Secercah Harapan

1066 Words
Satu minggu sudah ia berada di rumah mertuanya. Meski Reyhan bersikap baik, tapi ia tetap mengabaikan pria itu. Keadaan Hani, ibu mertuanya pun mulai membaik seperti yang dikatakan oleh Dokter. Renata membereskan semua barangnya untuk kembali ke rumah orangtuanya. "Kak, jangan pergi dong!"rengek Mila. "Mama udah sehat, Mil."Jawab Renata. "Ya, gitu sih."Mila mengerucutkan bibirnya. "Mama udah sembuh. Kakak disini sampai Mama sembuh 'kan?"ucap Renata. "Iya, sih." "Kakak pergi dulu. Jaga Mama!"imbuh Renata. "Iya Kak,"jawab Mila pasrah. Renata keluar dari kamar Mila. Nampak Hani dan Reyhan ada di sofa ruang tamu. "Loh! Mau kemana, Ren?"tanya Hani heran. "Rena mau pulang, Ma."Jawab Renata. "Mau pulang ke rumah Reyhan?"pertanyaan Hani membuat Reyhan tak sabar mendengar jawaban istrinya. "Bukan, Ma. Rumah ibu,"jawab Renata, membuat Reyhan kecewa. Ia menghembuskan napas dengan kasar. "Hemmm, baiklah. Jaga kesehatan, ya! Makasih udah temenin Mama," "Iya Ma," Renata bersalaman dengan ibu mertuanya. Namun, saat ia ingin bersalaman dengan suaminya. Terlihat tatapan mengisyaratkan bahwa pria itu tidak ingin ia pergi untuk kedua kalinya. Akan tetapi, ia malah terus menatap Renata dan membisu. Renata mencium takzim tangan suaminya, tapi Reyhan tidak melepasnya. Hani yang mengetahui hal itu, bergegas berusaha untuk membiarkan putra dan menantunya untuk berdua. "Tolong lepas tangan Rena, Mas!"pinta Renata. Reyhan bukannya melepas Renata. Ia malah memeluk sang istri dan tak ingin melepasnya. "Jangan pergi!"lirihnya. "Bukankah Mas yang ingin Aku pergi? Bukankah Mas juga yang telah mengingkari janji dan menghancurkan kepercayaan Rena,"cecar Renata. "Maaf Ren!"ucap Reyhan lirih. "Apa dengan maaf , maka mudah untuk menghapus rasa sakitku. Mas gak pernah mau tahu apa yang Rena rasakan. Mas hanya mementingkan diri sendiri,"cecar Renata lagi. Ia melepas pelukan Reyhan dan duduk di atas sofa. "Kau bersikukuh untuk pisah. Apa karena Vino?"tanya Reyhan. Ia malah membahas orang lain, padahal ia yang salah. "Sudahlah, Rena malas berdebat dengan Mas. Menyalahkan orang lain tanpa sadar kesalahan sendiri,"tutur Rena kesal. Renata menyerahkan undangan Vino minggu lalu. Reyhan menatap penuh tanya, padahal belum melihat nama yang tertera disana. "Buka! Jangan menatapku seperti itu! Seolah Aku yang akan menikah,"cecar Renata kesal. Reyhan melihat nama dalam undangan yang elegan itu. Terlihat nama Vino, tapi dengan nama gadis lain. "Puas sekarang! Nuduh Aku yang tidak-tidak, Mas," Ucapan Renata membuat Reyhan membisu. "Jika sikap Mas seperti itu, jangan harap Rena kembali!"imbuhnya. Tanpa sadar Renata memberi harapan pada Reyhan. Renata pergi begitu saja. Sementara Reyhan tersenyum. Hatinya berbunga saat harapan itu ada. 'Aku tahu, Kau masih mencintaiku.' Batinnya. ------ Sore hari, Reyhan terus membujuk adiknya itu untuk menuruti keinginannya. "Ayolah, Mil! Bantu Kakak!"rengeknya. "Gak mau,"tolak Mila. "Kakak kasih uang jajan deh,"bujuknya. "Enggak mau," Mila masih menolak, karena kesal Renata masih tak merubah keputusan dan semua karena kakaknya itu. "Ayolah!" "Urus aja sendiri! Aku 'kan masih bocah." Jawab Mila. "Ish, kalo marah cantiknya ilang loh,"goda Reyhan. "Biarin,"ketus Mila. "Ayo dong!" "Ish, gak mau Kak Rey. Makanya jangan nyebelin! Kak Renata beneran pergi, baru tahu rasa." Ucap Mila jengkel pada kakaknya. "Iya-iya, Kakak salah. Tolong dong! kakak ipar Kamu 'kan sering curhat sama Kamu," "Hadeuh, gak kayak selingkuh bisa banget. Bikin hati istri luluh gak bisa,"protes Mila. Reyhan terdiam, kalimat itu menjadi tamparan keras baginya. "Kakak mau dia kembali, Mil,"ucapnya lirih. Pria itu menunduk lesu. Ia memang hampir menyerah, tapi itu akan membuat Renata pergi dan tak kembali. Mila yang melihat mata kakaknya mengembun pun akhirnya menyerah. "Ya udah, Mila bantu. Awas aja! kalau kak Renata balik lagi terus nyakitin dia lagi. Aku jadiin perkedel atau rolade,"ancamnya. "Sadis,"ucap Reyhan ketus. Mila terkekeh. Reyhan mendengarkan Mila dengan serius. Apapun yang terjadi, ia ingin membuat Renata kembali. ------- Pekerjaan kantor membuat Renata lelah dan memilih untuk bergegas pulang. Di parkiran mobil, terlihat Reyhan yang sedang berdiri di dekat mobilnya itu. Renata berusaha tenang dan berjalan ke arah mobilnya. "Kau terlihat lelah. Aku antar!"imbuh Reyhan saat mengenggam tangan Renata yang membuat langkah wanitanya itu terhenti. "Aku bawa mobil sendiri,"jawab Renata. "Sayang,"panggilnya menggoda. Dengan panggilan itu, biasanya Renata tersipu dan benar ia masih seperti itu. "Tidak perlu, Mas. Rena bisa sendiri." Ujar Renata. Ia malah salah tingkah. 'Di balik ketusmu itu, tidak ada yang berubah. Aku rindu Kamu, Renata,'batinnya lirih. "Ayolah!" "Tapi Mas...,"ucap Renata ingin menolak. Namun, Reyhan tidak ingin mendengar tolakan. Reyhan malah menarik lengan istrinya. Ia seperti magnet dan Renata mengikutinya begitu saja. "Bukannya Aku egois, Ren. Aku egois karena gak mau lepasin Kamu lagi,"ucap Reyhan, saat berada di samping kiri mobilnya. "Hemm," Reyhan membuka pintu dan istrinya masuk ke dalam mobil. Kemudian, Reyhan duduk di belakang kemudi. Namun, bukanya melajukan mobil. Ia malah menatap lekat manik mata istrinya. "Aku gak mau Kamu pergi lagi,"lirih Reyhan. Cup. Reyhan mengecup kening istrinya. Membuat pipi wanita itu merona dan jantungnya berdegup dengan cepat. "Beri Aku waktu untuk membuktikan bahwa Aku benar-benar mencintai mahasiswiku ini,"ucap Reyhan tersenyum. Ia mengingat hampir satu tahun juga mereka menikah. "Baiklah,"jawab Renata pasrah. Ia tersenyum simpul. "Istriku cantik, kalau tersenyum." Ucap Reyhan menggoda. Renata tersipu. Bunga-bunga yang hampir layu dalam taman hatinya seakan kembali segar. Ia memang tidak terlalu berharap dan membiarkan waktu yang menjawab semuanya. "Kita harus jalan 'kan, Mas?" "Ke rumah kita, ya!"rengek Reyhan. "Belum waktunya,"tukas Renata. Memang ia sangat sulit untuk dibujuk jika terlampau marah. Hal itu terjadi pada ayahnya juga 'kan? "Ke rumah kita ya, Sayang!"pintanya memelas. "Gombal mulu, lebay. Nanti ada mahasiswa atau mahasiswi Mas yang lihat, pasti di ledek di kampus. Mereka pasti bilang punya Dosen kok bucin,"celoteh Renata. "Ya, udah deh. Yang terpenting, Kamu gak menghindar lagi,"tutur Reyhan. Ia kembali mengecup pada pipi Renata. "Mas, ish."Ujar Renata yang tersipu. Senyumnya merekah, membuat Reyhan senang. Ia sangat merindukan istrinya itu, karena setiap mereka bertemu pasti akan ada pertengkaran yang terjadi. "Mas kangen Kamu."Ucapnya. Renata terdiam. Reyhan melajukan mobilnya menuju rumah mertua. Walau ia kecewa, tapi setidaknya Renata bisa memberi ia waktu untuk memperbaiki hubungan mereka yang di ambang perceraian. "Boleh minta nomornya!"ucap Reyhan. Membuat Renata mengingat masa sebelum mereka benar-benar saling mengenal. Meski sudah menikah, mereka tidak punya nomor masing-masing. Reyhan menyerahkan ponselnya. Kemudian beralih mengendalikan kembali kemudi. "Paswordnya apa, Mas?"tanya Renata. "Tanggal pernikahan kita, Ren." Jawabnya lembut. "Hemm, baiklah." Renata membuka kunci layar dan terpasang wajahnya di layar. Ia terdiam, tapi kemudian bergegas mengetik no ponsel, lalu mengembalikan ponsel itu kembali. "Kenapa?"tanya Reyhan heran. "Kok foto Rena dijadiin wallpaper,"ucap Renata heran. "Lah, 'kan Rena yang Mas kangenin. Masak foto tukang sayur yang di pasang,"celoteh Reyhan. "Iya-iya, ketularan deh. Bisa jawab sekarang," "Siapa dulu dong gurunya, Renata."Ujarnya. Reyhan tersenyum, begitu juga Renata. Mobil melaju dengan perlahan. Seolah enggan melaju dan mengakhiri moment mereka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD