Kedatangan Vino

1033 Words
Hari berganti malam. Renata berada di tepi ranjang. Ia duduk dengan kesalnya. "Kak Rena,"panggil Mila yang masuk ke dalam kamar. "Ya,"sahut Renata. "Kakak masih sayang 'kan sama kak Rey. Tolonglah! Jangan bercerai!"pinta Mila memelas. "Itu sudah keputusan Kakak, Mil." Jawab Renata. "Beri kak Rey kesempatan, Kak!"pintanya memohon. "Maaf, Mil! Bukankah dulu Kakak beri dia kesempatan? Ia malah menyia-nyiakan hal itu dan malah tetap sering bertemu dengan Naura. Jika ia masih mencintai Naura. Maka, Kak Rena lebih baik mundur,"tutur Renata. "Kak Rey udah gak ketemu Naura lagi, Kak. Dia fokus nyari Kak Rena. Ketemu terakhir, pas bilang ke Naura buat gak ganggu hubungan kalian. Katanya sih, Naura bakal pergi ke Luar Negeri lagi." Jelas Naura. "Entahlah. Kakak masih bimbang, Mil."Ucap Renata. Ia masih belum percaya dengan apa yang dilakukan Reyhan. Renata beranjak dari tempat tidur dan keluar untuk menemui Hani di kamarnya. "Mama udah minum obat?"tanya Renata menghampiri Hani. "Belum, Nak."jawab Hani. "Mama minum dulu obatnya! Biar cepet sembuh," imbuh Renata dengan senyuman. "Kalau Mama sakit ada Kamu. Mama gak mau sembuh,"ucap Hani. "Ma. Jangan bicara kayak gitu!" "Mama sedih, Ren. Apa yang dilakukan anak Mama, buat Mama kecewa. Apalagi Kamu, Nak."Keluh Hani. "Sudahlah, Ma! Jangan bahas itu, ya! Sekarang istirahat. Besok akhir pekan 'kan? Rena temani Mama lama,"tutur Renata dengan lembut. "Makasih, Nak!"ucap Hani, mengusap punggu tangan menantunya. "Sama-sama, Ma." Jawab Rena tersenyum. Renata keluar dari kamar mertuanya. Terlihat Reyhan berada di sofa memandang Renata sayu. Sementara itu, Renata berjalan begitu saja menuju kamar Mila untuk beristirahat. ------ Aroma masakan berasal dari dapur, membuat Reyhan merasakan senang sekaligus pilu. Ya, ia teramat merindukan masakan Renata. Reyhan menatap dari jauh wajah yang selama ini dirindukannya. Mila yang melihatnya menghampiri Renata. "Kak, hemmm...masak apa?"tanya Mila basa-basi. "Masak makanan kesukaan Kamu sama...,"ucapnya terhenti. "Sama buat kak Reyhan juga, ya."goda Mila. "Hemm," "Pantesan ada yang ngintip,"goda Mila yang membuat Renata terkesiap. Reyhan berusaha bersembunyi, tapi malah gagal dan menabrak apa yang di hadapannya. Kedua wanita itu pun terkekeh. "Pa-pagi!"sapanya dengan gugup. "Kenapa Kak?"tanya Mila."Bisa nabrak tembok gitu. Untung temboknya gak kenapa-kenapa,"sambungnya lagi. "Emm, Kakak mau ngambil minum. Ya, ngambil minum,"jawab Reyhan gugup. "Bukan lagi merhatiin Kak Rena, gitu?"tanya Mila. "Emm, enggak. Mau ngambil minum, Kakak haus." Reyhan mengambil gelas dengan gugupnya. Renata hanya tersenyum simpul dan kemudian melanjutkan kegiatannya. Mata Reyhan menatap tajam Mila. Suara sendok dan piring beradu. Setelah sarapan sang mertua, ia pun sarapan di meja makan bersama kedua adik kakak itu. Renata hanya membisu. Ia fokus pada santapan tanpa menyadari manik mata Reyhan selalu ke arahnya. Menatap dengan kerinduan dan penyesalan yang teramat dalam. "Kak," "Ya Mil,"sahut Renata. "Kenapa Kakak mau ngurus Mama? 'Kan ada bik Rum disini,"ucap Mila memecah keheningan. "Supaya Mama cepat pulih, Mil. Gak apa-apa, kok."Jawab Renata dengan senyuman. Membuat Reyhan berandai, senyuman itu kembali untuknya. "Bukan karena Kak Reyhan?"tanya Mila. Padahal Reyhan ada disana dan pertanyaannya membuat Reyhan tersedak. Jantungnya berdebar cepat, ingin segera mengetahui jawaban Renata. "Kakak...,"jawaban Rena terjeda. "Nyonya Rena, ada yang mencari nyonya di luar." Jelas bik Rum. Reyhan kecewa karena tidak ada jawaban jelas dari istrinya itu. "Iya Bik,"jawab Rena. Ia pun berjalan keluar untuk menemui siapa orang yang ingin bertemu dengannya itu. Sementara Reyhan nampak kesal pada adiknya dan ia menatap adiknya tak suka. "Apa? Mau terus-terusan kayak gitu?"tanya Mila ketus. Mila sebal dengan sikap kakaknya. "Kamu ini, baru kelas tiga SMA aja ikut campur terus."Protes Reyhan. "Biarin ikut campur. Kayaknya cuman Mila sama ibu yang gak mau kehilangan kak Rena. Kakak diem berarti siap kehilangan dia,"celoteh Mila kesal. Ia menandaskan makanannya dan bergegas mengikuti Renata. ------- Renata keluar untuk menemui orang yang mencarinya. Di luar gerbang terlihat Vino ada disana. Entah dari siapa juga pria itu mengetahui rumah mertuanya. "Cie-cie, cinta lama bersemi kembali nih,"goda Vino. "Apanya yang bersemi? Kagak,"ucap Renata ketus. "Nih,"Vino menyodorkan sebuah undangan. "Siapa yang nikah?"tanya Renata. "Ya Gue, lah. Masak tukang parkir,"celetuk Vino. "Vino,"pekik Renata jengkel. "Baca dong! Malah nanya,"ucap Vino. Renata membuka undangan tersebut dan ia terkejut dengan nama mempelai wanita yang tertera dalam undangan. "Udah moveon beneran, dong."ledek Renata. "Iya bawel. Udah nikah Gue ke luar kota. Gue harap Lo gak kangen Gue,"celoteh Vino. "Ish, dodol. Gue ketemu Lo cuman buat debat doang, hahaha,"ujar Renata. Hal tak aneh bagi keduanya berdebat, apalagi masalah pekerjaan. Mila memandang penuh dengan pilu, saat kakak iparnya ternyata lebih senang dengan pria yang ada di hadapannya. Walau ia tidak tahu siapa. Setelah Vino pamit dan pergi, Renata kembali masuk dan melihat Mila yang mematung. "Gak di suruh masuk, Kak?"tanya Mila. "Gak mungkin, Mil. Yang ada, kakak Kamu ngamuk sebelum orang itu ngasih tahu maksudnya kesini,"tutur Renata. Ia mengingat suaminya sudah beberapa kali memarahinya, karena melihat ia bersama Vino. Ia tidak ingin ada keributan di rumah mertuanya. "Emang dia siapa? Ganteng juga,"ucap Mila ingin tahu. "Mantan pacar Kakak. Sebelum perjodohan ini, Kakak berpacaran dengannya,"jawab Renata. "Kakak mau balikan sama dia?"tanya Mila. Renata tidak menjawab. Ia lebih memilih berjalan menuju mertuanya yang ada di dalam kamar. "Ada siapa, Nak? Kayak ada suara mobil," "Teman Rena, Ma. Ngasih undangan pernikahan dia,"jawab Rena. "Hemmm, gitu. Bukan siapa-siapa Kamu 'kan?" "Mantan Rena yang dulu Rena ceritakan ke Mama soal Rena punya pacar. Kami bertemu lagi dan kerjasama antar perusahaan. Sekarang, ia bakal menikah dengan putri pemilik perusahaan itu."Jelas Renata. Mungkin, ada rasa takut ada pria lain di hati menantunya itu. Cukup egois memang, jika ia ingin menantunya bertahan sementara kesalahan ada pada putranya itu. ------ Malam yang hening. Semua penghuni rumah telah tidur, kecuali Renata. Ia mengambil segelas air di dapur untuk melepas dahaga. "Ren,"panggil Reyhan yang tiba-tiba menghampiri Renata. "Hemm," "Tadi pagi Kamu ketemu Vino?"tanya Reyhan tenang, tak seperti biasanya. Ia memang melihat mereka mengobrol dari balkon kamar. "Ya,"jawab Renata. "Hemm, apa dia mau balikan lagi sama Kamu?"tanya Reyhan. Renata menautkan kedua alisnya. Reyhan bertanya tanpa emosi lagi. "Rena," "Bukan urusan, Mas."Ucap Renata datar. Reyhan memeluk erat Renata. Ia tidak peduli pada sikap istrinya itu. Kerinduan dalam hatinya tak dapat tertahankan. "Mas,"lirih Rena yang ingin terlepas dari Reyhan. "Kali ini saja, Ren."Ucap Reyhan lirih. Renata akhirnya membiarkan pria itu memeluknya tanpa membalasnya. Cairan bening mendarat di pundak Renata. Membuat mata wanita itu berkaca. Renata tahu Reyhan menangis, membuat ia berada dalam kebimbangan. Dalam hati kecilnya, ia masih mencintai Reyhan. Akan tetapi, ia masih kecewa pada suaminya itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD