Kekecewaan Renata

960 Words
Satu minggu sudah, Renata mendiamkan Reyhan. Siapa suruh 'kan belain jemput cewek lain? Bahkan saat di Kampus, ia tetap jaga jarak. Dalam hening ia menatap langit malam dengan taburan bintang yang indah disana. Bintang itu terlihat dekat. Namun, tidak dapat ia genggam. Mungkin mengibaratkan dia dan suaminya itu. "Ren. Apa Kamu gak mau bicara sama Mas lagi?"tanya Reyhan yang melihat Renata duduk memainkan gawainya. "Anggap aja Rena gak ada, Mas. Apa susahnya?"ucap Renata ketus. "Kok Kamu bicara kayak gitu?"tanya Reyhan. "Biasa aja. Rena mau istirahat,"jawab Renata enteng. Ia meninggalkan suaminya yang mematung. Renata mulai membiasakan diri untuk bersikap acuh. Ia pun mungkin harus membiasakan diri tanpa Reyhan, karena hubungan mereka seperti tidak bisa di pertahankan. "Ren," "Hemmm,"Renata berdehem. "Sampai kapan Kamu seperti itu?"tanya Reyhan. "Sampai Rena bosan,"jawab Renata ketus. "Jangan seperti itu terus, Ren! Itu hanya merenggangkan hubungan kita." Ujar Reyhan. "Huh, hubungan kita. Anggap saja itu tidak ada!"ucap Renata sinis. Reyhan mengatakan hubungan kita, sementara ia masih menghubungi pacarnya. Sungguh egois. Renata berlalu dan bulir bening itu berhasil keluar dari pelupuk matanya. Menetes di pipi merona miliknya. Hidungnya memerah. Gadis itu memeluk kaki dan membenamkan wajahnya untuk meredam tangis. 'Aku salah telah jatuh cinta padanya,'batinnya lirih. Ia menumpahkan semua rasa amarah, kecewa dan luka dalam tangis yang pilu. ----- Renata berencana pergi dengan kedua temannya. Hal itu membuat kedua temannya bimbang. "Ren. Lo gak usah ikut deh,"ujar Vanya. "Kenapa Gue gak usah? Biasanya harus ada Gue,"ucap Renata heran. "Hemm...sorry ya, Ren! Lo udah punya suami, harus izin. Jangan asal pergi!"celoteh Vanya. "I don't care,"jawab Renata enteng. Seharusnya Renata mengerti mereka takut, jika Reyhan marah. Namun, bukan Renata jika ia tidak keras kepala. Ia bahkan tidak mengindahkan perkataan teman-temannya dan tetap ingin keluar untuk pergi berlibur. Di sebuah Vila yang asri. Renata menikmati secangkir teh hangat. "Lo yakin 'kan Kak Rey gak apa-apa, Ren?"ucap Vanya yang menghampirinya. "Apa pedulinya?"ucap Renata ketus. "Gak perlu bahas dia, gak guna juga,"sambungnya dengan emosi. "Loh, kenapa? Kenapa kayak gitu sih?"tanya Vanya heran. "Gue harus gimana lagi ya, Van? Mungkin aja dalam waktu dekat ini, mungkin Gue bakal ngomong ke nyokap dia sama ke keluarga Gue soal hubungan kita yang tak sehat ini,"ujar Renata panjang lebar. "Lo yakin? Jangan gegabah bikin keputusan!"tutur Vanya. "Van...istri mana sih yang gak kecewa kalau suaminya masih hubungan sama pacarnya walau lewat telepon,"keluh Renata. Ia menatap pemandangan di sekita vila. "Lo harus sabar, Ren!"ucap Vanya. "Sabar itu mudah di katakan, tapi sulit untuk menjalaninya,"tutur Renata. "Tapi, Lo harus terus berusaha!"ucap Vanya. "Mungkin saat ini adalah waktu yang tepat buat Gue nyerah aja dengan hubungan yang hampa ini,"tutur Rena seakan harapannya seperti layang-layang yang putus. "Lo sayang dia 'kan?"tanya Vanya dengan nada penekanan. "Percuma,"jawab Renata ketus. Vanya terdiam. Kata itu di iringi bulir air mata yang menetes di pipi Renata. Ia menatap iba sahabatnya, tapi tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantu sahabatnya yang tengah terluka. Sisil yang mendengar pembicaraan mereka pun menghampiri Renata dan mencoba menenangkan gadis patah hati itu. "Jadi, gak salah 'kan Gue pengen kesini? Refreshing bentar sebelum jalanin hidup yang gak karuan nantinya,"ucap Renata putus asa. Ia berusaha mengatur napas untuk tenang. "Jangan ngomong gitu, Ren! Lo masih muda lah. Kita selalu ada buat Lo. Ya 'kan Van?"imbuh Sisil. "Ya lah, Ren. Gue gak suka kalau dia kayak gitu sama Lo. Gue dukung apapun keputusan Lo,"tutur Vanya dengan melontarkan senyuman. Pada akhirnya mereka pun tahu alasan Renata begitu keras kepala dan memaksa untuk ikut dengan mereka. Malam tiba, telepon berkali-kali berdering. Namun, hal itu di abaikan Renata. Bahkan ia mematikan ponselnya. 'Maaf itu mudah di ucapkan, Mas.'umpat batinnya. "Kak Rey yang nelpon?"tanya Vanya pada Renata yang terlihat kesal melihat ponselnya. "Ya,"jawab Renata. "Udah matiin dulu, kalau Lo belum tenang. Kita senang-senang. Sisil barbequean tuh,"ujar Vanya. "Gue gak laper,"kata Renata. "Lo kayak gitu, sama aja Lo nyiksa diri sendiri. Hati Lo yang lagi sakit jangan sampai badan Lo juga sakit."gerutu Vanya kesal. "Pas udah pulang Gue beliin ice cream sepuluh buah deh,"sambungnya menggoda. "Ih, emang Gue anak kecil apa?" "Ya udah Lo yang beliin Gue ice creamnya sepuluh,"ucap Vanya. "Ogah, lumayan kali seratus ribu buat belanja keperluan dapur,"ujar Renata tiba-tiba ingat rumah dan Reyhan. "Haha, udah jadi ibu rumah tangga ingetnya rumah ama suami,"goda Vanya. "Kangen kak Rey 'kan?"sambungnya. "Apaan sih, Lo?"ucap Renata ketus. Ia menahan malu, masih marah tapi ingat yang di rumah. "Udah makan dulu, kita senang-senang. Setelah pulang terserah Lo mau apa?"tutur Vanya. "Oke deh,"jawab Renata pasrah. Nampak Sisil sedang menyiapkan makanan. Renata menatap langit penuh bintang. 'Mungkin Aku harus seperti bintang yang hilang di telan gelapnya malam. Aku harus pergi tanpa peduli pada orang yang belum tentu peduli,'gumamnya dalam hati. "Sil, Renata kasih banyak. Lagi galau biasanya kayak gitu 'kan?" "Sok tahu Lo. Makanya buruan punya cowok! Biar gak kepo sama hubungan Gue atau Sisil,"ucap Renata ketus. Saat ia dengan Vino saja, Vanya selalu ingin tahu. Apalagi sekarang dengan sepupunya sendiri. "Hemm, gak ada yang mau sama Gue. Padahal Gue gak jelek-jelek amat 'kan?"keluh Vanya. Renata menatap Sisil dan mereka pun saling melempar tawa. "Lo gak jelek. Cuman Lo nya aja yang gak bisa nerima cowok lain, terus galak juga. Pantes aja cowok pada minder,"celoteh Renata berusaha jujur. "Gue kayak gitu ya?" "Emang. Lo lebih galak dari Gue kalau lagi berantem,"ucap Renata. "Lo juga termasuk orang kaya, Van. Emang sulit buat dapet cowok yang tulus. Lo terlalu care sama orang dan akhirnya Lo sering sakit hati,"tutur Renata. "Lo bener. Semoga dalam waktu dekat Gue bisa punya cowok,"ucap Vanya penuh harap. "Semoga ada orang yang gak liat Lo dari materi, Van!"tutur Renata. Makan malam telah usai. Renata menenggelamkan tubuhnya di bawah selimut. Disaat orang lain terlelap, ia masih terjaga. Terbesit tentang Ryan di pikirannya. Hanya saja, ia sudah benar-benar kecewa pada pria itu. Hatinya ingin menyalakan ponsel itu, tapi ia tidak ingin menambah sakit hatinya karena.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD