. Sagara ikut berjongkok di sisi lain karpet untuk membantu Arlin menggelar.
"Woi curut mau kemana lo?" seru Saga karena Suga justru beranjak pergi.
"Cari alien."
"Bocah sialan."
"Saga," tegur Arlin.
Dia biasa melihat pertengkaran kedua adik beradik tersebut, namun baru kali ini melihat rahang Saga sampai mengeras seolah pertengkaran mereka adalah masalah besar.
"Dia tuh, Ma."
Sagara mendudukkan diri di karpet. Membiarkan Arlin seorang yang memindahkan barang ke atasnya.
"Selalu aja membebankan tanggungjawab sama aku. Alasannya cuma karena aku anak paling tertua."
Arlin tidak menyela, membiarkan saja Sagara mengatur nafasnya saat dia membuka meja lipat.
"Membersihkan kamar adalah tugas bersama kami. Tidak boleh ada pembantu yang ikut campur. Tapi sampai hari ini cuma aku sendiri yang bekerja. Dia selalu lari. Aku bisa saja tidak membersihkan kamar dia, tapi papa nanti bisa marah besar. Dan aku pasti kena lebih banyak. Apa coba salah aku? Dianya memang yang malas."
"Apa kamu sudah menjelaskan kebenarannya sama papa kamu?"
"Gak mungkin lah, Ma. Dia sudah memiliki banyak daftar kenakalan untuk dimarahi papa. Kalau aku menambahkan nanti dia malah dikeluarkan dari KK lagi."
"Kalau begitu kenapa kamu kesal? Kan kamu sendiri yang membuat diri kamu di masalah tersebut."
Sementara Saga mulai memikirkan tindakannya, Arlin pun memberi alas meja dengan taplak kotak-kotak warna hijau muda. Makanan masih dia biarkan di tempatnya mengingat makan siang masih lama. Takutnya jika dieksekusi lebih awal akan diganggu oleh lalat.
"Ini barang-barang kalau ditinggalkan ada yang mencuri gak ya?"
"Biar aku yang jaga, Ma."
Dia tidak memiliki minat bergabung lagi mengingat masalahnya bersama Suga. Anak itu mah akan selalu terlihat tidak bersalah. Yang mana justru membuat darahnya kian mendidih.
"Ya udah, saya titip ya. Gak lama kok, palingan cuma tiga puluh menit saja."
"Aku mau pir."
"Nanti saya bawakan."
Arlin memakai sepatunya dan memendarkan mata. Adam ditemukan olehnya tengah mencabuti bunga-bunga liar.
"Adam ayo," seru Arlin.
"Untuk mama," kata Adam saat sampai di depan Arlin. Sekumpulan bunga liar dengan aneka warna tersodor di waktu yang sama.
Arlin mencubit pelan pipi Adam. "Terimakasih, sayang."
Bukannya membalas dengan kata sama-sama Adam justru menghambur memeluk kaki Arlin. Gemas bukan main Arlin dibuatnya.
"Mama, sini!"
Teriakan Suga membawa Arlin dan Adam mendekat ke pohon apel.
"Bocil lo mau gak?" tawar Suga.
"Mau."
"Berapa?"
"Dua."
Sementara Adam dan Suga sibuk di pohon apel Arlin mendekati pohon pir. Dia memetik enam buah. Untuk dia dan Saga.
Mereka baru kembali setelah tidak mampu menampung buah lagi di tangan. Sagara pula ditemui tengah rebahan di karpet sembari menggigit keripik kentang.
Suga merebut plastik keripik kentang Saga. Pemiliknya menahan cepat dengan sekuat tenaga.
"Ini punya gue, bangke."
"Mama tepatnya," koreksi Suga dengan tangan masih berusaha merebut.
Tidak mau melihat itu lebih lama. Arlin merebut plastik keripik dan malah memberikannya pada Adam.
"Rese lo!"
Setelah menyembur demikian Saga duduk di sisi kanan Arlin, sementara Suga di sisi kirinya.
"Yee gitu aja ngambek. Kayak cewek lo."
"Lo tuh yang kaya cewek!"
Arlin memutar mata malas. Adik beradik ternyata memang sulit untuk akur. Well dia sudah mengalaminya.
Dia dan kakak laki-lakinya berjarak 5 tahun. Perbedaan umur sama dengan perbedaan pikiran. Keduanya pun kerap berperang membela kepercayaan masing-masing. Bahkan berakhir saling membenci. Belum lagi kesalahpahaman ini dan itu yang memperparah. Mereka pun menjadi begitu jauh dari kata saudara.
"Mama, makan."
Arlin tersenyum akan wajah polos Adam. Entah apa yang sepesial, namun dia selalu merasa hangat memandanginya. Bisa dibilang Adam adalah definisi bahwa bahagia itu sederhana. Dia tidak perlu berusaha begini dan begitu. Cukup sudah hanya dengan berada di sisinya.
"Kamu cuci tangan dulu ya."
Mengangguk patuh, Adam segera pergi menuju keran yang tidak jauh dari mereka. Ada beberapa orang dewasa yang telah mengantri, tapi itu tidak membatalkan niatnya. Jika itu adalah anak lain, maka Alrin yakin sikapnya akan berbeda. Seminimal adalah rasa takut, namun Adam tidak menunjukkannya sama sekali. Jelas sekali bahwa dia lebih dewasa.
"Sejak kecil dia jarang menangis. Jangan salah paham. Itu bukan menunjukkan dia kuat, tapi ketidaknormalan. Dia.." Saga menghela pelan. Tidak mau merusak suasana dengan emosinya. "Entahlah, kata psikiater Adam melakukan itu untuk berpura-pura bahagia. Tepatnya lagi menutupi kesedihannya."
"Dia tidak pernah merengek untuk sosok ibu. Tapi setiap melihat anak lain bersama ibu mereka, dia diam. Memandangi dalam-dalam seolah ingin menggantikan si anak. After all, tetap saja dia tidak pernah mengatakannya. Dia selalu ingin kami mengira dia baik-baik saja. Bahkan sekalipun dengan psikiaternya, dia tidak pernah menunjukkan lukanya."
"Dewasa terlalu awal karena luka," sela Suga.
Jujur Arlin terkejut. Memang sedari awal ia sadari Adam lebih dewasa daripada anak kebanyakan, namun dia tidak menyangka bahwa itu sudah sejak lama.
"Semenjak ada mama dia mulai berubah." Saga tersenyum sendiri mengingatnya. "Dia lebih menunjukkan sisi anak-anaknya seperti yang kami harapkan."
"Karena itu mama gak boleh ninggalin aku apalagi Adam."
Terlalu terang-terangan, tapi tidak mengapa karena kini setidaknya Arlin tahu seberapa besar maknanya bagi ketiga anak tersebut.
"Tapi kalau urusan papa kami tidak akan memaksa mama," lanjut Suga. "Nah kalau Saga mama tinggalin aja."
Tidak mau banyak bicara. Saga melempar apel di tangan Arlin pada kepala Suga. Perang pun tidak terelakkan. Arlin menyibukkan diri mengupas buah seolah tidak tahu. Ketika Adam tiba dia juga melakukan yang sama. Berpura-pura tidak tahu. Hoho sepertinya sikap kekanak-kanakan Adam terbagi rata untuk kedua kakaknya tersebut.