Pergi

1005 Words
Hembusan angin malam menusuk pori-pori. Renata baru kembali dari rumah orangtuanya. Tampak, ia lebih memilih terus melangkah tanpa menghiraukan Reyhan yang menunggunya. Matanya hanya mengarah ke depan tanpa menoleh Reyhan yang tengah duduk menunggunya sedari tadi. "Rena,"panggil Reyhan. Gadis itu tidak menjawab dan bergegas untuk pergi ke kamar. Renata keluar dengan menenteng kopernya. Ia tidak bicara ataupun menangis. Ia menahan segala rasa sakit dalam hatinya. "Kamu mau kemana, Ren? Koper-koper itu, kenapa dibawa?"tanya Reyhan. Hatinya mulai gelisah. "Lupakan Aku!"tukas Renata. Ia berjalan tanpa menghiraukan suaminya. "Ren,"lirih Reyhan. "Jangan tahan Aku lagi!"pekik Renata. Matanya membulat menatap tajam suaminya. "Mas bisa jelasin,"ucap Reyhan. "Sudah jelas, Kau sering bertemu dengannya. Mau mengelak?"pekik Renata. "Ah, sudahlah! Percuma ngomong sama Kamu,"sambungnya. Reyhan mencoba menahan Renata, tapi hati Renata terlalu sakit. Sehingga, ia memilih meninggalkan Reyhan begitu saja tanpa menghiraukannya. ------ Kepergian Renata membuat Reyhan terdiam di kamar mereka. Ia menatap kosong tempat itu. Sebuah notifikasi muncul, itu adalah pesan dari Renata yang mengirim sebuah rekaman suara. "Hemm...Naura pura-pura tidak tahu hubungan kami. Padahal, seminggu sebelumnya ia bertemu Renata. Ia terus menemuiku, bahkan saat Aku katakan Aku sudah menikah. Ia tidak terkejut. Inilah alasan Renata tidak terlalu banyak bicara dalam seminggu ini,"gumam Reyhan setelah mendengar suara rekaman percakapan Renata dan Naura. Ia mengacak rambut frustasi. [LUPAKAN SEMUA TENTANG KITA!] pesan Renata lagi. Reyhan mencoba membalas, tapi sayangnya Renata memblokir nomornya. Pagi ini, Reyhan bersiap untuk pergi. Meskipun, matanya lelah karena tidak tidur memikirkan Renata. Reyhan mencoba mendatangi rumah orangtua Renata. Berharap ia ada disana. Ia tidak pedi jika orangtua Renata marah padanya. "Assalamu'alaikum,"ucapnya memberi salam. "Wa'laikum salam,"jawab seorang wanita. "Eh, Nak Reyhan. Masuk Nak! Oh ya, Renata mana?" "Reyhan mampir sebentar, Bu. Saya ada janji di dekat sini,"jawab Reyhan. "Mau minum, Nak?"tanya Reni. "Tidak Bu. Terimakasih,"ucap Reyhan. "Saya pamit. Assalamu'alaikum,"ucap Reyhan. "Wa'alaikum salam."jawab Reni. Reyhan bergegas menuju mobil. Ia kembali melajukan mobil dengan cepat. "Kamu kenapa main pergi, Ren?"gumam Reyhan. Jika ia tidak bisa membuat Renata kembali. Maka ia akan kehilangan istrinya dan mungkin Renata tidak akan pernah kembali. ------ Di tepi ranjang Renata terdiam. Esok, ia akan bekerja di perusahaan ayahnya. Seperti yang di pinta ayahnya saat bertemu. Ia tampak tidak bersemangat. Akan tetapi, ia harus terbiasa. Kesibukan mungkin akan membuat ia tidak memikirkan rasa kecewanya. Orangtua Renata tahu tentang hubungan mereka, tapi memilih tidak ikut campur. Mereka akan menerima keputusan apapun dari putri mereka. Saat ini, Renata berada dalam kebimbangan kembali. "Aku harus apa? Bertahan, malah menyakitiku lagi,"lirihnya. Sebuah panggilan membuyarkan lamunannya. "Ya, Van?" [Lo kabur dari rumah lagi?] ujar Vanya. Ia pasti tahu dari Reyhan. "Gue gak kabur. Cuman, mau tenang sebelum ngambil keputusan."jawab Renata. [Masalah apalagi sih? Gue pusing kak Rey nanya terus Lo kemana. Tahu aja kagak,] cecar Vanya. "Naura pengen mas Reyhan cerein Gue,"jawab Renata. [Terus Lo mau nyerah. Itu sama aja bikin itu cewek seneng sampai loncat atau salto, karena Lo ngelepasin kak Rey.] "Gue butuh waktu," [Okelah, Gue bilangin nanti pas dia nanya lagi. Duh...si jomblowati akut harus ngurusin rumah tangga orang,] "Dion, mau Lo kemanain?"tanya Renata. [Hehe, kita gak pacaran,] "Gak pacaran, tapi nempel kayak prangko. Kalau gak pacaran over aja ke si Sisil,"celoteh Renata. [Emang over kredit motor. Ngaco Lo ah,] "Lah, emang pikiran Gue lagi ngaco kayak benang kusut," [Udah ah! Debat sama Lo gak ada ujungnya. Gue ada urusan. Bye!] Vanya menutup telponnya. Renata terkekeh setelahnya. ----- Renata berjalan menuju kantor ayahnya. Ia menatap takjub tempat itu. "Ada yang bisa Saya bantu, Mbak?"tanya seorang penjaga. "Saya mau bertemu pemilik perusahaan ini,"jawab Renata. "Maaf, Beliau belum datang dan Anda harus...,"ucapan pria itu terjeda. "Ayah!"seru Renata. Membuat penjaga itu terkejut. "A-ayah,"ucap pria itu. "Rena, Ayah pikir Kamu gak dateng,"ujar Andri. "Permintaan ibu 'kan? Lagipula, sekarang Rena bisa lihat ibu bahagia lagi. Berdamai dengan masalalu,"tutur Renata. Dua insan itu pun masuk ke dalam kantor. Terlihat tatapan heran dan menyelidik dari para pegawai. "Itu siapa? Istrinya kali ya, muda banget,"ucap salah seorang pegawai. Para pegawai pria menatap takjub penampilan Renata yang nampak elegan, tapi begitu sopan. Rambutnya tergerai dengan sedikit rambut samping yang diikat ke belakang. "Cantik banget,"puji salah seorang pegawai pria. Semua pegawai dikumpulkan untuk mengenalkan Renata sebagai putri tunggalnya. Membuat para pegawai menatap tak percaya dan adapula yang malu, karena telah mengumpat Renata. ---- Menatap kosong apa yang ada di hadapannya. Itulah yang dilakukan wanita yang masih bimbang dengan keputusannya. Ia bahkan tidak tahu harus berbuat apa. "Mau kopi atau teh, Bu?"tanya salah seorang office boy. "Saya minta teh tawar saja,"jawab Renata. "Baiklah, Bu." Tidak lama teh tawar itu tersaji di atas mejanya. "Terimakasih,"ucapnya sembari memberi uang tip. "Jangan, Bu!"tolaknya. "Ambil saja! Saya ikhlas,"imbuh Renata. "Mmm...sebenarnya Saya pikir Ibu bakal arogan, karena putri pemilik perusahaan," "Mungkin, Kamu lihat dari penampilan Saya." "Maaf, Saya lancang." "Haha, jika sekilas seperti itu. Kalau yang kenal Saya tidak akan berpikir seperti itu," "Eh iya, Bu. Saya permisi!" "Terimakasih tehnya,"ujar Renata. Pria itu mengangguk. Aroma teh panas membuatnya sedikit tenang. Ia menyesapnya perlahan. Pekerjaan dan hubungan yang berantakan, membuat ia merasa sangat lelah. "Rena," seseorang memanggil, membuat Renata terkesiap. "Vino,"lirih Renata. "Apa kabar?"tanya Vino. "Baik. Kok Kamu disini?"tanya Renata heran. "Aku diutus perusahaan,"jawab Vino. "Oh baiklah. Silahkan duduk!" Vino pun duduk di kursi depan yang terhalang meja. Ia tidak berhenti menatap Renata. "Kamu lebih cantik dan dewasa sekarang,"ujar Vino. Saat mereka pacaran, Renata memang cuek dengan penampilan. "Makasih,"ucap Renata. "Bisa kembali ke topik,"sambungnya datar. "Aku tidak menyangka Kau masih bertahan dengan pria itu. Aku pernah melihatnya setahun yang lalu dengan wanita." Jelas Vino. "Kau pun sama bukan?" "Aku tidak sama. Wanita yang Kau lihat adalah kakak perempuan yang tidak jauh umurnya denganku. Aku pikir Kau akan cemburu,"ujar Vino. "Aku biasa saja. Aku senang dengan kehidupan yang sekarang."jelas Renata. "Jika tidak ada kepentingan lain. Silahkan! Saya ada urusan lain,"sambungnya. Pria itu mengangguk. Renata menatap kepergian pria yang pernah mengisi hatinya itu dan kemudian kembali terdiam. "Pria itu sama saja. Meski salah tidak mau disalahkan,"umpat Renata. Sementara Vino, merasa kecewa atas perubahan sikap Renata. 'Maafkan Aku, Renata! Semoga Kau benar-benar merasa bahagia,"gumam Vino dalam hati. Pria itu menghembus napas kasar dan berjalan menjauh dari ruangan mantan kekasihnya itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD