Hari pernikahan tiba. Gadis itu tampak begitu cantik, tapi ia hanya tersenyum dengan tetap berusaha menerima sebuah kenyataan bahwa ia menikah dengan pria yang tidak ia cintai. Sementara itu, diantara tamu yang datang terdapat Vino yang tidak datang sendiri.
"Vino,"ucapnya lirih, matanya membulat melihat Vino tak sendiri.
'Begitu cepatnya, Kau mencari penggantiku,'batin Renata mengumpat. Ia merasakan sesak dalam dada melihat Vino dengan wanita lain bersamanya.
"Ren," Sisil yang melihat pemandangan itu, berusaha untuk mengalihkan pikiran sahabatnya. "Nanti Lo masih kuliah 'kan?"tanya Sisil kemudian.
"Ya iyalah masih, Sil. Sayang tahu bentar lagi skripsi,"jawab Renata. Ia tidak menghiraukan suami yang ada di sampingnya.
"Dia jadi sodara Gue sekarang, Sil." Vanya menepuk pundak Sisil.
"I know. Hmmm langgeng ya, Ren. Semoga cepet-cepet dapet momongan,"ledek Sisil, yang tahu kalau Renata tidak menyukai pria itu saat pertama bertemu dan terkesan cuek.
"Apaan sih, Lo? Masih siang, masih di pelaminan udah mikirin momongan. Emang di bikin dari terigu protein tinggi kayak roti,"cerocos Renata yang malah mendapat tatapan dari beberapa orang mendengarnya. Ia menunduk, kedua temannya itu malah cekikikan. Sementara Reyhan hanya tersenyum.
Sebenarnya Renata tidak yakin juga dengan hal itu. Ia tidak terlalu berharap pada pernikahannya.
Acara telah usai. Renata hendak mengganti pakaiannya di dalam kamar.
"Maaf,"muncul suara yang membuat Renata terkejut.
"Kalau masuk ketuk dulu. Main masuk kayak kamar sendiri aja,"protes Renata. Dia tidak sadar Reyhan itu suaminya, tapi ya juga sih meski suami itu 'kan rumah orangtuanya. Renata malu pastinya. Untungnya masih dengan pakaian lengkap saat Reyhan membuka pintu. Reyhan yang akan masuk, kembali mundur untuk keluar.
Renata yang telah selesai membersihkan badan dan mengganti baju akhirnya keluar. Reyhan kini masuk dan melakukan hal yang sama.
Makan malam tiba. Akan tetapi, mereka masih merasa canggung dengan kebersamaan mereka sebagai suami istri. Selama ini mereka hanyalah seorang Dosen dan mahasiswa.
"Nak Rey sama Renata sebaiknya istirahat setelah ini. Kalian butuh waktu berdua untuk benar-benar saling mengenal. Tidak kaku seperti sekarang,"tutur Reni yang melihat keduanya saling membisu. "Tapi, bukannya kalian itu satu Universitas ya?"sambung Renata.
"Uhuk-uhuk," dua insan yang di maksud pun tersedak.
"Iya, Bu." Jawab mereka berdua secara bersamaan.
"Lah, udah kenal kok tetap kaku gitu,"ujar Reni heran.
"Mas Reyhan itu Dosennya Rena, Bu."
"Oh maaf ya, Nak Rey. Ibu gak tahu soal itu. 'Kan ibu Nak Rey mendadak dateng. Ayah Renata aja kaget pas tahu perjodohan kalian yang pernikahannya di percepat."Jelas Reni. Sementara sang suami fokus pada santapannya. Sesekali melihat Renata yang memandang ayahnya tak suka.
"Rena ambilin minum buat suamimu. Jangan sampai pas mau minum gak ada loh! Kamu itu udah jadi istrinya Reyhan. Belajar buat penuhi kebutuhan suami,"imbuh Reni.
"Iya, Bu,"jawab Renata. Ia menurut saja pada ibunya karena takut memperpanjang urusan.
------
Renata merebahkan tubuhnya yang pegal. Ia merasakan pegal akibat terlalu lama di pelaminan dengan posisi banyaknya perhiasan pengantin di tubuhnya. Reyhan keluar dari kamar mandi dengan kaos pendek dan celana pendeknya.
"Eh, tunggu Pak. Pak Rey mau apa?"Renata yang terkejut menutup wajahnya, karena penampilan Reyhan.
"Mau tidur, Ren. Badan pegel,"jawab Reyhan santai.
"Gak macem-macem 'kan? Kalau macem-macem Aku teriak,"ancam Renata.
"Coba aja teriak,"goda Reyhan.
"Beneran Aku teriak,"tubuhnya gemetar. Ia bahkan berusaha untuk tidak berteriak, meski ia mengancam akan berteriak.
Reyhan malah sengaja mendekat pada Renata. Berjalan perlahan dan membuat Renata semakin mundur hingga terduduk di tepi ranjang.
"Aku bakal teriak Pak Rey,"ucap Renata mengancam, karena ia ketakutan.
"Coba aja! Yang ada malah ngetawain Kamu. Masak malam pengantin takut di apa-apain,"ledek Reyhan. "Jangan panggil Pak? Saya bukan bapak Kamu."sambungnya.
"Masa bodo, Aku panggil apa,"celoteh Renata nampak kesal.
"Oh begitu," ia kembali mendekatkan dirinya dengan istrinya itu dan membuat Renata salah tingkah karena ulahnya.
"Kamu panggil Saya pak, saat di Kampus saja. Saat Kamu berdua sama Saya. Kamu manggil Saya dengan panggilan kesayangan,"protes Reyhan. "Tadi Kamu panggil Saya Mas 'kan?"sambungnya.
"Ogah,"jawab Renata ketus.
Reyhan terus mendekat hingga jarak di antara wajah mereka hanya beberapa sentimeter saja. Jantungnya berdegup kencang saat manik mata mereka beradu. Namun, Renata yang salah tingkah pun akhirnya mematung karena ternyata Reyhan hanya menggodanya saja. Pria itu pun merebahkan tubuhnya di samping Renata. Tidak lama ia pun tertidur pulas.
Renata yang masih terjaga, terus membuat benteng pertahanan dengan selimut dan guling. Mungkin pikirnya, ia takut jika saat ia tidur pria itu terjaga.
'Jangan,deh! jangan!'umpatnya dalam hati saat pikirannya melayang pada hal-hal yang tidak ia inginkan. Sampai ia pun tertidur,karena merasakan lelahnya menjadi Ratu sehari dengan banyaknya tamu undangan dari keluarga mempelai pria dan dari teman-teman ayahnya yang menyempatkan untuk datang.
----
Matahari bersiap untuk bersinar perlahan. Sebelum shalat subuh, gadis itu pura-pura mandi dengan membasahi rambutnya.
"Ren, Nanti siang kita tinggal di rumah yang sudah Saya beli. Tempatnya dekat dengan kampus,"ucap Reyhan saat mereka sarapan.
"Nah bagus tuh, Nak Rey. Ajarin Rena bangun pagi langsung nyiapin keperluan suami. Jangan pas udah shalat tidur lagi bangun siang kalau libur,"
"Masak sih, Bu?"
"Iya-iya, tapi nanti Ibu bakal kangen Rena yang susah bangun,"ujar Rena.
"Iya juga, sih."jawab Reni.
Reyhan tampak bisa menyesuaikan diri di keluarga Renata. Ia cukup akrab, bagi orang yang baru berada dalam lingkungan keluarga yang masih asing. Renata tampak enggan untuk banyak komentar, saat ibunya menceritakan kenakalannya saat kecil. Reyhan sesekali tertawa dan tersenyum. Lalu, ia melihat pada orang yang di bicarakan. Istrinya tampak cemberut.
"Bu, kami siap-siap dulu."imbuh Reyhan. Ia pun mengajak Renata ke kamar untuk menyiapkan beberapa barang Renata yang sangat di butuhkan.
"Terus aja dengerin, kayak denger dongeng atau lawakan.,"gerutu Renata.
"Ternyata Kamu seperti ini dari kecil, ya. Kadang-kadang keliatan garang, humoris dan menjengkelkan,"
"Syukur juga kalau tahu, sih. Gak perlu jaim, sok baik dan sok anggun,"celoteh Renata.
"Untung Kamu cantik dan selalu jadi diri sendiri. Itu yang Saya tahu dari Vanya,"
"Oh,"Renata beroh ria. Ia baru sadar tengah berbicara dengan Dosennya sekaligus suaminya.
Renata memang tidak banyak barang. Sehingga mudah untuk menyimpannya di koper. Ia memang termasuk orang yang cuek dan tidak suka berbelanja seenaknya, karena ia tahu bagaimana perjuangan ibunya itu agar ia bisa kuliah. Meskipun ia tahu ada campur tangan dari sang ayah.
Beberapa jam kemudian dua insan itu pun bergegas untuk berangkat. Dengan pemandangan penuh drama sebelumnya. Renata akan rindu ibunya yang selalu mengomel. Walaupun seperti itu, Reni tidak pernah meninggikan suaranya pada putrinya.