Pertunangan

1216 Words
Di sudut rumah. Ibu Renata tenggelam dalam lamunan. Ia memikirkan puterinya yang entah kemana dengan raut kekecewaan yang terpancar saat gadis itu pergi. Renata datang dan mengucap salam pada ibunya. Membuyarkan lamunan sang ibu. "Apa Kamu pergi ke rumah teman ayahmu, Nak?"tanya ibu Renata menerka. "Maaf, Bu!"ucap Renata singkat. "Tidak apa, Nak. Kau punya hak menolak,"ucap ibu Renata lirih. "Tidak, Bu. Rena tidak menolak. Rena hanya memberi syarat untuk tetap kuliah walau sudah menikah." Jelas Renata dengan senyum simpul di bibirnya. Awalnya ia akan menolak, tapi ia terus berpikir sehingga kembali ke Rumah itu dan mengajukan syarat yang di terima oleh wanita itu. Reni pun tersenyum. Namun, ia pun bimbang. Di sisi lain ia ingin puterinya bersama keluarga baik-baik, tapi di sisi yang lainnya ia pun ragu dengan bahagia atau tidaknya Renata bersama pria itu. ---- Renata terdiam, ia larut dalam lamunan. Bahkan mungkin terlalu larut dalam lamunan. Sehingga tidak menyadari siapa pun yang mendekatinya. "Hai!"sapa Vanya, tapi tidak ada jawaban. "Ren,"ia berusaha memanggil Renata. "Eh, Nya,"jawab Renata terkejut. "Vanya bukan Nya. Emangnya Gue emak Lo,"protes Vanya. "Lo kenapa sih Ren? Ngelamun gitu, kesambet jin bucin loh,"cerocos Vanya. "Lo kali yang kesambet jin jomblo,"ujarnya kesal. "Lah esmosi segala kayak emak-emak yang kekurangan jatah bulanan,"celoteh Vanya tanpa di saring. "Ngaco Lo, jomblowati akut aja sok bicara soal rumah tangga."Protes Renata. "Lo kenapa? Jangan lagi dapet tamu bulanan," Vanyamenerka-nerka. "Kagak Gue lagi galau," "Si Vino masih bikin Lo galau. Putusin ajalah kalau kayak gitu!" "Ya ampun Vanya, Lo ngomong kayak lagi nge MC tahu. Nyerocos terus dari tadi gak kelar-kelar. Gue di jodohin tahu," "What?" Vanya nampak terkejut. "Iya, Gue dijodohin kayak Siti Nurbaya dan Datuk apalah tuh gak inget deh," "Berarti cowoknya tua, dong,"ledek Vanya. "Ya enggaklah, ibunya masih muda. Ya kali Gue nikah sama yang tua kayak Siti Nurbaya,"celoteh Renata. "Eh,Gue juga lagi bingung. Tiba-tiba Kak Rey dijodohin, tapi gak tahu sama siapa. Bokapnya yang minta pas mau meninggal, makanya dia pulang dari Kairo."jelas Vanya. "Udahlah gak mau bahas hal itu,"pungkas Renata kesal. Mereka pun akhirnya meninggalkan taman kampus dan segera ke kelas. ----- Renata dengan gesit menyiapkan jamuan makanan dengan berusaha tersenyum tanpa beban. Tamu pun berdatangan, Renata menyambut dengan ramah. "Kak Rey mana, sih?"tanya Mila pada wanita di sampingnya. "Tunggu saja!pasti datang. Kamu gak boleh gitu! Ini rumah orang."tutur wanita itu dengan lemah lembut. Renata masih terdiam dalam kerumunan tamu. Ia bahkan tidak percaya hal ini terjadi. "Vanya,"matanya membulat saat Vanya datang di antara beberapa orang yang datang. "Renata,"pekik Vanya yang terkejut. "Jadi benaran Kamu,"sambungnya. Renata semakin tidak mengerti. "Maksud Kamu apa, sih?"tanya Renata. "Lah, pantes Gue ngerasa ini bukannya rumah Lo," "Apaan? Gue gak ngerti,"ujar Renata ketus. "Lo udah tahu belum, siapa yang dijodohin sama Lo," "Mana Gue tahu. Semua ngedadak kayak tahu bulat di goreng dadakan,"celoteh Renata. "Kak Reyhan tahu," "What? Masak sih Gue nikah sama Dosen sendiri,"ujar Renata tak percaya. "Serius,"ucap Vanya dengan raut wajah yang serius. Renata terdiam, hingga ucapan Vanya terbukti saat Reyhan datang dan Reyhan pun terkejut melihat Renata. Acara berjalan lancar, meski mereka tampak begitu kaku. Vanya terus menerus menggoda sahabatnya itu. "Cie...yang tadinya cuek bebek. Eh nyosor deh, bentar lagi jadi pacar halal,"celoteh Vanya. Renata menyunggingkan bibirnya. "Dia baik kok, seriusan,"sambung Vanya. "Terserah Lo aja deh. Puas banget liat Gue gini," Vanya masih terus menggoda, sampai rombongan pulang. Gadis itu hanya pasrah pada sikap dan ucapan sahabatnya itu. Renata tidak tahu, pria yang telah bertunangan dengannya itu memperhatikannya. Renata tidak memperhatikan prianya itu, karena walau bagaimanapun gadis itu belum bisa menerima perjodohan mereka sepenuhnya. ***** Renata masih berdiri di tepi jalan. Terus memikirkan apa yang akan dia lakukan, ia pun berlari menuju rumah wanita itu. "Tante, tunggu!"ucap Renata. "Renata,"wanita itu urung untuk masuk. "Saya bisa menerima perjodohan ini, tapi seperti yang Anda ketahui Saya masih kuliah. Saya ingin tetap kuliah,"tutur Renata. "Itu adalah hal mudah, Nak."ucapnya tersenyum. "Dan satu lagi. Saya belum siap memiliki anak. Saya harap Tante tidak menuntut Saya untuk hal itu,"ujar Renata. "Baiklah, Nak. Saya setuju," Renata tersenyum. Tentu saja ia ingin berjaga jarak dengan suaminya nanti. Ia belum mengenal pria yang akan menikahinya. Namun, hatinya pun mencibir, karena dengan mudah menyetujuinya juga. Apapun itu, ia tidak ingin mengecawakan ibunya. Walau memang Renata termasuk gadis yang susah di atur, tapi ia sangat menyayangi ibunya. ***** Reni merasa bahagia. Ia berharap gadis itu akan berubah sikap setelah menikah. Di sisi lain ia ingin puterinya bersama keluarga baik-baik, tapi di sisi yang lainnya ia pun ragu dengan bahagia atau tidaknya Renata bersama pria itu. ---- Renata terdiam, ia larut dalam lamunan. Bahkan mungkin terlalu larut dalam lamunan. Sehingga tidak menyadari siapa pun yang mendekatinya. "Hai!" sapa Vanya."Ren,"ia berusaha memanggil Renata. "Eh, Nya,"ucap Renata yang terkesiap. "Vanya bukan Nya. Emangnya Gue emak Lo,"protes Vanya. "Lo kenapa sih Ren? Ngelamun gitu, kesambet jin bucin loh,"cerocos Vanya. "Lo kali yang kesambet jin jomblo,"ujarnya kesal. "Lah esmosi segala kayak emak-emak yang kekurangan jatah bulanan,"celoteh Vanya tanpa di saring. "Ngaco Lo, jomblowati akut aja sok bicara soal rumah tangga."protes Renata. "Lo kenapa? Jangan lagi dapet tamu bulanan atau gagal dinner romantis sama si Vino," Vanya menerka-nerka. "Kagak Gue lagi galau tingkat tinggi,"jawab Renata. "Si Vino masih bikin Lo galau. Putusin ajalah kalau kayak gitu!" "Ya ampun Vanya, Lo ngomong kayak lagi nge MC tahu. Nyerocos terus dari tadi gak kelar-kelar. Gue di jodohin tahu," "What?" Vanya nampak terkejut. "Iya, Gue dijodohin kayak Siti Nurbaya dan Datuk apalah tuh gak inget deh,"celoteh Renata. "Berarti cowoknya tua, dong,"ledek Vanya. "Karena Siti Nurbaya 'kan nikahnya sama yang udah tua,"sambungnya. "Ya enggaklah, ibunya masih muda. Ya kali Gue nikah sama yang tua kayak Siti Nurbaya,"celoteh Renata. "Eh,Gue juga lagi bingung. Tiba-tiba Kak Rey dijodohin, tapi gak tahu sama siapa. Bokapnya yang minta pas mau meninggal, makanya dia pulang dari Kairo."jelas Vanya. "Udahlah gak mau bahas hal itu,"pungkas Renata kesal. Mereka pun akhirnya meninggalkan taman kampus dan segera ke kelas. ----- Renata dengan gesit menyiapkan jamuan makanan dengan berusaha tersenyum tanpa beban. Tamu pun berdatangan, Renata menyambut dengan ramah. "Kak Rey mana, sih?"tanya Mila pada wanita di sampingnya. "Tunggu saja!pasti datang. Kamu gak boleh gitu! Ini rumah orang."tutur wanita itu dengan lemah lembut. Renata masih terdiam dalam kerumunan tamu. Ia bahkan tidak percaya hal ini terjadi. "Vanya,"matanya membulat saat Vanya datang di antara beberapa orang yang datang. "Renata,"pekik Vanya yang terkejut. "Jadi benaran Kamu,"sambungnya. Renata semakin tidak mengerti. "Maksud Kamu apa, sih?"tanya Renata. "Lah, pantes Gue ngerasa ini bukannya rumah Lo," "Apaan? Gue gak ngerti,"ujar Renata ketus. "Lo udah tahu belum, siapa yang dijodohin sama Lo?"tanya Vanya antusias. "Mana Gue tahu. Semua ngedadak kayak tahu bulat di goreng dadakan,"celoteh Renata. "Kak Reyhan tahu,"jawab Vanya. "What? Masak sih Gue nikah sama Dosen sendiri,"ujar Renata tak percaya. "Serius,"ucap Vanya dengan raut wajah yang serius. Renata terdiam, hingga ucapan Vanya terbukti saat Reyhan datang dan Reyhan pun terkejut melihat Renata. Acara berjalan lancar, meski mereka tampak begitu kaku. Vanya terus menerus menggoda sahabatnya itu. "Cie...yang tadinya cuek bebek. Eh nyosor deh, bentar lagi jadi pacar halal,"celoteh Vanya. Renata menyunggingkan bibirnya. "Dia baik kok, seriusan,"sambung Vanya. "Terserah Lo aja deh. Puas banget liat Gue gini,"omel Renata. Vanya masih terus menggoda, sampai rombongan pulang. Gadis itu hanya pasrah pada sikap dan ucapan sahabatnya itu. Renata tidak tahu, pria yang telah bertunangan dengannya itu memperhatikannya. Renata tidak memperhatikan prianya itu, karena walau bagaimanapun gadis itu belum bisa menerima perjodohan mereka sepenuhnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD