Malam Pernikahan

1029 Words
Haira dan Aiden serta Harry pun pulang. Di perjalanan, Haira memberikan banyak nasihat pada Harry. "Mulai malam ini kau akan tinggal di rumah Ayah dan Ibu sampai kau menikah dengan Selena. Ibu tidak ingin hari ini terjadi lagi. Kembaranmu hanya satu, kau tidak punya cadangan kembaran lagi, mengerti?" "Aku mengerti, Bu. Maafkan aku, aku akan berusaha semampuku untuk mengingat hal-hal penting. Oh ya, mengenai Selena, apa dia mau menjadi istriku?" tanya Harry. "Kita akan tahu besok. Ibu rasa Selena lebih cocok denganmu. Ingatannya tajam persis seperti ayahmu. Dia juga sangat pintar, cantik, elegan, dan perfeksionis persis seperti Bibi Resya." "Tapi aku dengar dia itu cerewet, Bu. Dia sombong dan angkuh. Apa menurut Ibu kami akan cocok? Dia lebih cocok bersama William." "Ya Ibu tahu, tapi perlu diingat William tidak jadi menikah dengan Selena karena kau, Sayang." Haira mengingatkan. "Maafkan aku, Bu. Aku berjanji tidak akan mengacau lagi. Tapi bolehkah aku memarahinya jika dia bersikap tidak baik?" "Marah bukanlah solusi. Ayah tidak pernah memarahi Ibu bahkan saat mata Ayah terkena sambal karena Ibu, dia tidak pernah marah. Iya, kan, Sayang?" Haira menoleh ke Aiden yang tersenyum padanya. "Iya, Sayang." Aiden mengangguk mengiyakan. 'Memangnya apa yang terjadi jika aku marah? Kau akan diam dan minta maaf? Itu mustahil, Nyonya Alexander. Kau selalu benar' batin Aiden. "Jika kau tidak senang, tegur saja dia tapi dengan cara yang lembut," ucap Haira. "Kapan kami akan menikah, Bu?" "Minggu depan, Sayang. Catatlah di agenda mu," ujar Haira. Harry mengeluarkan agenda kecil dan menuliskan tanggal pernikahannya dengan Selena. "Ibu sangat senang, punya dua anak yang penurut." Haira tersenyum pada Harry. "Aku masih ingat saat kau mengancam anak-anak akan pergi ke luar negeri dan tidak akan kembali jika mereka tidak mau dijodohkan," ucap Aiden. "Jangan memulai, Sayang. Aku hanya ingin yang terbaik untuk William dan Harry. Mungkin Ella menjadi menantu kita karena rasa bersalah kita pada ayahnya. Tapi dia gadis yang baik dan lugu. Eh dia suka bernyanyi juga," bisik Haira di ujung kalimatnya. "Oh pantas saja," gumam Aiden. "Tapi kau tahu, kan William tidak suka dengan sesuatu yang berisik." "Dia akan belajar untuk menggunakan mulutnya setelah ini." "Ya aku bisa bayangkan." Aiden tampak berpikir. "Bu, apakah William marah padaku? Aku tahu dia sudah tertarik dengan Selena sejak awal. Sejak dulu dia selalu mengalah dan aku hanya bisa merepotkan dirinya." Harry tertunduk sedih. "Dia itu kakak terbaik di dunia. Dia tidak akan marah." Aiden mencoba menghibur. Harry berusaha tersenyum. Dia memang adik paling beruntung di dunia. Meskipun William agak dingin, namun ia sangat menyayangi Harry. Mobil telah sampai di halaman rumah mewah Haira dan Aiden. Mereka masuk ke dalam rumah dan masuk ke kamar masing-masing. Sementara itu, di rumah William, para pelayan tengah sibuk mempersiapkan kamar untuk Ella. Tentu saja William tidak ingin seranjang dengan Ella. Gadis yang jauh dari seleranya. Ia tidak akan meminta haknya pada Ella. Apalagi Ella masih dalam keadaan berduka. Namun di sini, William masih bersikap baik pada Ella. Ya, sebelum William tahu bahwa Ella suka bernyanyi. "Bang," sapa Ella pada William yang tengah memantau para pelayannya bekerja. William menoleh mendengar panggilan menggelikan itu. "Apa tadi katamu?" tanyanya. "Bang," ulang Ella. "Jangan panggil aku dengan nama itu. Aku merasa tidak nyaman." "Jadi panggil apa?" "Ya terserah tapi jangan itu." "Kalau begitu aku panggil Mas saja, ya." "Jangan, panggil William saja." "Tapi itu terdengar tidak sopan." "Bagiku itu sopan." Ella mengangguk setuju. "Baiklah, Will aku ingin tanya sesuatu." 'Will katanya?' batin William. "Tanya apa?" "Begini, bolehkah aku tetap bekerja?" Ella terlihat sedikit takut menanyakan hal itu. "Tidak! Memangnya apa pekerjaan mu?" "Aku biasa menjadi kasir di tempat karaoke." "Tidak! Itu bisa mencoreng nama keluargaku. Semua kebutuhan mu akan aku penuhi. Aku tidak akan membuatmu kekurangan!" William menggelengkan kepalanya. Baru satu jam Ella di sini, tapi ia sudah pusing. Ella hanya menunduk saja mendengar ucapan William. Ada rasa kasihan di hati William melihat Ella yang baru saja kehilangan ayahnya menjadi bersedih. "Maafkan aku, Ella. Tapi jika kau bekerja, kau akan membuat semua orang beranggapan bahwa aku tidak memberimu uang, tolong mengerti, ya." Ella mendongak dan tersenyum pada William lalu mengangguk. "Baiklah, tapi sampai kapan kita pisah kamar? Seharusnya kalau pengantin baru kan tidur satu ranjang dan melakukan malam pertama?" Ella menatap penuh tanya. 'Apa katanya? Astaga kenapa dia polos sekali? Bahkan hal semacam ini pun dia tanyakan di depan orang?' batin William. "Ella, ayo ikut aku." William mengajak Ella ke dalam kamarnya. Setelah menutup pintu, William mulai membuka suara. "Begini, Ella. Kau dan aku tidak saling mencintai bukan?" Ella mengangguk dengan cepat. "Jika pasangan tidak saling mencintai, maka kita tidak bisa berada dalam satu kamar." Ella tampak berpikir. "Ya sudah, bagaimana kalau kita belajar mencintai saja?" Mata William membulat mendengar kalimat polos Ella. Dia sampai menekan pelipisnya karena semakin pusing dibuat Ella. "Ella, mencintai itu tidak semudah kedengarannya. Bahkan beberapa orang butuh bertahun-tahun untuk bisa mencintai seseorang. Dan aku salah satu tipe orang yang sulit untuk jatuh cinta." William mencoba memberi pengertian. "Jadi kau tidak akan pernah mencintaiku?" Ella menunduk sedih. "Memangnya kenapa? Apa kau mencintai ku?" tanya William. "Iya," sahut Ella. Mata William membulat sempurna. "Tapi kenapa secepat ini?" "Almarhum ayah pernah mengatakan padaku saat beliau masih di rawat di rumah sakit. Beliau berpesan, jika aku menikah nanti aku harus mencintai suamiku. Seperti apapun dia, aku harus tetap mencintainya. Karena setelah menikah aku akan mengabdikan seluruh hidupku pada suamiku." Ella tampak bersedih saat menceritakan perihal ayahnya. "Ayahmu memang benar. Tapi mencintai bukan soal perilaku atau status, melainkan perasaan. Kau tidak mencintaiku, Ella. Maksudku, pernahkah kau jatuh cinta?" Ella menggeleng perlahan. "Kau harus tau apa itu cinta jika kau ingin jatuh cinta. Itu sangat sulit untuk kita yang baru saja kenal. Jadi aku mohon mengerti lah." William menatap dengan serius. "Baiklah, lalu jika ayah dan ibu ke sini apa kita tetap pisah kamar?" tanya Ella. "Jika mereka ke sini, mereka tidak akan mengecek kamar kita. Kau hanya cukup mengatakan bahwa kita baik-baik saja. Kita bahagia dengan pernikahan kita." "Bukankah itu artinya berbohong?" "Ya, tapi jika kau mengatakan yang sebenarnya mereka akan bersedih." "Benarkah? Aku tidak mau mereka bersedih. Baiklah aku akan berbohong pada mereka." 'Bagaimana bisa gadis seperti ini menjadi istriku? Sepertinya mulai sekarang aku harus sering-sering mengunjungi psikiater agar aku tidak gila,' batin William.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD