Permintaan Maaf Naura

993 Words
Sebuah mobil terparkir di pelataran rumah. Reyhan bergegas keluar, karena ia mengetahui siapa pemilik mobil itu. Renata melihat sikap suaminya begitu heran. Ia yang penasaran pun mengikuti suaminya keluar. Sesampai diambang pintu, Renata urung meneruskan langkahnya. Ia menatap tak percaya siapa yang disambut oleh suaminya itu. "Naura,"lirih Renata. Ia membulatkan kedua matanya. Belumlah sembuh luka yang tertoreh, tapi Reyhan malah menambahkan lagi luka di hatinya."Kenapa Dia ada disini?"tanyanya bergumam. Renata tetap diam dan berusaha mendengar mereka bicara. "Hemm, sorry nunggu!"ucap Naura tersenyum. "Gak apa-apa kok,"jawab Reyhan terseyum simpul. Di dalam Renata mengepal tangannya. Walau bagaimanapun, rasa cemburu ada dalam hatinya. Wanita itu pernah menjadih separuh hati suaminya. "Berani sekali bawa Naura kesini,"umpat Renata kesal. Renata pun melangkah menjauh dari dua insan itu dengan amarah yang tertahan. Ia menutup pintu kamar dan menguncinya. ----- Sementara di luar sana. Naura memijakan kaki di rumah yang seharusnya menjadi miliknya saat ini. Pikirannya kembali ke masa itu. Masa dimana ia dan Reyhan bersama. ***** Reyhan memijakan kaki di teras rumah. Hari ini adalah hari dimana ia dan kekasih yang akan dia nikahi berada disana untuk melihat rumah yang diimpikan. Sebenarnya mereka menyempatkan datang, karena mereka sama-sama kuliah di Negara yang berbeda. "Gimana, Ra? Cantik gak rumahnya?"tanya Reyhan pada Naura. "Bagus Rey, Aku suka,"Ucap Naura. "Setelah kita kembali kesini. Kita akan menikah,"ujar Reyhan. "Iya Rey, Aku setuju." Jawab Naura semangat. Mereka akhirnya melihat rumah yang sangat nyaman itu. Meski perabotan masih belum lengkap. Naura sangat senang, karena Reyhan sudah mempersiapkan tempat tinggal terbaik untuknya. ***** Manusia hanya berencana, tapi semua yang terjadi adalah kehendak-Nya. Naura menatap pilu rumah yang kini ia datangi itu. "Desainnya bagus,"puji Naura. "Oh, udah di ubah atas kemauan Rena."Jawab Reyhan. "Andai saja,"lirih Naura. "Jangan berandai seperti itu, Ra. Kita harus menjalani kehidupan masing-masing,"tutur Reyhan yang mendengar lirih Naura. "Hemmm, Kau memang sangat cepat berpaling,"ucap Naura. "Maaf, Ra. Ke tujuan utama Kamu kesini aja! Jangan nostalgia!" "Padahal Aku bisa saja jadi istri kedua,"ujar Naura. "Maaf, Aku tidak ingin menyakiti istriku dan terlebih Aku sudah sangat mencintainya."Jelas Reyhan. Pria itu pun bergegas menuju kamar istrinya itu. Naura terpaku. Sikap Reyhan memang sudah berubah padanya. "Ren,"panggil Reyhan. Namun, tidak ada jawaban. "Sayang,"panggilnya lagi."Buka pintunya! Ada tamu,"sambungnya. "Itu tamu Mas, bukan tamuku,"teriak Renata dari dalam. Reyhan mulai menerka, bahwa istrinya sempat keluar dan melihatnya bersama Naura. "Naura ingin bicara sama Kamu."Ucap Reyhan. "Gak, Aku gak mau,"teriak Renata lagi."Mas aja sana!" "Kamu mau kita kayak gini terus?"tanya Reyhan."Please, Ren! Kali ini saja,"sambungnya. Renata membuka pintu. Kamar terlihat berantakan dan Reyhan paham jika kamar itu berantakan. Renata meluapkan amarah yang selama ini tertahan. "Sayang,"panggil Reyhan dengan lembut. "Apa? Sayang-sayang. Gak ada sayang-sayangan,"ucap Renata ketus. Walau terasa ada desiran dalam dadanya setiap mendengarnya. "Naura mau ketemu Kamu."Ucap Reyhan. "Tolong ya! Kali ini aja,"sambungnya memelas. "Mau izin jadi madu atau ceraikan Aku terus ngasih undangan,"cerocos Renata kesal. "Dia mau pamit ke Luar Negeri. Visanya baru selesai, Sayang."Ucap Reyhan. "Mau pergi, ya pergi aja. Gak usah pamit ke Rena!"ujar Renata ketus. "Ish, cemburu banget 'kan?"goda Reyhan. "Kagak,"tolak Renata. "Ayolah!"pinta Reyhan memelas. Ia ingin masalah mereka cepat selesai. "Sekali ini aja, biar Mas gak ngomong terus,"ujar Renata ketus. Reyhan mengangguk tanda setuju. Ia tersenyum dan menggenggam tangan istrinya. Dilihatnya mata sang istri memerah. Mungkin wanitanya itu sempat menangis. ----- Ketika turun dari tangga, Renata melihat seorang wanita berhijab di ruang tamu. Ia tersenyum pada Renata dan sang empunya hanya tersenyum terpaksa. Ia memang sangat cemburu sekaligus marah, jika mengingat mereka bersama di belakangnya. "Hai, Ren!''sapanya "Juga,"jawab Renata ketus. "Sayang," Reyhan berusaha membuat istrinya tenang. "Ren, Saya kesini...,"ucapannya terjeda. Renata menatap dengan sebal. "Ya, ada apa?"tanya Renata ketus. "Maaf, Saya sudah membuat masalah dalam keluargamu,"tutur Naura. "Ya Aku tahu, bahkan sering menjadi masalah dalam keluargaku." Jawab Renata. "Aku akan kembali ke Luar Negeri. Aku pun sadar, Ren. Aku tidak akan mungkin menjadi duri dalam hubungan kalian."Jelasnya. "Meski tadinya berharap jadi istrinya atau bahkan jadi maduku,"cecar Renata. Reyhan hanya terdiam. Naura memang menginginkan hal itu dan Reyhan terus menolaknya. "Ren,"Reyhan mencoba angkat bicara. "Kau pikir Aku anak kecil. Dari ekspresi wajahmu itu, Aku melihat Kau masih mengharapkannya. Dan ya barusan Aku mendengar Kau ingin menjadi yang kedua. Maafmu itu sama sekali tidak tulus,"cecar Renata menatap tajam wanita di hadapannya. "Pernikahan itu bukanlah permainan. Ah, Aku lupa, kalian pendidikannya tinggi dengan kuliah lebih elite daripada Aku,"ucapnya menyindir. "Untuk apa menasehati kalian,"sambungnya. "Reyhan sangat mencintaimu, Ren. Melebihi cintaku padanya. Aku ikhlas. Aku harap hubungan kalian baik-baik saja setelah ini,"tutur Naura. "Percayalah, Aku sudah tak mengganggunya lagi. Aku kesini, karena permintaan Mila. Aku tidak pernah menghubungi Reyhan,"sambung Naura. "Tidak mudah bagiku percaya. Bisa jadi ini hanya sandiwara, agar kalian lebih dekat."ucap Renata dengan menatap suaminya sinis. "Rena, Mas gak pernah hubungin Naura lagi,"tutur Reyhan. "Mas, Kau pikir Aku tidak tahu juga. Kalau Naura masih mengharapkanmu. Meskipun Kau menolak,"cecar Renata. "Kemarahanku bukan karena kali ini saja. Kau sudah sering menyakitiku dengan menghubungi bahkan bertemu dia di belakangku."sambungnya emosi. "Maafkan Mas, Ren!"ucap Reyhan. "Ish, mengapa kalian mudah meminta maaf,"gerutu Renata. "Ren, Aku beneran Mau pergi. Aku janji gak bakal ganggu hubungan kalian lagi,"ucap Naura. "Janji itu mudah ingkari, Naura."Ucap Renata dengan penekanan. "Kau bahkan tahu suamiku itu banyak ingkar janji, apalagi Kamu,"sambungnya. "Aku gak bakal ingkar, Ren,"ujar Naura. "Baiklah, terimakasih sudah sudah datang dan mengutarakan semuanya,"tutur Renata datar."Padahal tak diundang 'kan?"sambungnya menoleh pada pria yang ada disampingnya. Naura pamit pada Renata dan Reyhan. Renata masih memasang ekspresi dingin pada Naura. "Dia masih ngarep buat jadi istri, Mas. Kenapa kita gak cerai aja?"tanya Renata ketus. "Rena, Mas udah bilang 'kan?" "Bilang apa?"tanya Renata. "Sayang, udah dong ngambeknya!"rengek Reyhan. "Udah ah! Rena mau ke kamar, capek."Ucapnya. "Mas ikut boleh 'kan?"goda Reyhan. "Gak boleh, tunggu tahun depan,"ujar Renata. Tetap saja ia tak sadar, bahwa tahun depan hanya seminggu lagi. Reyhan malah cengengesan karena mengingat tahun depan yang hanya menghitung hari. "Janji ya," "Gak janji," "Pokoknya janji. Kalau gak, Mas paksa buka pintunya,"ancam Reyhan. "Bawel amat, Rena mau istirahat,"protes Renata. Reyhan tersenyum karena merasa harapannya akan terwujud. Ia tidak ingin hubungan mereka berakhir dengan perceraian.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD