"Kita harus main halus Kak. Jangan sampai Kak Laras berbuat nekat yang mengakibatkan Fahri menjadi berbalik membenci Kakak."
"Kakak harus tahan emosi melihat wanita liar itu menggoda suami Kakak. Aku lumayan tau mengenai Fiya jadi yakin lah Kak semua ini akan berhasil."
"Tunjukan kelemahan mu tapi Ingat jangan tunjukan keaslian mu"
Laras tersenyum sumringah mengingat - ingat kembali nasihat Adiknya --- Nona yang membuat Laras seolah tau bagaimana cara mengusir duri kecil dalam hubungan rumah tangganya.
Laras bukan wanita bodoh yang hanya diam melihat suami pergi liburan dengan wanita lain, apa lagi membiarkan wanita itu tidur satu ranjang dengan Fahri. Namun Laras tau bagaimana cara menempatkan dirinya dalam situasi Aman.
Laras tau betul bagaimana cara mengusir Fiya dari kehidupan nya tidak dengan kekerasan, apa lagi tindakan nekat yang akan menjadi bumerang terhadap dirinya sendiri, tapi dengan cara halus yang di ajarkan Nona ---- Adik nya agar bisa membuat Fiya sadar akan tempat dan posisi nya.
"Benar tidak apa - apa Kak?"
Nona bertanya pada Laras seraya berjalan pelan memasuki bandara. Laras menoleh kemudian Tersenyum kearah Adik nya.
"Yakin Na. Aku tau betul bagaimana Mas Fahri." sahut Laras sesantai mungkin.
Laras berjalan anggun memasuki pesawat bersama Nona untuk meninggalkan Bali tempat suami dan madunya tengah liburan.
Laras yakin seyakin - yakin nya bahwa suaminya Fahri tidak akan berbuat sesuatu yang akan membuat Laras sakit hati.
"Aku juga tau betul sifat Fiya. Dia bukan tipikal wanita penggoda."
Nona berkata pada Laras seraya menerawang sifat Fiya yang sudah Nona kenal, ia lumayan tau mengenai Fiya mengingat Fiya Itu Mantan teman nya.
"Kita akan Pulang? Atau?" Tanya Non menggantung.
"Seperti nya singapore cocok untuk Kita!"
Nona tersenyum sumringah mendengar jawaban Laras yang sesuai dengan dugaan nya, Laras memang kakak yang mengerti akan kemauan adik nya.
"Suami liburan Kita juga liburan!"
Laras tertawa mendengar Ucapan Nona yang sedikit menggelitik meski didalam lubuk hati Laras masih ada rasa tidak nyaman, ketika bayangan wajah Fahri bersama Fiya namun sekeras mungkin Laras meyakin kan diri bahwa Fiya dan Fahri tidak akan bisa berbuat sesuatu yang diluar dugaan Laras.
"Aku yakin akan dirimu, Mas."
Laras bergumam pelan dihatinya berharap akan keyakinan nya tidak salah. Laras sudah berusaha membuat Fahri untuk mengerti perasaan nya dan harapannya cuma satu Laras tidak ingin bayangan yang ada di kepala nya sampai Fahri lakukan.
Laras sudah berusaha bermain sehalus mungkin untuk menyingkirkan Fiya dan kalau pun ini gagal Laras harus berani bertindak sendiri dan dengan caranya sendiri.
"Kenapa?"
Nona menyentuh lengan Laras mengusap - usap nya pelan kemudian menatap wajah Laras yang memerah menahan tangis yang sengaja Laras tahan.
"Tidak"
Laras menyahut singkat kemudian mengusap wajah nya dengan kedua telapak tangan.
"Aku juga ingin menyeret nya paksa untuk keluar bahkan sangat ingin tapi bila aku melakukan Itu apa pendapat Kak Fahri tentang diriku? Dan kalau pun Kakak yang melakukan nya bukan tidak mungkin Kak Laras juga akan sama di pandang buruk di mata Kak Fahri."
"Tapi aku tidak sabar. Aku tidak bisa sabar."
Laras menekankan ucapan nya kepada Nona, menekan kan bahwa Laras sama sekali tidak bisa sabar sementara Fiya semakin dalam memasuki rumah tangga nya.
"Aku memang sudah berbicara Pada Fahri sehalus mungkin agar ia bisa memahami ku namun Aku sedikit ragu. Fahri seorang lelaki dewasa apa ia mampu menahan diri."
Tangis Laras pecah, Laras menangis di pelukan adik nya, Meski Nona selalu meyakin kan Laras bahwa kali ini mereka akan berhasil namun tetap saja bayangan buruk selalu menghampiri Laras
Sementara itu Fahri menatap Fiya dengan penuh senyuman melihat Fiya makan dengan wajah selalu merona dan bibir tersenyum ceria.
Entah apa yang ada di bayangannya hingga setiap kali melirik Fiya, wajah nya selalu merona dan senyuman - senyuman manis di wajah nya tidak pernah pudar.
Fahri senang bisa mengajak Fiya makan malam berdua meski suasana nya terasa begitu canggung dan bernuansa romantis namun sebisa mungkin Fahri selalu membuat Fiya merasa nyaman berada di tempat ini.
Ini adalah kali pertama Fahri dan Fiya makan bersama hanya berdua meski Fahri sudah sangat sering makan berdua dengan Laras namun rasa nya sedikit beda.
Fahri kembali fokus melahap makanan nya begitu pun dengan Fiya yang sedari tadi sangat fokus sampai tidak mengajak Fahri berbicara sedikit pun.
"Baiklah Kita Akan melakukan semuanya"
Wajah Fiya mendongak menatap horor kearah wajah Fahri yang tengah memakan makan malamnya. Wajah tampan namun aura kehororan nampak sedikit terlihat.
Fiya tidak bisa membuang fikiran mengenai kejadian tadi sore, kejadian dimana Fiya menceritakan adegan di Film yang pernah Fiya tonton.
Tidak ada maksud dalam hati Fiya untuk meminta itu semua, Fiya hanya berteriak mengatakan bahwa perlakuan Fahri seperti salah satu adegan dalam Film. Fiya juga sama sekali tidak menduga bahwa Fahri akan mengabulkan semua adegan yang ia sebutkan.
"Emm. Kak?"
Fiya memanggil Fahri pelan, bahkan sangat pelan terdengar seperti gumaman yang tidak jelas.
"Ah. Iya Fiy".
Fahri menyahuti Panggilan Fiya, Sedetik ia diam menatap Fiya yang nampak gugup dengan wajah celingukan kekanan dan kiri kemudian kembali melahap makanan nya.
"Eem. Ada Apa?"
Fahri berdehem Pelan seraya bertanya kepada Fiya.
Fiya sama sekali tidak bisa fokus wajah nya terus memaling kearah kanan dan kiri membuat Fahri semakin merasa bingung.
"Ada apa? Kamu sakit?" tanya Fahri cemas.
Fahri menatap wajah Fiya serius melihat setiap inci bagian wajah Fiya. Fiya terlihat sedikit pucat dengan bibir bergetar wajah nya juga basah berkeringat.
"Ah. Tidak Kak"
Sahut Fiya gugup luar biasa, Fiya tidak mengerti dengan perasaan nya yang seolah merasa takut - takut dan malu - malu tidak jelas hanya untuk sekedar menatap dan berbicara pada Fahri, entah mengapa Fiya juga merasa Sedikit terganggu dengan bayangan Film itu.
"Sungguh?"
Tanya Fahri lembut memastikan keadaan Fiya, Fiya mengangguk kan kepala nya menatap Fahri dengan senyuman semanis mungkin.
Fahri membalas senyum Fiya kemudian mengusap wajah Fiya Lembut membuat Fiya semakin merona dan malu.
"Persisi seperti tomat" Ledek Fahri.
Fiya mendengus Kesal kemudian di raba wajahnya sendiri, diusap -usap Pelan agar sedikit menghilangkan warna seperti tomat yang Fahri katakan tadi.
"Fahri kan?!"
Fahri menoleh kearah samping kanan melihat wanita yang berdiri di samping nya. Sedetik Fahri diam berusaha mengingat - ingat siapa wanita di samping nya.
Fahri tersenyum ramah seraya berdiri menjulur kan tangan nya kearah wanita yang sudah Fahri ingat siapa dia dan namanya.
"Arum"
"Kau ingat?"
Arum mengangguk kemudian menyalami tangan Fahri seraya memeluk Fahri sebentar.
"Sedang apa? Dimana Laras?" Ujar perempuan berambut ikal itu seraya melihat - lihat mencari Laras.
"Laras dimana? Kau bersamanya kan"
Arum bertanya lagi pada Fahri sambil melihat kearah kursi dan melihat Fiya di sana.
"Siapa dia? Apa kau selingkuh?"
Tebak Arum kemudian Di balas senyuman Oleh Fahri. Arum memperhatikan Fiya seksama melihat dari ujung rambut hingga wajah Fiya.
"Dia..?"
Fahri memotong Ucapan Arum mengajak Arum untuk duduk bersama nya.
Kedua tangan Fiya menggerat malas melihat wanita yang berada di hadapan nya. Wanita yang Fahri sebut Arum itu membuat Fiya sama sekali tidak nyaman pasal nya wanita berambut Warna - warni itu Melihat Fiya dengan tatapan mengejek membuat Fiya malas melihat nya.
Rasanya d**a Fiya Panas melihat wanita berambut ikal warna - warni ini menatap Fahri dengan tatapan memuja layak nya wanita yang sedang kasmaran.
"Aku sudah lama tidak melihat mu, Ri dan sekarang siapa dia?"
Arum menunjuk kearah Fiya seraya melihat Fiya dengan tatapan tidak suka.
"Dia Affiya. Istri Ku!" Jawab Fahri yakin dan tenang.
Fahri menjawab tanpa ragu meski Fahri tau bahwa wanita di hadapan nya ini Arum --- sahabat Laras dan Fahri namun Fahri tetap mengakui Fiya sebagai Istri nya.
Arum menatap Fahri dengan tatapan seolah tidak percaya kemudian beralih menatap Fiya tajam.
"Dia simpanan? Atau hanya teman tidur?"
Tebak Arum yang langsung di jawabi gelengan kepala oleh Fahri.
"Dia istri kedua ku"
Arum rasanya tidak percaya mendengar jawaban Fahri yang sama sekali di luar dugaan. Arum juga merasa heran bagaimana bisa Laras mempunyai madu yang berada jauh di bawah nya.
Arum menatap Fiya tajam seolah tatapan nya ingin membunuh Fiya. Sementara Fiya juga sama membalas tatapan Arum dengan tangan yang sengaja Fiya lingkarkan di lengan Fahri.
"Lalu bagaimana dengan Laras?" Tanya Arum masih penasaran.
"Dia baik - baik saja."
"Oh. Baik lah aku masih ada urusan salam untuk Laras."
Fahri mengangguk kemudian berdiri melihat Arum pergi dengan tergesah - gesah.
Senyum sumringah tercetak jelas di bibir Fiya menggambarkan bahwa Fiya tengah bahagia mengiringi kepergian wanita warna - warni itu dari hadapan nya.
"Kita kembali! Kau pasti sudah lelah!"
Fiya mengangguk kemudian melingkarkan tangan nya di lengan Fahri untuk pergi ke kamar hotel.
Fahri menutup pintu kamar ketika Fiya sudah masuk kedalam kamar. Melihat Fiya dari ujung kaki hingga kepala, ia tidak mengerti kenapa Ia bisa tertarik kepada Fiya, Padahal Fiya sangat jauh di bawah Laras.
Fiya memang tidak secantik Laras namun Fiya mempunyai daya tarik yang membuat Fahri Harus mengakui bahwa Fahri mulai tertarik dengan Fiya.
Selangkah kaki Fahri maju ingin mendekati Fiya namun Fahri diam kembali, Fahri bingung harus berbuat apa rasa tertarik nya pada Fiya Membuat Fahri bingung dan ragu.
Fahri melangkah lagi, bukan selangkah atau dua langkah tapi Fahri melangkah hingga sampai di belakang Fiya.
Fahri meraih tubuh Fiya di peluk nya erat, kepalanya Fahri letakan di bahu Fiya.
"Tidak apa-apa kan?"
Fahri bertanya Pada Fiya seraya mengeratkan pelukan nya. Fiya mengangguk meski dalam Fikiran nya banyak yang membuat Fiya bingung.
"Ti-dak mesti seperti di Film. Fiya hanya bercanda Kak" lirih Fiya suaranya sedikit bergtar.
Fiya merasa malu sekaligus gugup di peluk Fahri, ini kali pertama bagi Fiya di peluk sebegitu erat nya di suasana kamar yang sepi dan sedikit remang - remang.
Entah kenapa Fiya juga heran di hotel sebesar ini penerangan di dalam kamar sedikit temaram tidak seperti di rumah bunda Nia yang terang.
"Kak.."
"Hmm"
"Terlalu Gelap"
"Hmm".
Fahri hanya bergumam - gumam saja tidak menjawab Semua yang di katakan Fiya.
"Kak"
Fahri tidak menjawab Panggilan Fiya, Fahri hanya diam menelusupkan wajah nya di sela -sela leher Fiya membut Fiya menggeliat geli.
Fahri mencium kulit leher Fiya pelan seraya menggigit nya pelan membuat Fiya harus menahan napas dengan wajah yang semakin basah oleh keringat.
Fiya tidak tau harus berbuat apa, apa Fiya harus diam saja? Atau Fiya harus menolak nya. Rasanya Fiya benar - benar Bimbang.
Tidak ada dalam benak pikiran Fiya, bahwa Fahri akan melakukan hal semacam ini yang membuat Fiya merasa panas dingin.
Wajah Fahri terangkat kedua tangan Fahri menyentuh bahu Fiya memutar nya hingga Fahri bisa melihat jelas wajah Fiya, Fahri ingin tertawa melihat wajah Fiya basah dan benar - benar merona dengan bibir yang terkatup rapat.
"Kenapa?"
Fiya menggeleng tidak menjawab pertanyaan Fahri, jujur saja Fiya memang merasa bahagia melihat Fahri yang hari ini sangat berbeda dari biasanya. Fahri memperlakukan Fiya layak nya istri sesungguh nya tidak di beda - beda kan antara Istri tua dan Istri muda.
Bibir Fiya terbuka dengan kedua bola mata terpejam rapat merasakan sesuatu tengah menempel di tepi bibir nya. Sesuatu yang basah bergerak lincah tengah merayapi bibir nya.
Fahri menekan tengkuk Fiya hingga mencecap setiap bagian inci bibir Fiya yang terasa manis membuat lumatan Fahri semakin menuntut. Fahri memeluk erat tubuh Fiya yang terasa meluruh membawa Fiya berbaring di atas ranjang tanpa melepaskan kaitan di antara keduanya.
Pelan Fahri Membaringkan tubuh Fiya di atas ranjang. Tatapan Fahri seolah tidak pernah bisa berpaling dari Fiya.
"Kau Gugup?" Tanya Fahri seraya mencium kedua pipi Fiya.
Fahri mengulurkan tangan nya mengangkat wajah Fiya agar kedua matanya bisa melihat wajah polos nan lugu di hadapan.
Wajah cantik dengan hidung mancung dan alis tebal alami serta bola mata coklat yang seolah menjadi magnet hasrat Fahri yang kian merangkak memenuhi tubuh nya, entah hasrat itu timbul dari mana yang jelas Fiya wanita polos yang tengah berada di bawah nya ini jauh lebih terlihat sexy dari Bola mata nya.
Fahri mendekat kan wajah nya, mengaitakn bibir nya lagi hingga saling menempel satu sama lain, pelan Fahri melumat bibir bawah dan atas Fiya secara bergantian namun tidak ada balasan dari bibir tipis itu seolah kaku dan mati rasa.
"Kenapa?" tanya Fahri lembut.
Fiya menggeleng kan kepala nya pelan, jujur saja ini adalah ciuman pertama kali bagi Fiya, jelas Fiya sangat tidak mampu membalas apa lagi memuaskan Fahri.
"Kau tidak Tau cara berciuman Fiya?"
wajah Fiya langsung merungut mendengar pertanyaan itu rasa malu jelas memenuhi seisi wajah nya.
"Aku akan mengajari mu!" putus Fahri.
"Kau tidak perlu menolak. Kau hanya mengikuti pergerakan ku lalu menikmatinya"
Fiya mengangguk mengerti memejamkan kedua matanya seraya membuka bibir nya sedikit, Fiya bisa merasakan sesuatu yang lembab dan kenyal menempel di tepi bibir nya menarik bibir bawah nya dan menghisap bibir atas nya secara bergantian, pelan Fahri melumat bibir Fiya, Fahri seolah sabar mengajari Fiya.
Lumatan nya pelan namun sedikit menuntut membuat Fiya sedikit membalas setiap lumatan itu, lidah keduanya sudah saling membelit bertukar saliva di dalam mulut Fiya, kedua tangan Fiya mencengkram bahu Fahri merasakan sesuatu tengah merangkaki tubuh nya sesuatu yang menyelinap di balik
mini dress pink yang Ia kenakan Fiya ingin menjerit kedua kaki nya seolah melilit merasakan sesuatu yang sama sekali belum pernah Ia rasakan.
sesuatu yang tengah meremas d**a nya membuat tubuh Fiya seolah lemas tanpa tenaga kedua kaki Fiya
semakin melilit dengan kedua mata terpejam rapat dan bibir penuh hisapan.
Fahri Diam sebentar melepaskan bibir nya dari bibir Fiya kemudian menarik kembali tangan nya.
Fiya membuka kedua mata nya menatap Fahri yang hanya diam Tanpa melakukan apa - apa lagi.
"Tidur lah Fiy. Ini sudah malam"
Fahri berbisk di telinga Fiya mengecup kening Fiya kemudan merebahkan tubuh nya di samping Fiya.
Fiya juga sama diam melihat Fahri yang seolah bersikap aneh, Fahri yang meminta Fiya lalu sekarang Fahri pula yang melepaskan Fiya dan memilih untuk tidur.
"Kenapa?" tanya Fiya lembut.
Fahri menggeleng tidak menjawab pertanyaan Fiya. Fahri sama sekali tidak mengerti dengan dirinya bagaimana bisa Fahri benar - benar melupakan Laras dan hampir saja Fahri membuat Laras semakin sakit hati karena perbuatan nya yang sama sekali tidak bisa menahan diri.
Fahri memiringkan tubuh nya menghadap kearah Fiya di bawanya Fiya dalam pelukan nya.
"Maaf. Maaf dan Maaf"