Keadaan Darurat
Pengenalan tokoh.
William Alexander : Kakak kembar Harry
Harry Alexander : Adik kembar William
Nurlella (Ella) : Istri William.
Selena : Istri Harry.
Haira : Ibu William dan Harry.
Aiden : Ayah William dan Harry
Feri : Ayah Selena
Stefani : Ibu Selena
Hendrawan : Ayah Ella.
Suasana di depan sebuah ruangan VIP rumah sakit tampak tegang. Pasalnya akan ada sebuah prosesi akad nikah, namun mempelai pria tak kunjung datang.
"Bu, bagaimana ini? Aku sudah mencari Harry kemana-mana tetapi aku tidak menemukan dia," lapor William pada Haira, ibunya.
"Ya Allah, kemana Harry? Padahal malam tadi Ibu sudah mewanti-wanti dia untuk tidak melupakan hari ini. Ini salahku karena membiarkan dia membeli rumah untuknya. Harusnya ku tahan sampai dia menikah" Haira mulai menyalahkan dirinya sendiri.
"Sabar, Sayang, aku yakin Harry pasti tidak jauh dari sini." Aiden, ayah William dan Harry mencoba menenangkan.
"Ayah!! Ayaaaah!!!" Terdengar seorang gadis berteriak dari dalam ruangan tersebut.
"Kenapa, Ella?" tanya Haira setelah memasuki ruangan tersebut.
"Ayah semakin kritis, Bibi," sahut gadis yang bernama Ella yang tak lain adalah wanita yang akan dinikahkan dengan Harry.
"Tu-tuan A-aiden, saya su-dah ti-dak ku-at. Sa-ya ingin melihat Ella me-nikah," ucap seorang pria tua yang dipasangi selang oksigen di hidungnya. Ucapannya terbata-bata karena menahan sakitnya.
Diketahui pria tua itu bernama Hendrawan, seorang pekerja di perusahaan Aiden yang beberapa bulan lalu mengalami kecelakaan karena tertabrak mobil yang ditumpangi Aiden. Kecelakaan itu membuat penyakit yang diderita Hendrawan semakin parah. Hendrawan sempat menyebut-nyebut bahwa hanya dia yang dimiliki putrinya. Dan karena merasa bersalah, Aiden menawarkan pada Hendrawan untuk menjadikan Ella menantu keluarga Alexander.
Hendrawan tentu setuju karena akan ada yang menjaga Ella jika dia tidak selamat. Sedangkan Ella terpaksa menyetujuinya demi mengabulkan permintaan terakhir ayahnya. Dan karena William sudah dijodohkan dengan wanita lain, maka Harry lah yang akan menikah dengan Ella.
Awalnya Harry juga menolak. Namun karena kasihan melihat Ella, dia akhirnya setuju. Dan hari ini mereka menikah karena permintaan ayah Ella yang kondisinya semakin memburuk.
"Saya mohon, Pak Hendrawan. Bersabarlah sebentar." Aiden memegangi tangan lemah dan kurus Hendrawan.
"Sa-ya tidak ku-at lagi."
"Tuan, sebaiknya pernikahan ini cepat dilakukan," ujar penghulu.
Aiden tampak frustrasi. Dia memegangi kepalanya.
"Ayah, tenanglah." William menepuk bahu Aiden.
Aiden segera tersadar akan sesuatu. "William, tolong gantikan posisi Harry, Ayah mohon."
"Apa? Menggantikan? Apa maksud Ayah? Itu tidak mungkin. Dia bukanoah tipe gadis yang aku sukai," bisik William.
"Tolonglah, Nak." Aiden menatap William dengan tatapan memelas.
"Ayah, jangan lakukan ini." William berusaha untuk tidak beradu pandang dengan ayahnya.
"Nak, hanya kau yang bisa menolong keluarga kita, Ibu mohon." Haira memegangi tangan William dengan air mata yang menetes.
Hati William berkecamuk. Ia merasa serba salah. Ia tidak bisa memungkiri jika Selena, wanita yang dijodohkan dengannya adalah tipenya. Dan Ella jauh dari seleranya. Namun saat ini ada dua orang yang sangat disayanginya memohon padanya untuk menikahi Ella.
'Harry, awas kau ya,' batin William.
"Nak!" Haira membuyarkan lamunan William.
"Ba-baiklah, Bu, aku bersedia," ucap William dengan pasrah.
Seketika mata Aiden dan Haira berbinar-binar setelah mendengar persetujuan William.
Maka William dan Ella pun menikah di dalam ruangan tersebut namun menikah siri. Karena mereka harus mendaftar ulang pernikahan dengan nama yang berbeda dari mempelai pria.
Dan tepat saat itu juga, Harry yang baru bangun tidur, kelabakan karena telah melupakan hari pernikahannya. Ternyata malam tadi Harry ketiduran di ruang rahasia di dalam rumahnya yang hanya ia saja yang tahu.
Dan saat sampai di rumah sakit, Harry melihat Ella sedang menangis histeris di samping ayahnya yang sudah memucat dan tidak memakai alat medis di tubuhnya.
"Ayah, Ibu." Suara Harry mengagetkan mereka semua.
"Harry! Kau darimana saja, Nak? Apa kau tahu kesalahan fatal yang sudah kau lakukan?" Haira mendekati Harry dan mengguncang tubuhnya.
"Maafkan aku, Bu. A-aku lupa kalau ini adalah hari pernikahanku." Harry tertunduk sedih.
Haira dan Aiden tidak bisa mengatakan apapun. Sejak beberapa tahun lalu, tepatnya setelah kecelakaan yang menimpanya, Harry sering melupakan hal-hal yang sangat penting. Namun untuk hal-hal yang tidak penting ia dapat mengingatnya dengan baik. Entah mungkin hal penting itu menjadi beban berat di otaknya sehingga ia tidak sanggup menyimpan memori yang penting. Berbagai hal telah dilakukan namun Harry tak kunjung sembuh dari pelupanya itu.
William mengusap wajahnya kasar. Ia tahu bahwa ini akan terjadi. Ingin sekali ia meninju adik kembarnya itu, namun ia tidak tega. Karena bagaimana pun semua ini bukan murni kesengajaan.
"Ya sudahlah, Nak," ucap Haira pasrah.
"Bu, apa sekarang aku bisa menikah dengan Ella?" tanya Harry.
Haira dan Aiden saling pandang. Mereka bingung harus mengatakan apa.
"Ella...Dia sudah menikah dengan William karena kondisi ayahnya tadi semakin kritis. Kau bisa lihat sekarang ayahnya meninggal," jelas Aden.
"Apa? William? Lalu Selena?"
"Kau yang akan menggantikan William untuk menikah dengannya," sahut Haira.
"Apa? Tapi aku dan Selena...."
"Tidak, Nak, ini semua sudah terjadi. Jika saja kau menuruti ibu dan ayah untuk tidur di rumah malam tadi, maka semua ini tidak akan terjadi," ucap Haira.
Harry terdiam. Ditatapnya Ella yang masih menangis memeluk jasad ayahnya. Ia datang mendekat dan menyentuh bahu Ella. Ella segera berbalik. "Ada apa, William?" tanyanya.
"Aku Harry."
Ella terkejut dan melangkah mundur.
"Ella maafkan aku. Ini bukanlah kesengajaan."
"I-iya, aku mengerti." Ella menghapus air matanya. Ia tidak bisa memungkiri bahwa ia sudah menyukai Harry sejak mereka setuju dijodohkan. Karakter Harry yang lucu dan menyukai hal-hal yang Ella sukai, membuatnya merasa sangat nyaman. Tapi apalah daya, sekarang Ella menjadi istri William, orang yang sifat nya bertolak belakang dengannya.
"Ella, ayo kita pulang. Ayahmu akan dikebumikan sore ini," ujar Aiden.
Ella mengangguk. Haira merangkulnya dan mengajaknya keluar dari ruangan itu.
Di rumah Ella, semua pelayat sudah berdatangan. Melihat pakaian pengantin yang dikenakan Ella, mereka semua pun saling berbisik.
"Apa kalian tahu, Ella sudah menikah dengan anak orang kaya sebagai tebusan karena orang tua suaminya menabrak Pak Hendrawan."
"Iya aku dengar juga, beruntung sekali hidupnya."
"Iya, jadi ayahnya bisa tenang meninggalkannya. Hidup Ella pasti terjamin."
"Sudahlah, ini rumah duka bukan rumah gosip." Seseorang menghentikan pembicaraan mereka.
Serangkaian acara fardhu kifayah pun dilakukan hingga akhir prosesi yaitu pemakaman di TPU tak jauh dari sana.
Sepulang dari TPU, Ella langsung dibawa ke rumah William karena Ayah Ella pernah berpesan untuk tidak mengadakan tahlilan. Sedangkan rumah akan ditempati oleh teman ayah Ella sampai masa kontrak rumah itu berakhir.
*****
Sesampainya di rumah William, Ella terpukau dengan kemegahan rumah itu. Penjaga ada di setiap penjuru rumah. Pelayan berbaris rapi menyambut mereka.
"Sayang, mulai hari ini kau dan William akan tinggal di sini," ucap Haira.
Ella mengangguk dan berusaha tersenyum disela wajah sembab nya.
"Rumah Ibu dan ayah ada beberapa blok dari sini. Jadi, jika William membuat kesalahan, datanglah pada ayah dan ibu. Kami akan menjewer telinganya," ujar Haira yang bermaksud menghibur Ella.
William hanya menggelengkan kepala mendengar ucapan ibunya.
Ella tersenyum sedikit. Ia senang mendapatkan mertua yang sangat baik seperti Haira dan Aiden.