"Dimana anak-anak itu?"
Andrew membuka ponselnya, mengecek pesan yang dia kirim pada Suga dan Saga. Keduanya tidak mendapat balasan. Begitu juga dengan panggilan yang baru dia lakukan.
Kelegaan melesak ke d**a Andrew begitu mendengar derap kaki mendekati meja. Ketiga putranya tampil dengan wajah bahagia. Wah-wah, sepertinya ada yang janggal saja.
"Darimana kalian?"
"Dalan-dalan tama mama."
Adam tersenyum ceria. Sungguh tidak mengerti sama sekali bahwa kalimatnya berhasil menarik pelatuk untuk membakar hati papanya.
"Lagi?"
"Eits sabar." Suga meletakkan rantang ke meja makan. "Kita gak bermaksud untuk gak ngajak papa, tapi mama sendiri yang tidak mau mengajak papa."
"Tunggu-tunggu, bukannya mama pulang kampung?"
Bungkamnya ketiga anak tersebut membuat Andrew mengangguk.
"Oke, papa mengerti."
Sangat-sangat mengerti malah. Lagi, Arlin enggan mengajaknya bergabung. Menambah kejelasan bahwa dia sungguh tidak diinginkan. Kepalanya sih sudah sadar, namun hatinya masih enggan menerima.
"Mama gak suka sama papa," celetuk Adam tiba-tiba.
Mata Andrew hampir keluar mendengarnya. Lihat! Bahkan bocah lima tahun pun dapat mengambil kesimpulan untuknya.
Saga yang meyakini atmosfir tidak akan baik pun menggendong Adam untuk pergi. Biarkan saja Suga yang menjadi perwakilan mereka untuk memberi penjelasan.
"Anak kecil aja sampai tahu. Masa orang dewasanya gak sadar diri."
Suga mah memang berani. Padahal papanya sudah terlihat seperti monster yang siap mencakar siapapun yang menambah rusak suasana hatinya.
"Kamu menyindir saya?"
"Enggak tuh. Situnya aja yang baperan."
Usai berkata demikian Suga cepat-cepat berlari. Meski papanya kerap terbiasa oleh perkataan kurang ajarnya, tapi pria itu sebenarnya tidak menyukainya. Hanya sedikit memaklumi.
Panas di d**a Andrew semakin jelas. Bahkan itu menarik urat-uratnya untuk mengetat. Bukan karena Arlin yang membohonginya saja, tapi juga karena fakta bahwa putra-putranya sungguh lebih mendapat atensi Arlin.
Apa coba bakat anak-anak itu selain menyusahkan? Tidak ada. Namun kenapa Arlin tutup mata dan justru seolah ketiganya lebih baik daripada dia? Semua tanda tanya tersebut mendadak berganti kebingungan saat dia melihat rantang yang Suga tinggalkan.
"Paman, tolong jaga rantang kami." Tiba-tiba Suga muncul di ambang pintu. Menusuk tatapan tajam juga pada papanya. "Awas kalau papa curi."
Dia tidak menanggapi. Sepenuhnya telah dikuasai oleh rasa ingin tahu. Fakta yang tidak mungkin salah, rantang itu pasti pemberian Arlin. Untuk isinya dia masih belum tahu dan itulah yang ingin dia cari tahu.
Tangannya baru mencapai gagang rantang ketika Nola bergerak maju.
"Tuan."
"Kamu kira saya beneran mau mencuri hah?"
Sentakan Andrew membawa mundur langkah Nolan. Dia bosnya, pokoknya patuh saja.
Rantang empat tingkat. Melihatnya saja membuat darah Andrew mendidih. Bisa-bisanya Arlin memberikan itu pada anaknya, namun tidak dengan dia.
Ayolah dimana keadilan? Dia yang pertama kali menyukai Arlin. Namun kenapa Arlin malah menyukai putra-putranya saja.
"Tuan, itu punya tuan muda."
Nolan tahu Andrew tidak mungkin hanya melihat isi rantang tersebut. Jadi dia memberi peringatan. Memang tadi dia tidak mau melawan Andrew, tapi dia juga telah setuju untuk menjaga makanan tersebut.
"Ah saya baru ingat."
Andrew berbalik. Menarik senyum yang membuat Nolan curiga. Oh jelas. Pria itu kan paling tidak murah senyum.
"Ada beberapa dokumen baru dari JE yang harus saya periksa. Kamu tolong ambil laptopnya di atas."
Urusan kerja paling tidak bisa Nolan tolak. Dia jadi setuju akan perintah Andrew tanpa berpikir jauh. Lagipula tidak mungkin Andrew mencuri makanan anaknya. Kan dia pria budiman.
Ya semoga saja begitu.
Mata Andrew masih mengawasi kepergian Nolan. Begitu benar-benar tidak terlihat dia membawa rantang tersebut kabur ke dapur.
"Aku hanya mencicipi sedikit," gumamnya ketika mulai mengeksekusi isi rantang. Tidak mewah, hanya tahu kecap, ikan sambal, tumis kangkung dan bakwan.
Arlin memberikan porsi cukup banyak, jadi dia kira dia tidak mungkin akan menghabiskannya. Kenyataannya dia justru menghabiskan semua. Yang mana itu membuat dia menambah nasi hingga tiga kali.
Kenapa dia baru tahu bahwa ikan sambal dan sayur kangkung jika padukan bisa seenak itu. Belum lagi bakwan udang yang manis dan tahu kecap.
"PAPA!"
Teriakan Suga bak petir yang menyambar ketidaksadaran Andrew. Dia melotot, baru sadar bahwa semua isi rantang telah masuk ke dalam perutnya.
"Papa ng.."
Kalimat Suga terputus saat menemukan papanya di lantai pantry.
"Mana matanan Adam?"
Dia muncul dari balik tubuh tinggi Suga. Ekspresinya aneh saat melihat Andrew, kemudian berubah redup saat menemukan rantang yang telah kosong.
Andrew mengangkat kedua tangannya. Menyerah atas tuduhan yang bersarang dalam benak putranya.
***
Ketukan pintu membuyarkan fokus kedua perempuan yang tengah menonton televisi.
"Ibu kontrakan kah?"
Arlin menggeleng. "Gak mungkin, gue udah bayar kontrakan. Kalau enggak pun pasti udah di back-up sama Sean."
"Jadi saha? Kurir?"
Belum sempat Arlin menjawab Indah telah berteriak. "BUNGA KUBURAN, LO ADA PESAN PAKET GAK?"
"GAK ADA."
Teriakan yang sama besarnya keluar dari kamar Mawar. Arlin meringis jadinya. Rumah rasa hutan. Astaga.
"Gak ada tuh katanya."
Tanpa dibilang pun Arlin sudah tahu. Bagaimana tidak? Suara keduanya seperti petir.
Arlin meletakkan toples kerupuknya ke meja. "Pause dulu filmnya."
"Lo mau buka pintu?"
"Lo mau gantiin?" tanya Arlin balik.
Indah menarik raket nyamuk dari kolong meja. "Jaga-jaga kalau ternyata perampok."
"Emangnya ada perampok yang ngetuk pintu?"
"Mungkin, lagian udah jam dua belas begini."
Masuk akal juga bagi Arlin hingga dia memutuskan membawa raket nyamuk tersebut bersama.
"Woi."
Arlin menolehkan leher. "Kalau ternyata Sean, lo palak dua ratus ribu. Bilang untuk beli jajan."
Memang satu-satunya pria gila yang rela berkunjung lewat dari pukul dua belas hanyalah Sean. Dia biasanya mengantarkan makanan. Alasan paling basinya sih sekalian jalan pulang.
Tidak salah. Sean memang tinggal di apartemen yang berjarak beberapa ratus meter saja dari rumah Arlin. Tapi masalahnya tadi pukul tujuh Sean sudah datang bersama dua bungkus sate. Tidak mungkin datang lagi kan?
Sampai di ruang tamu Arlin menyalakan lampu lebih dulu. Setelahnya barulah dia mendorong kunci dan menarik knop.
"Mama.."
Kedua tangan mungil Adam memeluk erat kaki Arlin. Air dari sudut matanya yang berjatuhan segera terasa menyentuh kulit.
Hati Arlin terhenyuk dibuatnya. Dia berjongkok, menangkup lembut pipi Adam.
"Adam kenapa nangis, sayang?"
"Papa.."
Andrew mendelik karena Arlin langsung memberinya tatapan membunuh. Dia tahu dirinya salah, tapi cara Arlin menatapnya seolah memang dia pembuat ulah sejak lama. Itu menyakitkan tahu.
"Papa menghabiskan semua masakan dari mama," tukas Suga. "Adam belum makan sedikitpun. Tadinya dia cuma mogok makan eh ternyata jadi nangis begini."
Arlin menutup telinga Adam dengan kedua tangannya, mencegah anak itu mendengar ledakannya. "Tuan Thompson, apa anda menyadari perbuatan anda?!"
"Salah kamu tidak mau memberikan bagian kepada saya. Padahal saya kan juga lapar."
Andrew juga tidak mau kalah meledak. Dia merasa diperlakukan tidak adil. Perasaan begitu bukan main sakitnya di ulu hati.
"Lantas? Itu bukan urusan saya."
"Arlin kamu benar-benar tidak adil. Saya yang lebih dulu menyukai kamu. Kenapa malah mereka yang mendapatkan semua perhatian?"
Saga menarik lengan Suga untuk masuk. Indah yang bersandar di daun pintu juga ikut masuk. Tidak menghilang, hanya bersembunyi di pinggir jendela agar tidak terlalu kentara terlihat kepo.
"Anda bertanya kenapa? Bukannya sudah jelas. Saya memang hanya menyukai mereka, bukan anda. Bukankah saya sudah mengatakannya sejak awal? Apa anda tidak ingat?"
"Jadi maksud kamu, kamu mendekati saya hanya demi anak-anak ini."
"Saya tidak mendekati anda. Tolong jangan salah paham. Saya datang untuk membimbing Sagara, kemudian anda tiba-tiba mengatakan perasaan dan... hal-hal tidak perlu seperti yang kepala anda pikirkan terjadi. Tapi itu tidak dengan saya. Itu berarti anda salah paham sendirian. Jangan menyalahkan saya."
"Kamu mengatakan saya adalah hal yang tidak perlu?"
"Exactly."
Arlin menggendong Adam, membawanya masuk ke dapur. Dia meringis kemudian menyadari bahwa tidak ada lagi bahan-bahan di dalam kulkas. Semuanya sudah habis untuk dimasak tadi sore.
"Saga, tolong beli sosis dan ayam."
Tidak mau menambah keributan. Saga langsung beranjak bahkan sebelum Arlin memberikan uang.
Sembari menunggu Arlin mengelus-elus punggung Adam. Bukannya berhenti Adam justru semakin menangis keras. Tadinya dia juga tidak ingin demikian, tapi siapa sangka hatinya sungguh sakit karena tidak dapat menikmati hasil masakan penuh kasih mamanya tersebut.
"Adam sudah dong."
Arlin mendudukkan Adam di sofa dan menggenggam kedua tangan mungilnya.
"Nanti aunty masakan yang baru. Lebih banyak dan lezat. Berhenti nangis ya, sayang."
Itu tidak mampu menghentikan tangisan Adam. Air matanya masih terus terjun membasahi pipi.
Sudut mata Arlin memanas, mengejutkan Andrew yang berdiri tidak jauh darinya. Kenapa sampai ikut menangis? Adam cuma anak yang kebetulan dia jaga kan?
"Jangan nangis lagi dong. Lihat, aunty jadi nangis juga."
Adam mengangkat kepala. Tidak menyangka juga akan melihat air mata sang mama.
Suga menyenggol lengan papanya. "Papa sih."
Dia ingin membela diri, tapi merasa tidak mampu lagi karena perbuatannya ternyata membuat dua orang menangis sekaligus.
Andrew b******k! u*****n dalam hatinya adalah kesadaran akan kesalahannya. Tapi bibirnya masih tidak mengucapkan maaf, bahkan mendekatkan diri saja tidak.
Sagara kembali beberapa menit kemudian. Arlin segera memasak. Tidak ribet-ribet, hanya ayam dan sosis panggang saus kecap.
Sejauh ini Adam tidak pernah menolak apapun yang dia masak. Pokoknya selagi tidak pedas dia akan memakannya.
"Udah jangan nangis dong."
Jari jemari Arlin naik untuk menghapus air mata Adam. "Adam lapar kan? Ini aunty sudah memasak ayam dan sosis panggang saus kecap. Ayo aaa."
Masih mengusak air mata, namun Adam membuka mulutnya. Lama kelamaan seiring makanan lezat yang masuk dia pun berhenti menangis.
Arlin memberikannya kecupan di dahi sebagai hadiah. "Karena Adam udah jadi anak baik, aunty kasih izin untuk tidur di sini. Gimana?"
Kemuraman di wajah Adam pun menghilang. "Adam boleh tidur tama mama?"
"Iya."
"Nanti ditabatain terita?"
Arlin mengangguk, menambah kesenangan hati Adam.
"Adam mau tidur tama mama," ujarnya seraya menghamburkan diri ke pelukan Arlin. Tangan Arlin pun secara sigap mengusapnya lembut.
"Aku juga ya, Ma?" celetuk Suga tidak mau ketinggalan.
"Gak ada kasur lagi. Kalian mau tidur dimana?"
"Sofa, Ma."
Saran Sagara mendapat pelototan tak percaya Arlin. Yang benar saja anak itu rela tidur di atas sofa. Mungkin kalau sofa rumahnya tidak menjadi masalah sebab sofa mereka begitu tebal dan empuk. Lain lagi dengan sofa Arlin yang sudah tua dan memiliki jebakan batman di beberapa sisi.
"Ah gak usah. Nanti malah pegel-pegel. Kalian pulang saja."
"Mama pilih kasih ih."
Jurus andalan Suga adalah merajuk. Awalnya dia sendiri tidak percaya bahwa itu akan berhasil mengingat dia tidak begitu penting bagi Arlin, tapi ketika sudah dicoba ternyata berhasil.
"Masa Adam boleh, tapi aku enggak."
"Bukannya gak boleh, tapi tidak ada kasur lagi."
"Yang penting masih ada ruang," sela Suga tetap kukuh. "Aku bisa tidur di atas karpet. Kalau Bang Saga mah di dapur juga sudah senang. Iya gak, Bang?"
Matanya tidak setuju, tapi dia tidak membuka mulut. Sedikit penasaran juga bagiamana rasanya tidur di rumah kontrakan Arlin.
Suga merangkul erat bahu lebar Saga. "Udah setuju nih ma manusianya. Jadi fix kami boleh tidur di sini kan?" tanyanya memastikan.
"Saya juga."
Andrew bersimpuh di kaki Arlin. Memasang senyum cerah seolah tidak berdosa.
Tatapan khawatir Arlin berubah benci. "Anda mau membuat seluruh warga berpikir aneh hah?"
"Ya tidak masalah. Kita kan memang perlu melakukan yang aneh-aneh."
Dasar tua bangka tidak tahu diri! Baru saja membuat ulah, tapi sudah langsung mampu berkata m***m. Membuat Arlin kian merasa benar saja untuk tetap menghindari Andrew.
"Sana pulang!"
"Serius? Kamu mengusir saya?"
Tidak ada jawaban yang dia terima, tapi hilangnya eksistensi Arlin dibalik pintu kamar membuat Andrew mengerti.
"Fine!"
Ia menyeret kasar kakinya ke dalam mobil yang terparkir. Nolan masih berada di dalamnya sedari tadi.
Debaman pintu hampir membuat jantung Nolan melompat. Dilanjutkan dengan perasaan tidak enak kemudian akan wajah masam Andrew.
Kepalanya menoleh kanan dan kiri, kenapa tidak ada tanda-tanda ketiga tuan muda?
"Tuan muda di mana, Tuan?"
"Tidur di rumah Arlin."
Baiklah, Nolan mengerti alasan dibalik masamnya wajah sang tuan.
"Mau langsung pulang, Tuan?"
"Menurut kamu?"
Mood yang sungguh buruk. Nolan harus lebih insiatif dan berhati-hati. Karena dia yakin jika tidak demikian maka dia pasti akan disembur oleh api panas.
"Pilih kasih!" Dumelan Andrew membawa pandangan Nolan pada kaca spion. Sesaat saja karena dia takut tertangkap basah dan berujung diomeli.
"Dia memperlakukan Adam, Saga dan Suga dengan penuh perhatian. Giliran saya, dia tidak peduli sama sekali. Padahal yang suka sama dia itu saya, bukan ketiga anak tersebut."
Ini semakin tidak masuk akal bagi Nolan. Andrew cemburu pada ketiga putranya. Padahal siapapun tahu Andrew jelas tidak dapat dikalahkan termasuk oleh ketiga putranya. Kenapa dia tidak sadar?
Ah dia lupa. Andrew juga manusia, selalu lebih mudah melihat punggung orang lain daripada miliknya sendiri.
"Kamu jangan diam saja, bantu saya cari solusi!"
Nolan tersentak. "Baik, Tuan."
"Baik-baik, apa solusinya?"
"Saya bukan Ibu Arlin. Tidak mungkin saya bisa mewakilkan jawabannya untuk bapak, tapi kalau saya perhatikan ibu Arlin sejak awal memang hanya menyukai anak-anak."
"Ngawur kamu. Tidak mungkin dia suka sama anak-anak lebih dari sukanya kepada saya."
"Bapak cemburu?" Nolan ingin memastikan saja apakah Andrew tahu maksud perasaannya.
"Tentu saja. Saya yang menyukai Arlin dari awal. Harusnya kasih sayang dan perhatian Arlin lebih banyak untuk saya. Saya bukannya tidak senang anak-anak itu mendapat perhatian dari Arlin, tapi...." Lidahnya terbata-bata untuk menemukan kata. Perasaan kesal dan sedih di dalam sana padahal sudah begitu jelas terasa. Tapi dia belum menemukan kalimat yang tepat untuk mempresentasikannya.
"Saya juga mau," lanjutnya pasrah.
Dia sadar benar bahwa apa yang baru dia katakan menunjukkan dirinya begitu membutuhkan kasih sayang. Yang mana terdengar memalukan untuk dirinya yang memegang status pria favorit kaum hawa. Tanpa diminta sebenarnya sudah ada kasih sayang yang tersedia, tapi masalahnya bukan kasih sayang itu yang dia inginkan melainkan kasih sayang tulus seperti milik Arlin.
"Semuanya butuh waktu, Pak. Mun.."
"Nolan apa kamu tidak punya kalender atau tidak pernah melihatnya? Ini sudah empat bulan! Arlin masih risih di dekat saya. Memangnya saya ini seburuk apa?"
"Bukannya bapak bilang Ibu Arlin berbeda."
"Yes, she is. Lagipula mana ada perempuan yang tidak menyukai saya. Jadi jelas saja bahwa dia itu alien. Totally sangat berbeda dari semua perempuan yang pernah saya temui."
"Kalau begitu apa bapak mengerti bahwa serigala tidak dapat diburu seperti ikan?"
"Nolan, jangan menambah pusing kepala saya."
Nolan menghela nafas. Sadar diri juga bahwa kalimat sebelumnya terlalu berlemak untuk dicerna, apalagi oleh pria yang tengah emosi seperti Andrew.
"Sesuatu yang berbeda tidak bisa didapatkan dengan cara yang sama. Bapak harus menerima fakta ini. Melihat dari sudut pandang yang baru juga. Hanya dengan begitu bapak baru bisa menemukan solusi."
"Sudut pandang berbeda?" Andrew mengerutkan dahi.
"Lagipula kenapa bapak risau? Ibu Arlin menyukai ketiga tuan muda. Bukankah itu dapat menjadi lem perekat?"
"Lem perekat ya?"
"Iya, Pak. Ketiga tuan muda sudah mendapatkan hati Ibu Arlin. Tiga loh, Pak. Bayangan seberapa mudahnya jalan bapak berikutnya. Hanya tinggal mendapatkan hati Ibu Arlin saja dan sudah dapat menikah tanpa berbelit-belit mencari dukungan ketiga tuan muda."
Tidak pernah terpikir, namun terdengar benar. Jika diawali dengan dia yang mendapatkan perasaan Arlin maka juga sia-sia pada akhirnya kalau ketiga putranya tidak setuju. Kini dia hanya berjuang untuk satu, bukankah sebuah kemudahan?
"Kamu benar." Senyumnya merekah seperti bunga sakura di musim semi. Penuh bahagia dan harapan baru. "Putar mobil."
***
Ketukan di pintu menarik perhatian semua orang yang tengah merapikan bantal di ruang TV.
"Pak Andrew lagi kah?" tebak Indah.
Arlin mengibaskan tangan, mengusir ketidak masuk akalan perkataan Indah yang hampir mempengaruhinya. "Gak mungkin ah."
"Kalau gitu coba lo buka."
Dia setuju. Juga ingin memastikan sendiri bahwa apa yang perasaannya katakan adalah salah.
Aroma maskulin menusuk hidung begitu Arlin membuka pintu. Segera mengingatkan Arlin pada sosok Andrew. Dan benar saja, pria yang menjulang di depannya adalah Tuan Andrew Thompson.
"Kenapa anda datang lagi?" sungut Arlin masih dengan genangan kekesalan.
"Oke, saya tahu. Sifat saya terlalu tidak jelas. Kamu bebas mengumpat ataupun marah kepada saya."
Arlin melipat tangannya di depan d**a.
"Aha?"
"Saya benar-benar minta maaf. Saya cuma mau mendapatkan kasih sayang dari kamu. Sedikit saja, hanya sedikit."
Nadanya seperti pengemis yang memelas untuk bertahan hidup. Hati Arlin pun tercubit. Dia tahu itu tidak perlu, namun tetap saja rasa tercubit tersebut bersarang.
"Saya pulang."
Tidak berbalik penuh, Andrew masih melirik-lirik Arlin. Berharap perempuan itu mengatakan sesuatu yang sayangnya hanyalah angan saja.
"Dasar hati beton," umpatnya. "Untung aku sayang."