Hari ini, Renata menikmati akhir pekan bersama teman-temannya. Ya, hal yang menyenangkan menikmati masa muda dengan nongkrong di Kafe atau sekedar berjalan-jalan bersama. Menghilangkan beban di pikiran dan menikmati hari. Bahkan ia sering berada di Taman bersama teman-temannya atau bahkan jika ada waktu Vino pasti menemaninya.
Renata menyentuh nomor yang ia tuju di layar ponselnya.
"Lo dimana, Vin?"tanya Renata pada seseorang di sebrang sana, saat panggilan tersambung.
[Gue di Luar kota, lagi sibuk Ren.] jawab orang yang tidak lain adalah Vino kekasihnya.
"Sibuk terus, Vin. Gue kangen sama Lo,"ujarnya dengan rasa kecewa.
[Kalau ada waktu Gue kabarin, Sayang.]
"Oke. Ya udah! Lo baik-baik disana!"ucap Renata. Ia mengakhiri panggilan dan mengerucutkan mobilnya.
Vino adalah kekasihnya yang usinya dua tahun lebih tua darinya. Vino memang berusaha mendapatkan Renata saat gadis itu kuliah semester satu. Hal yang sulit untuk bertahan bertahun-tahun bukan? Akan tetapi, mereka menjalani hubungan dengan santai. Ada hal yang terkadang membuat Renata kesal. Vino yang tidak punya waktu setelah bekerja, membuat mereka jarang bertemu.
Saat ia kembali dari aktivitasnya. Renata melihat banyaknya tamu di Rumahnya. Ibunya pun tidak memberitahu bahwa, akan ada tamu datang ke rumah hari ini. Renata mengucap salam saat berada di ambang pintu, kemudian di jawab oleh mereka yang ada di ruang tamu.
"Wah, cantik sekali."tiba-tiba seorang wanita paruh baya memujinya. Renata hanya membalas dengan senyum yang kaku, karena tidak mengenal orang-orang tersebut.
Melihat tatapan sang Ibu, gadis itu pun bersalaman dengan para tamu dengan senyuman manis di bibirnya.
"Permisi! Saya ke kamar sebentar,"ucap Renata yang berpikir tamu itu hanya memiliki kepentingan dengan ibunya saja.
Renata pun bergegas menuju kamarnya. Samar-samar terdengar perbincaraan tentang perjodohan antara ia dan seseorang yang tentu tidak ia kenal. Malah terdengar juga nada antusias dari sang ibu, yang setuju begitu saja pada perjodohan tersebut.
Renata keluar dengan pura-pura tidak mendengar percakapan tadi. Walau sebenarnya ia ingin memaki orang-orang yang datang secara tiba-tiba tersebut. Lalu dengan seketika membahas perjodohan yang tidak di inginkannya.
"Kami permisi saja ya. Jika ada waktu kami akan membawanya kesini,"imbuh wanita yang mungkin hampir seumuran ibunya itu atau lebih tua dari ibunya. Karena, wanita itu terlihat bugar di usianya.
Wanita itu tersenyum pada Renata, tidak lama tamu yang terdiri dari lima orang itu pun pergi.
"Rena gak ngerti, Bu,"tuturnya lirih pada ibunya, ketika para tamu sudah pergi. Ia terduduk lesu di sofa ruang tamu. "Kenapa Ibu langsung menyetujui begitu saja? Rena bukan barang, Bu."sambungnya lirih.
"Maaf, Nak! Saat itu ayahmu dan suami wanita itu menjodohkan Kamu dan putra mereka. Beliau merupakan teman ayahmu dan belum lama ini meninggal. Beliau juga mengamanahkan tentang perjodohan kalian."jelas ibu Renata.
"Tapi Bu, Rena sudah punya pacar bahkan Ibu tahu siapa pacar Rena. Lagipula itu perjanjian ayah sama ayahnya si cowok itu. Sedangkan kita udah lama gak sama ayah 'kan?"protes Renata. "Sekarang aja gak tau ayah dimana?"sambungnya.
"Janji adalah janji, Sayang. Apalagi teman ayah sudah meninggal. Mungkin ayahmu berjasa pada temannya itu."tutur ibunya. "Atau mungkin saja almarhum suami wanita itu sangat ingin mempunyai menantu sepertimu,"sambungnya.
"Menantu kayak Aku? Kenal aja enggak, Bu. Jangan ngaco gitu!"protes Renata.
"Rena,"ucap ibunya lirih.
"Ayah itu, ada nyusahin. Udah pergi dari rumah juga nyusahin. Kayaknya Aku di jadiin barang balas jasa atau penebus perjanjian yang gak tahu asal-usulnya gimana,"cecar Renata kecewa. Ia tidak tahu alasan di balik perjodohan itu sebenarnya. Bahkan, untuk bertanya pada ayahnya pun ia tidak mungkin melakukannya. Ayahnya sudah pergi dan entah kemana.
"Ren, jangan ngomong gitu!"
"Bela terus ayah, Bu. Sudah Rena mau istirahat,"ujar Renata ketus.
Renata masuk ke dalam kamarnya dengan rasa kecewa. Ia tidak bisa membayangkan apa yang terjadi disaat ia menikah tanpa cinta. Hubungan yang berawal dari cinta saja kandas, seperti hubungan ibunya dan ayahnya.
----
Renata tenggelam dalam rasa kecewa. Ia ingin menemui ayahnya dan menyalahkam segalanya pada pria itu. Pria yang sudah dengan tega mencampakan ibunya di kala sangat membutuhkannya. Beruntungnya, masih ada orang lain yang bersedia membantu mereka dan menyayangi mereka. Namun, ibu Renata trauma dengan hubungan yang pernah di alaminya atau mungkin ada alasan lain bagi ibunya untuk tidak menerima orang lain lagi di hidupnya. Renata bahkan pernah membujuk ibunya untuk menikah. Namun, sang ibu lebih memilih fokus untuk mengurusnya.
"Ini gak adil banget, ayah nyusahin hidup Aku dan Ibu terus. Apa sih yang di janjiin?"gerutu Renata.
Ia memukul bantal berkali-kali meluapkan amarahnya. Saat lelah, ia membenamkan wajahnya ke bantal hingga tertidur.
----
Perjodohan ini Renata anggap hanyalah sebuah perjanjian semata. Renata pun pergi menuju rumah yang ia maksud sendiri. Berharap perjodohan ia dan pria yang entah siapa akan segera dibatalkan.
Dengan mantap Renata mengetuk daun pintu dan mengucap salam. Berharap pemiliknya ada di dalam. Daun pintu terbuka, tampak seorang wanita cantik yang pernah berkunjung ke rumahnya itu.
"Renata!"seru wanita itu dengan senyuman mengembang. "Silahkan masuk!''sambungnya tampak begitu ramah.
"Maaf Tante, boleh Saya bicara?' Renata tampak memberanikan diri mengucapkannya.
"Duduklah, Nak!"titah wanita itu.
Renata menunggu posisi nyaman untuk bicara, setelah tuan rumah memberikan minuman untuknya.
"Tante...,"gadis itu berusaha mengatur napasnya."Apakah perjodohan ini bisa dibatalkan? Saya masih kuliah dan juga memiliki kekasih,"sambungnya.
"Maaf, Sayang! Putra kami pun tidak dapat menolak perjodohan ini. Itu adalah sebuah amanah darisuami Tante. Jika Tante tidak menuruti, Tante akan merasa bersalah mengabaikan amanah orang yang akan meninggal. Begitu pula putra Tante yang sangat menyayangi ayahnya. Ia tidak mungkin menolak perjodohan ini."jelasnya.
"Apakah ini karena sebuah harta?"tanya Renata yang memang terasa lancang, tapi ia benar-benar tidak ingin perjodohan sampai terjadi. Ia punya cinta dan kehidupan juga. Ia juga pernah mendengar, jika perjodohan terkadang terjadi karena warisan atau sebuah perjanjian lainnya.
"Tidak Ren. Ini murni perjodohan kalian. Saat suami Saya melihatmu. Beliau bilang Kamu akan lebih pantas untuk putra kami,"tutur wanita itu.
"Maaf Tante, Saya tidak tahu harus apa? Ini semua tidak masuk ke logika Saya,"imbuh Renata. "Ayah Saya sudah lama meninggalkan keluarga Kami dan sekarang tiba-tiba seperti ini. Lalu alasan itu, bahkan Saya tidak pernah mengenal suami Tante. Bagaimana bisa dengan mudah memilih Saya tanpa tahu pribadi Saya,"sambungnya.
"Maaf, Nak! Tante tidak bisa melakukan apapun. Suami Tante mengatakan langsung pada putra kami,"tutur wanita.
"Tidak apa-apa, Tante. Saya akan mencoba ikhlas. Saya pun harus berpikir untuk menjelaskan hal ini pada kekasih Saya. Maaf mengganggu Saya permisi,"tuturnya kecewa. Saat melangkah ke rumah ini, ia benar-benar berharap pernikahan mereka tidak akan terjadi. Namun, saat ini harapannya telah musnah begitu saja dalam sekejap.
Di perjalanan Renata terdiam dalam lamunan. Renata tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Sementara itu, ia pun berpikir jika menolak perjodohan itu. Ibunya akan tetap sendiri, walau pria yang mendekatinya selalu menunjukan kesungguhannya. Apapun demi ibunya, ia berharap dengan hal itu bisa membuat ibunya tenang dan bahagia dan bisa melanjutkan hidup dengan pria yang dicintainya.
"Aku harus apa?"tanyanya pada diri sendiri.
"Jika menolak, ibu akan kecewa. Jika menerima, Aku tidak tahu apa yang akan terjadi,"gumamnya.
"Lagian, siapa sih yang mau tiba-tiba di jodohin padahal belum ketemu. Dasar cowok aneh! Harusnya dia itu nolak aja, jadi rumit deh hidup Gue,"gerutu Renata.
Ia terus berpikir dan sesekali memainkan gawainya. Sebuah potret dirinya dan Vino, membuat gadis itu merasakan sesak dalam dada. Entah apa yang akan terjadi, jika ia mengatakan hal itu pada kekasihnya itu. Namun, ia harus mengatakannya karena lambat laun ia harus mengatakannya pada Vino tentang pernikahan Renata dan pria yang di jodohkan dengannya.