"Kenapa kamu membawanya?"
Arlin menoleh pada Sean. Pria itu tersenyum manis. Masih sisa dari kesenangannya karena diajak oleh Arlin tadi pagi. Bukan saja ajakan, tapi Arlin bahkan memaksa. Meskipun Sean tahu paksaan tersebut hanya untuk tameng pribadi Arlin, namun dia tidak memungkiri kesenangan di dadanya karena menjadi yang terpilih.
"Dia mengambil cuti, jadi aku kira tidak masalah mengajaknya bergabung."
Senyum yang disertai Arlin untuk menyudahi kalimat tidak dapat menggerakkan lidah Andrew akan kata-kata kekesalan. Jelas, itu terlalu manis. Andrew takut kalimatnya akan merusak suasana.
"Ayo ke sana, Om."
Suga tiba-tiba datang dan menarik tangan Sean pergi. Kaki pria itu cepat-cepat menapak kuat, namun akhirnya luluh juga akan tarikan paksa Suga.
"Di sana ada komidi putar loh, Dam. Ayo ke sana."
Saga ikut mengambil seseorang dari Arlin, yakni Adam. Memberikan kesempatan agar sang papa dapat berduaan saja.
Sekeliling mereka padahal ramai oleh lalu lalang manusia, namun Arlin sudah merasakan angin dingin menerpa tengkuknya. Sean jahat! Sengaja tadi dia mengajak agar tidak berduaan bersama Andrew eh malah ditinggal pula.
"Mau makan sesuatu?"
Tidak mungkin mereka menikmati permainan. Umur mereka sudah sama-sama tidak cocok untuk hal tersebut. Itu lah sebabnya Andrew mengajak mencari makanan sebagai gantinya.
"Boleh."
Sebisa mungkin Alrin menjaga jarak dari Andrew. Meskipun hanya mengenakan kaos putih dan celana hitam panjang, tapi aura dan tampang Andrew membuat siapapun tahu dia bukan pria biasa. Belum lagi wajah Andrew kerap muncul di majalah dan berita, menjadikan pria itu mudah dikenali oleh orang-orang.
Nah yang menakutkan bagi Arlin adalah serangan fans Andrew. Bukannya tidak mungkin, pria itu tampan dan memiliki kekayaan. Fans bisa terbentuk dari keduanya. Dia tentu enggan masuk ke dalam masalah.
"Itu sepertinya ice cream." Andrew mencondongkan diri pada Arlin. Berniat untuk menepis jarak di antara mereka yang cukup membuatnya minder.
"Iya itu ice cream."
Arlin menjauhkan dirinya. Tidak natural sama sekali, sebab wajahnya menampilkan kerisihan yang terbaca oleh Andrew.
"Mau beli?" tawar Andrew kembali pada posisinya. Dia bisa saja terus mendekati Arlin, tapi kerisihan perempuan tersebut telah menjadi alaram baginya untuk berhenti.
"Boleh."
Antrian ice cream cukup padat. Tubuh Arlin yang langsing pun menjadi begitu mudah terdorong. Beberapa kali dia mampu menahannya, tapi saat seorang ibu-ibu bertubuh bongsor lewat dia pun oleng ke samping. Sepatunya terpeleset, hampir membuatnya jatuh jika Andrew tidak sigap menahan dengan kedua tangannya.
Yang Arlin tidak percayai adalah posisi tersebut membuat maniknya dan Andrew saling beradu. Benar-benar seperti adegan di drama romantis. Memang tidak sempat sampai ost diputar, tapi Arlin jelas merasakannya. Debaran di d**a yang tidak biasa.
Keriuhan pembeli lain mengejutkan pikiran Arlin. Dia pun buru-buru kembali berdiri mantap.
"Maaf," katanya sembari mengambil jarak. Membenahi tas selempangnya canggung.
Jantung Arlin kedua kalinya berdebar karena Andrew tiba-tiba muncul di depannya. Kedua tangan besar Andrew mengerat di bahu Arlin sementara lirikan tidak senang pria itu mengarah pada seorang pria besar.
Arlin pun mengerti akan maksud Andrew. Meski begitu bukan berarti dia akan luluh dengan membiarkan tangan Andrew lebih lama bertengger di bahunya.
"Terimakasih."
Hanya senyum yang bisa Andrew berikan. Dia sadar bahwa perbuatannya bukan hal besar, itu jadi tidak pantas untuk kata terimakasih dari Arlin.
Setelah desak-desakan, sumpek dan kecanggungan Arlin akhirnya merasakan udara bebas. Andrew yang mengamati perubahan wajah Arlin pun tersenyum kecil.
"Kamu sepertinya tidak suka keramaian ya?"
"Begitulah."
Arlin mendudukkan diri lebih dulu di bangku taman. Andrew menyusul kemudian di sampingnya. Spasi tidak ada sama sekali, membuat Arlin mencium jelas aroma parfum Andrew. Di saat yang sama Andrew juga dapat mencium aroma parfum Arlin. Lembut dan menenangkan. Sama seperti pemiliknya.
"Kalau begitu kenapa kamu menjadi guru? Pekerjaan itu juga di antara keramaian kan?"
"Saya tidak.."
"Aku-kamu saja," potong Andrew. "Itu terdengar lebih nyaman."
Arlin menghela nafas. Membuang emosinya untuk Andrew. Sejauh ini pria itu tidak membuat masalah, jadi akan aneh jika dia terus menyimpan emosi di dalam sana. "Aku tidak ingin menjadi guru, tapi sepertinya semesta menginginkan aku begitu."
"Katakan cerita di baliknya. Aku penasaran."
"Saat say.." Lidah Arlin berhenti bergerak karena tusukan netra Andrew. "Aku," koreksinya. "Saat aku masih kecil aku memang bercita-cita menjadi guru. Waktu itu aku memang cukup cerdas daripada anak-anak kebanyakan dan hobi belajar. Jadi aku kira mengajari orang lain akan sangat menyenangkan. Ketika aku beranjak remaja, aku tiba-tiba tidak ingin menjadi guru. Pekerjaan itu payah. Aku dipaksa mengurus dan menyesuaikan diri dengan setiap jenis anak murid. Lalu di bangku SMA aku mulai menulis cerita. Kegiatan itu sangat menyenangkan dan di saat yang sama aku mendapatkan uang. "
"Itu pasti passionmu."
"Benar, passionku adalah menulis. Awalnya aku mengira hanya sekedar hobi. Kemudian aku belajar sesuatu dari beberapa sumber. Katanya hobi biasanya diasosiasikan dalam bentuk kesukaan dan kesenangan pribadi, sedangkan passion itu cenderung mengarah dengan kecintaan terhadap sesuatu. Hobi cenderung merupakan tindakan yang bersifat konsumsi, sedangkan passion justru dapat mendatangkan penghasilan. Itu menguatkan bahwa menulis adalah passionku. Aku berniat mengejar passion tersebut lebih jauh. Tapi jurusan sastra di daerahku tidak ada. "
"Kenapa tidak mencoba di daerah lain?"
"Aku mau, tapi aku tidak memiliki cukup kelengkapan. Terutama akomodasi dan biaya hidup. Ketika papa menjamin itu, aku sudah terlanjur mendaftarkan diri pada jurusan pendidikan bahasa inggris. Pada akhirnya rencana Tuhan yang berjalan."
Alrin menjilat ice cream vanilannya. Sudah hampir meleleh karena cerahnya matahari.
"Kamu bertahan dengan pendidikan bahasa inggris sampai sekarang. Tidak mungkin kan kalau kamu hanya terpaksa oleh takdir saja?"
"Memang, aku tidak terpaksa okeh takdir saja. Aku sejak kecil menyukai bahasa inggris dan mengetahui cara belajar. Hanya untuk konsumsi pribadi, tapi aku kira tidak salah juga mempelajarinya untuk berbagi pada orang lain."
"Aku merasa minder."
Kalimat yang mengejutkan untuk Arlin. Andrew minder. Akan apa? Dia kan sudah sempurna.
"Kamu bekerja untuk membantu orang lain, sedangkan aku bekerja untuk diriku sendiri."
Ya ampun ternyata hanya karena itu. Arlin kira Andrew minder akan hal lain yang terdengar besar.
"Kamu salah. Kamu telah membantu banyak orang. Perusahaan kamu itu telah mempekerjakan ratusan atau bahkan ribuan orang. Tiap-tiap orang tersebut memiliki keluarga sebgai tanggungjawab. Jadi kamu pasti bisa membayangkan betapa berharganya pekerjaan yang kamu sediakan tersebut. Bukan hanya pemenuh kebutuhan pangan, tapi pengobatan, pendidikan dan bahkan mental. Kamu lebih banyak berkontribusi untuk orang lain dari pada aku."
"Jujur, aku tidak pernah menyadari pekerjaan yang aku berikan pada mereka akan seberharga itu sampai kamu mengatakannya." Sudut bibir Andrew tertarik kecil. "Kamu memang sesuatu, Arlin."
Kalimat tidak diharapkan. Merubah mood dan raut Arlin secara drastis. Harusnya dia tadi tidak menanggapi kalimat Andrew, dengan begitu mereka tidak semakin jauh.
Situasi tadi menurut Andrew sudah cukup bagus. Arlin bercerita kepadanya tanpa canggung seolah dia bukan lagi orang asing, tapi kini kebungkaman Arlin membuatnya bingung. Apa yang salah? Kenapa mereka kembali asing?
"Arlin."
Panggilan Andrew membawa pandangan Arlin untuk menoleh. "Iya?"
Bukannya mendapat jawaban Arlin malah disuguhi oleh wajah Andrew. Begitu dekat hingga hidung mereka saling bersinggungan. Detak jantungnya pun seolah berlari dari tempatnya.
"Jangan menjauhi aku, apalagi sampai menyukai Sean. Aku memang masih belum bisa membuat kamu mau, tapi itu bukan berarti bahwa kamu bisa menjadi milik orang lain."
Sungguh, ini pertama kalinya Arlin mendengar kalimat aneh begitu. Tapi harusnya keanehan tersebut tidak membuatnya berdebar-debar, kan?
Seriangaian Andrew menyusul setelahnya. "Kamu tahu? Semua yang aku inginkan, selalu bisa aku dapatkan. Apalagi yang sangat aku inginkan."
"Ma, Adam merengek."
Suara besar Saga menjauhkan wajah keduanya. Adam meronta-ronta turun dari gendongan Saga dan berlari menuju Arlin.
"Mama."
Arlin membasahi bibirnya sesaat sebelum merunduk untuk mencubit pipi Adam. "Kenapa, sayang? "
"Panas." Adam memanjat naik untuk duduk di antara papa dan mamanya. Terkejut kemudian karena dua orang tersebut tengah memegang ice cream.
"Papa, mau."
Tidak ada perdebatan. Andrew menyerahkan langsung ice cream yang belum disentuhnya sama sekali pada Adam.
"Aku mau beli minuman. Mama mau nitip sesuatu gak?" tanya Saga.
"Bakso bakar."
Itu suara Sean. Dia datang dengan Suga mengekor di belakang. Wajahnya tertekuk dalam. Andrew tebak pasti karena tidak berhasil menahan Sean lebih lama untuknya. Tapi tidak masalah, Andrew sudah mengatakan apa yang perlu dia katakan tadi.
"Sama cola deh satu," lanjut Sean seraya menjatuhkan diri di samping Arlin. Kemudian tanpa izin dia merebut ice cream yang Arlin pegang. Sedikit lagi hampir terjilat namun tangan Andrew secara sigap merebutnya.
Adam yang tergencet pun berteriak. "Papa!"
Andrew mengelus kepala Adam seraya mulai menjilati ice cream. Jangan harap dia akan membiarkan bekas bibir Arlin menyentuh bibir Sean. Hanya dia saja yang bisa begitu.
Tangan Sean terjulur, menepis ice cream yang hendak Andrew jilat. Sorot membunuh langsung dia terima. Namun justru penonton kejadian yang merinding.
"Saya ikut."
Arlin berdiri, menggendong Adam sebelum anak itu memohon. "Ayo."
Saga dan Suga berbalik, memimpin jalan. Kedua pria yang tersisa pula masih saling mengirim belati lewat mata.
"Apa lo?" sentak Sean. "Muka petak-petak kayak Spongebob aja banyak gaya."
"Kau yang apa-apaan?" sentak Andrew tidak mau kalah. "Arlin itu milik saya."
"Milik-milik, status aja masih gak ada. Mimpi lo?"
Jari-jari tangan Andrew terkepal kuat. Sedikit tidak menyangka juga bahwa sosok karyawan ramah seperti Sean mampu berteriak begitu. Pasalnya di kantor suaranya selalu rendah dan dia bahkan menunduk hormat padanya setiap bertemu.
"Lo tahu kenapa Arlin ngajak gue?" Sean tidak lagi peduli status Andrew sebagai atasannya. Yang terpenting saat ini adalah membela Arlinnya. "Dia risih sama lo. Makanya dia ngajak gue biar jadi orang ketiga."
"Apa itu membuat kau bangga?" sinis Andrew. "Menjadi orang ketiga. Hanya dipakai sebagai pelampiasan. Mungkin malah tidak lebih barang untuk dimanfaatkan. Ketika nilainya habis akan di buang ke tempat sampah."
"Terdengar miris, tapi itu lebih bagus daripada lo yang dianggap bakteri pengganggu."
Sean bangkit, berjalan meninggalkan Andrew yang terengah-engah oleh amarah.
Bakteri pengganggu?
Itu tidak mungkin aku.
***
"Pak Andrew ngomong begitu?"
Arlin memeluk erat boneka beruangnya dan mengangguk. "Aneh banget kan?"
"Goblok." Tanpa segan Indah memukul pelan kepala Arlin. "Itu romantis namanya."
"Kayaknya enggak deh. Itu cuma karena dialognya keren doang. Kira-kira dia dapat dari mana ya?"
"Lo jangan bikin gue emosi, Ar. Pak Andrew itu jelas-jelas bersikap romantis. Lo apreasiasi dikit dong. Jangan kayak patung batu begini."
"Gak ah. Nanti dia malah semakin gila. Gue kan gak mau bertanggungjawab."
Indah mendorong Arlin hingga oleng. "Mati aja de lo! Udah ada rezeki, tapi masih terus dibuang. Nanti Tuhan murka lo jadi jomblo seumur hidup baru tahu rasa."
"Gak mungkin."
Pikirannya memang keras, sama seperti hatinya. Arlin juga tidak tahu kenapa bisa begitu. Padahal dia sama sekali tidak memiliki trauma akan pria.
"Ar, dengerin gue."
"Dari tadi gue perasaan udah dengerin."
Dumelan Arlin mendapat tatapan jengkel segera dari Indah. "Gue serius."
Arlin mendorong tubuhnya lebih maju. "Oke."
"Membuka hati memang sedikit mengiritasi karena akan ada orang lain yang ikut campur dalam diri kita. Tapi hanya itu caranya agar lo mendapatkan cinta, Ar. Membuka hati! Menerima!"
"Untuk saat ini gue sepertinya gak kekurangan cinta. Jadi gak perlu dong mengizinkan Pak Andrew masuk?"
"Terserah lo deh."
Jengkel sudah Indah dibuatnya. Dibilangin tetap saja ngeyel. Ujung-ujungnya dia jadi naik darah.
"Ar, nih."
Mawar masuk, ogah-ogahan meletakkan satu kotak hitam ke nakas.
"Widih, tumben lo baik. Habis makan apa?"
"Bukan dari gue, bangke."
"Jadi?" tanya Indah.
"Tetangga sebelah."
"Eh iya." Indah mendekatkan diri pada Arlin. Sesi gosip harus tanpa spasi agar penyampaiannya sempurna. "Ada orang baru di kontrakan sebelah tahu. Laki-laki, Ar. Dua orang. Ganteng-ganteng dan kekar. Kayak badan-badan tentara begitu kurang lebih."
"Awas kalau lo embat juga," sambar Mawar memberi tatapan peringatan pada Arlin. "Gue hajar lo, Ar."
"Ho'o, " sambut Indah setuju. "Lo kan udah punya Pak Thompson. Itu cogan biarin untuk kita."
"Minat juga enggak."
Tangan Arlin meraih kotak kue di nakas. "Terus, kenapa gue dikasih kue?"
"Gak usah sok polos lo! Salah satu dari mereka pasti udah suka sama lo."
Kesal Mawar mengatakannya. Arlin selalu menjadi perhatian kaum adam tanpa berusaha. Mana yang mengincarnya tampan-tampan pula. Kan dia jadi iri.
"Enak banget sih jadi lo," raung Indah. "Disukai melulu, lah gue kapan? Gue kan juga mau punya ayang beb."
"Kapan-kapan? Mana gue tahu!"
Arlin membuka kota kue. Isinya kue coklat dengan hiasan stroberi. Manis benar di mata.
"Aneh juga. Gue aja belum ngelihat muka mereka dan berarti mereka juga belum ngelihat muka gue. Kok bisa langsung dikasih kue?"
"Kecuali lo memang udah kenal sama mereka," sambung Indah. "Beuh gila lo. Kenalannya cogan-cogan semua. Pengecualian Si Sean b******k itu."
"Kenalan gue yang badannya bagus di sini mah cuma Sean. Gak ada yang lain lagi. Itu dua orang salah ngasih kali."
Mawar menyambar kotak kue Arlin. "Lo gak suka? Oke! Buat gue."
Tanpa menunggu jawaban Mawar membawa kue tersebut keluar. Indah dan Arlin hanya mampu cengo dibuatnya.
"Tuh, Ar." Indah kembali ke mode pemberi nasehat cinta. "Kalau lo gak mau Pak Andrew udah ada pilihan yang lain. Gih dicobain. Siapa tahu cocok bisa langsung ke pelaminan. Satu, dua, tiga.."
Indah mulai menghitung lewat jarinya. "Enam bulan setengah sebelum tahun baru gue udah bisa dapat momongan. Ayo dong cepat nikah."
"Ayo-ayo, lo kira nikah gampang."
Suara nyaring dering ponsel secara tiba-tiba mengejutkan keduanya. Asalnya dari ponsel Arlin. Begitu dilihat ternyata nama Andrew yang tertera.
"Saha?"
"Pak Andrew."
Arlin menarik nafas dulu, sesudahnya baru menekan tombol hijau untuk menerima panggilan.
"Aku di depan."