Pak Polisi Sialan!

1178 Words
Malam itu aku merenung seorang diri di kamar. Apa hatiku terbuat dari batu, ya? Kenapa aku tidak pernah merasa suka sama seseorang yang bener-bener suka. Kalau pun ada cowok yang dekat. Itu hanya sekedar suka biasa saja nggak sampe yang gimana-gimana. "Woy!!" Mbak Qory mengagetkanku. Aku yang sedang melamun di meja belajar tersentak tiba-tiba. Meja belajar atau meja kerja, entahlah. Meja kayu berukuran sedang yang pernah dibuatkan Bapak dengan kayu dan papan seadanya untukku belajar saat duduk di kelas satu SMA. "Mbak, apaan sih!" Aku cemberut, sebal. "Kamu tuh melamun aja!" katanya sembari melipat mukena. Ia baru saja selesai shalat Isya. "Mbak, rasanya jatuh cinta dan suka sama seseorang itu beda, ya?" tanyaku yang dibalas senyum semringah oleh Mbak Qory. "Bedalah, Dek. Kalau suka itu perasaan yang wajar, kalau jatuh cinta itu spesial." "Mbak, pernah jatuh cinta?" Mbak Qory duduk di ujung ranjang. Tampak ia berpikir sambil menatap atap rumah. "Pernah." "Oh ya? Sama siapa?" "Kepo banget sih kamu!" Ia mentoyor kepalaku. "Cuma pengen tahu aja, Mbak." Mbak Qory begitu saja, menarik selimut dan tidur memunggungiku. Tanpa berniat menjawab pertanyaanku sedikitpun. Tidak berapa lama. Sreeekkk!! Suara hordeng kamar terbuka, muncul kepala Mbak Gina dari sana. "Dek, ada yang cari kamu." "Siapa, Mbak?" "Katanya namanya Hans." Hadehhh, kenapa sih dia musti datang. Aku menyambar jaket yang tergantung di balik pintu kemudian keluar, menemuinya. Ia duduk di kursi teras bersama seseorang. "Ra!" sapanya saat melihatku keluar. Aku hanya tersenyum dan duduk di sampingnya. Di teras rumah ini tersedia kursi plastik berwarna biru sebanyak empat buah dan meja persegi empat, meski pun warnanya sudah agak pudar, tapi masih kuat untuk diduduki. "Kak, tau rumah aku dari mana?" tanyaku setelah aku duduk disampingnya. "Dari temen. Jadi ini rumah kamu ya?" Kepalanya berputar-berputar memperhatikan sekitar. "Iya, beginilah keadaannya." Mungkin, dia heran melihat kondisi rumahku. Rumah dengan dinding separuh batu bata dan separuh papan. Lantainya bukan keramik seperti tetangga lainnya. Hanya lantai dengan semen berwarna hitam. Tak ada pagar besi. Yang ada hanya pagar yang terbuat dari bambu. Sehingga bisa leluasa menatap kendaraan yang berlalu lalang di depan rumah. Kak Hans hanya menganggukan kepala. Temannya di ujung sana, hanya diam bermain gawai. "Besok ketemuan, ya! Kamu minta apa aja nanti aku beliin, tenang aja." Aku melengos, gencar banget ngajakin ketemuan. "InshaAllah," sahutku datar sambil tersenyum samar. "Oh iya. Kamu tau Rini? Alumni SMA Negeri satu, yang terpilih sebagai putri kampus di Universitas ternama?" Aku berpikir sejenak, dulu saat masih SMA kami sering ketemu, tapi tidak terlalu akrab, dia gadis yang cantik, populer dan kaya. Anak petinggi polisi kalau tidak salah. "Iya, tau kak." "Itu mantan aku." "Ohh." Aku mengangguk. "Dia sampe sekarang ngajak balik, tapi aku nggak mau. Isi chatnya masih utuh nih, dia ngajak sama-sama lagi. Tapi entahlah, aku nggak suka cewek populer." Aku diam saja, hanya mengangguk beberapa kali. "Jadi, aku harap kamu tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Besok Kakak tunggu di tempat yang pernah Kakak sebutkan, ya!" "Oke!" hanya itu jawabanku. Kemudian ia pamit pulang, membawa mobil sedan berwarna merah. Lega, itu yang aku rasakan setelah ia pergi dari sini. Jujur, aku makin tak suka melihat tingkahnya. Gayanya sampe kemana-mana. Cepat aku masuk ke rumah dan menutup pintu. Kucari ponsel dan memblokir nomornya. *** Setelah malam itu, Kak Hans sempat datang ke kantor beberapa kali, tapi aku enggan menemui. Buat apa? Aku sudah terlanjur benci. Kalau pun dia kasih dunia beserta isinya, aku tidak akan tergoda. Aku tidak menyukai kesombongannya dan sampe kapan pun tidak akan pernah bisa suka sama dia. Di suatu siang saat aku sedang sibuk melayani konsumen, ponsel bergetar, ternyata ada SMS dari nomor tidak di kenal. "Permisi sebentar ya, Mbak. Ada SMS di ponsel saya," pamitku pada konsumen saat sedang asik menjelaskan masalah angsuran. "Baiklah, Mbak. Silakan, siapa tau penting!" sahutnya dan aku tersenyum. Aku merogoh tas dan memeriksa isi pesan. [Sok kecakepan, Lo! Aku bisa dapetin cewek lebih dari kamu. Baru segitu aja udah belagu. Dasar cewek miskin!] Woo woo woo, ini SMS dari siapa? Apa mungkin dari Kak Hans? Kenapa dia jadi sekasar ini? Ish!! Aku mengabaikannya. Malamnya di tengah malam, ponsel kembali berdering. Siapa yang menelepon di jam seperti ini? Aku pikir bisa jadi Bapak atau Ibu yang nelepon karena suatu hal. Masih agak mengantuk aku mengangkatnya. "Iya, Assalamu'alaikum .... " Suaranya sedikit berbisik, tidak begitu jelas. Apa mungkin karena aku belum sadar 100℅ . Aku beringsut duduk dan menghidupkan lampu. Mencoba mencermati dan mendengar kalimat dari seberang sana. "Kamu itu cewek paling belagu yang pernah aku kenal. Aku tau kamu siapa, kamu sering gonta-ganti pacar. Kamu cuma melorotin uangnya. Kamu minta bayar berapa pun aku bayar. Berapa hargamu semalam? 5 juta? 10 juta? Aku masih mampu membayarmu." 'Ahh!' Aku meremas kepala, sebal. Langsung kumatikan telepon dan memblokir nomornya. Sialnya orang itu selalu mengirim pesan yang sama, lagi dan lagi. Sampai aku benar-benar jenuh dan memutuskan ganti nomor. Pagi itu saat aku sedang berada di kantor, Mas Haris uring-uringan. "Kenapa sih mesti ganti nomor? Semua konsumen taunya nomor itu. Kamu musti mulai dari awal kalau gini. Ahhh!" Mas Haris kesal, tapi tak tampak muka kesal. Mukanya kesal nggak kesal sama saja. Masih cakep juga. Aku hanya berdiri mematung dihadapannya. Sok merasa bersalah, padahal takut sedikitpun tidak mendengar ia marah. Pura-pura saja. "Mas ngomong didengerin nggak?" "Denger, Mas." "Ngomong apa kek, diem aja. Kenapa musti ganti nomor coba mas tanya?" "Mau ganti aja Mas!" "Haduh, pengen kupites anak ini." Dia makin terlihat uring-uringan, aku hanya mengulum senyum. Beberapa admin melintas di ruangan Mas Haris, lalu menyembulkan kepala dari pintu dan berteriak. "Mas, anaknya jangan dimarahin. Kasihan loh!" Kemudian mereka ngakak berjamaah dan berlalu pergi untuk makan siang, sedangkan Mas Haris hanya diam dengan muka yang tetap terlihat tampan. Ya, umurku masih 18 tahun dan aku paling muda di kantor ini sehingga banyak orang memperlakukanku masih seperti anak-anak. "Ya sudah, sana makan siang dulu!" perintahnya setelah ngomel panjang kali lebar kali tinggi. "Mas, nggak barengan aja?" "Males! Makan sendiri sana!" katanya kembali duduk di kursi meja kerjanya. Tidak berapa lama datang Kak Rayn, jabatannya sebagai survey di sini. Ia berdiri dengan tubuh miring bersandar pada dinding. Setelah Mas Haris memarahiku ia mendekat, mengacak pucuk kepalaku dan berkata. "Makan sama Kakak aja, Mas Haris lagi sebel tuh!" Katanya melirik ke arah Mas Haris sambil tersenyum, sedangkan Mas Haris sudah kembali sibuk dengan laptop di hadapan. Aku menurut meninggalkan Mas Haris begitu saja. *** "Pecel lelenya dua, Mbak!" teriak Kak Rayn. Kami duduk di bagian paling belakang. Saat masih asik mengobrol datang beberapa orang. Aku tidak melihat siapa, karena posisiku menghadap ke dinding belakang. "Pecel lelenya tiga, Mbak!" teriak orang itu. "Jadi, kamu nilang cewek itu di depan Bank?" tanya seseorang. Kok seperti kisahku, ya? Aku mulai menguping. "Iya, sebenernya lagi nggak tugas. Itu lagi jemput temen, sekalian mau balikin mobil ke kantor!" 'Apa? Jadi dia lagi nggak tugas waktu itu. Kerajinan banget nilang aku!' Aku sebel. "Eh, tapi lucu loh liat muka itu cewek. Kalau inget aku masih pengen ketawa. Coba deh kalian ada di sana kan bisa fotoin muka juteknya buat nakutin tikus di rumah! Hahahah!" 'What!' Mulutku terbuka lebar dengan mata melotot. 'Polisinya kok sialan ya?!'
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD