Hari demi hari berlalu. Renata dan Reyhan seperti dulu. Hubungan mereka seolah di beri sebuah pembatas. Renata masih berusaha untuk kembali memperbaiki hubungan mereka. Namun, bayangan hadirnya Naura membuat ia tetap penuh keraguan untuk kembali memulai.
"Ren, kita harus ke rumah tante Vina,"ujar Reyhan yang menghampiri istrinya yang berada di sofa.
"Tante Vina, mamanya Vanya bukan Mas?"tanya Renata.
"Iya,"jawab Reyhan.
"Mas aja, Aku malas. Nanti banyak yang nanya kapan Aku hamil?"protes Renata.
"Ih, tinggal bilang aja lagi proses,"goda Reyhan.
"Proses kayak bikin barang aja,"ucap Renata ketus.
"Ya makanya jangan cuekin Mas terus biar cepet punya,"celoteh Reyhan.
Syuuut, sebuah bantal sofa mendarat di dekat Reyhan.
"Gak mau ah,"
"Beneran gak mau? Gak bakal nyesel,"goda Reyhan.
"Apaan sih? Udah Mas aja yang kesana! Bilang aja kalau Rena lagi gak enak badan atau apa kek,"ujar Renata.
"Ish, sama aja bohong dong,"ucap Reyhan. Ia mengerucut bibirnya.
"Emang Mas paling bisa ngebohong,"celetuk Reyhan.
"Hemm, iya Mas yang salah. Jangan bahas lagi dong!"
"Iya udah, nurut aja. Aku malas kesana sekarang ini,"ucap Renata.
"Acara syukuran Vanya mau nikah, Sayang. Beneran gak bakal ikut?"tutur Reyhan.
"What? Ish, Aku gak di telpon sih sama Vanya,"protesnya.
"Mas gak tahu. Siap-siap gih! Dandan yang cantik."imbuh Reyhan.
Setelah bersiap juga, Reyhan menunggu sang istri bersiap. Suara langkah Renata terdengar. Tampilan Renata membuat Reyhan takjub.
"Kenapa Mas? Aneh ya?"tanya Renata.
"Cantik Sayang,"puji Reyhan dengan memberi senyuman juga.
"Ya udah, yuk!"
Renata berjalan memakai gamis yang elegan. Reyhan tidak berhenti melirik istrinya itu.
"Tambah pengen meluk deh,"gumam Reyhan.
"Apa Mas?"tanya Renata.
"Enggak, itu Kamu bagus pake stelan gamis sama hijab,"jawab Reyhan. Ia takut istrinya mengomel, karena ia masih di beri jarak oleh Renata.
Dalam perjalanan Renata dan Reyhan masih terdiam. Hanya suara deru mobil yang terdengar.
"Vanya nikah sama Dion juga akhirnya. Syukurlah, mereka saling mencintai,"ucap Renata memecah keheningan.
"Kita juga saling mencintai 'kan?"
"Hemm, entah. Emang beneran saling cinta gitu?''
"Jadi, Kamu gak cinta Mas ya,"ujar Reyhan.
"Cinta mungkin. Tapi...belum ada bukti kuat supaya Rena tetap bertahan,"lirihnya.
Reyhan terdiam, ia pun kembali fokus pada kemudi. 'Aku harus lakukan hal itu,'umpat batin Reyhan. Ia memikirkan salah satu cara agar Renata percaya.
--------
Di rumah Vanya, tampak keluarga besar berkumpul. Mereka menatap Renata tak percaya. Istri Reyhan itu membuat orang lain kagum pada penampilannya. Renata menyalami keluarga Reyhan sembari melukiskan senyuman.
"Tante, Saya mau ke Vanya boleh?"tanya Vanya saat bersalaman dengan Vina.
"Boleh banget, Ren. Kamu 'kan sahabat karibnya. Udah lama gak ketemu juga 'kan?"tutur Vina. Renata mengangguk dan tersenyum. Ia berjalan meninggalkan kumpulan keluarga Reyhan itu.
Di kamar Vanya. Gadis itu tampak sangat cantik dengan makeup natural.
"Cantik banget, Nya."Puji Renata.
"Ish, Gue bukan nyokap Lo. Hemm, kemana aja selama ini? Gak ada kabar, bagai di telan bumi,"cerocos Vanya kesal.
"Gue punya urusan sendiri kali,"jawab Renata.
"Masih belum kelar masalah Lo sama Kak Rey,"Vanya menerka. Renata menjawab dengan anggukan.
"Ampun deh. Kalau pas pacaran sama Vino, Lo 'kan gak gini amat,"protes Vanya.
"Lah, dia 'kan selalu ngertiin Gue. Dia mau nikah juga."tutur Renata.
"Hemm, iya juga sih. Walau dua tahun LDRan, tapi dia bener-bener sayang sama perhatian sama Lo,"ucap Vanya. Ia sengaja seperti itu, saat melihat pantulan Reyhan di cermin.
"Lo masih sayang sama dia?"tanya Vanya. Ia pura-pura melihat yang lain. Sementara Renata tak menyadari kehadiran suaminya.
"Gue sayang sama suami Gue lah, Vanya."Ungkap Renata.
"Terus kenapa mau pisah, Nona?"tanya Vanya gemas.
"Gue mau dia bahagia dengan pilihannya,"ucap Renata lirih.
"Kalau pilihan Mas itu Kamu. Gimana, Ren?"tanya Reyhan. Sontak Renata menoleh pada sumber suara.
"Udah ah! Nanti di rumah kalian debatnya atau sampai perang pun gak masalah. Ayolah, ini menuju hari bahagia Gue."Celoteh Vanya. Mereka pun terdiam.
Acara pengajian lancar. Renata dan Reyhan pun pamit untuk pulang. Membuat beberapa orang menggoda mereka. Pada dasarnya, mereka tahu alasan Reyhan pulang dari Kairo. Mereka tahu pernikahan mereka adalah perjodohan, tapi mereka nampak senang dengan dekatnya sepasang suami istri itu. Termasuk ibu mertuanya yang juga datang bersama Mila. 'Semoga tidak ada perceraian diantara mereka,'batin Hani lirih. Ia tersenyum melihat anak dan menantunya bersama.
"Jawab pertanyaanku tadi, Ren!"titah Reyhan.
"Jawab apaan?"ucap Renata pura-pura tak tahu.
"Kalau yang Mas pilih itu Kamu, gimana?"tanya Reyhan lagi.
"Gak tahu,"jawab Renata.
"Ck, menyebalkan,"gerutu Reyhan. Renata yang melihat ekspresi wajahnya tersenyum geli.
---------
Pernikahan Vanya berlangsung di sebuah gedung. Vanya dan Dion sangatlah serasi. Gaun yang dipakai Vanya tampak anggun dan menawan.
"Selamat ya!"ucap Renata pada Vanya.
"Makasih, ya. Eh nanti kita punya anak main bareng dong,"goda Vanya. Renata melotot dan Reyhan tersenyum.
"Amiin,"ucap Reyhan mengaminkan, membuat Renata menyikutnya.
"Jangan lupa! Deketin terus Pak Dosen,"imbuh Dion dengan nada menggoda. Ya, mereka dan Sisil tahu masalah yang ditimbulkan Naura.
"Ish, Gue nyusul kapan?"tanya Sisil kesal.
"Lah, bukanya gebetan Lo banyak Sil?"tanya Renata.
"Masih seleksi, Ren."Jawab Sisil.
"Seleksi kayak mau olimpiade aja,"ucap Renata. Mereka berlima pun terkekeh.
Renata bergegas menjauh dari pelaminan. Tamu mulai banyak berdatangan. Ia lebih memilih bersama orangtuanya yang datang. Mereka sedang bersama ibu mertuanya dan entah membicarakan apa.
"Ibu sama Ayah malah disini. Mama juga,"ujar Renata heran.
"Kami udah lama gak ketemu, gara-gara kalian yang kayak Tom and Jery berantem terus,"celoteh Reni.
"Ih, kok nyalahin Rena sih. Tuh yang salahin mas Reyhan yang ketemu mantan terus,"
"Cemburu sih cemburu. Itu tandanya Kamu tetap sayang 'kan?"goda Reni.
"Apaan sih, Bu? Eh, Rena mau ke tante Vina,"ujar Renata. Ia tidak ingin terpojok lagi.
Dalam keramaian, Renata memilih sendiri. Ia menatap layar ponsel miliknya. Ponsel itu malah berdering dan menampilkan nama Reyhan disana.
"Iya, Mas."
[Pulang yuk! Kamu kayak capek,] ucap Reyhan dalam telpon. Padahal, jarak antara mereka tidaklah jauh.
"Iya Mas,"jawab Renata. Ia pun berjalan pergi meninggalkan tempat yang masih ramai.
Walau bagaimana pun Reyhan pernah sangat dekat dengan Renata. Ia mengetahui beberapa hal yang tidak disukai istrinya itu.
"Kapan kita berencana punya anak?"tanya Reyhan.
"Mas, ih. Tahu 'kan Renata lagi capek,"
"Ih, gitu amat jawabnya,"protesnya.
"Rena masih belum ngambil keputusan,"ucap Renata.
"Hemm, antara lanjut atau tidak ya?"
Mereka pun berakhir dengan saling diam dan berada dalam pikiran masing-masing.