"Biar aku yang memotong sayurnya."
Sean mengambil alih gagang pisau dari tangan Arlin. Padahal persetujuan belum didapat sama sekali.
"Aku saja."
Andrew menekan senyum sembari merebut menarik gagang pisau dari Sean. Jelas, dia tidak mau Sean mendapatkan pujian dari Arlin.
"Apa anda tidak tahu yang namanya etika? Saya sudah lebih dulu mengambil."
"Oh saya tahu sekali apa itu etika, tapi rasanya tidak punya korelasi dengan apa yang baru saja anda katakan."
"Sean," panggil Arlin jengah. Bukan baru kali itu saja Sean dan Andrew ribut, namun sejak tadi memilih menu makan malam sudah begitu. Yang satu maunya makanan manis, sementara yang satu lagi maunya makanan pedas. Lalu yang paling mengherankannya adalah Arlin si pemilik rumah. Kenapa juga dia menanyakan pendapat kedua tamu tersebut.
"Kamu bersihkan ikannya saja," ujar Arlin kemudian.
"Benar." Sean mengangkat dagunya tinggi. "Hanya aku di sini yang pandai membersihkan ikan selain kamu."
Ulu hatinya tertusuk benda tajam. Baru tahu juga bahwa kehebatannya memiliki batas.
"Kau potong saja sayurnya, aku akan membersihkan ikan."
Arlin dan Sean saling pandang, bertanya-tanya akan keseriusan Andrew. Tidak mungkin benar, namun Andrew sudah di depan wastafel. Dimana dalam basin-nya telah ada satu plastik ikan segar.
"Apa kau yakin bisa melakukannya, Tuan Thompson?" seru Sean setengah meledek.
"Tentu saja. Saat aku kecil aku pernah pergi ke kelas memasak."
"Itu saat anda kecil. Tahun sudah berubah, wajah anda dan mungkin juga kemampuan anda." Arlin menyudahinya dengan senyum. Bermaksud agar Andrew tidak tersinggung. "Jadi biarkan saya saja yang mengerjakannya."
"Kamu tidak mempercayai kemampuanku?"
"Bukan tidak, tapi untuk mempercepat prosesnya." Lagi, Arlin tersenyum mengakhiri kalimatnya. Namun wajah datar Andrew membuat dia merasa didesak untuk memberikan penjelasan.
"Anda pasti sudah lapar dan anak-anak sepertinya juga begitu. Jadi sebaiknya kita mempercepat proses agar segera makan malam."
"Aku akan melihat."
Andrew bergeser, memberikan Arlin ruang untuk masuk. Keangkuhan masih ada pada rautnya. Untuk menunjukkan seolah-olah dia memang bisa. Padahal pada kenyataannya memang tidak sama sekali.
Jangankan membersihkan, melihat ikan segar secara langsung saja dia jarang. Semua bahan makanan hanya terlihat olehnya ketika sudah berubah menjadi masakan.
Namun melihat Sean tadi membanggakan diri, dia takut Arlin terpesona. Jadi memaksa diri menjadi yang sama meskipun berpura-pura.
"Apa orang tua kamu tidak pernah berkunjung?"
Sesekali benak Andrew merasa curiga. Orangtua Arlin tidak pernah terlihat. Padahal Arlin adalah anak perempuan yang membutuhkan pengawasan. Ketika terlalu overthinking dia terkadang mengira Arlin tidak diperdulikan oleh orangtuanya. Yang mana itu membuatnya merasa buruk.
"Pernah, sekali setiap bulan."
Tidak cukup sama sekali untuk menunjukkan kasih sayang orangtua Arlin. Mereka justru terlihat tidak peduli. Padahal Arlin adalah putri mereka.
"Aku juga tidak terlalu berharap." Arlin tersenyum kecil saat mengatakannya. Namun bukan kemanisan yang justru Andrew lihat, melainkan kemirisan. "Mereka begitu sibuk. Aku juga takut perjalanan jauh dari kunjungan mereka malah membuat papa jatuh sakit."
"Apa ayahmu itu memiliki penyakit?"
"Sebenarnya lebih tepat dikatakan sebagai luka. Papa memiliki luka tembakan yang cukup banyak. Di kaki, lengan dan bahkan perutnya. Memang sejauh ini papa tidak terlihat sakit, tapi aku yakin luka-luka tersebut menyebabkan penurunan daya tahan dan kesehatannya. Jadi aku tidak ingin papa kelelahan."
Luka tembak? Andrew terdiam lama memikirkannya. Bagaimana bisa Arlin yang terlihat begitu baik memiliki ayah berlatar begitu? Luka tembak berkali-kali, ayah Arlin jelas bukan pria baik. Sekalipun profesi polisi agak memungkinkan sebagai opsi, tapi bukti tembakan menunjukkan kepayahan ayah Arlin untuk profesi tersebut.
"Aku tahu ini terdengar tidak sopan, tapi bolehkah aku tahu apa pekerjaan ayahmu?"
"Mafia."
Jawaban tersebut berasal dari Sean. Benar-benar tidak seperti yang Andrew harapkan. Untungnya dia sibuk pada kalimat, tidak pada perasaannya. Jika iya, maka mungkin dia akan berteriak pada Sean karena kesal.
"Mafia?"
"Ya dulunya memang begitu." Alrin menyalakan kran, menimbulkan suara gemericik air yang indah. "Tapi sekarang papa mendedikasikan diri pada pertanian. Mama yang hobi menanam bunga melengkapinya."
"Mereka sangat-sangat menyukai tumbuhan," tambah Sean. "Tidak heran jadinya ibu guru ini begitu cantik sebab selalu makan sayuran dan buah yang sehat."
Arlin tersenyum akan kalimat Sean sebelum membawa hasil ikan yang dia bersihkan ke pantry.
"Mungkin kita perlu berkunjung nanti. "
Tangan Sean mencubit pipi Arlin. "Kamu benar, sayang. Kita perlu berkunjung karena sebentar lagi aku dengar adalah musim panen. Anggur-anggur matang, stroberi merah dan wortel oren cerah.
"Jangan lupa bunga mataharinya."
Keduanya pun tertawa kemudian. Membuat atmosfir resmi milik mereka saja.
"So.." Andrew masuk di antara Arlin dan Sean. "Ayahmu menanam anggur?"
"Tidak hanya itu saja. Masih ada banyak buah dan sayuran juga."
"Kebunnya terdengar luas. Di daerah mana itu?"
Sean yang tersisihkan mengepalkan tangan. Seenaknya Andrew menyerobot. Sudahlah tubuhnya besar, dia pun jadi terdorong jatuh.
"Sudah tidak membantu malah banyak berbicara. Apa anda tidak berpikir bahwa sudah banyak orang yang lapar?"
"Mau saya memikirkannya atau tidak, itu bukan urusan kamu."
"Menjadi urusan aku karena Arlin terlibat di dalamnya. Dia sudah lapar."
Tidak percaya, tapi Andrew menoleh pada Arlin untuk bertanya. "Apa benar? Kamu sudah lapar?"
"Begitulah."
Arlin lalu meninggalkan mereka menuju kulkas. Memberi kesempatan Sean untuk mendorong bibir ke telinga Andrew.
"Dia biasanya makan malam pukul setengah delapan. Itu kebiasaanya."
Darahnya mendidih hanya dalam sepersekian detik. Anehnya tidak kepada Sean, melainkan dirinya sendiri. Dia tidak pernah mengenal Arlin secara dalam. Sekalipun ingin, dia tidak bereaksi melainkan menunggu persetujuan Arlin yang mana tidak mungkin terjadi. See! Itu menjadikannya kalah dari Sean.
Beberapa jam kemudian menu makan malam akhirnya selesai. Ikan panggang, lalapan, tumis kangkung dan lemon squash. Tidak ada yang istimewa, tapi wajah-wajah yang mendapatkan hidangan tersebut bahagia.
Arlin menoleh kanan dan kiri. Sean dan Andrew sama-sama mengapitnya. Terasa tidak nyaman benar, belum lagi keberadaan Adam yang jauh membuatnya khawatir tidak mampu memberikan perhatian.
"Pindah."
Andrew mendelik mendapati mata Arlin tengah memandangnya. "Kenapa aku? Kan ada Sean juga."
"Kesayangan gak bisa duduk jauh-jauh dari pasangannya."
"Kau pasangan Arlin? Jangan harap. Dia hanya milikku."
Kini Arlin yang mendelik. Terkejut akan kata 'milik' yang ditekan oleh Andrew.
"Milik katanya? Jelas-jelas Arlin tidak menyukai anda. Jangankan suka, dekat saja gelisah."
Pegangannya pada sendok dan garpu mengerat, memunculkan urat-uratnya ke permukaan. Itu menjadi alaram bahaya bagi Arlin untuk mencari solusi segera.
"Sean?"
Pria itu keras kepala, tapi tidak berlaku jika Arlin yang memerintah.
Senyum terulas di bibir Sean. "Tentu, sayang."
Dia beranjak dari kursinya ke samping Indah. Adam yang sebelumnya duduk di tempat tersebut pun berpindah.
"Ayo makan."
Arlin meletakkan piring ke hadapan Adam. Mengisinya dengan nasi, tumis kangkung, ayam goreng dan daging ikan tanpa tulang yang kemudian ditaburi oleh saus manis.
"Kok Adam dapat ayam goreng?" Tentu Suga protes. Dia tidak mendapatkan ayam goreng. Meskipun hanya satu item, tapi sudah menunjukkan perbedaan perlakuan Arlin padanya.
"Kamu kan sudah besar," kata Indah mewakili jawaban Arlin.
"Tapi aku juga mau ayam goreng."
"Gak usah berisik. Kalau gak mau makan, pergi!"
Kalimat dingin Saga menimbulkan kekesalan di wajah Suga. Dasar pria kaku. Sedikitpun tidak bisa diajak bercanda.
"Adam bosan ayam, Adam mau itan."
Arlin tersenyum. Adam memang lebih dewasa dari anak seumurannya. Jelas-jelas dia sudah memegang paha ayam tersebut antusias, namun berubah tidak mau karena keinginan Suga.
"Gak jadi deh, Cil. Lo makan aja itu ayam sendirian."
Sebagai ganti Suga mendorong piringnya pada Arlin. "Ikan, Ma."
Tidak keberatan sama sekali. Arlin memisahkan daging dari tulangannya untuk Suga, bahkan Saga sekalian.
"Ini."
Pandangan Andrew naik meninggalkan piringnya. Sean tengah meletakkan daging ikan tanpa tulang ke piring Arlin.
Si objek yang mendapatkan makanan tersebut tidak menolak sama sekali. Malah terlihat biasa saja seolah perlakuan Sean bukan yang pertama kali.
"Gue juga dong."
Indah menggeser piringnya pada Sean. Bukannya mendapat ikan malah lirikan sinis.
"Ah pilih kasih lo. Baiknya cuma sama Arlin doang."
"Jelas, Arlin kesayangan gue." Dia mengedipkan mata pada Arlin. Si objek tidak sensi, malah justru pria di sebelah objek yang begitu.
Menjijikkan!
Andrew sampai mau muntah dibuatnya. Hanya karena dia lebih mengetahui Arlin jadi besar kepala. Padahal belum juga membuat dirinya diterima oleh Arlin.
"Eh?"
Keterkejutan Arlin terjadi karena singgungan siku Andrew. Dilanjutkan pula akan daging ikan tanpa tulang yang Andrew letakkan ke piringnya.
Andrew tersenyum untuk menepis tatapan terkejut dan curiga Arlin. Tapi manisnya terlalu berlebihan hingga membuat Arlin memutuskan memalingkan wajah.
***
"Aku pulang, Ma." Suga menyalami tangan Arlin. Bergantian dengan Saga dan Adam.
"Besok jangan lupa ya."
Sengaja Arlin mencubit pipi Adam. Tidak tahan sungguh akan keimutan si anak. Bahkan kalau bisa dia ingin terus bersamanya. Sudah tidak rewel, imut pula. Arlin jadi semakin sayang.
Andrew menyipitkan mata begitu Arlin menatapnya. Tindakan intimidasi nyata terbawa dalam netra Andrew, menjadikan Arlin bingung pula akan apa yang telah di lakukan. Tepatnya mencari mana satu yang berpotensi menjadi masalah. "Mau kemana?"
Sedari tadi mereka bersama Arlin sedikitpun tidak menyinggung akan ke suatu tempat. Lalu apa yang Arlin dan putra-putranya lakukan sebelum ini pula membuat dia curiga. Bisa jadi mereka akan pergi tanpa mengajaknya lagi.
Hoho, kali ini dia tidak akan membiarkan itu terjadi.
"Cuma bermain sebentar ke taman hiburan."
Jujur saja, Arlin tidak ingin mengatakannya. Dia takut Andrew akan ikut bersama dan menciptakan kecanggungan untuknya. Namun sebagai ayah dari ketiga anak yang akan dia bawa, Arlin kira Andrew perlu tahu.
"Aku akan mengosongkan jadwal."
"Tidak perlu," sambar Arlin cepat. "Kami mungkin tidak sebentar seperti yang dikatakan. Jika anda ikut nanti malah membuat.."
"Tidak." Terpaksa Andrew memotong kalimat. Tidak tahan akan kalimat Arlin yang secara tidak langsung memintanya mundur. "Aku akan tetap ikut. Hitung-hitung istirahat setelah begitu banyak pekerjaan."
Penolakan yang digagaskan oleh kepala Arlin tidak dapat dia terima. Sedikit saja, hanya sedikit. Suara rendah Andrew membisiki telinganya. Lalu entah kenapa hatinya merasa luluh untuk memberikan sedikit kelonggaran. Bukan penerimaan, dia hanya berusaha untuk tidak melukai relung hati Andrew.
"Oke."
Tiga huruf yang bergabung menjadi kesenangan Andrew. Arlin mengizinkannya. Tentu sebuah pencapaian besar bahwa mereka berpotensi lebih maju.
"Kami berencana pergi dari pukul sembilan pagi. Saya akan menyiapkan bekal. Jika anda ingin, anda juga bisa membawa bekal sendiri."
"Tidak perlu. Saya akan makan masakan kamu saja."
Mata Arlin berlarian. Tidak ada kalimat yang menerusi ucapan Andrew, tapi senyum pria itu terparti indah. Dengan wajah setampan itu tentu membawa efek samping luar biasa. Yakni perasaan seperti tersipu dan kekaguman yang tidak mampu ditahan.
"Kalau begitu aku pulang dulu. Pastikan pintu dan jendela kamu terkunci sempurna."
Kepala Arlin mengangguk. Matanya masih tidak berani menemui manik Andrew. Pada hari-hari sebelumnya dia memang telah melihat cinta di mata Andrew, tapi tidak sedalam yang malam ini dia lihat.
Bola matanya yang bercahaya seperti langit malam berbintang membuat Arlin tersedot. Ada begitu banyak kenyaman yang disediakan dan itulah yang membuat dia takut.
Jatuh cinta.
Arlin enggan itu menjembatani hubungannya dan Andrew. Mereka sudah cukup menjadi orang asing saja. Sangat-sangat cukup.
"Telepon aku jika butuh sesuatu."
Perempuan tinggal bertiga bersama temannya. Andrew masih tidak dapat mempercayai keamanan di dalamnya. Mereka pada akhirnya sama-sama perempuan. Bukan lemah yang menjadi maksud Andrew, melainkan sifat lembut mereka yang rentan. Sekalipun kekerasan yang datang hanya secuil maka efeknya tetap luar biasa.
Belum lagi rumah-rumah di sekitar Arlin didominasi oleh orang-orang yang telah berumahtangga. Kerumitan di dalam tiap-tiap rumahnya mampu merubah setiap orang bahkan ke arah negatif. Lebih-lebih kata Nolan 13 persen kepala rumah tangga tersebut adalah pemabuk. Presentase yang tidak besar, namun kegilaan orang di presentase tersebut menyebabkan ancaman lebih berbahaya.
Andrew sendiri terbiasa dalam lingkungan penuh keamanan sekalipun memang secara mental dia kacau. Itu mungkin yang melahirkan perasaan khawatirnya akan Arlin yang hidup tanpa pagar tinggi dan penjaga. Sewaktu-waktu serangan tidak diprediksi bisa terjadi. Semisal maling mendobrak pintu atau pembunuh yang memecahkan jendela. Meski ada warga, tapi tidak benar-benar ada seseorang yang wajib dan siap mengambil resiko untuk melindungi Arlin.
"Aku mungkin perlu menempatkan dua penjaga di rumah Arlin," ujar Andrew begitu masuk ke dalam mobil. Kaca jendela masih terbuka, memberikan dia akses terakhir untuk melihat wajah Arlin.
Tangannya tanpa diminta naik ke udara untuk melambai. Arlin tidak merespon, namun manik coklatnya memberikan atensi. Menyedot Andrew untuk perasaan ingin kembali.
Selalu saja begitu. Dia tidak puas saat menjauh dari Arlin. Padahal dia telah bersama Arlin sejak sore. Mungkin karena tidak terlalu intens atau memang dirinya yang begitu terikat pada Arlin.
"Tentang penjaga yang tuan katakan. Apa itu serius?"
Nolan baru berani bertanya setelah mobil mereka meninggalkan jauh rumah Arlin. Dia tahu sang tuan ingin menikmati momen, jadi dia memberikan waktu.
"Tentu saja serius. Dia cantik dan tampak lembut seperti kapas. Mudah bagi orang-orang kasar melukainya, tapi itu tidak boleh terjadi."
"Saya mengerti, Pak. Segera akan saya atur penjaga untuk hal ini."
"Kalau ketahuan bagaimana?" celetuk Suga. Dia juga seperti Andrew, takut mamanya kenapa-kenapa. Terlebih dia sering melihat media massa meliput p*********n pada kaum perempuan.
"Itu tidak akan terjadi, Tuan Muda. Saya akan memastikan bahwa penjaga tersebut terlihat melebur dalam masyarakat."
"Kamu tidak perlu khawatir," tambah Andrew pada Suga. "Lagipula kalau ketahuan juga tidak masalah. Apa yang kita lakukan untuk hal baik."
Suga mengangguk kecil untuk pembenaran. Yang mereka lakukan demi kebaikan Arlin. Tidak mungkin si objek merasa marah. Malah mungkin begitu terharu. "Pa, kapan nih rencananya mau menikah sama mama?"
Dia sungguh telah nyaman dengan perlakuan Arlin. Akan jadi hal bagus jika dia mampu merasakannya setiap hari. Belum lagi berdasarkan pertimbangan bahwa sang adik membutuhkan seorang ibu.
"Kalau soal mau sekarang, tapi kalau soal rencana papa tidak tahu. Mama kamu belum menyukai papa. Padahal papa sudah sempurna begini."
Ingin dia berlagak muntah akan kepedean sang papa, tapi faktanya memang benar dan dia tidak punya waktu untuk mengejek pula.
"Makanya papa usaha. Deketin mama, jadi tipe idealnya, baru ajak nikah."
"Ngomong-ngomong soal tipe ideal. Kira-kira seperti apa ya?"
"Pastinya muda dan fresh," celetuk Nolan. "Sebab Ibu Arlin juga masih muda."
"Jijik untuk dikatakan, tapi sebenarnya papa ini tipe hot yang bisa membuat perempuan manapun bertekuk lutut. Tidak perlu sama sekali menjadi muda dan fresh. Justru yang papa punya saat ini lebih dari cukup."
Andrew terkejut dibuatnya. Baru kali ini Suga memuji, ya meskipun diawali oleh kalimat sarkas.
"Papa tinggal perlu usaha sedikit untuk mendapatkan hati mama. Soal tipe ideal yang aku maksud tadi juga bukan rupa, tapi sifat."
"Sifat? Seperti apa contohnya?"
"Apa ya?" Suga mengelus dagu seraya berusaha mencari-cari jawaban dalam benaknya. "Mungkin seperti cara berbicara papa yang kaku dan terlalu formal. Mama pasti merasa tersudutkan seperti rekan bisnis papa setiap mendengarnya alih-alih merasa enjoy."
"Lalu?"
"Merubah panggilan," sambut Nolan. Saat mendapat tatapan tanya Andrew dia pun melanjutkan kalimat. "Itu cara pertama merubah tali hubungan. Kata 'saya' dan 'anda' meskipun sopan, tapi terdengar lebih diplomatis, dingin dan formal. Cocoknya digunakan kepada rekan kerja, orang-orang asing dan penting. Tidak cocok untuk pasangan. Sebaliknya kata 'aku' dan 'kamu' lebih menekan pada keakraban dan santai. Seperti dalam drama-drama romantis, perempuan senang dipanggil demikian. Hanya hingga anda belum sampai tahap hubungan resmi seperti pertunangan dan pernikahan. Kalau di saat itu panggilan sebaiknya lebih intim lagi seperti baby, sayang, hubby dan sebagainya."
"Selama ini aku berbicara dengan kata aku, tapi sesekali masih terpleset menjadi anda dan saya."
"Itu parah. Anda terdengar ragu memperlakukan Ibu Arlin sebagai orang lain atau belahan hati. Memang tidak terlihat jelas efeknya sekarang, namun perlahan-lahan hal tersebut akan menjadi kesimpulan bagi kepala Ibu Arlin bahwa anda tidak serius."
"Begitukah?"
Sudah lama Andrew tidak berhubungan dengan perempuan. Sekalipun iya hanya dalam urusan kantor dan pesta resmi. Dengan begitu dia hanya dituntut hangat namun tetap formal. Yang mana kemudian mendarah daging sebagai caranya memperlakukan perempuan lain.
"Iya, Pak. Sama seperti saya yang terkadang bingung untuk memakai aku atau saya ketika berbicara dengan bapak. Sebab saya merasa ragu karena terkadang berada di situasi seolah formal, namun di situasi lain seperti nonformal. Keraguan yang lebih besarnya saya tidak tahu apa anda hanya menganggap saya sebagai bawahan atau justru juga teman. Panggilan anda berubah-ubah, itu menunjukkan juga status saya."
Andrew mengangguk kecil. Mulai mengerti apa yang Arlin pikirkan saat dia memanggil kamu, namun di lain waktu terkadang anda. Itu membuat Arlin juga bingung. Dia harus mulai merubahnya.
"Konsistensi kalimat sama dengan konsistensi perasaan."
Tambahan dari Nolan memperjelas segalanya. Menjadi kemantapan Andrew juga untuk merubah kalimat panggilannya pada Arlin secara permanen. Perlahan, dia harap itu juga akan merubah hubungan mereka ini yang masih abu-abu.