Mukaku masih tampak kesal setelah para polisi itu selesai makan. Aku mengunyah nasi dengan kasar. Memakan semua sambal dan ikan lele goreng dengan beringas. Tidak menyangka jika polisi itu sengaja mengerjaiku saja.
'Eh tunggu dulu, kenapa aku musti marah-marah? Aku benar-benar salah kok. Bukankah aku memang tidak taat dengan peraturan lalu lintas. Wajar saja Polisi itu menilang.'
Kuhembuskan napas kasar. Berusaha sadar dan berpikir waras.
'Sudahlah, lupakan Laras, lupakan!'
Selesai makan siang kami kembali ke kantor. Saat itu suasana kantor sedang sepi, kami para sales sedang asik mengobrol dan bercanda. Tiba-tiba seseorang berdiri di depan pintu. Seorang pria dengan pakaian lusuh dan tubuh yang kotor mengucap salam. Ia memakai kaus yang sudah koyak di beberapa bagian. Celana pendek selutut yang penuh debu.
"Assalamu'alaikum, Mbak!" sapanya.
Kami semua menoleh ke depan. Biasanya jika orang lain langsung masuk dan melihat-lihat sepeda motor di dalam, tapi kali ini berbeda.
"Waalaikumsalam, Pak!" sahutku, sedangkan yang lain hanya diam, mereka memandang pria itu dengan pandangan risih.
Pria itu melepas sandal jepitnya di depan pintu, lalu tertunduk-tunduk masuk ke dalam. Ia tersenyum sopan sambil berdiri di samping meja kerjaku.
"Permisi, Mbak. Saya mau beli sepeda motor, bagaimana ya caranya?"
Sales lainnya masih memperhatikan bapak ini dari ujung rambut sampai ke ujung kaki. Aku tersenyum dan mempersilakan ia duduk.
"Mau beli sepeda motor apa, Pak?" tanyaku sambil mengulurkan brosur. "Silakan dilihat-lihat dulu," pintaku.
"Oh, iya. Terima kasih ya, Mbak."
Dengan seksama ia memperhatikan brosurnya. Jika dilihat sekilas dari pakaiannya, bapak ini terlihat seperti orang kurang waras. Padahal kenyataanya tidak seperti itu. Beberapa sales lapangan pergi menjauh, mereka terlihat risih dan jijik. Bahkan ada yang sampai menutup hidung. Aku hanya melirik sekilas sikap kurang terpuji mereka.
"Bagaimana, Pak?" tanyaku.
"Saya mau sepeda motor yang ini ya Mbak," katanya menunjuk salah satu sepeda motor dengan harga termurah.
"Baiklah, Pak. Mau kredit atau cash, Pak?" tanyaku sekali lagi.
"Sepertinya tabungan saya cukup kalau mau beli cash Mbak."
"Oke, Pak. Ini syarat-syaratnya ya, Pak."
"Kapan saya kasih syarat-syarat ini ke mbak?"
"Besok juga nggak apa-apa, Pak. Sekalian bawa uangnya."
"Baiklah, Mbak. Maaf merepotkan. Saya akan kembali lagi besok ya, Mbak!" katanya tertunduk-tunduk sopan.
Aku tersenyum dan mengangguk. Setelah itu Bapak itu pamit pulang. Aku memperhatikannya dari dalam, ia mengendarai sebuah becak. Setelah ia pergi, mulai beberapa orang berbisik. Ada yang menertawakan, ada yang mencemooh dan lain sebagainya. Apa yang salah dengan bapak itu. Ia sopan dan santun. Menurutku tidak ada yang perlu ditertawakan. Malah Sepertinya ia pribadi yang patut dicontoh. Selain ramah dan sopan, ia juga tidak mau berhutang dengan keterbatasan materi yang ia punya.
Status sosial. Timpang tindih dan ketidakadilan bagi orang-orang kurang mampu seperti ini sering kurasakan. Dicemooh, dikucilkan, bahkan tak digubris sama sekali saat di depan umum sudah biasa. Jadi ingat saat bapak mengantarku ke stasiun ketika aku duduk di kelas dua Sekolah Menengah Atas untuk berlibur ke rumah paman.
Di sana kami bertemu tetangga dari desa sebelah yang cukup kaya. Namanya Pak Solihin, juragan beras di kotaku. Bapak dan Pak Solihin duduk bersebelahan. Sangat terlihat wajah pak Solihin yang tidak bersahabat. Aku mengobrol dengan anaknya yang ramah dan cantik. Pakaiannya terlihat mahal dan wangi. Aku hanya memakai celana pendek dan kaus oblong ditambah sandal jepit. Minder? Tentu saja, kami sangat jauh berbeda. Tapi aku berusaha bersikap biasa saja, mengingat di hadapan Tuhan semua mahluk itu sama.
"Pak, apa kabar keluarga di rumah? Lama tidak main ke desa sebelah." Bapak memulai obrolan.
Pak Solihin hanya diam, tanpa menghiraukan. Apa salahnya menjawab pertanyaan dari bapakku. Toh itu tidak merugikannya. Aku menoleh saat Pak Solihin tak kunjung menjawab, lalu tersenyum samar saat menyadari orang itu bahkan tak berniat menjawab.
Sekejam inikah perlakuan sebagian manusia yang memiliki harta terhadap kami orang-orang yang tak memiliki kedudukan? Bapak masih saja mengajak ngobrol beberapa kali, tapi tetap saja tak digubris sama sekali. Tega sekali, aku mengalihkan pandangan dengan mulut berdecak, kesal.
Karena kesal semakin memuncak, aku mengajak Bapak pulang. Ia bertanya kenapa tidak menunggu sampai kereta datang, aku jawab saja sedang tidak ingin liburan. Padahal aslinya aku kesal dan dongkol melihatnya diperlakukan seperti itu. Hukum alam. Saat kau susah semua orang menjauhimu bagai kuman. Saat kau jaya semua orang datang padamu seperti seekor semut yang berebut gula.
***
Lima belas menit. Aku menunggu Mbak Gina keluar dari kamar mandi. Perutku sudah sakit sekali. Ngapain aja Mbak Gina di dalam sana? Mana sebentar lagi magrib, aku harus bersiap untuk shalat.
"Mbak! Masih lama? Perutku sakit nih Mbak, cepatan mandinya!" teriakku sambil menggedor-gedor pintu kamar mandi.
"Sabar, Dek. Mbak lagi luluran. Ih kamu bawel banget!"
Ish!
Aku mendengkus, kesal. Perutku makin melilit rasanya. Aku duduk memegang perut sambil meringis menahan sakit. Muka sudah pasti merah menahan rasa nano-nano di dalam sini.
"Mbak! Cepeett!" teriakku sekali lagi.
Tidak berapa lama Mbak Qory datang.
"Kamu kenapa, Dek?" tanyanya.
"Sakit perut Mbak!" sahutku sambil meringis.
Mbak Qory membantuku bicara dengan Mbak Gina supaya cepat membuka pintu.
"Mbak, mukanya udah merah nih. Nanti bisa-bisa dia BAB di sini. Kan repot Mbak!" kata Mbak Qory menahan tawa.
Aku meliriknya sinis. Perutku benar-benar sakit. Kenapa malah digodain seperti ini sih.
"Auhhh!" Aku meremas perut.
Wajahku penuh keringat sebesar biji jagung. Tidak berapa lama Mbak Gina keluar, langsung saja aku melesat masuk. Melihat tingkahku Mbak Gina hanya menggelengkan kepala.
"Ahhhh! Akhirnya, lega," ucapku setelah keluar dari kamar mandi.
Nampak Mbak Gina dan Mbak Qory cekikikan melihatku di sini. Aku melengos saat melintasi mereka berdua. Apanya yang lucu? Sampai di kamar aku langsung salat Magrib, setelahnya memeriksa hape, ternyata ada chat masuk. Sialnya lagi-lagi nomor yang tidak kukenal. Aku malas membukanya, jadi langsung saja kuhapus sekalian memblokir nomornya. Tidak berapa lama Mbak Qory masuk ke kamar.
"Dek, ada yang nyari kamu."
"Siapa?"
"Nggak tahu, itu nunggu di luar. Orangnya cakep sih!" Mbak Qory memainkan muka.
Aku mendengkus kesal, lalu meletakkan hape ke meja, setelah itu langsung keluar kamar untuk melihat siapa yang datang. Aku berhenti melangkah setelah sampai di depan pintu. Menatap wajah Kak Hans yang tersenyum ke arahku. Perasaan barusan kublokir nomor teleponnya, kenapa sudah ada di sini?
"Hay, Ras. Boleh bicara sebentar?"
"Mau ngomong apa?"
"Sebentar saja."
"10 menit."