Ucapan Vino

1057 Words
Siang ini Renata dan Vino mengadakan pertemuan dengan putri atasan Vino bernama Tiara di sebuah Restorant. "Aduh, Bu Rena. Saya ke toilet sebentar ya,"ucap Tiara. Ia bergegas berdiri dan berjalan menjauh dari meja. "Ngapain Lo lihat dia kayak gitu?"celetuk Renata. Saat wanita jauh dari pandangan. "Apaan sih, Ren?" "Lo suka sama dia 'kan?"goda Renata. "Hemm, akhir-akhir ini Gue suka sama dia,"ucap Vino jujur. "Nah, Lo perjuangin jangan di anggurin! Siapa tahu jodoh Lo,"ucap Renata. "Lo gak mau balikan sama Gue?" tanya Vino menggoda. "Ogah. Masih ngarep Lo?" "Kagak. Hahaha, Gue gak serius Ren. Lo udah sayang sama suami nyebelin Lo itu 'kan? Waktunya Gue yang moveon,"tutur Vino. "Yaelah, Lo udah moveon kali. Gak nyadar aja, pikiran Lo teralihkan sama Tiara. Eh, tapi kalau gak gara-gara kerjaan. Gue pasti musuhin Lo,"tutur Renata. Vino yang terus berusaha membuat hubungan mereka baik pun akhirnya berhasil. Ia mengesampingkan ego untuk pekerjaannya. Meski masih ada secuil cinta yang bertengger di hati Vino, tapi ia berusaha melupakannya. Sebuah pertemuan yang intens dengan sang atasan membuat ia mulai terpikat pada Tiara yang ramah dan memiliki perilaku yang baik. "Ish, harusnya Gue yang marah sama Lo,"ujar Vino. Renata dan Vino mulai berdebat. Namun, akhirnya tertawa bersama. Ia tidak tahu ada sepasang mata yang menatap tajam dan menahan amarah. Kemudian pergi dari tempat itu. Tiara datang dengan senyuman. "Maaf ya lama! Oh ya, Saya ada urusan dengan yang lain. Maaf ya Bu Rena!"imbuh Tiara. "Oh, tentu saja tidak apa-apa. Saya tinggal telepon supir perusahaan,"jawab Renata. "Baiklah. Permisi!"ucap Tiara sembari kembali melangkah pergi. "Oh ya, Bu Tiara udah punya pasangan belum?"tanya Renata, menatap jahil Vino. Tiara menggeleng dengan tersenyum. "Ada kesempatan tuh, Vin." Ujar Renata membuat wajah dan telinga Vino panas. Mungkin Tiara pun sama. "Sampai jumpa lagi, Bu Rena!"ucap Tiara dan berjalan keluar Restorant. Renata tersenyum melihat ekspresi keduanya. 'Dulu Aku pergi meninggalkanmu. Semoga, ia yang bertahan selamanya bersamamu,'batinnya lirih. Terbesit rasa bersalah pada Vino karena telah menyerah pada hubungan mereka dan memilih menikah dengan pria yang kini menyakitinya. ----- Renata menunggu supir kantornya untuk menjemput. Namun, sepertinya ada kendala kemacetan di jalan. "Rena!"seru pria yang ia kenal, membuat Renata terkesiap. "Mas Reyhan. Ngapain disini?"tanya Rena. Ia sangat terkejut dengan kedatangan Reyhan. "Kamu yang ngapain disini? Ketemu mantan Kamu itu,"cecar Reyhan yang nampak kesal. "Apa pedulimu?"tanya Renata ketus. Bola matanya menatap tak suka pada Reyhan. Namun, tersembunyi kerinduan disana. "Aku masih suamimu. Jangan ganjen!"ucap Reyhan. Kata terkhir membuat Renata tersulut emosi. "Ganjen? Yang ganjen itu Aku atau Mas sama si Naura pacar Mas itu, huh?"cecar Renata meninggikan suara. "Naura lagi yang Kau bahas,"ucap Reyhan kesal. "Keberatan Aku ngomong gitu, ya? Ya sudah! Jangan ikut campur dalam hidupku lagi!"tutur Renata. "Bukan itu maksud Mas, Ren." "Bersiaplah! Jika suatu hari ada panggilan dari pengadilan,"imbuh Renata. "Maaf Ren! Mas emosi. Mas cemburu lihat Kamu dengan Vino." Jelas Reyhan. "Aku sudah muak, Mas. Pergilah!"Ucap Renata. Sesak dalam dada kembali dirasa. "Kau tidak pernah menilaiku baik dimatamu. Untuk apa kita lanjutkan hubungan kita,"sambungnya. Sebuah mobil berhenti di hadapan Renata. "Ren, Kamu mau kemana?"tanya Reyhan. "Bukan urusanmu, Mas." Jawab Renata. "Jalan Pak!"perintah Renata pada supir. Reyhan menatap sejenak kepergian Renata. Ia pun bergegas menuju mobilnya dan mengikuti Renata. Renata mencoba menahan cairan bening yang mengembun di pelupuk matanya. 'Pergilah! Biar Aku obati perihku sendiri, Mas! Walau itu butuh waktu,"batin Renata lirih. Ia menatap kosong ke arah jendela. Disaat ia berusaha melupakan Reyhan. Ia justru bertemu dengannya lagi. ------ Renata turun dari mobil yang diberi oleh ayahnya. Sebenarnya ia tidak ingin menerima hal itu, tapi ia menghargai sang ibu yang begitu sangat bahagia melihat hubungan ia dan ayahnya menjadi lebih baik. "Bu, ada yang ingin bertemu. Maksa banget,"ucap salah satu karyawan. "Hemm, biar Saya lihat saja,"ujar Renata. Ia pun mempercepat langkah. Menerka siapa yang datang. "Baik, Bu." Dalam benak Renata, orang yang akan memaksa untuk bertemu adalah Reyhan yang masih menjadi suaminya itu. Ia memang sudah menduga akan ada pria itu. Karena, kemarin ia mengirim surat panggilan dari pengadilan agama untuk sidang perceraian ia dan Reyhan. "Rena,"panggil pria yang tak lain adalah Reyhan. Ia menghampiri Renata. "Kita ke luar kantor, ini urusan pribadi."imbuh Renata. Pria itu mengangguk pelan dan mengekori langkah istrinya yang bersikukuh ingin bercerai dengannya. Reyhan menunduk dan membisu. Mengikuti Renata yang berada di depannya. Mereka sampai di halaman kantor. "Ada perlu apa?"tanya Renata datar. "Apa Kau tidak mencintaiku, Ren?"Reyhan balik bertanya. "Cinta? Cinta yang mana?"tanya Renata datar "Ren," "Setelah Kau mengingkari semuanya. Cinta itu sudah hilang,"ucap Renata. "Apa tidak sedikit pun rasamu untukku?"tanya Reyhan lagi. "Kau bahkan menyia-nyiakannya saat rasa itu ada, Mas. Buat apa ditanya sekarang?"cecar Renata. "Aku ingin tetap bersamamu, Ren."ucap Reyhan penuh harap. "Lucu Kamu, Mas. Pas ada disia-siain pas gak ada dicari. Bukannnya ada Naura?" "Bagaimana agar Kamu percaya, Ren?"tanya Reyhan pesimis. "Aku tidak tahu,"jawab Renata. "Jangan lupa datang ke pengadilan!"sambungnya. Pria itu membungkam. Renata masuk ke dalam kantor. Reyhan menatap punggung istrinya itu. Rasa bersalah terus menghantuinya. "Makanya, apa-apa jangan pake emosi! Apalagi ke cewek,"celetuk seorang pria yang berada di belakangnya."Katanya hafidz Al-qur'an juga. Masak kayak gitu ngadepin cewek,"sambung pria yang tidak lain adalah Vino. "Untuk apa Anda ikut campur urusan Saya?"tanya Reyhan jengkel. "Sebagai orang yang pernah cinta dia selama bertahun-tahun dan kandas karena perjodohan kalian. Gue gak pernah kasar sama dia,"ungkapnya tak kalah kesal, karena melihat pemandangan saat mereka bertengkar. "Tidak perlu sok!"ujar Reyhan ketus. "Marah karena Gue kerjasama dengan Rena. Gue heran kenapa dia suka sama cowok yang gak ngehargain cewek,"celoteh Vino. "Cowok kayak Lo yang dipertahanin,"sambungnya menggeleng kepala. "Tutup mulutmu! Saat kami menikah pun Kau datang dengan orang lain,"cecar Reyhan. "Itu kakak Gue dan Renata sudah tahu. Oh ya, kalau Lo bikin hati Rena sakit lagi. Gue gak segan ngambil dia buat Gue,"tukas Vino. Tangan Reyhan mengepal. Ia menahan amarah. Akan tetapi, pria yang di tatap benci olehnya itu ada benarnya. Ia mengedapankan amarah saat ada masalah, tapi ia hanyalah manusia biasa yang tak luput dari dosa. Ia tidak ingin kehilangan Renata lagi. Apalagi, Vino dan Renata masih dekat meski sudah putus. Ia pun sadar dengan kemarahan Renata saat ia selalu bertemu dengan Naura di luar. Pada akhirnya, Reyhan pun tahu ternyata Naura pura-pura tidak mengetahui hubungannya dengan Renata. Padahal, mereka pernah bertemu di halte bis. Renata pun melihat kedekatan Reyhan dan Naura dari sana, sebelum Naura berada di halte saat itu.'Maafkan Aku, Rena!'batinnya. Ia merasakan perih yang dulu dirasakan Renata saat melihat pasangannya bersama orang lain. Bahkan, lebih dari itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD