Buaya Darat!

1080 Words
Hari ini aku datang ke kantor polisi untuk mengurus sepeda motor yang kena tilang ditemani seorang teman. Sepulang dari kantor polisi kami makan siang. Setelahnya langsung kembali ke kantor untuk bekerja. Konsumen lumayan sepi hari ini. Aku hanya mengayun-ayunkan kaki di bawah meja sambil bermain ponsel. Sesekali aku tersenyum membaca banyaknya chat masuk dari para p****************g yang mengajak kenalan, ngajak jalan, bahkan ada yang sampe ngajak berhubungan badan. Asem memang, mereka pikir aku gadis apaan? Tiba-tiba pandanganku tertuju pada sebuah chat dari Kak Hans yang terlewatkan. Pagi ini jam 07.30 [Ra, aku sudah tahu rumah kamu. Nanti malam aku main, ya!] Kuputuskan tidak membalas. Kemudian ada SMS dari Kak Tian. [Yank, nanti aku jemput jam berapa?] Aku menimbang-nimpang gawai, balas apa nggak, ya? Oke kuputuskan membalas. [Nggak usah, Kak. Aku bawa motor kok.] [Loh, tadi pagi kan aku yang nganter kamu.] [Iya, sepeda motor aku ditilang polisi kemaren. Baru aku ambil hari ini.] [Ya udah ke kantor, ya!] [Ngapain?] [Main aja.] Setelah cukup lama diam, aku membalasnya. [InsyaAllah, ya!] Tak ada balasan, kuputuskan menyimpan gawai dalam tas. Tidak berapa lama ada konsumen ingin membeli sepeda motor secara cash. Aku melayaninya, setelah untuk membayar dan menghitung jumlah uang, aku mengajaknya naik ke lantai dua pada Mbak Wiwit untuk menyetorkan uang. Di atas para mbak-mbak administrasi terlihat sibuk. Rata-rata mereka berasal dari luar kota. Pakaian mereka seksi-seksi, ada yang berambut pirang, ada yang berambut hitam pekat bahkan ada yang berambut cepak. Seperti itulah, jika melihat mereka dari luar dan sekilas, mereka memang nampak seperti gadis-gadis nakal. Tapi, kenyataannya mereka itu baik-baik semua. Mereka rajin shalat, baik dan ramah. Keluar Mbak Wiwit dari sebuah ruangan. Mukanya masih basah, habis shalat sepertinya. "Kenapa, Dek?" tanyanya karena aku sedang duduk di depan kursinya. "Ada yang beli motor cash, Mbak." "Oh." Ia duduk di kursi kerjanya, kemudian mulai mengutak-atik komputernya. "Udah shalat belum?" tanyanya padaku. "Kebetulan lagi nggak shalat, Mbak." "Lagi dapet, ya?" tanyanya, tapi mata masih fokus ke komputer. Aku hanya nyengir kuda. Mbak Wiwit nampak sibuk membubuhkan beberapa tanda tangan di sebuah kertas, kemudian tersenyum dan menatapku. " "Jadi totalnya segini, Dek," katanya menunjukkan angka pada lembaran kertas. Aku langsung mengangsurkan segepok uang berwarna merah milik konsumen yang duduk di sebelahku. Setelah selesai kami langsung turun ke bawah. Motor langsung dibawa oleh konsumennya. Sorenya aku pulang pukul 16.30, langsung ke gedung di mana Mbak Qory bekerja. Aku datang ke sana karena undangan dari Kak Tian, yang meminta aku datang. Sampai di sana, sepeda motor kuparkir di parkiran. Terlihat Mbak Qory sedang duduk di depan, menunggu pelanggan. "Jemput Mbak, ya?" tanyanya. "Mbak kan bawa motor sendiri!" sahutku. "Jadi ngapain?" "Nggak tau, mampir bentar doang, Kak Tian yang minta." "Oh... " Mbak Qory menoleh ke kanan-kiri kemudian berbisik. "Awas, kena rayuan maut, ya! Mbak bakal marah banget kalau kamu ngapa-ngapain di dalem." "Ihh, nggak bakalan, mbak! Sujojon aja sih!" Aku mendengkus, tertawa. Matanya menyipit menatapku, curiga. Aku makin tertawa. Kemudian memutuskan masuk ke dalam. Mbak Qory masih mengawasi gerak-gerikku dengan seksama, untunglah ada konsumen datang, sehingga ia bisa mengacuhkanku. Sampai di depan ruangan Kak Tian aku mendorong pintu kaca perlahan. Terlihat Kak Tian tersenyum manis padaku. "Udah dateng ternyata, kirain nggak mau," kata Kak Tian. "Berhubung di sini ada Mbak Qory, nggak apa-apa lah mampir sebentar. Eh ini udah sore loh Kak. Nyuruh ke sini mau ngapain sih?" tanyaku sambil melihat-lihat meja kerjanya. "Cuma mau liat kamu aja, nggak boleh?" Ia menekan tombol AC. Kemudian menyandarkan punggung pada kursi. Aku duduk di hadapannya. "Tadi pagi baru juga ketemu," sahutku santai. "Udah kangen aja sih!" Aku hanya tersenyum mendengar rayuan mautnya. Baru saja ia ingin mendekat, ponselnya tiba-tiba berdering, ia melihat ponselnya dan ijin menjauh dariku. Aku mengangguk, tanda setuju. Setelah dia keluar. Ada sesuatu yang menarik perhatianku. Sebuah bingkai foto berdiri tegak di mejanya. Aku meraihnya dan menatap. Foto seorang perempuan berambut panjang, putih banget kayak kapas. Berlisung pipi, bermata sipit dan pipinya cuby. 'cantik!' gumamku. "Yank, kamu liat apa?" tanya Kak Tian yang tiba-tiba datang. "Apa?" Aku balik bertanya, sambil kembali meletakkan foto ke tempat semula. "Ini siapa?" tanyaku santai. "Pacar?" "Ehhh, itu, itu ... " "Nggak apa-apa kali, Kak. Santai aja karena aku juga punya temen deket selain kakak." Mukanya memerah. "Jadi kamu? Duain aku?" "Dua in? Bukan aku, kakak yang duain cewek ini. Kasian tau!" kataku tersenyum. Dia menggaruk kepala, gelisah. "Kak, kasihan sama cewek ini. Aku sih nggak apa-apa, tapi bagaimana dengan dia? Sudah berapa lama pacaran?" tanyaku serius. Ia jalan mendekat, memegang kedua tanganku. "Ra, aku janji bakal cari cara biar nggak ketauan." "Kak, aku tanya hubungan kalian sudah berapa lama? Bertahun-tahun, ya? Jangan-jangan kalian sudah ... emm, nggak perlu dijelasin Kakak udah tau pasti ya! Ih kalau aku jadi cewek itu pasti bakal sedih benget." Aku melihatnya, menyelidik. Ia semakin salah tingkah, melepas tanganku dan duduk di tempatnya semula. "Kak, kasihan loh anak orang." Sekali lagi aku mengingatkan. "Tapi aku suka sama kamu." "Kakak mau lepasin dia, apa sudah yakin kalau aku setia?" Dia makin bimbang. "Jangan lepasin berlian hanya demi sesuatu yang kakak anggap lebih berharga, padahal belum tentu. Aku masih abu-abu loh! Kakak nyesel kalau kehilangan dia. Yakin deh!" "Ra, kok kamu malah ngomong gitu?" "Karena dia lebih butuh Kakak di banding aku, liat nih mukanya cantik banget, manis banget, sayang tau kalau di sia-sia kan, apalagi sudah diapa-apa kan, kakak nggak takut karma? Nanti kalau salah satu keluarga kakak diperlakukan seperti dia, apa kakak mau? " Mendadak Kak Tian menatap, tajam. "Kamu nyumpahin?" "Nggak!" "Terus?" "Ngingetin aja." Dia diam. "Ya udah aku pulang ya! Kayaknya mbak Qory udah siap-siap mau pulang juga. Maaf, kita putus." Aku berdiri dan berjalan keluar. "Ra!" panggilnya saat aku membuka pintu kaca ruangannya. Aku menghentikan langkah, ia terus saja menatap, setelah cukup lama ia berucap. "Kamu benar, makasih!" Aku tersenyum dan membuka pintu kaca, setelahnya pulang bersama Mbak Qory tanpa mengatakan apa-apa. Baru juga jadian, sudah putus saja. Aku pikir dia setia, ternyata setiap kota ada. Dasar lelaki kaya, buaya darat! "Loh, Ras. Nggak pamit dulu sama Pak Tian?" tanya Mbak Qory saat aku mengajaknya pulang. "Udah, Mbak." "Biasanya dia keluar anterin kamu pulang sampe ke depan." "Kami .... " Hening. Mbak Qory menatapku dengan dahi mengerut. "Putus!" "Ya ampun, Ras. Putus lagi? Baru juga jadian." Aku hanya tersenyum. Karena baru saja bulan kemarin aku memutuskan Mas Bambang yang seorang tentara dan pada saat itu juga aku sedang PDKT dengan Kak Tian. Tahu sebabnya apa? Biasa, Mas Bambang yang kalem dan aku pikir berbeda, ternyata sama. Dia juga ... mesum!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD