Rahasia Reyhan

1020 Words
Satu bulan berlalu. Renata dan Reyhan masih seperti orang asing yang secara kebetulan tinggal satu atap. Ia melakukan semua kewajiban, begitu juga Reyhan yang melakukan kewajiban untuk nafkah lahir. Namun, nafkah batin telah di kesampingkan. Baik Renata maupun Reyhan masih ragu untuk lebih jauh. Semakin hari, Renata menyadari hubungan mereka seperti tidak harus di pertahankan. Sebuah tatapan cinta, tidak terlihat dari mata suaminya itu. Harapannya pun putus untuk berusaha memperbaiki hubungan mereka yang hambar. Dalam hati kecilnya, ia mulai menyukai suaminya itu. Namun, semuanya terasa terasa ada diding pembatas antara ia dan suaminya. Hubungan mereka seolah bukan hubungan pernikahan. Ia bahkan tidak tahu alasan di balik ketidak pekaan Reyhan terhadap dirinya. "Mungkinkah ada wanita lain dihatinya?"gumam Renata. Ia berusaha bungkam, tidak pernah membahas hal itu pada suaminya. Pernikahan mereka tidak begitu baik dan pembicaraan seperti itu, malah akan membuat jarak antara mereka semakin renggang. ----- Saat sedang memasak ponsel berbunyi, tapi Renata yakin bukan miliknya. Sehingga, ia mencari sumber suara dan terlihat ponsel Reyhan tergeletak di dekat laptopnya. Sementara Reyhan mungkin sedang mandi. Awalnya Renata tidak berani untuk menyentuh ponsel Reyhan, tapi ia juga bimbang dan bisa saja penelpon itu sangat penting. Renata yang penasaran dengan suara panggilan yang di akhiri dengan nada singkat seperti pesan. Membuat ia membaca sebagian pesan. [Mas,jemput Naura besok ya,] [Mas, Aku pulang ke Indonesia,] Renata hanya berpikir, itu mungkin saudari Reyhan yang pulang dari Luar Negeri. Ia berpikir positif pada suaminya itu, walau suaminya tidak menaruh hati padanya. Ia harap suaminya akan menghargai hubungan sakral mereka. 'Mungkin hanya pikiran negatifku saja,'pikirnya. 'Mas Rey, gak mungkin 'kan selingkuh. Dia benar-benar taat agama,'umpatnya. Renata berusaha menepis kecurigaannya pada suaminya itu. Ia memang tidak berani jika membaca pesan itu dengan keseluruhan. Akan tetapi, pesan seperti itu bisa menggambarkan dekatnya Reyhan dengan gadis bernama Naura itu. ---- Dalam pikirannya, masih teringat pesan dari pengirim bernama Naura itu. Renata menghubungi Vanya dan berniat menanyakan tentang Naura yang ingin di jemput oleh suaminya. Dengan ragu ia mencoba menelpon Vanya, tapi ia pun dengan segera mengakhiri panggilan. Lalu, ia kembali menelpon Vanya. Namun, tetap melakukan hal sama. Ia mengakhiri panggilan sebelum tersambung dengan Vanya. Sehingga, pada akhirnya Vanya yang menelpon dirinya. Renata mencoba untuk mengatur napas sebelum bicara. Ia berusaha tenang, walau hatinya berkecamuk akibat pesan dari Naura. [Kenapa, Ren?] ucap Vanya, saat telepon tersambung. "Boleh Gue nanya sesuatu sama Lo, Van?"ucap Renata pelan-pelan. [Tentang apa?] tanya Vanya dengan nada heran. "Lo tahu siapa Naura?"tanya Renata. [Naura siapa?] Vanya kembali balik bertanya. "Mungkin, saudara Lo atau Mas Rey yang di Luar Negeri,"jawab Renata. [Sodara di LN, gak ada yang namanya Naura. Ada apa?] "Gue cuman nanya, thanks ya!" Renata pun menutup panggilan sepihak. Hatinya mulai bimbang. Awalnya ia yakin bahwa wanita itu adalah saudarinya, tapi pernyataan Vanya membuat hilang keyakinannya. Renata mulai mencari sesesuatu di layar laptop Reyhan yang masih menyala. Pria itu sedang berbicara lewat sambungan telepon di luar rumah. Mungkin, agar tidak terdengar oleh Renata. "Naura itu, pacar Mas Rey dari SMA,"Renata menutup wajahnya. Ia tidak percaya dengan apa yang dilakukan suaminya. "Apakah Mas Rey masih pacaran sama dia?"tanyanya lirih. Ia mengembalikan tampilan seperti semula. Dengan penasaran, Renata pun mendekat menuju keberadaan Reyhan yang masih bicara. "Iya, besok Mas jemput Kamu,"ucap Reyhan pada seseorang di sebrang sana. "Mas juga rindu sama Kamu,"ucapan itu membuat hati Renata perih. Ia tidak bisa menahan air mata dan bergegas meninggalkan tempat itu. Membenamkan wajahnya di bantal, agar tak ada yang mendengar jerit tangisnya. ----- Renata menerka bahwa dalam waktu dekat suaminya pasti akan keluar dari kamarnya. Ia berdiam diri di sofa ruang tamu dengan memainkan gawainya. "Ren! Mas pergi dulu,"ucap Reyhan yang terlihat berpakaian rapi, padahal hari ini adalah hari libur. Terkaan Renata benar tentang suaminya yang begitu antusias untuk menjemput pacarnya itu. "Jemput Naura ya, Mas."ucap Renata datar. Matanya masih menatap layar gawai pada genggamannya. Reyhan yang akan melangkah pun terhenti, karena ia terkejut dengan ucapa Renata. "Ren," "Kalau Mas masih mau berhubungan dengan wanita itu, ya...silahkan! Tapi bukan berarti Mas seenaknya jadiin orang lain sebagai pajangan untuk status palsu. Menikah dengan orang lain, tapi masih berhubungan dengan wanita pujaan."cecar Renata yang kesal. "Rena, Saya itu...," "Masih cinta sama gadis itu?"tanya Renata. Namun, tak ada jawaban. "Cinta itu butuh perjuangan. Kenapa gak dari dulu aja Mas perjuangkan cinta Mas dan menolak perjodohan kita. Aku sekarang pun berjuang, Mas. Berjuang untuk mempertahankan rumah tangga kita yang hampa ini, tapi kalau hanya Aku yang melakukannya dan Mas bahkan tidak peduli. Untuk apa pernikahan ini berlanjut? Buang-buang waktu, pikiran dan tenaga,"tutur Renata panjang lebar. Renata melengos pergi ke kamarnya, sementara Reyhan menahan langkah dan terdiam. "Ingat Mas! Rena bukan patung yang gak punya hati."tutur Renata mengakhiri pembicaraan. Setelah lama tertegun karena ucapan Renata. Pria itu pun membatalkan sepihak untuk menjemput Naura. Ia tidak memberitahu Naura, bahwa ia tidak akan datang untuk menjemput Naura di Bandara. Dering ponsel berkali-kali terdengar. Reyhan mengabaikannya. Ia bergegas menuju kamar Renata untuk bicara. Namun, ucapannya itu telah membuatnya urung untuk mengetuk daun pintu. Renata selalu menyendiri ketika ia sedang kesal ataupun sedih. Reyhan pun melangkah menjauh dari depan kamar Renata untuk memberi waktu sendiri pada istrinya itu. "Apa yang harus Aku lakukan?"gumam Reyhan di kamarnya. Ia mengacak rambutnya. Hari menjelang sore. Renata tidak kunjung keluar dan membuat Reyhan khawatir. Sementara itu, Renata yang berada di dalam kamar, tengah asik melihat video kesukaannya dan menyantap kudapan yang ia simpan di lemari. "Ngapain juga Gue ngurung diri terus puasa?"gumam Renata. "I don't care. Dia khawatir atau enggak," gerutunya. Renata memang memikirkan pengurungan diri dari semalam. Ia menyiapkan makanan tanpa sepengetahuan Reyhan. Secara, Reyhan tengah terbang dengan angannya bertemu sang pujaan hati. Dengan adanya kamar mandi juga, mendukung ia untuk tidak keluar seharian dari kamar. "Ren,"terdengar suara Reyhan dari depan pintu kamar. "Ren. Kamu gak keluar kamar dari tadi. Kita bisa bicara baik-baik,"ujar Reyhan. "Udah sana! Pergi aja sama calon bidadari surgamu itu,"teriak Renata. "Ren buka! Jangan kayak anak kecil!" "Siapa yang anak kecil? Aku udah dewasa dan Mas pikir Aku anak kecil, yang mudah Kau bujuk setelah Kau melakukan kesalahan atau bisa Kau bohongi setiap saat," cecar Renata di dalam kamar. Reyhan mengacak rambut kesal. Renata tidak mau keluar untuk bicara dengannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD