Pertunangan itu membuat timbulnya kekakuan antar Dosen dan Mahasiswa itu. Namun, Reyhan tetap profesional dalam bekerja. Renata tidak dapat berkomentar apapun pada pria itu. Karena ia juga yang menyetujui perjodohannya dengan Reyhan. Ia berusaha fokus pada materi, tapi terkadang pikirannya pun melayang.
Beberapa waktu berlalu. Pada akhirnya penghuni Kampus pun tahu hubungan mereka dan membuat riuh. Sesekali mereka pun menggoda dua insan itu. Hal itu membuat Renata malu, tapi ia berharap seiring berjalannya waktu mereka pun akan bosan dengan sendirinya.
Renata berjalan menuju luar kampus. Tampak mobil hitam berhenti di dekat Renata.
"Saya antar Kamu sekarang,"ujar pria itu setelah turun dari mobilnya.
"Tidak, terimakasih,"ucap Renata datar.
"Saya ada perlu dengan ibu Kamu, Ren."jelas pria itu.
"Baiklah,"jawab Renata pasrah.
Perjalanan penuh kebisuan. Renata tidak tahu apa yang akan ia katakan pada pria itu. Lidahnya terasa kaku. Ingin bicara, tapi tidak bisa ia ucapkan. Hingga pada akhirnya, manik matanya menangkap sosok seorang yang dia kenal saat hampir mendekati rumah.
"Ayah,"ucap Renata lirih. Ia tidak ingin bertemu dengan orang yang tidak lain adalah ayahnya itu.
Saat mobil berhenti di pelataran rumahnya. Renata tidak menghiraukan keberadaan Reyhan. Ia langsung berlari menuju kamarnya. Sehingga ibunya meminta maaf pada Reyhan yang diam saat calon istrinya bertingkah seperti ini. Hatinya penuh tanya, tapi urung ia katakan.
Kedatang Reyhan menemui Reni adalah untuk menanyakan mahar yang di inginkan untuk pernikahan nanti. Reni pun menyetujui berapapun jumlahnya. Setelah beberapa lama ayah Renata pun pamit dan di susul oleh Reyhan, karena ia merasa tak enak melihat ekspresi gadis itu saat melihat orang yang di sebut ayahnya itu.
Reni menyusul Renata ke kamarnya. Ia berusaha mengatur napasnya.
"Maaf, Sayang! Nanti Kau akan membutuhkannya,"ucap Reni pada Renata.
"Rena tahu, Bu. Rena mau istirahat,"ucap Renata lirih.
Renata menenggelamkan wajahnya, menyembunyikan kekecewaan yang ia rasakan. Walau bagaimanapun, ayahnya akan menjadi wali di pernikahannya yang tinggal menghitung pekan.
-----
Secangkir teh menemani pagi Renata yang penuh dengan pikiran yang menjengkelkan baginya.
Sebuah salam membuat ia menoleh pada sumber suara.
"Ayah,"lirihnya. Ia ingin beranjak, tapi urung dilakukan.
Renata ingin mengetahui alasan ia dijodohkan dengan Reyhan.
"Apa kabar, Nak?"tanya sang Ayah yang bernama Andri itu.
"Baik, sangat baik. Apalagi pas Ayah pergi. Kenapa Ayah buat masalah dalam hidup Rena lagi. Rena udah cukup tenang tanpa adanya Ayah di kehidupan Rena."jelasnya penuh dengan rasa kecewa.
"Maafkan Ayah, Nak,"ucap Andri lirih.
"Perjanjian apa yang Ayah buat dengan papanya Rey? Sampai sebelum meninggal pun memberi amanah seperti itu,"cecar gadis itu.
"Ayah sangat dekat dengan orangtua Reyhan, Nak."tutur Andri.
"Apa perjanjian hutang yang Ayah buat?"tanya Renata.
"Tidak Nak. Itu karena kami merasa sangat dekat. Kami saling tolong menolong dan papanya Rey pernah liat Kamu pas SMA."jelas Andri pada putrinya.
"Alasan yang tidak logis. Apa Ayah tahu kehidupanku tidak 'kan? Dengan mudah, Ayah membuat perjanjian yang tidak masuk akal dengan menjodohkanku dengannya. Apa Ayah tahu betapa kami menderita, sementara Aku punya Ayah bergelimang harta. Sungguh ironi, Ayah. Aku bahkan tidak tahu harus apa? Mungkin maksud Ayah agar hidupku bak Cinderella yang bertemu pangeran kaya raya. Aku akan hidup damai dan bahagia,"cerca Renata mengungkapkan apa yang ada di pikirannya. Namun, ia tidak tahu kebenaran yang membuat ayahnya pergi.
"Ren, cukup! Tidak baik seperti itu!" Reni yang keluar menatap nyalang puterinya yang berucap keterlaluan.
"Biarkan saja! Ini semua memang salahku,"ujar Andri pada Reni. Ia tetap tenang walau mendengar ucapan tidak enak dari putrinya.
"Mas, lebih baik datang saat hari akad nanti. Sekarang Renata pasti tidak bisa menerima semuanya dengan cepat,"imbuh Reni di balas dengan anggukan Andri.
Sebenarnya ayahnya tidak pernah lepas dari tanggung jawab. Pria itu pergi dengan rasa bersalah karena tidak memiliki apa pun lagi. Ia tidak mendengar ucapan Reni yang melarangnya untuk investasi di sebuah proyek. Hal itu membuat bangkrut, Andri merasa malu pada istrinya kemudian pergi. Tidak ada perceraian antara mereka, karena itu Reni tidak menikah dengan siapapun. Namun, Renata tidak mengetahuinya karena ia terlalu membenci ayahnya.
Awal pertemuan Andri dengan Randy yang merupakan papa Reyhan. Itu semua saat ia berusaha bangkit dari keterpurukan. Saat ia berhasil dan ingin kembali pada keluarganya. Renata menolak mentah-mentah bahkan sampai saat ini, setelah enam tahun sudah gadis itu tidak memaafkan ayahnya.
-----
Renata membanting bantal dengan kesal. Reni datang menghampiri putrinya.
"Maafkan Ayahmu, Nak!"ucap Reni lirih. Ia pun merasa bersalah pada putrinya.
"Aku tidak mau,"pekik Renata.
"Ibu dan ayahmu masih menikah, Nak." dengan terpaksa Reni mengatakan hal itu pada Renata yang terus membenci ayahnya.
"Ibu dan ayahmu sudah cukup sabar, Nak. Kau terlalu egois dan keras kepala. Semoga saja calon suamimu itu bisa menerima sikapmu ini. Kami lelah mengalah, demi agar Kamu memaafkan ayahmu itu," sambung Reni. Ia pun menunduk lesu.
"Ja-jadi, selama ini Ibu ke luar Kota,"ucap Renata terkejut. Selama ini, Renata menganggap ibunya pergi hanya untuk refreshing dengan teman-temannya. Karena selama ini Reni berusaha untuk giat dalam bisnis kecil yang di mulai dari nol, semenjak ayahnya pergi.
"Ibu menemani ayahmu disana, karena jika Kamu tahu. Kamu selalu seperti ini. Uring-uringan gak jelas. Kau harus berpikir dewasa, Ren. Ingat! Kamu pun bakal menjadi istri."jelas Reni. Renata terdiam dengan kenyataan yang lainnya. Ia merasakan berat di kepalanya, seolah akan pecah saking terlalu beratnya.
"Bu, Aku mau sendiri,"ujar Renata.
Reni mengangguk menyetujui permintaan Renata. Ia tahu betul Renata akan menyendiri, jika ada perasaan tidak senang dalam hatinya.
"Maafkan Ibu, Nak! Semoga Kamu bisa berubah menjadi lebih baik,"ucap Reni lirih.
Renata merenung mengingat masa dimana ayahnya tidak bersamanya. Selama ini memang ia tidak suka pada ayahnya, setelah ayahnya pergi begitu saja dan membuat ia beserta ibunya tinggal di rumah sang nenek yang sekarang sudah tiada. Ibunya yang terbiasa hidup berkecukupan pun harus berusaha untuk mencari rizki sendiri. Tidak ada kunjungan selama satu tahun walau satu Kota. Ia baru tahu bahwa saat itulah ayahnya berusaha bangkit.
Saat SMA Renata bertemu dengan ayahnya. Pria itu memakai baju yang formal serta membawa kendaraan roda empat. Saat itu adalah masa sulit ia dan ibunya. Jatuh bangun bisnis catering sang ibu membuat ia kesal saat melihat pemandangan di hadapannya.
Beberapa hari setelahnya. Renata kembali melihat ayahnya bersama sang ibu. Ia melihat ibunya menangis dan Renata mengusir kasar ayahnya. Ia berjanji tidak akan memaafkan sang ayah dan berlari ke kamarnya. Pada awalnya Reni berpikir Renata butuh waktu. Namun, kenyataannya gadis itu tidak berubah.
-----
Reni terdiam di kamarnya. Ia merasa bersalah pada apa yang terjadi. Seandainya ia dan suaminya lebih keras untuk menjelaskan pada anak gadisnya itu, tapi gadis itu memang sulit untuk mendengarkan penjelasan orang lain. Ia berharap, pernikahan putrinya akan mengubah sikap gadis itu.
Reni mengingat bagaimana sikap Renata pada ayahnya saat beberapa kali bertemu. Andri yang saat itu tidak bisa bicara pada Renata yang selalu menghindar dan malah memaki tanpa mendengar penjelasan darinya. Ia berusaha memaklumi. Renata bahkan tidak tahu bahwa mereka masih status menikah. Sungguh hubungan keluarga yang membingungkan.