Ungkapan Rasa

1100 Words
Jam menunjukan pukul lima pagi. Renata sudah berada di dapur menyiapkan sarapan untuk dia dan suaminya. Sejak ia mengetahui suaminya menghubungi wanita lain ia memang malas memasak. Sehingga, tidak ada aroma masakan yang biasa tercium. Sekarang, aroma masakan tercium begitu menggugah selera. Aroma itu membuat seseorang ingin segera menghampiri tempat itu. "Hemmm, harum. Mas rindu masakan Kamu,"tutur Reyhan. Ia memberanikan diri untuk memeluk Renata dari belakang dan mendaratkan dagunya di bahu istrinya. "Akhirnya, Mas bisa menyantap masakan Kamu lagi,"ucapnya lirih. Ia semakin erat memeluk istrinya. "Lepas Mas! Rena lagi masak."ucap Renata tak suka. "Bentar aja, Mas pengen peluk Kamu. Masak Mas gak boleh meluk istri Mas,"protes Reyhan. "Lepas Mas! Susah gerak,"ucap Renata ketus. Walaupun ia merasa nyaman karenanya. Namun, hatinya masih merasakan perih meski tidak berdarah. "Hemmm, kapan bolehnya ?"tanya Reyhan antusias. "Nanti pas Mas Reyhan nikah sama Naura, bisa peluk dia sepuasnya,"ucap Renata ketus. "Istri Mas itu Kamu, Ren."ucap Reyhan. "Iya Aku istri Mas. Itu buat status aja. Gak usah terlalu jauh!"ujarnya sinis. "Lagipula, gak usah terlalu berharap banyak dengan hubungan kita. Itu sia-sia saja,"sambungnya. Ia kembali fokus pada masakannya. "Jangan bahas itu! Bisa 'kan?"ucap Reyhan ketus. Ia memang salah, tapi saat ini ia sangat ingin lebih dekat dengan Renata tanpa membahas masalah Naura. "Hemmm bahas apa? Bahas kisah kita yang seperti ini. Gak ada yang menarik,"ujar Renata dengan nada menyindir. "Rena," "Udahlah! Mas siap-siap aja!"ujar Renata. Ia tidak ingin berdebat lagi. Reyhan kembali mersiapkan yang di butuhkan olehnya, sembari menunggu masakan Renata. Sulit baginya untuk membuat Renata memaafkannya. Renata tidak pernah mengabaikan pekerjaannya sebagai istri, tapi tetap untuk lebih jauh ia belum bisa menerimanya. Ia juga tidak ingin ada istilah habis manis sepah di buang atau melakukan suatu hal hanya karena melakukan kewajiban. Cinta yang ia harapkan. Entah akan ia dapatkan ataupun tidak. Dengan kembali berpikir ulang pada keputusan yang menjadi pilihan. Ia masih berpikir antara bertahan atau malah mundur perlahan. Hatinya mulai memiliki rasa pada pria yang kini satu atap dengannya. Akan tetapi, ia tidak tahu apa yang di rasa suaminya. Karena, seperti yang Renata ketahui. Pria itu telah bersama Naura sebelumnya. Mungkin saja cinta diantara mereka tetap ada dan ia hanya menjadi penghalang atau menjadi orang ketiga dalam hubungan mereka. Reyhan menyantap sarapan bersama Renata. Namun, wanita yang telah dinikahinya itu membisu. Ia sesekali menatap Renata, tapi istrinya itu mengabaikannya. Renata menatap kosong kepergian Reyhan. Lidahnya kelu untuk berucap. Bibirnya kaku untuk merekahkan senyuman. Hatinya sakit karena sebuah pilihan. 'Suatu saat, Akulah yang akan pergj dari rumah ini. Namun, tidak untuk kembali,'gumamnya dalam hati. ---- Makan malam yang hening. Mood Renata memang masih belum membaik. Pikirannya masih tidak karuan. 'Seharusnya Aku tak mencintainya,'gumam Renata dalam hati. Mata Renata fokus pada makanan di hadapannya, tapi tidak juga menyantapnya. "Udah dong ngambeknya! Nanti sama Mas dibeliin ice cream," goda Reyhan. Ia mencoba mencairkan suasana. "Gak mempan. Aku bukan anak kecil,"ucap Renata ketus. "Dibeliin permen deh,"bujuknya lagi. Pria itu melontarkan senyuman. "Gak lucu, Mas."tukas Renata. "Mas temenin tidur deh, biar nyenyak," Reyhan tidak menyerah untuk menggoda. "Gak, Aku bisa tidur sendiri." Jawab Rena ketus. "Gak begadang mikirin Mas, gitu?"tanya Reyhan. Ia mencoba untuk melihat mimik wajah istrinya itu. "Ngapain mikirin, Mas?"Renata malah balik bertanya. "Serasa gak penting,"sambungnya ketus. "Ya, mikirin Mas yang tampan kayak oppa yang di film Korea itu loh,"ujar Reyhan percaya diri. "Aku tidur nyenyak, malah mending ketemu pangeran di alam mimpi aja,"jawab Renata ketus. Reyhan mengerucutkan bibirnya. Hal itu membuat Renata tersenyum geli. Makan malam telah usai. Renata menonton televisi di ruang keluarga. Reyhan pun mengikutinya tanpa diminta. "Bukannya Mas ada kerjaan?"tanya Renata tampak heran. "Pengen deket Kamu terus, udah lama di cuekin. Malah diem terus, kayak lagi puasa bicara." Jelasnya sembari duduk di dekat Renata. "Udah kerja sana. Aku belum maafin Mas, ya. Aku juga mau nonton sendiri. Ganggu aja, biasanya juga gak ikut nimbrung,"cerocos Renata yang kesal. "Ayolah, Ren!"rengek Reyhan. "Enggak, pokoknya gak mau ada Mas," ia pun meninggalkan suaminya itu menuju kamarnya. Saat Renata hendak membuka pintu kamar. Reyhan sudah memeluknya dari belakang dengan eratnya. Rupanya Reyhan mengikutinya, tanpa di sadari. "Ren," "Hemm," Renata berdehem. "Mas temenin, ya!"tawar Reyhan. "Emmm...gak mau,"ujar Renata. Ia berusaha menutup pintu saat terlepas dari pelukan Reyhan. Namun, kecepatan tangan Reyhan membuat pintu itu tertahan. Reyhan menatap lekat istrinya. Sementara sang istri terus menerus mundur saat Reyhan terus mendekat. Akan tetapi, Renata tidak dapat mundur lagi saat terhalang dinding. Tangan Reyhan menyentuh pipi istrinya. Membuat Renata tidak dapat mengalihkan pandangan. Wajahnya memerah, saat pria itu mengecup keningnya untuk pertama kali. "Katakan Kau mencintaiku, Ren!"desak Reyhan. "Aku tidak mencintaimu, Mas."Ucap Renata. Namun, sebenarnya bimbang dengan perasaannya. "Coba katakan dari lubuk hatimu, Ren! Apa tak ada sedikitpun cintamu untukku?" Reyhan semakin lekat menatap manik mata Renata. "Aku...,"tubuh Renata bergetar. "Aku...,"lidahnya terasa kelu untuk berucap. "Mas mencintaimu, Ren. Maafkan Mas!"ucap Reyhan lirih. "Tolong, jangan pergi atau marah lagi!"sambungnya. Ia pun menunduk. "Apa yang bisa Aku percaya Mas? Aku tidak ingin hubungan kita lebih jauh,"ucap Renata. Ia merasakan sesak dalam dada. Hatinya tidak ingin berucap, tapi logikanya membuat ia harus seperti itu. Ia mengingat cinta Reyhan bukan untuknya. "Ren, beri Mas kesempatan! Mas tidak akan mengecewakanmu lagi,"tutur Reyhan. Wajahnya tampak serius. Renata terduduk lesu di tepi ranjang. Ia tidak tahu harus bagaimana membuat pertahanannya roboh dan ia pun menangis pilu. "Maaf, Ren!"lirih Reyhan. "Aku...aku tidak apa-apa, Mas. Ji-jika Kau ingin bersama orang lain Aku tidak apa-apa. Jangan kasihan padaku! Aku yang tak tahu diri, karena Aku yang mencoba bertahan untuk hubungan kita. Bebaskan saja Aku! Bebaskan juga Mas dari pernikahan kita ini!"tutur Renata dengan cairan bening membasahi pipinya. Reyhan tak menjawab. Ia justru memeluk kekasih halalnya itu, tidak peduli jika Renata akan menolak keras dirinya lagi. Ia tidak ingin menatap kepergian Renata lagi. "Mas akan selalu untukmu,"lirih Reyhan. Ia tetap mendekap erat Renata yang sesegukan. "Jangan berkata apapun lagi! Mas akan tetap milikmu dan begitu juga sebaliknya,"sambungnya. "Mas tidak harus selalu bersamaku, jika itu hanya karena terpaksa."ucap Renata lirih. "Aku lelah Mas. Jika harus berakhir, berakhir saja."sambungnya dengan terisak. "Aku tidak akan menjadi penghalang cinta lamamu, Mas."ucap Renata lagi. Renata hampir menyerah dengan pernikahannya. "Aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi. Maafkan Mas! meskipun hal itu tidak mudah,"tutur Reyhan. "Aku," Renata tak dapat bicara. Ia merasakan sesak dalam dada. Menangis sejadinya menumpahkan segala rasa. Berharap meringankan beban di hatinya. Renata yang merasa lelah dan nyaman pun tertidur dalam pelukan Reyhan. Reyhan membiarkan wanitanya itu berada di peluknya tanpa gangguan. Ya, untuk pertama kalinya pria itu mendekap erat kekasihnya itu. "Maafkan Mas, Sayang!"lirihnya. Ia pun membenarkan posisi tanpa membuat Renata terbangun. Reyhan terlelap dengan mendekap Renata yang sedari tadi tertidur. Berharap bahwa itu bukanlah mimpi semata. Berharap saat bangun esok. Hubungan mereka akan baik-baik saja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD