Reyhan merasa khawatir pada Renata membuat ia berulang kali menghubungi istrinya. Namun, seperti sebelumnya ponsel Renata tidak aktif. Ia terus menerus mencari cara agar tahu keberadaan istrinya. Saat matanya terus melihat pada layar gawainya, Renata datang dengan acuh dan berjalan melewati Reyhan begitu saja.
"Kemana aja Kamu? Saya hubungi tidak bisa,"ucap Reyhan kesal. "Saya itu suami Kamu. Saya harus tahu Kamu pergi kemana,"sambungnya dengan intonasi penekanan.
"Jawab!"pekiknya.
"Aku mau istirahat,"jawab Renata datar. Ia pun pergi ke kamarnya, tapi saat ia berusaha menutup pintu.
"Rena,"pekik Reyhan dengan emosi. Matanya membulat, menatap tajam istrinya seperti elang yang menatap mangsanya.
"Apa maumu,"suara Renata tak kalah tinggi.
"Bisakah Kau menjawab pertanyaanku sebagai istriku?"tanya Reyhan yang masih emosi.
"Istri mana yang Pak Dosen maksud?"tanya Renata sinis. "Tidak ada istri Pak Dosen disini,"sambungnya.
"Renata,"suara Reyhan tetap pada intonasi tinggi.
"Tidak perlu membentakku!"pekik Renata. "Bahkan ibuku pun tidak pernah seperti itu,"sambungnya.
"Jawab! Kemana Kau pergi?"pria itu masih menatap tajam Renata. Namun, meski hatinya takut ia tetap berusaha untuk tidak lemah.
"Apa pedulimu jika Aku pergi, huh?"ucap Renata mulai kesal. "Urus saja kekasihmu itu!"sambungnya.
"Kau ini," Reyhan menatap nyalang istrinya itu. Ia sangat marah, karena Renata pergi tanpa izin dan sengaja tidak mengangkat teleponnya.
"Besok, Aku akan ke rumah ibumu untuk menghakhiri hubungan kita,"ujar Renata. "Kau tak harus merasa bertanggung jawab atas hidupku lagi. Itu akan membuatmu bebas tanpa Aku,"sambungnya, tubuhnya gemetar menahan gejolak amarah dan rasa kecewa. Dengan cepat ia menutup pintu dan menangis tanpa suara.
Sementara itu di depan pintu kamarnya. Reyhan pun terdiam, bibirnya enggan untuk bicara. Sekarang, ia tahu bahwa Renata benar-benar kecewa.
----
Mentari telah terbit di ufuk timur. Seharusnya Renata bersiap untuk kuliah. Namun, ia tetap akan pergi ke Rumah ibu Reyhan.
"Ren...,"lirih Reyhan. Renata tidak menoleh sama sekali. Hatinya sakit mengingat pria yang selama ini terlihat baik, ternyata telah membentaknya. Bahkan, tidak menyadari kesalahannya.
"Saya minta maaf!"tuturnya. "Kita tidak perlu mengakhiri hubungan ini,"sambungnya. Namun, Renata tetap berjalan dan tak melihatnya.
"Ren, beri Saya kesempatan!"Reyhan menarik Renata ke dalam peluknya.
"Lepas!"pekik Renata. Ia menolak keras dengan apa yang dilakukan suaminya.
"Tolong, Maafkan Saya!"Reyhan memelas. Matanya sebenarnya mengembun, ada sakit dalam dada melihat Renata membencinya.
"Aku tidak perlu memberi kesempatan,"Renata menyingkirkan tangan Reyhan. "Bukankah itu yang Mas mau? Aku sudah memikirkannya dari awal menikah. Jika terjadi sesuatu pada kita. Aku akan mundur. Pernikahan ini hanya sementara,"sambungnya. Ia pun melengos pergi, meninggalkan Reyhan yang menunduk lesu.
"Rena, tunggu!"teriak Reyhan. Reyhan berlari menuju Renata yang akan pergi.
"Apalagi, sih?"ucap Renata kesal, karena tangannya di cekal.
"Jangan lakukan ini! Saya mohon!"ucap Reyhan memelas.
"Please deh, Pak Dosen terhormat. Aku gak butuh permohonan yang pura-pura,"ucap Renata ketus. Ia bahkan tidak lagi mengucap panggilan dengan baik.
"Ren, beri Saya kesempatan!"pinta Reyhan.
"Percuma Mas, percuma...,"teriak Renata. "Kau tahu Aku baru saja berusaha melupakan luka yang masih membekas, tapi Kau malah menabur garam di atasnya. Lupakan, ini hanya buang-buang waktu saja,"cecarnya emosi.
"Rena," ia berusaha kembali memanggil saat Renata melangkah pergi, tapi panggilan itu tidak di gubrisnya.
Pria itu berusaha menahan Renata. Namun, Renata tak mempedulikannya. Ia berlalu pergi dengan taksi, meninggalkan sesal di hati Reyhan.
-----
Bersandar di bangku Taman dengan berbagai pikiran. Rupanya ia tidak pergi ke rumah Ibu Reyhan. Ia tidak tahu harus berkata apa pada Ibu Reyhan yang berharap pernikahan mereka utuh.
Sementara itu Reyhan pun menyusul Renata ke rumah ibunya. Reyhan yang panik mempercepat laju mobilnya. Entah apa yang akan dilakukan istrinya saat bertemu ibu Reyhan.
Saat ini, Reyhan memijakan kaki di rumah sang ibu. Ibu Reyhan keluar karena tahu suara mobil putranya berhenti di pelataran rumah.
"Reyhan! Loh mana istri Kamu?"tanya sang Ibu, membuat alis Reyhan bertaut. Ia berpikir jika ibunya bertanya seperti itu, berarti ia Renata tidak datang ke rumah ibunya seperti yang Renata katakan.
"Rey mampir sebentar, Ma. Rey pamit, ya. Ada urusan mendadak."jawab Reyhan. Ia yang gelisah kembali ke mobilnya.
Reyhan pun mencari Renata kemana-mana. Namun, ia tidak menemukan Renata. Pria itu semakin mengkhawatirkan istrinya. Ia takut jika terjadi sesuatu pada Renata. Ia bahkan mencoba menghubungi teman-temannya, tapi tidak ada yang mengetahui keberadaan Renata.
Reyhan terus menerus mencari sosok Renata di perjalanan. Hingga akhirnya, ia menemukan Renata dan menepi.
"Rena!"serunya. Ia berlari secepat kilat menuju Renata yang berada di atas jembatan. "Jangan lakukan itu, Ren!"sambungnya yang sangat khawatir.
Dahi Renata mengkerut, ia tidak mengerti dengan yang di ucapkan Reyhan.
"Ren, jangan lakukan itu! Dosa Ren,"ucap Reyhan.
'Apaan sih?'umpat Renata dalam hati.
"Saya minta maaf! Sekarang kita pulang. Jangan bunuh diri! Itu Dosa,"imbuhnya.
"Hahaha, siapa yang mau bunuh diri sih? Wong Aku liatin yang pada maen di tepi sungai,"ujar Renata.
Reyhan mendekat. Benar saja di tepi sungai di bawah sana banyak anak-anak yang bermain.
"Mau punya anak?"tiba-tiba kalimat itu terlontar dari mulut Reyhan.
"Ogah,"jawab Renata ketus.
"Ayo, kita pulang!" Reyhan menggenggam tangan Renata. Renata pun kembali membisu.
Di perjalanan Renata tetap membisu. Ia fokus pada pandangannya. Saat sampai di rumah, ia pun langsung hendak menuju kamar dan mengabaikan Reyhan.
"Mas tahu, Kamu tidak datang ke rumah orangtua kita,"tuturnya.
"Aku lelah,"ucap Renata. Ia tidak menjawab apa yang di bahas Reyhan.
"Jangan pergi lagi! Jangan buat Mas khawatir lagi! Mas mohon, Ren!"ujarnya. Ia mencoba menahan langkah Renata dengan merangkulnya dari belakang.
"Lepas, Mas!"pekik Renata. Reyhan bergeming, ia tetap merangkul istrinya. "Lepas, Mas! Sesak,"sambungnya berusaha melepaskan diri.
"Aku tidak akan pergi, jika ada yang menginginkanku. Namun, sepertinya Mas tidak menginginkanku. Mas seperti ini hanya merasa bersalah, bukan karena menginginkanku ada disini. Apalagi mencintaiku, itu adalah hal yang tidak mungkin."tuturnya.
"Rena. Mas...,"ucapan Reyhan terjeda.
"Masih mencintai gadis itu 'kan?"tanya Renata menyela. "Aku menyerah, Mas."sambungnya.
Renata pergi dengan air mata yang berhasil menetes di pipinya, walau ia berusaha untuk menahannya.
"Rena,"lirih Reyhan. Ia merangkul Renata walau pasti akan ada penolakan.
"Aku lelah,"ucap Renata lirih.
"Kau menangis?" Reyhan nampak terkejut saat merasakan tubuh istrinya bergetar dan menggigit bibirnya.
"Aku tidak menangis.Aku sudah cukup lelah."jawab Renata.
Reyhan membuat posisi sang istri menjadi berhadapan dengannya.
"Kau menangis. Kenapa berbohong?"ucap Reyhan.
"Jika Aku menangis setiap Aku kecewa. Apa pedulimu? Kau peduli pada gadismu itu. Cukup! Jangan bersandiwara! Aku muak dengan hal itu,"tukas Renata.
Renata berlari menuju kamarnya dan kembali mengunci diri sendiri.
'Semua ini harus selesai. Ini hanya membuatku sakit saja,'batinnya lirih.
"Cukup! Ini yang terakhir. Aku harus tegas!" gumamnya.
Ia menatap layar gawainya. Terdapat potret ia dan suaminya di hari pernikahan. Vanya sengaja memotret ekspresi menyebalkan mereka dan mengirimnya pada Renata.
"Maaf! Aku tidak sanggup lagi. Semoga Kau bahagia dengan bersama wanita itu. Ia lebih dari segalanya di bandingkan Aku. Aku yang salah, dengan cepat mencintaimu. Aku yang salah, karena tidak tetap pada pendirianku. Aku pun salah karena terlalu mengharapkanmu, seperti berharap memetik bintang di langit malam," tuturnya pilu.
Meski tidak terlalu keras, Reyhan merasakan ngilu mendengarnya. Ia pun terduduk lesu, bersandar pada daun pintu kamar istrinya.