Selamat Membaca!!
Laras menimang - nimang ponsel nya sendiri, tubuhnya terus mondar -mandir mengelilingi meja bundar dengan kursi yang di duduki Nona.
Nona meletakan secangkir kopi yang tengah ia minum, meletakkannya kembali di atas meja sambil melihat kearah piring makan siang Laras yang masih utuh.
"Kak. Makan" Ujar Nona menunjuk - nunjuk piring milik Laras.
Laras diam tidak menyahuti perkataan Nona, Laras masih mondar - mandir masih menimang - nimang Ponsel seraya berdecak berulang kali.
"Kak. Sampai kapan? Ayo makan." Ucap Non mulai jengah melihat Kakaknya hanya diam saja.
Nona masih mengajak Laras untuk makan siang namun Laras tetap diam menatap layar ponsel seraya sesekali kedua kaki nya menghentak - hentak ke lantai.
"Apa mereka melakukan nya?" Tanya Laras pada Nona, suara Laras terdengar Lirih dengan kedua mata berkaca - kaca.
"Tidak. Aku yakin!"
Nona menjawab seyakin mungkin agar Laras bisa merasa lega meski dalam lubuk hatinya Nona juga sama mempunyai rasa cemas karena Bayangan buruk juga sama menghantuinya.
Nona harus bisa bersikap setenang mungkin agar Laras juga bisa bersikap seperti Nona. Nona tidak bisa melihat Laras cemas dan tidak mau makan.
"Sekarang Kakak makan yah. Setelah itu kita jalan - jalan lagi."
Nona menuntun lengan Laras agar duduk dan melahap makanan nya, meski Laras kekeh menolak namun dengan segenap rayuan gombal yang Nona keluarkan akhir nya Laras mau memakan makanan nya.
"Sedang apa mereka?"
Laras bergumam meletakan segelas air putih di atas meja seraya memejam kan kedua matanya, Laras ingin menerka - nerka apa saja yang Fahri dan Fiya lakukan di sana.
Semakin Laras mencoba menerka -nerka semakin panas pula perasaan nya, Laras tidak bisa berbohong meski tubuhnya berada di sini bersama Nona namun pikiran dan perasaan nya masih tertinggal di sana.
Laras meraih ponsel nya mencari kontak suaminya, Laras mencoba menghubungi Fahri namun tidak bisa tersambung, berulang kali Laras mencoba namun berulang kali juga Laras tidak bisa menghubungi Fahri.
"Kak ...." Panggil Nona.
"Iya."
Laras mengangguk mengerti melihat Nona yang sudah pergi dengan memberikan isyarat bahwa Nona akan ke toilet sebentar.
"Aargh. Sial!"
Laras menggeram Kesal membanting ponsel nya di lantai, ia meraih segelas air menengguk nya hingga habis.
Amarah Laras kian menjadi - jadi merasakan sesuatu yang ada di bayangan nya pasti sudah terjadi. Laras tidak kuasa menahan tangis yang sudah sejak kemarin ia tahan, rasanya d**a nya sesak kepalanya Pusing.
"Kenapa? Apa kau baik - baik saja?"
Laras mengagguk Lemah, wajah nya masih Laras sembunyikan di balik lipatan tangan yang berada di atas meja.
"Apa kau sakit?"
Laras menangis sesenggukan melimpahkan rasa sesak yang memenuhi dadanya. Laras sama sekali tidak perduli dengan orang sekitar, Laras juga sama sekali tidak perduli dengan orang yang saat ini berada di samping nya.
"Apa ada masalah?"
Orang itu bertanya pada Laras seraya mengusap lembut Rambut Laras yang tergerai, berusaha mencoba untuk menenangkan.
"Bangun lah. Kau bisa malu di lihat semua orang."
Laras mendongak kan wajah nya yang basah menatap seorang laki - laki yang ada disampingnya. Laki - laki itu berdiri tegap masih menatap Laras.
"Ayo"
Laki - laki itu menarik tangan Laras mengajak Laras keluar dari restauran, Laras hanya diam tidak menolak apa lagi memaki laki - laki itu.
"Masuk lah" Ujarnya seraya membukakan pintu kamar hotel untuk Laras.
"Kau?"
"Alang. Nama saya Alang." kata nya memperkanal kan diri.
Laras masuk kesalah satu kamar hotel bersama Alang -- laki - laki yang baru saja tadi Laras kenal.
"Tidak usah takut saya bukan orang jahat." Kata nya sambil melihat kearah Laras yang masih berdiri didepan pintu yang sudah terbuka.
Laras akhirnya melangkah masuk kedalam kamar hotel Alang seraya mengusap wajah nya yang basah akibat tadi menangis.
"Silahkan duduk." Alang mempersilahkan Laras agar duduk disalah satu sofa yang ada dikamar ini.
"Terimakasih."
"Oh yah. Nama mu?"
"Laras" Laras mengenalkan diri nya pada Alang kemudian Laras duduk di sofa merah dekat televisi.
"Nama yang cantik. Hm apa ada masalah?" Tanya Alang hati - hati.
Alang bertanya pada Laras seraya duduk didekat Laras, ia mengambil air putih lalu diletakannya diatas meja.
"Hanya ada masalah sedikit."
"Masalah? Masalah apa?" Tanya Alang pelan.
"Suami."
Alang mengerinyit bingung mendengar Laras menyebutkan kata suami yang sedikit mengganggu fikiran Alang.
"Oh. Ku kira kau masih gadis." Alang menggaruk kepalanya sendiri merasa malu karena salah mengira.
Laras menatap Alang dengan tatapan yang sulit di artikan, mencoba menerka maksud dari perkataan Alang tadi.
"Maksud mu?" Tanya Laras bingung.
"Ah tidak ada. Emm Apa Dia selingkuh?" Tanya Alang sedikit Penasaran.
Laras menggeleng Lemah diraih nya segelas air lalu Laras minum hingga habis.
"Lantas?"
"Dia menikah lagi."
"Oh!"
"Dia Pergi untuk memeriksa perkebunan dan entah lah dia pulang membawa oleh - oleh istri muda"
Tidak terasa Laras menceritakan awal mula Fahri pergi hingga pulang membawa Fiya. Air mata Laras jatuh kembali meluruh membasahi wajah nya ketika membayangkan keterkejutan nya waktu itu.
"Dia janji kepada Ku akan menceraikan wanita itu jika sudah enam bulan menikah. Namun sekarang mereka berlibur berdua"
"Dan kau memilih lari dan menyembunyikan sakit mu ditempat ini?"
Laras mengangguk, benar yang Alang katakan ia lari dari semuanya mencoba untuk melupakan ingatannya tentang Fiya dan Fahri.
Alang meraih wajah Laras yang basah akibat menangis di usap nya pelan wajah Laras.
"Yakin lah bahwa ada pria baik yang sudi menunggu wanita yang baik untuk nya." Alang menghelan napas.
"Sabar memang melelahkan namun akan ada masa Indah yang akan kamu rasakan ketika sabar itu berakhir."
Alang mengecup kening Laras dalam berusaha untuk menghapus semua sesak yang saat ini tengah Laras rasakan. Bibir Alang turun mencium kedua pipi Laras secara bergantian, berusaha menghapus jejak air mata yang masih saja meluruh.
Alang tidak tau mengapa ia bisa berbuat seperti ini kepada seorang perempuan. Namun melihat Laras dan tangisnya membuat Alang tidak bisa untuk menahan dirinya.
Kedua mata Laras terpejam dengan kedua tangan Laras lingkarkan di leher Alang. Laras tidak tau apa yang tengah Ia lakukan yang Laras tau hanya sakit dan sesak yang semakin menyiksa nya.
"Boleh?"
Laras mengangguk menarik kaos yang di kenakan Alang agar laki - laki itu semakin merapatkan tubuh nya. Pelan Alang Menempel kan bibir nya di tepi bibir Laras menghisap bibir bawah Laras seraya mengigit kecil di sana.
Laras diam sejenak menarik napasnya dalam - dalam kemudian Laras membalas ciuman Alang. Laras mengecup mencecap bibir Alang secera bergantian begitu pun Alang yang dengan bibir terbuka membalas setiap lumatan Laras.
Alang memeluk tubuh Laras membawa Laras berbaring di atas sofa. Alang menelusupkan wajahnya di sela - sela leher putih Laras mencium nya hingga menghisap di sana.
Laras mendesah merasakan seluruh tubuh nya mulai teraliri keringat, Laras sama sekali tidak mengerti tubuh dan fkiran nya sama sekali tidak menolak permainan Alang, Laras justru menerimanya. Menerima dengan hati yang sakit dan perasaan hancur.
Laras sakit hati, Laras tidak bisa menahan sesak nya di madu, ia tidak bisa membayangkan suami yang paling Laras cinta bersama Wanita Lain.
Laras benar - benar lupa dengan siapa ia sekarang yang ada difikran dan Bayangan nya hanya kebersamaan Fahri dengan Fiya.
Kedua mata Laras terbuka menatap wajah Alang yang saat ini tepat berada di hadapan nya. Laras tau itu Alang --- laki - laki yang baru ia Kenal satu jam ini. Laras tau pria yang ada di atas nya bukan suaminya --- Fahri namun rasa sakit hatinya yang sangat perih membuat Laras mengangguk kan kepala.
"Bila kau ingin berhenti bicara lah." Bisik Alang.
Alang kembali mencium bibir Laras membantu Laras melupakan semuanya, melupakan rasa sakit nya, melupakan kepedihan nya dan mencoba mengikis rasa sesak nya.
Laras baru saja keluar dari kamar hotel yang tiga jam lalu menjadi penghilang rasa sesak nya, senyuman manis tercetak jelas di wajah Laras, senyuman itu seolah menjadi pertanda bahwa Laras mulai menghilangkan kesedihan nya.
"Dia tampan namun jauh lebih tampan Fahri" gumamnya dalam hati.
Laras berjalan anggun menjauh dari hotel itu untuk mencari keberadaan Nona, selama hampir tiga jam Laras meninggalkan Nona dan sudah Laras Pastikan betapa panik nya Nona.
"Kau Dari mana saja Kak?!"
Pekik Nona yang melihat Laras baru sampai di hotel tempat mereka menginap. Laras hanya tersenyum menyambut pekikan suara Nona yang sedikit cempreng namun menggemaskan.
"Habis bersenang - senang"
Laras menjawab Tanpa memperdulikan tatapan Nona yang seolah terkejut dengan jawaban nya.
"Jangan bilang kau?"
"Yap. Seorang Pria gagah dan Tampan dan Lihat ini hasil karyanya"
Laras menjawab dengan senyuman yang berseri - seri mengibaskan rambut nya yang tergerai memperlihatkan Pada Nona banyak sisa kecupan di leher nya.
"Kau? Astaga kak Laras"
Nona berteriak nyaring tidak kuasa menahan kekesalan nya pada Laras.
"Aargh. Bodoh!"
"Ini bukan bodoh! Ini hanya sekedar membuang kejenuhan De"