Rumah baru, hubungan baru dan kebiasaan yang baru juga. Renata merasa canggung. Ya, Anda tahu sendiri jika tidak ada kegiatan maka ia akan nongkrong dengan teman-temannya atau pun berada dalam balutan selimutnya.
Mulai hari ini, ia yang harus mengurus rumah itu, sekaligus mengurus kebutuhan suaminya itu. Masih ada keraguan di dalam hatinya. Membuat ia berpikir untuk terus menghindar dari hak suaminya itu. Ia terus memikirkan caranya, karena ia sekarang hanya tinggal berdua dengan Reyhan.
"Saya tidak akan memaksa apapun, pada Kamu. Saya bisa tidur di kamar tamu,"ucap Reyhan menjawab kebimbangannya. Namun, ia terdiam. Ia tidak tahu harus bicara atau melakukan apa pada pria yang kini menjadi suaminya itu.
"Oke kalau begitu, itu jadi perjanjian antara Aku dan Bapak,"ucap Renata lantang.
Reyhan menatapnya dengan tajam. Ia berjalan mendekati Renata dan terus mendekati gadis itu. Sampai dinding menghalangi Renata untuk mundur.
"Aku bukan bapakmu, Rena." Ucap Reyhan, ia malah mencubit pipi Renata dengan gemas. "Duh, maaf!"sambungnya saat menyadari yang ia lakukan.
"Iya deh, Aku panggil Mas saja. Gak usah cubit kali, pipiku bukan bapau,"ucap Renata ketus.
"Kita berdua, masih saja panggil Bapak kayak ke siapa aja,"protes Reyhan.
"Lah 'kan Pak Dosen terhormat,"jawab Renata.
"Udah debat mulu. Aku pikir Kamu gak secerewet ini,"gerutu Reyhan yang terdengar Renata.
"Cerewet pun banyak yang kangen, tuh sodara Mas. Nempel terus di Aku kayak prangko,"ucap Renata bangga.
"Aku kira pacarmu yang bakal lengket sama Kamu,"ucap Reyhan datar.
"Hemmm, kenapa bahas soal pacar!"tiba-tiba Renata kesal. Mengingat Vino yang bersama wanita lain saat ia menikah.
"Pacar Kamu gak bakal kuat kayaknya debat sama Kamu,"ujar Reyhan tanpa tahu itu menyinggung perasaan istrinya.
"Mas bener, buktinya dengan cepat ia datang dengan wanita lain. Orang yang bernama Vino itu mantan pacarku. Mas bahkan bersalaman dengannya."jelas Renata. Hatinya merasakan perih karena mengingatnya. Mungkin, karena itulah Vino biasa saja saat Renata menjelaskan tentang perjodohannya saat bertemu dengan Vino. Pria itu tampak dekat dengan wanita yang bersamanya.
"Mas lebih baik ke kamar lain. Aku mau istirahat,"ucap Renata.
Reyhan mengangguk, penjelasan Renata membuat ia merasa bersalah. Pantas saja saat pria yang di maksud menyalami Renata, gadis itu menatap dengan mata berkaca-kaca. Ternyata pria itulah yang ada di hati Renata. Membuat ia berpikir, mungkinkah bisa membuat pernikahan mereka baik-baik saja?
"Oke beristirahatlah. Jika ada sesuatu yang Kau butuhkan. Katakan saja!"
"Baiklah,"jawab Renata.
"Oh ya, bisa minta nomor ponselmu!"ujar Reyhan.
Renata menjadi salah tingkah. Hal itu seperti mengenal seseorang yang tak sengaja kenal di jalan. Lalu saling bertukar nomor ponsel sebelum berpisah. Aneh bukan? Mereka tidak punya nomor ponsel pasangan. Sementara hubungan dari pertunangan itu cukuplah lama. Setelah pertunangan itu, Renata memang merasa canggung pada Dosennya itu.
----
Renata yang selalu bangun siang. Kini ia berusaha untuk bangun lebih pagi untuk mempersiapkan segala kebutuhan ia dan suaminya. Walaupun ia harus terus bertanya pada Reyhan. Ia berusaha menjadi istri yang baik, meskipun ia belum bisa menerima sepenuhnya hubungan mereka.
"Kamu mau ke Kampus?"tanya Reyhan yang tengah membaca buku saat melihat Renata sudah memakai pakaian rapi.
"Iya Mas,"jawab Renata.
"Mau Saya antar?"tanya Reyhan mencoba untuk menawarkan diri pada istrinya. Mungkin, dengan seperti itu ia bisa mencairkan suasana yang selalu membeku itu.
"Gak usah, Mas. Rena mau sama Vanya. Mas 'kan lagi gak ada jadwal. Rena berangkat dulu,"ujarnya. Ia mencium takzim tangan suaminya.
"Hati-hati..., Ren!"ucap Reyhan, dibalas anggukan Renata. Ada senyum merekah dari bibir Renata tanpa diketahui Reyhan.
Renata memang sudah berjanji pada Vanya untuk berangkat bersama. Sahabatnya itu, memang selalu ingin tahu hubungan ia dengan Reyhan.
Di perjalanan, Vanya terus mengoceh menanyakan apa saja yang sudah dilakukan Renata dan Reyhan setelah jadi pengantin baru.
"Duh, pengantin baru. Gue hubungin susah, gak mau di ganggu pas lagi mesranya ya,"goda Vanya.
"Apaan sih? masih di segel,"ujar Renata ketus.
"What? Lo gak bercanda 'kan Ren? Jangan-jangan Lo nolak di apa-apain ya. Secara nolak yang kayak gitu,"celoteh Vanya tanpa di saring.
"Lo itu belum nikah, gak bakal tahu kalau ceritanya kayak Gue. Keseringan baca novel dewasa Lo. Sementara status jomblo ngenes,"cerocos Renata.
"Gue nunggu di halalin aja lah. Kayak Lo,"jawab Vanya. Ia memang betah menjomblo setelah putus dengan mantan yang paling di cintainya.
"Amiin, mudah-mudahan Lo di jodohin ama yang lebih romantis. Gak kayak Gue, kaku kayak tiang lampu jalan,"ucap Renata panjang lebar.
"Ish, Lo. Gitu-gitu suami Lo."Vanya mencoba mengingatkan.
"Ya sih, tapi kadang-kadang emmmm...,"ucapanya terjeda.
"Kadang-kadang bikin terpesona 'kan? Masak iya kakak sepupu Gue gak bikin Lo jatuh cinta. Secara dia ganteng gitu loh,"ucapnya memuji Reyhan.
"Dia nyebelin bukan bikin terpesona Nya,"protes Renata.
"Mulai deh nada manggilnya, kayak manggil nyokap Lo aja,"protes Vanya.
"Gue manggilnya ibu kali, Nya,"sanggah Renata.
"Udah ah, gak beres Lo. Bentar lagi Lo jatuh cinta sama dia, baru tahu rasa,"celoteh Vanya.
"Serasa gak mungkin lah, Van. Dia bukan tipe Gue dan Gue juga bukan tipe dia. Bisa aja 'kan dia sukanya sama cewek hijab, bukan kayak Gue. Jadi, Gue gak berharap banyak sama sodara Lo itu,"cerocos Renata.
"Ah gimana Lo aja, deh. Pusing Gue,"ucap Vanya. "Lo pasti masih belum bisa berpaling dari bebeb Lo itu. Udah tahu dia udah punya lagi,"celoteh Vanya.
Renata hanya diam. Berdebat dengan Vanya tak akan selesai sampai kampus pun pasti akan berlangsung jika ia terus menjawab. Ia kembali mengingat, saat Vino seolah memamerkan pasangan barunya.
----
Sesaat setelah sampai di kampus, dua orang itu turun dari mobil. Renata membisu. Mungkin, perasaannya sedang buruk akibat mengingat mantannya itu.
"Sorry! Gue bikin Lo inget Vino."ucap Vanya menyesali ucapannya tadi.
"Gue gak apa-apa kok, Van. Cuman, kenapa hidup Gue kayak gini. Cowok yang selama ini Gue anggap setia, ternyata dengan mudah berpaling,"keluh Renata.
"Anggap aja itu hanya mimpi. Lo harus terima kenyataan, Ren. Buka mata sama telinga Lo! Sekarang ada kak Rey di hidup Lo. Bisa di bilang, pasangan halal Lo sekarang,"ucap Vanya menasehati.
"Mudah sih Van kalau cuman ngomong. Nerima orang asing tiba-tiba satu atap itu, gak semudah yang dipikirkan."
"Udahlah! Ikutin kata hati Lo aja!"ujar Vanya.
"Ya, deh." jawab Renata malas.
"Coba shalat istikharah mudah-mudahan aja ada petunjuk buat hubungan Lo sama kak Rey."tutur Vanya.
Renata membisu. Ia tidak tahu harus mengatakan apa. Namun, ia juga akan mencoba menerima pernikahan yang terjadi antara mereka. Ia terjebak dalam hubungan yang hampa. Berharap ada jalan untuk menyelesaikan masalahnya saat ini.