Skripsi telah membuat Renata stress. Namun, ia merasa beruntung bisa menyelesaikannya. Ia berniat ingin bekerja si sebuah perusahaan, tapi ia pun mengingat tanggung jawabnya sebagai istri.
"Lo kenapa? Muka kusut kayak baju belum di setrika,"ujar Vanya yang sedang menikmati makanan traktiran dari Sisil.
"Gue bingung. Kuliah beres, tapi gak tahu mau kerja apa,"keluh Renata.
"Lah, bokap Lo 'kan punya perusahaan?"tanya Vanya heran.
"Gue belum sepenuhnya baikan sama bokap,"jawab Renata jujur.
"Lo itu pinter pasti gampang keterima, tapi terserah Lo sih. Karena, Lo udah punya suami juga. Beda sama Gue sama Sisil. Belum ada yang halalin,"celotehnya.
Orang yang tersindir pun menatap pada Vanya. Siapa lagi kalau bukan abang mie ayam yang kece dan ternyata anak orang kaya yang berusaha merintis usahanya.
"Bulan depan Aku halalin,"celetuk si Abang mie ayam bernama Dion itu.
Vanya terkesiap, matanya berbinar. Wajahnya memerah seperti udang yang di rebus.
"Eh, Aku gak ngomongin Kamu kok,"elak Vanya. Padahal ia memang menyindir Dion yang kini dekat dengannya.
"Alah, ngeles mulu kayak bajai. Itu beneran ngomongin Kamu, Bang." celoteh Sisil. Ia kembali menyumpit mienya.
"Ish Sil,"Vanya menyikut Sisil.
"Ih, kalian kayak anak kecil. Makan aja berisik. Vanya mau di halalin sekarang ke, besok ke. Tuh calonnya udah ngomong. Ribet amat, amat aja gak ribet. Gue lagi pusing, tambah pusing. Kelakuan kayak bocah,"cerocos Renata kesal.
Dua orang itu terdiam dan menyantap makanan mereka. Sementara Dion memilih untuk melakukan hal lain agar tidak kena semprot Renata yang sedang marah. Ia tahu marahnya Renata, karena belakangan ini sering ke kedainya bersama Vanya.
"Udah ah, Gue mau pulang,"ujar Renata. "Gue udah selesai,"sambungnya.
"Ish, sudah makan pulang,"omel Sisil.
"Mau Gue anterin, Ren?"tanya Vanya.
"Lanjutin aja debatnya. Gue naik bis aja,"ucap Renata.
Renata pergi begitu saja. Dua temannya itu saling menyikut. Dion yang melihat mereka hanya menggeleng kepala.
-----
Halte Bis. Renata sengaja tidak menunggu suaminya. Lagipula, pertemuan di Kedai Dion itu karena traktiran Sisil yang ulangtahun. Mereka memang terbiasa kesana jika ada hari spesial. Meski sederhana, tapi cukup menyenangkan.
Saat menunggu di Halte Bis. Ia terkejut saat manik matanya menangkap pemandangan yang tidak menyenangkan. Suaminya di hampiri seorang wanita berhijab dan wanita itu tampak dekat dengan pria itu.
'Apa mungkin itu Naura?'tanyanya dalam hati.
Suaminya berlalu pergi. Wanita yang tadi menghampiri pun menuju Halte Bis. Renata menatap wanita itu sesekali saat gadis itu berada di sampingnya.
"Mbak, mau kemana?"tanya Renata basa-basi.
"Pulang Mbak,"jawab wanita itu.
"Saya lihat Mbak akrab banget sama pria bermobil tadi,"ucap Renata.
"Oh, Mbak lihat ya. Itu pacar Saya dari sebelum Kami kuliah. Ldran lama,"jawab wanita itu dengan senyuman.
"Berarti Anda adalah Naura,"ucap Renata spontan.
"Loh, ko Anda tahu? Anda siapa ya?"tanya Naura heran.
"Saya Renata. ISTRI SAH pria yang Anda temui tadi." Jelasnya, dengan nada penekanan.
Naura terkesiap. Ia merasa tidak percaya dengan ucapan Renata. Ia berpikir bisa saja ada yang mengaku istri Reyhan, agar ia dan Reyhan berpisah.
"Jangan bercanda, Mbak! Mbak pasti ngaku-ngaku aja,"ujar wanita itu.
"Anda tahu kenapa Mas Reyhan tidak menjemput Anda di Bandara?"tanya Renata.
"Jemput di Bandara,"ucap Naura lirih. Alisnya bertaut, wanita di hadapannya tahu soal itu.
"Itu karena Saya mengetahui chat kalian sebelumnya. Saya hanya berusaha agar membuat ia menceraikan Saya, jika masih mencintai Anda. Rupanya ia lebih memilih bertahan sampai sekarang."jelas Renata. "Anda juga harus tahu diri! Mengganggu suami orang itu sangat tidak baik. Apalagi Anda kuliah di luar Negeri 'kan?"sambungnya sinis. Amarah dan cemburu itu membucah,saat ia tahu wanita mana yang sangat dicintai suaminya. Namun, ia berusaha menahannya.
"Gak mungkin, Mbak. Ia berjanji setelah kembali ke Indonesia, kami akan menikah."sangkal Naura.
"Ini ada di foto pernikahan Kami, tanpa editan dan nyata. Kalau perlu Saya nanti bawa buku nikahnya,"tuturnya menyerahkan dua lembar foto yang selalu di bawanya dan sekarang berfungsi. Ia merasakan amarah yang tertahan.
Naura menjauh dari Halte. Menatap tidak suka pada Renata. Wanita itu tampak menelpon dan mungkin saja wanita itu menelpon Reyhan. Renata menggenggam ponsel yang tadi telah merekam suara percakapan mereka sebelumnya.
------
Langit terlukis jingga. Renata termenung di taman yang biasa ia datangi bersama teman-temannya.
Kemarin, adalah hari menyebalkan bagi Renata. Bahkan, ia tak bicara pada suaminya. Nada dering panggilan terdengar. Ia menatap sekilas layar ponselnya.
"Ayah,"lirihnya. Disaat seperti ini, ayahnya menelpon.
"Ya, Ayah. Ada apa?"ucap Renata sesaat setelah menerima panggilan.
"Baiklah. Renata kesana,"ucapnya lagi dan mematikan panggilan.
Renata melangkah gontai. Ia tidak terlalu menyukai pertemuan dengan ayahnya. Namun, ia pun menghargai ibunya. Sekarang, kedua orangtuanya mulai kembali bersama.
Saat di perjalanan. Ia lebih fokus pada musik dengan memasang earphone di telinganya. Akan tetapi, perhatian kembali terarah pada gadis berhijab yang ia temui di Halte siang tadi.
"Pak, berhenti disini!"pintanya.
Supir taksi pun memberhentikan laju kendaraannya.
Renata menjaga jarak aman agar tidak diketahui orang yang diikutinya. Bukan tanpa alasan Renata mengikuti gadis itu. Ia melihat mobil yang terparkir adalah mobil suaminya.
Dalam kesempatan, ia pun bergegas duduk di tempat yang tak jauh dari tempat mereka duduk. Palayan datang, gadis itu memesankan makanan kesukaan suaminya.
'Oh, itu berarti ini adalah tempat favorite mereka.'gumamnya dalam hati.
"Mas. Kenapa gak bilang sama Naura soal pernikahan Mas,"ucap Naura kecewa.
"Maaf! Seharusnya Mas beritahu dari awal,"jawab Reyhan.
"Ceraikan saja dia, Mas!"pinta Naura tanpa dipikir.
Reyhan menautkan alisnya. Sementara Renata yang tak jauh mendengar ucapan itu mengepal tangannya.
"Aku sangat menantikan pernikahan kita yang indah. Kenapa Kau malah menghancurkannya?"rengek wanita itu.
"Mas dijodohkan,"jawab Reyhan.
"Berarti Kau tidak mencintainya ,bukan? Jadi, ceraikan saja!"ujar Naura enteng.
"Mas itu....,"ucapan Reyhan terjeda, saat melihat Renata mendekati meja. Namun, tidak disadari oleh Naura.
Renata menghampiri pelayan datang ke meja dua insan itu. Ia dengan sengaja membuatnya menjatuhkan minuman yang membuat gamis Naura terkena tumpahan.
"Kamu itu gimana sih? Tumpah ke gamis Saya. Mana managernya? Saya mau adukan hal ini,"cecar gadis itu kesal.
"Anda tidak perlu memanggil manager nona,"ucap Renata. Ia tersenyum sinis.
Reyhan yang ada disana mematung. Menatap Renata tak percaya.
"Makanya jangan usil sama hubungan orang ya, Mbak." ucap Renata. "Oh ya, jangan lupa kata pepatah! Jangan menilai buku dari sampulnya! Terlihat alim dan berpendidikan tinggi, tapi hemmm...begitulah,"sambungnya yang sebenarnya menyindir Reyhan. Penampilan Renata memang tampak modern tanpa hijab, tapi ia tidak pernah berbuat seenaknya.
Ia pun memberi uang untuk mengganti kerusakan dan berlalu pergi untuk bertemu kedua orangtuanya yang telah membuat ia terjebak dalam pernikahan mereka.
"Rena, tunggu!" Reyhan mengejar Renata yang berjalan tanpa menolehnya.
"Rena,"pria itu meraih tangan Rena dan membuat langkah istrinya terhenti.
"Kesempatan itu untuk orang yang mau berubah. Bukan untuk orang seperti Mas,"tutur Renata dengan intonasi sedikit tinggi. "Lepas! Nikmati saja pacaranmu dengannya,"sambungnya.
Renata tidak menghiraukan Reyhan yang membujuknya. "Lupakan saja dengan apa yang telah terjadi,"lirihnya. Ia pun menaiki taksi, sementera Reyhan kehilangan jejak istrinya.