Memperbaiki Hubungan

1055 Words
Adzan berkumandang. Renata masih terlelap dalam tidurnya di balik selimut yang lembut dan hangat. "Sayang, bangun!"Reyhan membangunkan perlahan Renata. "Mas," Renata masih belum percaya dengan apa yang terjadi. Ia mengerjap bahkan mengucek kedua matanya. Namun, hal itu nyata bukan mimpi. "Shalat subuh, yuk!" ajak Reyhan. "Iya Mas,"jawab Renata dengan memberi senyuman. Renata pun beranjak dari tempat tidurnya. Ia masih merasa apa yang terjadi hanyalah mimpi. Saat ini pun Reyhan menjadi imam dalam shalat, yang menjadi kali pertama ia dan istrinya shalat berjamaah. Renata bergegas untuk berangkat ke Kampus. Disusul Reyhan yang segera menghampirinya. "Kita berangkat bareng, ya!"ajak Reyhan. Ia tidak ingin membuat istrinya kecewa lagi. "Iya Mas,"jawab Renata. Pria itu menggenggam erat istrinya menuju mobil. Mereka masih membisu, bahkan Renata masih tersipu malu. Mobil berhenti di parkiran kampus. Vanya tersenyum melihat kedekatan Renata dan Reyhan. "Syukurlah,"gumam Vanya. "Ren, Lo mau bareng Pak Rey apa sama Gue?"goda Vanya. Gadis itu memicingkan matanya pada Renata. "Ehemm,"Reyhan berdehem. Ia mungkin ingin menjadi yang dipilih Renata. "Emmm...sama Pak Rey aja deh, Van."jawab Renata dengan senyum merekah di bibirnya. "Oke,"kata Vanya. Ia malah terkekeh karena melihat pemandangan itu. Dua orang yang saling tidak peduli satu sama lain sekarang pun bisa bersama. ***** Vanya menunggu seseorang di sebuah Kafe. Ia rasa hal penting harus ia katakan pada orang yang di tunggu. "Sorry,Lama nunggu!"ucap pria yang ditunggu. "Santai aja, baru beberapa menit dateng kok,"jawab Vanya. "Ada apa, Van?"tanya pria yang tidak lain kakak sepupunya. "Aku mau tanya sama Kak Rey,"ujar Vanya. "Soal apa?"tanya Reyhan. "Apa gak ada artinya Renata di hidup, Kakak? Sampai ia hampir menyerah dengan hubungan kalian,"cecar Vanya. "Dia berarti buat Kakak, tapi...,"jawab Reyhan terjeda. Ia seperti sedang berpikir. "Apa cinta Kak Rey buat Naura?"Vanya menatap tajam Reyhan. "Kakak udah punya rasa sama dia, Van. Walaupun, itu tak sepenuhnya,"jawab Reyhan. "Ya sudah! Kalau begitu ceraikan saja Renata. Kak Rey udah cukup membuatnya menderita. Kak Rey mencoba menumbuhkan cinta lama yang seharusnya itu menjadi masa lalu Kak Rey. Untuk apa menyetujui perjodohan itu Kak? Agar uwa senang dengan hal itu,"ucap Vanya panjang lebar. "Status Kak Rey dan Renata itu menikah bukan pacaran. Jangan sampai berpikir poligami,"sambungnya. "Kakak gak bermaksud nyakitin dia, Van."kilah Reyhan. "Haha, gak bermaksud. Dengan bersikap seperti itu gak bermaksud. Peka dong jadi cowok! Dia itu sayang banget sama Kak Rey." Imbuh Vanya. Reyhan menatap Vanya penuh tanya. "Dia cerita ke Aku. Dia gak balik dua malam 'kan pas kabur. Itu karena dia jengah dengan sikap Kak Rey. Bahkan berpikir bercerai,"tutur Vanya. "Kau benar,"ujar Reyhan menunduk. "Kasih dia ice cream ajalah. Awas aja, kalau nanti Aku masih lihat Renata nangis," "Kakak harus gimana, Van?"tanya Reyhan. "Kak Rey beneran sayang gak sama dia?"tanya Vanya. "Kakak sayang sama dia, tapi dia udah diemin Kakak sekarang,"keluh Reyhan. "Syukurin deh. Emang enak di cuekin,"ledek Vanya. "Harus gimana, Van?"tanya Reyhan lagi. "Ikuti kata hati Kakak aja lah!"imbuh Vanya. Pria itu pun mengangguk. Ia akan berusaha membuat Renata tidak lagi marah padanya dan berusaha untuk memperbaiki pernikahan mereka. ***** Di dalam kelas Vanya menanyakan beberapa hal. Ia tahu betul temannya itu ingin berpisah, tapi sekarang malah melengket. "Lo benaran kesambet jin bucin kali ya,"celoteh Vanya. "Dateng-dateng senyam-senyum. Benaran cinta 'kan Lo? Sok-sokan banget,"sambungnya. "Apaan sih, Van?"tanya Renata mencoba mengelak. Lah pipinya aja merah kayak kepiting rebus. "Nah, walau Gue jomblo akut 'kan Gue suka liat drama korea sama novel romantis. Jadi, Gue tahu lah ekspresi Lo sama kak Rey. Kalian udah baikan, terus saling ngungkapin perasaan,"ucap Vanya menerka. "Iya sih, Van." Jawab Renata. "Ah, jangan-jangan lebih dari ngungkapin perasaan."terka Vanya. "Ish, Lo itu cenayang atau mata-mata?"celoteh Renata tersipu. "Gue pan sahabat Lo. Ya tahulah ekspresi Lo lagi gak mood, lagi sedih sama Lagi seneng. Walaupun, kebanyakan gak moodnya yang bikin jengkel,"tutur Vanya jujur. "Vanya, Lo itu,"pekik Renata. "Gue sahabat terbaik Lo 'kan?"goda Vanya. "Ya lah, Lo sahabat paling baik di antara yang baik. Inget loh Sisil ngambek kalau cuman Lo yang Gue anggap sahabat terbaik,"ujar Renata. Ia melihat Sisil menopang dagu di belakang Vanya. "Hehe, ada Lo ternyata,"ucap Vanya terkekeh. Ia takut jika Sisil keluar tanduk. "Oh, gitu Van. Gue bukan sahabat terbaik Rena, ya,"celoteh Sisil. "Eh, gak gitu Sil. Gue cuman goda nih anak yang bilang gak cinta eh lengket deh kayak lem,"jawab Vanya salah tingkah. "Gue denger kali dari tadi, ah. Mmm...hukuman Lo, beliin Gue mie ayam di tempat biasa,"ucap Sisil. "Hehe, iya-iya. Gue traktir Lo,"ucap Vanya pasrah. Sisil memang selalu memikirkan makanan, tapi badannya tetap langsing. "Sekalian sama abangnya,"sindir Sisil. "What? Apaan sih, Lo?"pekik Vanya. "Hahaha...ketahuan deh. Lo suka sama abang mie ayam yang ganteng dan baik hati itu 'kan?"goda Sisil. "Kagak, Gue gak suka. Iya kali Gue suka sama tukang mie ayam,"elak Vanya. "Awas loh. Nanti kayak si Rena tuh." "Apaan sih? Bawa-bawa Gue,"protes Rena. "Ngomong jangan ngasal! Kalau udah jodoh, gak bakal bisa nolak. Rezeki, jodoh sama maut udah diatur,"ceramah Sisil. "Iya Bu Ustadzah,"jawab Renata dan Vanya bersamaan sembari mengangguk. "Kalau Lo gak mau, Gue aja yang deketin,"ujar Sisil datar. "Yaelah Sil, barusan Lo ceramah. Beberapa menit kumat lagi tuh pikiran sama cowok tampan. Koleksi Lo banyak,"cerocos Vanya. "Nah, Gue bener 'kan? Vanya esmosi, Padahal Gue cuman bilang loh. Buat ngelakuinnya masih planing,"tutur Sisil tampak santai. Vanya pun memasang muka masam. Renata dan Sisil pun tertawa. Mereka berhenti bercanda saat Dosen masuk dan memulai materi. ---- Hari yang melelahkan bagi Renata. Nada dering pada ponsel terdengar di netra. Ia melihat layar, itu adalah suaminya Reyhan. "Ya, Mas. Ada apa?"tanya Renata. [Rena dimana? Kita pulang bareng,] ucap Reyhan di seberang sana. "Iya Mas. Rena segera kesana,"jawab Renata. Panggilan terhenti. Renata segera menuju tempat parkir gedung. Nampak Reyhan menunggu di dekat mobilnya. "Yuk,pulang!"ajak Reyhan. "Iya Mas,"jawab Renata. Dua insan itu pun berada di dalam mobil. Reyhan melajukan mobilnya menjauh dari area kampus. "Kita makan diluar, ya!"ujar Reyhan. Ia menggengam tangan Renata yang kini di sampingnya. Tangan kanannya tetap memegang kemudi. Dada Renata merasakan desiran saat suaminya menggemgam tangannya. Senyum pun terlontar di bibir pria itu. "Sayang," panggil Reyhan pada Renata yang terdiam. "Hemmm...iya Mas,"jawab Renata gugup. "Hemm...kaku lagi, padahal kemarin-kemarin bisa bicara panjang lebar,"protes Reyhan. "Mau, Rena marah lagi?"tanya Renata. "Jangan dong, Sayang!" "Awas aja bikin ulah lagi, gak bakal di maafin,"gerutu Renata. "Kalau nemenin Rena tiap malem. Gak bakal di maafin juga?"tanya Reyhan menggoda. "Itu 'kan beda lagi. Eh...,"Renata menutup bibirnya dengan telapak tangan. Renata tersipu malu dengan ucapan yang tanpa dipikirnya. Ia memandang ke arah jalan, tapi tetap salah tingkah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD