Kembali Ke rumah

932 Words
Mobil berhenti di pelataran rumah Andri dan Reni. Reyhan membukakan pintu mobil untuk istri terkasihnya. Renata turun dan hanya menatap sekilas suaminya. "Kamu udah pulang, Nak?"tanya Reni yang keluar setelah mendengar suara mobil yang terparkir. "Iya, Ma." Jawab Renata. Kemudian, mencium takzim tangan ibunya. "Saya pamit dulu, Bu."Ucap Reyhan tanpa basa-basi. Ia merasa gugup bertemu mertuanya itu. "Jangan! Makan siang dulu, udah siang loh,"tutur Reni. "Tapi," "Mas, masuk dulu!" Renata pun mulai bicara. Pria itu pun mengangguk. Reyhan tampak gugup saat berada di dalam rumah. Selama ini, ia bersalah pada keluarga Renata. "Duduklah, Nak!"titah Reni. Ia menatap dengan isyarat pada Renata untuk mengambilkan Reyhan makanan yang tersaji di meja makan. "Gak usah, Ren!"tolak Reyhan, saat Renata hendak menyimpan piring berisi nasi dan lauk di hadapan Reyhan. Namun, tak dihiraukan oleh istrinya itu. "Ayah mana, Bu?"tanya Renata. "Tuh Ayah Kamu,"tunjuk Reni pada Andri yang baru turun dari tangga. "Ada Nak Reyhan rupanya,"ucap Andri tersenyum seperti tidak terjadi apapun. Reyhan merasa sangat gugup karenanya. Pikiran melayang, mungkin saja mertuanya itu merencanakan sesuatu. "Iya, Ayah."Jawab Reyhan. Andri pun duduk di tempat biasanya. Reyhan menunduk. Ia takut, jika sampai ada pertengkaran atau apapun itu. Namun, ia menerima konsekuensi karena telah menyakiti Renata. "Jadi, kapan kalian serumah lagi?'tanya Andri datar. Ia tahu mereka saling mencintai, tapi masih meninggikan ego masing-masing. Dua insan yang dimaksud terkesiap, bahkan hampir tersedak. Pertanyaan dari Andri benar-benar membuat mereka terkejut. "Kalau Rena mau maafin Reyhan, Yah."Jawab Reyhan. Ia menoleh ke arah Renata. "Kamu mau terus-terusan kayak gitu, Ren?"tanya Adri pada putrinya. "Rena...,"ucapannya terjeda. "Ibu mohon! Batalkan saja gugatan cerai itu, Nak! Jangan sampai Kamu menyesal! Ibu tahu kalian saling mencintai,"cecar Reni memotong ucapan putrinya. "Tapi Bu...," "Kamu itu masih mencintai Reyhan. Untuk apa seperti itu terus?"pungkas Reni. "I-iya, Bu. Reni bakal batalin,"jawab Renata pasrah. Bola mata Reyhan berbinar mendengarnya. "Tapi Rena gak jamin juga," "Ren, Kalian itu udah dewasa. Jangan plin-plan gitu. Kalian udah nikah, bukan pacaran,"ucap Reni menasehati. "Ibu mau Kamu pulang ke rumah Reyhan,"sambungnya. "Bu, Rena 'kan...,"ucapannya terjeda. Padahal ia ingin menolaknya. "Gak ada alasan lagi, Rena."Pungkas Andri. Renata tampak kesal. Sementara Reyhan tampak senang. Itu kesempatan untuk mereka kembali bersama. ***** "Mil, gimana dong supaya Renata balik?"tanya Reyhan bingung. "Pasti balik,"jawab Mila yakin. "Sok tahu,"ujar Reyhan ketus. "Pasti balik Kak. Itu kesempatan Kakak buat nyosor terus cari perhatian." Jelas Mila. "Kalian ngerencanain sesuatu? Kakak aja yang berusaha keras, dia masih marah juga,"cerocos Reyhan yang tidak percaya dengan ucapan adiknya itu. "Pokoknya kesempatan Kakak pas tinggal serumah lagi," ucap Mila yang melengos pergi meninggalkan Reyhan yang masih berpikir keras. ***** Dengan malas Renata membereskan barang-barangnya di kamar tamu. Ia terus menggerutu, karena kesalnya pada kedua orangtuanya. "Apa ini yang Mila maksud?"tanya Reyhan yang bicara sendiri. Ia melihat Renata kini berada di rumahnya, seperti sebuah mimpi baginya. "Mas bantu, Ren!"ucap Reyhan menawarkan diri. "Gak usah,"tolak Renata ketus. Reyhan tidak menggubris perkataan Renata. Ia membantu Renata dengan semangat, walau memang kamar mereka kembali terpisah. Usai berbenah, Renata pun memasak makanan dengan persediaan yang hanya beberapa macam makanan. 'Dasar cowok! Makanan yang ada cuman ini doang,'umpat Renata. "Aku bantu,"ujar Reyhan. Dengan cepat mengambil pisau. "Awww...,"rintih Reyhan. Jarinya berdarah karena pisau yang dipakainya. Sebenarnya, ia sengaja melakukannya demi perhatian Renata. "Makanya hati-hati! Ceroboh,"gerutu Renata. Wanita itu mengambil kotak pertolongan pertama. Kemudian, mengobati Reyhan. Meski perih, pria itu malah senang. Ia bisa menatap wajah Renata. "Bentar lagi bakal sembuh, kok." Ujar Reyhan. "Sembuh apanya? Berdarah gini,"protes Renata. "Yang sulit sembuh itu, luka yang gak berdarah." Jelas Reyhan. "Ya, Mas benar. Sulit banget buat sembuh, tapi gampang banget bikin lukanya,"sindir Renata. "Mas lebih senang kalau dipeluk Kamu,"goda Reyhan mencoba mengalihkan pembicaraan."Pasti cepat sembuh,"sambungnya. "Yang sakit tangan, tapi yang diobatin maunya dipeluk,"protes Renata. "Lebay,"sambungnya ketus. "Hemm,"Reyhan berdehem. "Baiklah, sekarang saja. Jangan peluk-peluk lagi!"omel Renata. "Iya gak bakal peluk lagi, kecuali khilap." Jawab Reyhan terkekeh. Renata menatap tajam suaminya, tapi kemudian mengalihkan pandangannya. Renata pun menghentikan aktivitasnya dan memilih duduk di kursi dengan wajah masam. "Makan di luar yuk! Mas lapar banget,"imbuh Reyhan. Perutnya keroncongan dan masakan tidak jadi dibuat gara-gara drama terkena pisau. "Gak mau, Mas aja sana!"tolak Renata. "Gemes deh, kalau lagi cemberut,"goda Reyhan. Tanpa bicara lagi, Reyhan menggenggam tangan Renata dan membuatnya berjalan setengah terseret. ------ Pengunjung Restorant begitu ramai, membuat Renata enggan untuk masuk kesana. Saat mereka hendak pergi, manik matanya menangkap sosok yang tidak ia sukai seperti terarah pada tempat itu. "Kita pulang aja,"ucap Renata ketus. "Loh, kok pulang?"tanya Reyhan heran. "Hemm, tempat ini yang biasa Naura kunjungi 'kan?" "I-iya sih, tapi 'kan dia udah pergi,"jawab Reyhan. "Pergi kemana? Ke langit ke tujuh,"ucap Renata ketus. "Kenapa bahas dia sih, Ren?"tanya Reyhan kesal. Baru saja mereka tidak bertengkar masalah Naura. "Tuh disana. Naura 'kan? Huh, kalian serasi sama-sama tukang bohong," Renata melengos pergi dengan diikuti Reyhan di belakangnya. Ia tetap menggengam tangan Renata, karena takut jika ia tidak mau ke mobilnya. "Mau kemana dong, Sayang?"tanya Reyhan yang mulai bingung, sedangkan perutnya keroncongan. "Bubur ayam aja,"jawab Renata. "Lah, itu tadi ada," "Gak mau, mau yang ada di deket kampus. Aku kangen buburnya."rengek Renata. "Tapi Sayang, tukang bubur 'kan banyak."Ujar Reyhan. Meski Renata seperti itu, ia sangat senang. Karena, jika Renata sangat marah dia tidak ingin bicara sama sekali. "Mau kesana, ih. No comment!"rengek Renata dan tidak menerima penolakan. "Kayak ngidam aja,"goda Reyhan. "Eith ngaco, kita udah pisah lima bulan. Aku gak ngidam,"tukas Renata. "Mau gak, ngidam?"tanya Reyhan dengan mata menggoda. "Kagak,"tolak Renata, tapi ia tersipu malu. "Ya udahlah, terserah Nyonya besar tercinta."Ucap Reyhan. Ia tersenyum pada istrinya. Mau tidak mau, ia harus menuruti kemauan Renata. Walau bagaimana pun, ia ingin memperbaiki semuanya. Renata mencabut gugatan di pengadilan. Reyhan tidak ingin kesempatan itu hilang begitu saja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD