Angin membelai lembut wajah Renata yang tengah termenung sendiri di sebuah taman.
'Apa yang harus Aku lakukan?"batinnya lirih.
Masih ada keraguan di hati gadis itu untuk mengakhiri hubungan mereka.
"Rena,"suara berat itu membuat Renata terkesiap.
"Mas, ngapain disini?"tanya Renata ketus.
"Mas ingin bertemu Kamu,"jawab Reyhan. Ia pun duduk di dekat Renata tanpa permisi.
"Sampai kapan Kau seperti ini?"tanya Reyhan.
"Entahlah,"jawab Renata.
"Mas minta maaf, Ren!"
"Aku sudah sering mendengarnya, Mas." Ucap Renata.
"Kembalilah, Ren! Mas mohon! Demi Mama,"pintanya memelas.
"Kenapa Mama?"tanya Renata. Ia memang agak khawatir pada Mama mertuanya, jika ia memilih berpisah.
"Mama sakit,"jawab Reyhan. Ia menunduk pilu.
"Aku tidak bisa,"ucap Renata lirih.
"Untuk alasan apapun, Aku tidak ingin kembali,"sambungnya. Bulir bening jatuh di pipinya.
"Apa yang harus Mas lakukan, Ren?"tanya Reyhan. Ia berusaha menggenggam tangan orang yang dicintainya itu.
"Aku tidak tahu,"jawab Renata.
"Setidaknya lihat Mama, jika Kau tidak mau kembali padaku,"ucap Reyhan. Dirasanya tangan Renata gemetar. Gadis itu menahan sesak di dada.
"Aku akan menemui Mama dan menjelaskan bahwa Aku tak sanggup denganmu."Jelas Renata. Ia menyingkirkan perlahan tangan suaminya itu. Dengan pasrah Reyhan tidak menyergah ucapan Renata. Ia mengerti, hati kecil istrinya terluka karena ulahnya.
Reyhan membawa Renata menuju rumah Mamanya. Di perjalanan gadis itu hanya menatap arah ke depan. Musik Lee Seung Gi , berjudul Last Word yang didengarnya melalui earphone yang selalu ia bawa.
[ Kalimat "aku mencintaimu"
Kalimat "tunggulah aku"
Mereka hanya melekat didalam telingaku
Kalimat yang tak mampu kukatakan ini membuatku sakit,]
Lirik itu di dengar Renata dan mungkin itulah yang dirasakan Renata bahkan Reyhan pun sebenarnya rasanya seperti dalam lirik lagu itu. Ia begitu sulit mengucapnya pada istrinya.
Reyhan melihat istrinya sesekali. Istri yang ia rindukan dan tidak ingin melepasnya. Ia pun melihat netra kekasihnya itu mengembun, membuat hatinya merasakan sakit karenanya.
Sesampai di rumah Mama Reyhan. Renata turun dengan cepat tanpa bicara. Ia berusaha untuk tenang sebelum masuk ke dalam rumah. Tampak, Mila adik iparnya menyambut kedatangan Renata.
"Apa kabar, Kak?"tanya Mila.
"Baik, Mil." Jawab Renata.
"Mama di dalam, Kak." Ucap Mila. Renata mengangguk dan langsung berjalan menuju kamar sang mertua.
Saat di ambang pintu. Renata mengucap salam pada ibu mertuanya. Netra wanita itu mengembun saat Renata mendekatinya.
"Maafkan Mama, Nak!"ucapnya lirih. Menangkupkan tangan kanannya di pipi Renata.
"Mama gak salah. Mama justru terlalu baik sama Renata."
"Tidak bisakah Rena bertahan dengan Rey?"tanyanya lemah.
"Maafkan Rena, Ma!"
"Mama yang minta maaf, karena membuatmu menikah dengan Rey,"ucap wanita bernama Hani itu.
"Sudahlah, Ma! Rena tidak apa-apa," jawab Renata berbohong. Sebenarnya, ia tidak ingin berada di rumah Hani lagi. Karena, ia ingin melupakan segala kenangan saat berkunjung kesana.
"Mama pengen Kamu disini sampai Mama sembuh,"tutur Hani pada menantu kesayangannya itu.
"Rena kerja, Ma. Maaf!"
"Menginaplah disini!"pintanya.
"Tapi,"
"Mila mohon, Kak!"pinta Mila memelas.
"Baiklah. Kakak tidur di kamar Kamu, ya!"ucap Renata. Reyhan yang berada di ambang pintu menatap penuh kerinduan. Ia kecewa, karena Renata benar-benar tidak ingin bersamanya lagi.
"Baik, Kak." Jawab Mila.
Renata keluar untuk pamit dan mengambil beberapa pakaian di rumahnya. Dengan di temani Reyhan. Hani khawatir Renata tidak akan kembali, jika Reyhan tidak ikut bersama Renata.
"Jadi, selama ini Kamu di rumah orangtuamu,"ucap Reyhan, saat mobil sampai di pelataran rumah. Ia menautkan kedua alisnya.
"Ya,"jawab Renata datar.
"Kenapa ibumu saat itu tidak bicara soal ini?"tanya Reyhan.
"Mereka tidak akan ikut campur urusanku,"jawab Renata. Ia pun membuka pintu dan keluar dari mobil. Tanpa bicara lagi, ia bergegas masuk ke dalam.
Sementara itu, Reyhan menunggu di luar dengan gugup. Karena masalah mereka yang tak kunjung selesai. Ia berusaha mencari Renata dan tidak berani membicarakan hal itu pada mertuanya, tapi ternyata mertuanya tahu tentang masalah mereka.
"Rey!"seru Andri saat keluar dari dalam rumah.
"Ya Ayah,"sahut Reyhan.
"Masuklah! Jangan menunggu disana!"imbuh Andri.
"Saya disini saja, Yah" Jawab Reyhan dengan gugup.
"Hemmm...baiklah, Ayah ke dalam dulu ya,"tutur Andri. Reyhan mengangguk dengan senyuman.
Pikiran Reyhan melayang. Andri tidak sedikitpun memperlihatkan kemarahan padanya. Padahal, masalah mereka begitu rumit dan semua gara-gara Reyhan.
Renata sedari tadi memilah pakaian, karena dalam perkiraan dia akan menginap selama seminggu.
"Tenanglah, Ren!"gumam Renata. Perasaan terasa tidak karuan.
"Kamu yakin, mau disana?"tanya Reni pada putrinya.
"Iya, Bu."jawab Renata, sembari memasukan pakaian ke dalam koper. "Cuman seminggu. Pas mama mertua sembuh, renata pulang kesini,"sambungnya.
"Kamu gak mau kembali ke Reyhan?"tanya Reni. Ia tahu putrinya itu masih mencintai Reyhan.
"Renata perlu waktu,"jawab Renata.
"Bukanya surat dari pengadilan sudah datang dan harus sidang. Pikirkan baik-baik, Nak! Jangan sampai Kau menyesal!"imbuh Reni.
"Rena tidak tahu harus apa, Bu. Rena memang tidak menginginkan perceraian kami, tapi jika cinta Mas Reyhan juga ada untuk orang lain. Rena tidak bisa, Bu."keluh Renata. Matanya kembali mengembun.
Renata pikir akan mudah melepas pria yang dicintainya, karena cinta itu hadir belum terlalu lama.
"Hati-hati! Jaga dirimu!"imbuh Reni. Ia memang khawatir pada putrinya itu.
Renata pun keluar dan nampak Reyhan tengah duduk menunggunya di teras. Reyhan terkesiap dam langsung mengambil koper Renata. Tanpa bicara ia pun masuk ke dalam mobil. Sementara Reyhan pamit pada Andri dan Reni, kemudian menuju mobil dan duduk di belakang kemudi.
"Mengapa Kau lakukan ini, Ren?"tanya Reyhan yang sedang mengemudi.
"Lakukan apa?"Renata balik bertanya.
"Kau masih mencintaiku 'kan?"tanya Reyhan lagi.
Sebenarnya, ia mendengar pembicaraan Renata saat menyusul istrinya dan kemudian kembali ke luar.
"Kau tak perlu tahu apapun tentang rasaku, Mas!"
"Aku tidak ingin kehilangan Kamu lagi, Ren."ucap Reyhan.
"Aku tidak peduli sekarang,"jawab Renata. Ia kembali memutar lagu Empty Word dari Huh Gak dengan earphone yang terpasang di telinganya.
Reyhan menatap istrinya dengan pilu. Renata selalu menyangkal perasaan yang ada dalam hatinya.
"Aku tahu Kau masih mencintaiku. Aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi lagi,"lirih Reyhan.
Sebenarnya Renata mendengar Reyhan bergumam. Namun, ia mengabaikannya.
Hatinya berbunga ketika pria itu tidak akan membiarkan hubungan mereka hancur. Akan tetapi, ia pun berada dalam kebimbangan.
'Bisakah Aku percaya dengan ucapannya?'umpat batinnya.
Reyhan tampak serius dengan mobil yang dikendarainya. Hatinya masih mendung, karena ucapan Renata yang selalu menyangkal bahwa ia masih mencintai Reyhan.
Sesampai di rumah mertua. Renata pun turun tanpa berkata. Ia mengambil koper yang dikeluarkan Reyhan dan membawanya ke dalam rumah tanpa menoleh atau meminta pertolongan suaminya.
Mila telah merapikan kamar dan Renata pun menyimpan kopernya. Ia bergegas menuju kamar ibu mertua yang tengah sakit.
"Rena. Mama pikir Kamu gak bakal dateng, Nak."ucap sang ibu mertua.
"Rena dateng kok, Ma. Gak mungkin Rena ingkar janji,"jawab Renata. Kalimat terakhir menjadi sindiran keras bagi Reyhan yang ingkar janji untuk tidak menemui Naura dulu.
"Ma, Rey pulang dulu ya." Tutur Reyhan.
"Kamu nginep juga ya! Kamar Kamu 'kan kosong,"ucap Hani pelan.
Pria itu tak dapat membantah. Renata diam walau dalam hatinya merasa sangat jengkel, karena pria itu menatapnya.